
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Mas, kenapa mas Andra diam, aku bertanya pada mas Andra, apa maksud mereka mas?, apa maksudnya dengan mereka yang mengatakan akan menunggu undangan dari pernikahan kita, memangnya kita akan menikah mas? ". Tanya Nadira lagi dengan segala rentetannya, Nadira sudah benar - benar khawatir dengan situasi ini.
" Iya sayang, kita memang akan menikah ". Sahut Andra pada akhirnya dengan begitu santainya.
" Tapi mas, kenapa bisa begitu?, mas Andra bahkan tidak bertanya dulu padaku, apalagi meminta persetujuan ku ". Sahut Nadira bahkan kini nada suaranya terdengar sedikit lirih.
" Sayang, memangnya jika tidak menikah dengan ku, kamu akan menikah dengan siapa?, hanya aku yang berhak menikahimu ". Sahut Andra.
Entah apa yang terjadi pada Andra malam ini, namun yang pasti, pengakuan dari para rekan kerjanya yang menyatakan akan menunggu undangan pernikahannya, telah menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya, karena dengan begitu akan lebih mudah membuat Nadira menjadi terikat dengannya.
" Mas, aku tidak apa yang sudah mas Andra katakan pada semua rekan kerja mas itu, tapi... bisakah mas Andra katakan pada mereka jika mengenai pernikahan kita itu, adalah tidak benar adanya ". Seru Nadira lagi, rupanya Nadira masih bersi keukeuh untuk menolak pernikahan yang dimaksudkan itu.
" Sayangnya tidak sayang, aku akan tetap pada keputusan ku, bukankah kamu sudah mengatakan jika kamu masih butuh waktu untuk menerima ku kembali?, itu artinya kamu tidak lagi menolak ku, dan, apa salahnya jika kita menikah? ". Jelas Andra.
" Tapi ma... ".
" Daddy, menikah itu apa daddy? ". Sahut si kecil Aida tiba - tiba sehingga membuat kalimat bunda nya menjadi terpotong.
Mendengar adanya suara Aida yang bertanya, sontak membuat Firly yang sedari tadi menjadi penonton dari siaran live sepasang kekasih yang hubungannya putus nyambung ini menepuk jidatnya sendiri.
Firly merasa jika Aida sudah ikut campur seperti ini, pasti persoalannya akan semakin panjang.
" Menikah itu apa daddy?, kok daddy sama bunda bicala tentang menikah telus? ". Seru Aida lagi dengan rasa penasarannya.
" Benar putri daddy ini ingin tahu? ". Sahut Andra.
" Iya daddy benal, Aida ingin tahu apa itu menikah, telus yang menikah daddy dengan bunda, Aida malah jadi semakin penasalan ". Sahut Aida, sangat nampak jelas jika gadis kecil itu begitu sangat ingin tahu.
__ADS_1
" Menikah itu artinya, laki - laki dengan perempuan akan hidup bersama sayang, mereka akan tinggal bersama dalam satu rumah ". Sahut Andra dengan penjelasan singkatnya.
Aida terdiam, gadis kecil itu sedang berusaha mencerna apa maksud kalimat dari daddy nya.
" Daddy, bunda dengan daddy ingin menikah, apa itu altinya bunda akan tinggal di sini, dengan kita? ". Tanya Aida setelah gadis kecil itu mulai memahami kalim daddy nya di otak kecilnya itu.
" Benar sekali sayang, kalau daddy dan bunda mu menikah, kita bisa tinggal bersama di sini ". Sahut Andra yang membenarkan ucapan putrinya.
" Benalkah?, asyiiik... ". Pekik Aida dengan rasa bahagianya.
" Yeay, bunda dan daddy mau menikah, yeay... yeay... ". Lanjutnya lagi yang masih berseru.
" Telima kasih bunda, Aida senang sekali kalna bunda dan daddy akan menikah ". Seru Aida yang tiada henti lalu gadis kecil itupun memeluk bunda nya dengan begitu erat.
Aida sangat bahagia, benar - benar sangat bahagia, akhirnya keinginannya untuk benar - benar memiliki seorang mommy yang bisa tinggal dengannya, tidak lama lagi akan segera terwujud, dan inilah yang Aida harapkan selama ini.
Firly yang menyaksikan semua ini kembali menepuk jidatnya sendiri, Firly benar - benar tak habis pikir dengan tingkah Andra malam ini, bisa - bisanya Andra membuat keputusan sepihak seperti ini, apalagi putrinya Aida sudah begitu mendukung caranya.
Malam ini Putri benar - benar sudah tahu siapakah tuan Andra, selain sikap tuan Andra yang terkenal dingin, rupanya tuan Andra adalah tipe orang yang tak akan segan - segan memutuskan segala sesuatu secara sepihak, tanpa harus menunggu apakah keputusannya itu disetujui oleh orang lain.
Dalam hal ini, Putri merasa kagum sekaligus takut akan sosok tuan Andra, dan dari hal ini membuat Putri sudah menyadari dan yakin, jika siapapun yang ingin hidupnya tenang, lebih baik jangan berurusan dengan tuan Andra.
Sementara sosok yang saat ini masih setia dipeluk oleh putri kecilnya yang berada dalam gendongannya, hanya bisa diam termangu.
Saat ini Nadira merasa bingung, entah dirinya harus berbuat apa, jujur di dalam lubuk hatinya sebenarnya Nadira ingin menolak keputusan Andra yang secara sepihak ini.
Dirinya masih membutuhkan waktu untuk menerima Andra kembali, luka di hatinya masih lah belum sembuh, bahkan dirinya masih berusaha mengumpulkan rasa percayanya kembali pada Andra, namun masih belum semua itu terlaksana, tiba - tiba saja Andra sudah secara sepihak jika dirinya hanya akan menikah dengan Andra.
Nadira sudah tak tahu harus berbuat apa, ditambah lagi putri kecilnya Aida, sudah begitu mengharapkan jika dirinya benar - benar akan menikah dengan daddy nya, dan jikalau dirinya benar - benar menolak, pastilah Aida akan sangat sedih.
Hati dan pikiran Nadira saat ini benar - benar sudah tak menentu, semuanya terasa begitu kacau, padahal dirinya datang ke pesta ulang tahun ini adalah sebagai bukti, jika dirinya akan menepati janjinya pada putri kecilnya ini untuk benar - benar hadir di acara ulang tahunnya, namun ternyata telah terjadi sebuah kejutan yang tak terduga yang malah dirinya terima.
__ADS_1
" Mas, ini sudah malam, aku ingin pulang ". Seru Nadira pada akhirnya, setelah cukup lama dirinya diam.
Sontak si kecil Aida pun mulai meregangkan pelukannya.
" Yaah, kok bunda sudah mau pulang sih, kan Aida masih ingin digendong sama bunda ". Keluh Aida yang tak ingin bunda nya terlalu terburu - buru untuk pulang.
" Sayang, maafkan bunda ya, tapi bunda harus pulang sekarang nak, besok bunda ada jadwal kuliah, bunda janji, kapan - kapan kita akan bertemu lagi ". Sahut Nadira yang mencoba memberikan pengertian pada putrinya, entah apa yang dikatakan oleh Nadira menang benar adanya atau tidak.
" Humm, baiklah bunda ". Sahut Aida dengan raut pasrah nya.
" Biar aku yang mengantarmu sayang ". Seru Andra.
" Iya betul, dan aku yang akan mengantar Putri pulang ". Timpal Firly tiba - tiba.
" Tidak - tidak, kalau aku dan Dira diantar pulang, bagaimana dengan nasib motor kita ". Tolak Putri.
" Itu mudah, biar nanti supir pribadiku pak Rahman yang akan mengantarkannya ". Sahut Andra.
" Aida mau daddy, Aida mau, Aida mau ikut daddy antal bunda ". Seru Aida lagi yang memutus obrolan singkat keempat orang dewasa itu.
" Tentu sayang, kamu boleh ikut mengantar ". Sahut Andra.
Lagi - lagi situasi ini hanya membuat Nadira pasrah, Nadira pasrah dengan keadaan ini, menolak percuma, jadi jalan satu - satunya ya menurut saja.
" Ya sudah ayo kita pulang ". Sahut Nadira pada akhirnya, lalu gadis cantik yang masih setia menggendong putri kecilnya itupun melangkah begitu saja meninggalkan area ruangan itu, sehingga membuat yang lainnya pun ikut melangkah mengikutinya.
" Aku tahu kamu masih belum bisa menerima semua ini sayang, tapi apapun itu, aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi ". Batin Andra.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ