
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Seruan untuk menghadap sang ilahi terdengar bersahut-sahutan yang memenuhi dihampir setiap sudut bangunan kota.
Waktu subuh sudah datang menjelang. Tak sedikit dari warga yang tinggal di pinggiran kota berbondong-bondong melangkah menuju ke rumah ibadah terdekat.
Seruan suara untuk menghadap sang ilahi itu tentunya cukup terdengar hingga memasuki dinding-dinding di salah satu rumah sakit besar milik Andra yang ada di kota ini.
Kini di sebuah ruangan rawat khusus VVIP miliknya, Andra menemani putri kecilnya yang masih menjalani perawatan intensif untuk pemulihan tubuhnya.
Dengan ditemani oleh sang sahabat setia Firly, Andra memperhatikan putri kecilnya yang nampaknya baru akan selesai diperiksa oleh Daniel.
Merasa sangat sedih, itulah yang Andra rasakan. Sudah semenjak tadi pria itu sedih melihat keadaan putrinya yang terbaring lemah dengan keadaan tubuhnya yang memar - memar.
Hingga pada akhirnya, Daniel selesai memberikan penanganan terbaiknya pada putri dari teman baiknya ini.
" Bagaimana keadaan putriku Daniel?. " Seru Andra.
" Tenanglah Andra, keadaan Aida sudah mulai membaik, aku sudah memberikan obat terbaik untuk memulihkan tubuh Aida. "
" Aida sedikit mengalami dehidrasi, dan akibat dari kekerasan fisik yang dialaminya juga membuat putrimu jadi demam. "
" Tapi kamu tenang saja Andra, obat yang aku berikan bisa dapat mempercepat kesembuhan putrimu, saat ini Aida hanya butuh waktu yang cukup untuk beristirahat. " Daniel menjelaskan keadaan Aida secara detail agar Andra tak merasa terlalu khawatir.
Merasa sudah cukup lega, itulah yang Andra rasakan. Setidaknya putri kecilnya ini sudah dalam keadaan yang cukup baik.
" Ya sudah Andra, aku permisi dulu ya. " Ujar Daniel.
" Iya. " Sahut Andra.
Daniel mulai melangkah menuju keluar dari ruangan ini. Dan sekarang di ruangan ini hanya menyisakan Andra, Firly dan juga si kecil Aida yang beristirahat.
Dua pria ini sama sekali masih belum beristirahat semenjak tadi malam, termasuk para bodyguard yang ikut membantu mereka dalam menemukan Aida.
" Andra, apa kamu tidak mengantuk?. " Tanya Firly.
" Kalau kamu mengantuk, sana kamu tidur saja. " Sahut Andra.
" Tadi aku memang ngantuk, sekarang sudah hilang ngantuknya. " Sahut Firly.
Merasa sedikit kurang nyaman dengan posisinya, membuat Firly ingin berpindah ke sofa panjang dan lebar yang ada di dekatnya.
Firly benar berpindah ke sofa itu, lantas ia membaringkan tubuhnya di sana.
__ADS_1
" Katanya tidak ngantuk, tapi malah berbaring. " Batin Andra.
Firly memang membaringkan tubuhnya, namun pandangannya sedang mengarah pada langit-langit kamar. Hingga pada akhirnya pikiran Firly teringat akan kejadian tadi malam, kejadian beberapa jam yang lalu yang begitu sangat mencekam bahkan jika tak dihadapi dengan sigap, bisa - bisa membuat sahabatnya Andra jadi kehilangan nyawanya.
" Andra. " Sentak Firly dan pria itu langsung terjaga dari posisinya.
" Ada apa sih Fir?, lebih baik kamu sholat saja sana, ini sudah masuk subuh. " Sahut Andra yang sedikit tak suka dengan tingkah Firly.
" Dra, aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika peluru tadi benar-benar mengenaimu Dra. " Ujar Firly yang berhasil membuat sahabatnya ini jadi terdiam.
Iya, pada saat Celine mengarahkan pistolnya tepat ke arah punggung Andra, disaat itulah dengan begitu sigapnya salah satu dari bodyguard Andra langsung mencengkram pergelangan tangan Celine dan mengarahkannya pada langit-langit di rumah itu, sehingga tiga peluru yang telah Celine tembakkan tadi malah mengenai langit-langit rumahnya.
Andra masih beruntung karena nyawanya masih dapat tertolong. Bisa dikatakan mungkin keselamatan dirinya adalah sebuah pertolongan mendadak dari Tuhan sehingga Andra masih bisa selamat dan menikmati waktu seperti sekarang ini.
Celine benar-benar wanita nekat, dan wanita seperti itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
" Iya kan Dra?, apa jadinya jika semua peluru itu mengenaimu?, kamu bisa mati Dra, dan istrimu Dira pasti jadi janda dengan dua orang anak, eh bukan, janda dengan tiga orang anak. " Jelas Firly yang entah apa maksudnya.
" Tutup mulutmu Fir, dari tadi bicaramu tidak berbobot. " Sahut Andra yang malah menjadi kesal.
Andra malah menjadi kesal karena menurutnya ucapan sahabatnya ini secara tak langsung malah mendoakan hal yang tidak - tidak untuk keutuhan rumah tangganya.
*****
Pagi hari yang masih terasa dingin, datang menyapa rumah sakit milik Andra. Semua karyawan serta petugas rumah sakit yang berada pada jadwal pagi hingga sore mulai berdatangan untuk menjalankan tugas mereka.
Mereka melangkah bersama dengan melewati lorong rumah sakit. Nadira sang ibu hamil itu melangkah dengan tergesa-gesa sampai-sampai hampir meninggalkan yang lainnya.
" Nona, hati - hati nona jangan terburu-buru. " Peringat bi Sari karena nona Nadiranya terlalu cepat melangkah.
Namun Nadira mengabaikan peringatan dari pengasuh putrinya itu, karena rasa tak sabarnya yang ingin segera bertemu dengan putrinya, membuat ibu muda itu lupa akan segalanya.
Beruntung mereka menaiki lift, jadi tak perlu memakan waktu lama untuk bisa sampai ke kamar Aida. Hingga pada akhirnya, Nadira benar sampai di depan pintu kamar di mana putri kecilnya dirawat.
Ceklek...
Nadira benar membuka pintu kamar itu dan masuk.
" Mas. " Serunya.
" Sayang. " Andra cukup terkejut karena istrinya datang sepagi ini.
Dan yang lainnya juga masuk semuanya.
" Sayang, kenapa pagi sekali kamu datangnya?. " Tanya Andra setelah pria itu mendekati istrinya.
__ADS_1
" Mas, putri kita?. "
Hati Nadira begitu sangat hancur setelah mengetahui bagaimana keadaan putrinya. Putrinya Aida terbaring lemah dengan kedua kelopak matanya yang masih terpejam. Dan apa ini?, mengapa wajah putrinya terlihat memar?, bahkan dengan kedua lengannya.
" Sayang, anak bunda. " Lantas Nadira mulai menaiki ranjang perawatan putrinya.
Nadira memeluk hangat tubuh mungil putrinya itu, tubuh mungil yang semenjak kemarin dirinya sangat rindukan.
" Sayang, putri bunda, apa kamu baik - baik saja nak?. " Seru Nadira dengan lembut di dekat telinga putrinya.
" Sayang, tenanglah, putri kita sedang pada masa pemulihan, jadi kamu jangan terlalu khawatir. " Seru Andra agar istrinya ini tak terlalu khawatir.
Mereka yang ikut dengan Nadira juga tak kalah sedihnya, apalagi bi Sari, sang pengasuh yang sudah mengasuh nona kecilnya itu dari semenjak masih bayi.
" Kalian, kenapa masih berdiri?, duduklah. " Suruh Andra.
Dan benar saja, mereka semua menuju ke sofa kecuali bi Sari. Bi Sari masih ingin melihat nona kecilnya lebih lama lagi.
" Pak Rahman, apa mereka sudah sampai di rumah?. " Seru Andra yang bermaksud menanyakan para bodyguardnya.
" Masih belum tuan, di rumah hanya ada Lina saja, orang-orang kepercayaan anda masih belum kembali. " Sahut pak Rahman.
" Apa?, jadi Lina sendirian?. "
" Benar tuan, Lina sendirian menjaga rumah. " Sahut pak Rahman.
" Kalau begitu kamu kembali saja ke rumah, jangan biarkan rumah dalam keadaan kosong, apalagi hanya dijaga oleh seorang wanita. " Tegas Andra.
" Baiklah tuan, jika memang seperti itu, saya akan kembali lagi ke rumah. " Sahut pak Rahman.
Setelah kejadian di mana Celine dan Ria telah berhasil menculik putrinya, membuat Andra tak ingin ada kelalaian lagi, meski keduanya sudah ditangkap dan ditahan di penjara, bukan tak mungkin jika hal yang merugikan yang lainnya akan kembali terjadi di rumahnya, dan dirinya harus tetap mengantisipasi kemungkinan buruk yang lainnya yang mungkin saja bisa terjadi.
Sementara Putri dan juga ibunya bu Dewi yang duduk tak begitu jauh dari Firly hanya diam saja. Bu Dewi masih memperhatikan Aida, sementara Putri memperhatikan Firly yang sedang tidur.
" Bu, lihatlah, dia tidur di sini, apa tidak malu pada yang lainnya? . " Bisik Putri.
" Sudahlah nak biarkan saja, sepertinya nak Firly sangat kelelahan. " Sahut bu Dewi.
" Dasar, bukankah di sini ruang perawatan VVIP?, kenapa dia tidak tidur di kamar yang ada di dalam sana?, apa jangan - jangan dia sengaja tidur di sini agar bisa dilihat sama suster - suster cantik, awas saja kamu mas. " Batin Putri.
Nampaknya Putri merasa cemburu dengan keadaan yang terjadi, dan sekarang wanita itu sedang merasakan panas pada hatinya.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€