Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Lindu Bunda


__ADS_3

Selamat Memba


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam yang masih terasa menyelimuti, yang masih menyelimuti atap - atap rumah serta bangunan yang ada di ibu kota, kini, di bawah atap rumah yang lain, jauh dari atap - atap rumah yang berada di ibu kota, dalam keadaan seorang diri, di dalam kamarnya, nampak seorang bocah kecil sedang memperhatikan sebuah foto dari sosok bunda yang sangat dicintainya.


Ia duduk di atas kasur empuknya, dengan kedua sepasang tangan mungilnya, yang masih begitu setia memegangi sebuh foto sosok yang tersimpan dalam sebuah rangkaian pigura indah.


Rasa kerinduan yang terlampau teramat dalam itulah yang membuat dirinya di malam ini seolah merasa enggan untuk berkumpul bersama kedua orang tuanya.


Ya, dialah Alvin, si bocah kecil yang begitu sangat merindukan akan sosok bunda tercintanya Nadira.


Alvin begitu sangat merindukan bunda Nadira nya, bahkan sudah semenjak bocah kecil itu tak lagi melihat akan keberadaan bunda nya lah, Alvin memang sudah merindukan bunda nya.


Sudah sekitar empat bulan lebih lamanya Alvin tak bertemu akan sosok yang sudah merawatnya dengan kasih sayang dan cinta, membuat Alvin, seorang anak kecil yang masih berusia lebih dari tiga tahun itu, sudah harus menerima dan mengerti akan kondisi keluarganya.


Sungguh begitu miris, seorang anak kecil, yang masih balita, sudah harus bisa menerima kenyataan pahit dan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya, padahal, diusianya yang masih balita ini, adalah masa - masa di mana dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang berlimpah, yang berhak dirinya dapatkan dari orang - orang yang ada di sekitarnya.


" Bunda, bunda apa tabalna, Alpin lindu bunda, Alpin lindu cetali ". Seru Alvin yang merindu dengan mengusap - usap pigura foto bunda nya.


Sudah berbulan - bulan sudah tak pernah bertemu dengan sang bunda, meski itu hanya sekedar mendengar kabarnya, tak membuat seorang Alvin lupa begitu saja dengan bunda Nadira nya, hanya mungkin, keinginan Alvin untuk bertemu dengan sang bunda, sudah tak menggebu - gebu seperti beberapa bulan yang lalu, mulai terbiasa dengan kenyataan pahit, itulah yang menjadi alasannya sehingga ia tak merengek seperti dulu lagi.


" Bunda, bunda badimana tabalna?, apa bunda cehat, bunda ada di mana cih, tok dak pelnah te cini ladi, tan Alpin lindu bunda? ". Serunya lagi dengan masih mengusap dengan lembut kaca bening yang menjadi pembatas foto bunda nya di simpan.


Alvin tak tahu harus berbuat bagaimana lagi, ia begitu sangat ingin dipertemukan dengan bunda tercintanya, namun keinginannya begitu tak mudah untuk dilaksanakan, padahal dirinya tak mengharapkan lebih selain hanya sekedar bertemu meski itu hanya sekali saja.


Masih teringat dalam benak Alvin, bagaimana setiap hari, terutama di waktu pagi, bunda Nadira nya selalu membelikan jajanan pasar yang sering dibelinya saat gerobak tukang sayur lewat di depan pintu gerbang rumahnya.


Setiap kali ada gerobak sayur yang lewat itu, selalu membuat teringat bahkan seolah merasa jika bunda nya berdiri di dekat gerobak sayur itu dan memilih - milih sayur yang akan dimasak, namun sayang, ketika dirinya melihat semua itu, membuat Alvin sadar, jika bunda Nadira nya, sudah tak lagi ada.


Ceklek...


Tiba - tiba terdengar adanya suara gagang pintu kamarnya yang dibuka, sontak saja hal itu membuat si kecil Alvin langsung menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


" Sayang, Alvin, kenapa belum keluar nak, ayah dengan bunda sudah menunggu Alvin dari tadi, bunda sudah buatkan ayam goreng kesukaan Alvin, ayo kita makan malam nak ". Seru Diana dengan melangkah mendekati putranya.


" Bunda matan cada, Alpin dak mau matan, Alpin mau di cini ". Tolak Alvin.


Diana tak menyahut, namun pandangannya malah tertuju pada sebuah benda pipih yang dipegang oleh kedua tangan mungil putranya.


Bisa Diana kenali jika benda yang dipegang itu adalah sebuah pigura foto, lalu Diana pun duduk di samping putranya.


Diana bisa melihatnya dengan jelas sekarang, ternyata Alvin putranya sedang memegang foto Nadira.


" Cana bunda matan, Alpin mau di cini cada ". Suruh Alvin lagi pada sang bunda.


Ya, Alvin yang sekarang memang sudah menerima Diana sebagai bunda nya. Alvin sudah mengetahui jika bunda kandungnya adalah bunda Diana.


Di waktu awal saat Alvin mengetahui kebenarannya, lebih tepatnya, ayahnya Dani lah yang sudah mengatakan jika bunda nya yang sebenarnya adalah bunda Diana, bukan Nadira, semuanya terasa begitu sulit bagi Alvin.


Alvin menolak semua kenyataan itu, namun Dani, seolah kurang begitu mengerti akan kondisi psikis seorang anak kecil, malah terus dan selalu mencari cela untuk bagaimana agar Alvin bisa menerima Diana sebagai bunda dari Alvin.


Dan terlebih apapun nanti, Alvin harus benar - benar menerima jika Diana adalah ibu kandungnya, bunda yang sesungguhnya dari Alvin, yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


Diana beralih memandang wajah putranya, rautnya nampak begitu sendu, seolah menggambarkan jika hati putra kecilnya ini sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja.


Diusap nya pucuk kepala putranya itu, Diana sudah mengetahuinya sekarang, jika yang membuat putranya sedih seperti ini, karena dia sedang merindukan sosok wanita yang telah merawatnya selama ini.


" Sayang, Alvin rindu bunda Dira? ". Seru Diana.


Alvin pun menoleh pada bunda nya dan lalu mengangguk.


" Alpin lindu bunda, Alpin mau beltemu cama bunda, bunda Dila itu bunda na Alpin ". Sahut Alvin.


Mendengar sahutan yang begitu menohok dari putranya, membuat hati Diana menjadi menccelos, padahal ini bukan pertama kalinya dirinya mendengarkan kalimat seperti ini dari putranya sendiri.


Diana sangat memahami jika keberadaannya yang masih baru di sisi Alvin sama sekali masih belum bisa menyamai Nadira, terlebih selama ini Nadira lah yang telah merawat dan membesarkan Alvin.

__ADS_1


Dengan berusaha menahan sesak di dadanya, Diana ingin berusaha memberikan pengertian pada putra kecilnya ini.


" Sayang, Alvin, diletakkan dulu ya sayang foto bunda Dira nya, sekarang waktunya Alvin makan malam, ayah Alvin sudah menunggu Alvin di meja makan, yuk kita ke sana sekarang ". Seru Diana lagi.


Alvin terdiam, ia memandang wajah bunda Diana nya dengan begitu lekat.


" Bunda, Alpin inin beltemu bunda Dila, bunda mau tan bantu Alpin, Alpin hana inin beltemu bunda Dila cebental cada ". Seru Alvin, sangat nampak jelas jika dari kedua sorot matanya memiliki rasa permohonan yang sangat begitu dalam.


Diana merasa bingung, sepertinya kali ini putranya Alvin sedang mencoba bernego dengannya, Alvin mengharapkan bantuan darinya.


" Sayang, maafkan bunda nak, bukan maksud bunda untuk menolak, tapi, sepertinya itu tidak mungkin, kan Alvin tahu sendiri, jika ayah Dani tidak mungkin mengizinkan hal itu ". Sahut Diana yang berusaha memberikan pengertian.


" Tapi tan hana cetali cada bunda ". Seru Alvin lagi.


Alvin benar - benar sangat ingin bertemu dengan bunda Nadira nya, ia ingin melepas rindu dengan sosok yang telah merawat dan menyayanginya selama ini meski itu hanya sesaat.


" Alvin sayang, bunda tidak bisa berjanji apa - apa pada Alvin, tapi bunda akan berusaha untuk berbicara pada ayahmu sayang, siapa tahu nanti akan ada jalan untuk Alvin bisa bertemu dengan bunda Dira ". Sahut Diana pada akhirnya.


Mendengar sahutan bunda nya ini, dalam seketika membuat senyuman Alvin langsung terbit. Alvin merasa senang karena sepertinya akan ada secerca harapan untuk dirinya bisa bertemu dengan sang bunda.


" Bunda, telimatacih bunda, telimatacih ". Seru Alvin yang begitu sangat senang.


Alvin benar - benar begitu sangat bahagia, padahal, apa yang menjadi keinginannya belum tentu akan terwujud, namun ya seperti itulah Alvin, rasa kebahagiannya seolah tak menyadarkan kemungkinan itu, mungkin karena dirinya yang masih seorang anak kecil, membuatnya tak memikirkan segala kegagalan yang mungkin saja terjadi.


Setelah sekian lama tak ada senyuman yang nampak dari wajah mungilnya itu, akhirnya senyuman kebahagiaan itu, benar - benar ada, Alvin begitu sangat bahagia.


" Bahkan kamu sampai sebahagia ini nak, apa bunda mu ini, sama sekali tidak berarti di hatimu? ". Batin Diana sedih.


Bersambung.........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2