Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Terima Kasih Sayang


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Waktu yang dirindukan pun sudah tiba, setelah dua hari dua malam lamanya berada di rumah sakit, akhirnya pagi ini Nadira beserta bayi kecilnya Andara telah tiba di kediaman mereka.


Nadira dibawa oleh keluarganya dengan menggunakan kursi roda, sementara bayi kecilnya dibawa oleh bi Sari dengan menggunakan stroller khusus bayi yang pastinya membuat si mungil Andara merasa begitu sangat nyaman.


" Yeay yeay... yeay yeay... ahilnya sampai juga. " seru Aida senang setelah gadis kecil itu dengan keluarganya masuk ke kamarnya.


" Adik Andala kamu senang kan adikku kalna kita sudah sampai di lumah?. " serunya pada sang adik yang masih terlelap.


Si kecil Aida dengan Alvin menggiring stroller adik bayinya bak penjaga yang siap siaga, mereka berdua berada di kanan dan kiri stroller sang adik, karena begitu bahagianya dengan kehadiran sang adik sampai membuat kedua bocah kecil itu tak melepaskan tangan mereka dari stroller sang adik. Hingga pada akhirnya sang daddy Andra yang mendorong kursi roda istrinya sampai di dekat kasur.


" Tunggu dulu sayang, biar aku yang memindahkan mu ke kasur. " tahan Andra.


" Tidak perlu mas, aku bisa sendiri. " sahut Nadira.


Namun Andra mengabaikan penolakan istrinya, Andra mengangkat saja tubuh istrinya itu dari kursi rodanya sebelum akhirnya dipindahkan ke kasur empuknya.


Nadira masih belum mampu melangkah dengan baik dan benar, sehingga dari hal itulah mengapa Andra yang memindahkan tubuhnya, Andra tak ingin jika sampai terjadi hal yang buruk pada istrinya hanya karena istrinya salah melangkah.


" Nyonya, tuan muda Andara mau diletakkan ke mana?, diletakkan di box bayinya atau ke kasur saja nona?. " seru bi Sari.


" Mana bi, biar putraku tidur di sampingku saja. " sahut Nadira.


Dan benar saja, bi Sari benar mengangkat tubuh mungil tuan Andara nya dan memberikannya pada bundanya.


" Terima kasih bi. "


" Sama - sama nyonya. "


" Baiklah tuan, nyonya, kalau begitu saya mau ke dapur dulu, saya mau membantu Lina yang sedang siap - siap di dapur. "


" Silakan bi. " sahut Andra dengan disertai anggukan.


" Ayo, anak - anak bunda, naik semuanya. " suruh Nadira pada Aida dan juga Alvin.


Dan benar saja, dengan buru - buru Aida dan Alvin menaiki ranjang kasur kedua orang tuanya.


" Ya ampun... apa anak - anak daddy tidak bisa pelan - pelan?. " Andra sangat heran mengapa Aida dan Alvin jadi serba terburu-buru, apa mungkin mereka bertingkah seperti itu karena adik mereka telah lahir, memang dasar anak - anak.


Nampaknya setelah anaknya yang masih bayi baru lahir, akan membuat Andra menjadi sangat cerewet, bahkan mungkin Andra akan dibuat menjadi sering khawatir karena tingkah Aida dan juga Alvin.


Namun tak lama dari itu, Andra menghirup napasnya dalam - dalam.


" Huuuft... " merasa cukup lega, itulah yang dirasakannya.


" Adik Andala - adik Andala buka dong matamu, kamu suka sekali tidul ya. " seru Aida gemas.


" Atu mau cium adik Andala dong, tak Aida gesel sedikit, Alpin mau cium adik Andala. " seru Alvin.


" Sayang, Aida, geser sedikit tubuhmu nak, kasihan adik Alvin mu, dia juga ingin mencium adik bayinya. " seru Nadira karena putrinya terkesan menghalangi Alvin.


Dan benar saja, Aida benar sedikit menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang pada Alvin agar bisa mencium adik Andara nya.


" Atu sayang tamu adik Andala cup... cup... " Alvin mencium hangat kening dan pipi kiri adik Andara nya.


Andra yang menyaksikan tingkah anak - anaknya hanya bisa tersenyum sendiri, rupanya mereka sedang bersaing demi mendapatkan Andara, dan dirinya baru menyadari akan hal itu.


Andra mendekati istrinya, dan ia pun duduk di samping istrinya.


" Mas... " serunya.

__ADS_1


" Maaf, aku lupa tidak mempersilakan mas Andra duduk. "


" Tidak apa - apa sayang, kamu sampai lupa padaku kan karena mereka bertiga. " sahut Andra dengan tersenyum.


Andra merangkul bahu istrinya sehingga membuat istrinya jadi bersandar di bahunya.


Andra merasa begitu sangat bersyukur karena hidupnya menjadi terasa lebih berwarna karena kehadiran istrinya.


" Mas... " seru Nadira.


" Iya. " sahut Andra.


" Apa mas Andra sadar jika mas sudah sangat banyak berubah?. " tanya Nadira.


Andra menjadi sedikit bingung dengan pertanyaan istrinya, memangnya apa yang sudah berubah dari dirinya.


" Memangnya aku berubah apa sayang?, aku banyak berubah?. " sahut Andra.


" Iya, mas Andra sudah sangat banyak berubah, dulu mas Andra begitu sangat dingin dan angkuh padaku, dan itu sangat jauh berbeda dengan mas Andra yang sekarang. " jelas Nadira.


Dada Andra terasa menjadi bergemuruh hebat setelah mendengar hal ini dari istrinya. Kini rasa bersalah itu kembali muncul. Masih sangat teringat dalam benaknya jika dulu dirinya hanya ingin memanfaatkan Nadira saja, memanfaatkannya hanya demi kepentingannya.


" Maafkan aku sayang, maafkan aku. " lantas Andra memeluk dengan erat tubuh istrinya.


" Mas, ada apa?, kenapa malah meminta maaf?. " bingung Nadira.


" Maafkan aku karena dulu begitu sangat angkuh padamu, bahkan aku menyakitimu sayang. " sahut Andra.


Akhirnya Nadira baru paham apa maksud dari suaminya, jadi suaminya merasa bersalah atas kejadian di masa lalu, suaminya merasa bersalah karena dulu pernah menyakiti dirinya.


" Mas, sudahlah, itu kan kejadian di masa lalu, aku cerita tentang mas Andra yang dulu bukan untuk mengenang keburukan mas Andra, tetapi karena aku merasa sangat bersyukur karena mas Andra sudah banyak berubah. "


" Mas Andra sudah banyak berubah, mas Andra yang sekarang lebih mudah tersenyum dan tertawa, aku bahagia bisa melihat itu mas. " tutur Nadira dengan segala kebenaran pengakuannya.


" Ini semua karena kamu sayang, karena kamu hidupku jadi lebih berwarna, terima kasih sayang, kehadiranmu dalam kehidupan ku dan juga Aida adalah anugerah bagi kami, terima kasih sayang. " itulah hal yang sangat Andra syukuri karena kehadiran istrinya.


*****


Siang menjelang sore kediaman Andra telah kedatangan tamu - tamunya. Tamu - tamu ini datang terburu-buru lantaran belum lama mendapat kabar jika Nadira telah melahirkan bayinya. Siapa lagi tamu - tamu itu jika bukan Firly, Putri dan juga bu Dewi.


" Kamu ini keterlaluan Dra, istrimu melahirkan tidak memberitahu kami. " ujar Firly di sela - sela langkahnya.


" Sudahlah, yang penting kan semuanya sudah berjalan baik - baik saja. " sahut Andra santai.


Mereka terus melangkah menuju ke ruangan khusus, di mana Nadira beserta bayi mungilnya sudah dipindahkan.


Bu Dewi membawa oleh - oleh untuk Nadira, bahkan bu Dewi membawa minuman herbal khusus yang bisa mengembalikan stamina wanita yang baru selesai melahirkan.


" Ada di mana bayimu Dra?. " tanya Firly.


" Di sini. "


Ceklek...


Andra pun benar membuka pintu ruangan itu.


" Sayang, ini mereka sudah datang. " seru Andra.


" Dira. " panggil Putri.


" Putri, ibu. " sahut Nadira.


" Yeay... aunty Putli datang, nenek Dewi juga datang. " seru Aida yang senang melihat kedatangan mereka.

__ADS_1


Nadira sangat senang dengan kedatangan mereka, sudah sekitar dua bulan lamanya dirinya tak pernah bertemu dengan orang yang dirinya sudah anggap sebagai keluarganya sendiri.


" Dira... " lantas Putri memeluk sahabat dekat yang sudah dianggapnya saudara.


" Dira, kenapa kamu tidak memberi kabar jika akan melahirkan?, jika aku tahu dari awal, sudah pasti aku akan menemanimu. "


" Sudahlah, tidak apa - apa, memangnya kamu benar akan menemani ku?, jangan ngawur, ada - ada saja kamu Put. " sahut Nadira dengan tersenyum.


Hingga pada akhirnya Putri baru melepaskan pelukannya itu.


" Dira, selamat atas kelahiran anakmu. " seru bu Dewi.


Bu Dewi meletakkan oleh - olehnya di atas meja.


" Itu apa bu?. " tanya Nadira.


" Itu ada ramuan herbal khusus untuk wanita yang baru selesai melahirkan, dan ibu juga membawakan ayam krispi kesukaan mu nak. " jelas bu Dewi.


" Ya ampun ibu, kenapa harus repot - repot?. "


" Repot apanya sih nak?, hanya itu saja repot, kapan lagi ibu bisa membuatkan oleh - oleh khusus yang dibuat dari tangan ibu sendiri jika bukan saat sekarang?. " sahut bu Dewi.


Nadira yang mendengarnya jadi terharu dibuatnya, mengapa dirinya bisa lupa jika masih ada bu Dewi yang sudah dirinya anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


" Bayi mu laki-laki kan Dir, mana bayi mu?. " tanya Putri.


" Itu... " Nadira menolehkan pandangannya pada box bayi yang ternyata sudah dikerumuni banyak orang.


Putri memperhatikan mereka, ternyata di sana juga ada Alvin.


" Alvin menginap di sini Dir?. " tanya Putri.


" Iya, mungkin putraku itu akan lebih lama menginap di sini. " Jelas Nadira.


" Ya sudah, kalau begitu Alvin disuruh pindah ke sini saja Dir, sekolah juga di sini dengan Aida. " sahut Putri.


Nadira hanya tersenyum saja mendengarnya, bagaimana mungkin Alvin pindah ke rumah ini, sudah pasti kedua orang tuanya tak akan mengizinkannya.


" Dra, apa aku boleh gendong anakmu?. " seru Firly.


" Jangan, memangnya kamu bisa menggendong bayi?, nanti yang ada tulang anakku jadi patah gara-gara kamu. " dengan keras Andra melarangnya.


" Ya ampun Dra, apa salahnya menggendong?, aku kan bukan robot, jadi mana mungkin tulang anakmu bisa patah hanya karena aku yang menggendongnya?, katakan saja jika kamu memang tidak ikhlas jika anakmu aku gendong. " Firly sangat tak suka dengan sikap overprotective Andra.


Andra memutar kedua bola matanya malas, sebenarnya benar juga dengan yang dikatakan Firly, dirinya memang belum ikhlas jika Firly menggendong Andara.


Jika Firly menggendong bayinya, bukan tak mungkin jika Firly akan menciumnya, setelah itu pasti di wajah bayinya ada bekas Firly di sana, sementara istrinya Nadira suka menciumi wajah Andara, apa jadinya jika bekas Firly sampai dicium oleh istrinya, tidak - tidak, dirinya tidak ingin hal itu sampai terjadi.


" Tuan Andra, boleh ibu menggendong bayimu nak, ibu ingin menggendongnya. " seru bu Dewi dari arah belakang.


" Silakan bu, silakan saja. " sahut Andra.


Andra begitu sukarela jika bu Dewi yang ingin menggendong bayinya, setidaknya bayinya Andara tidak akan dicium Firly.


" Alvin, Aida, duduk dengan bunda yuk, kita duduk di sana. " seru Andra tiba-tiba pada kedua anaknya.


" Ayo daddy. " sahut keduanya dengan kompak.


Biarkan saja si mungil Andara di gendong oleh bu Dewi dan Putri, dirinya dengan anak - anaknya ingin duduk bersama dengan istrinya.


Hari ini begitu sangat terasa membahagiakan, semuanya terasa begitu sangat lengkap karena kehadiran keluarga kecil ini. Dalam benaknya Andra hanya selalu berdoa dan berharap, semoga keluarga kecilnya selalu dilimpahi dengan kebahagiaan, karena dirinya ingin terus merasakan kebahagiaan ini hingga akhir hayatnya.


Tamat..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2