
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Malam telah berlalu dan berganti menjadi pagi hari yang terasa menyejukkan. Kebersamaan di malam hari semalam mengantarkan keluarga kecil ini tidur dengan nyenyak sehingga mereka bisa bangun lebih segar.
Pagi hari seperti hari biasanya, Nadira sang ibu hamil sudah hampir selesai memberikan pakaian dan mendandani putri kecilnya.
Baju yang bagus serta rapi, rambutnya yang sudah disisir dengan begitu rapi, pemberian lotion badan yang harum serta taburan bedak di wajah cantik putrinya sudah selesai Nadira berikan.
Masih tersisa putranya Alvin yang masih belum selesai dari mandinya.
Sementara Andra sang daddy hanya memperhatikan saja istri dan putrinya, sesekali ia juga melihat ke arah kamar mandi karena di sana terdapat Alvin yang masih mandi.
Cup... cup...
" Anak bunda sudah sangat cantik dan harum. " puji Nadira.
" Memangnya kemalin - kemalin Aida tidak cantik bunda?. " sahut Aida yang nampaknya sedikit tersinggung dengan ucapan bundanya.
" Tentu cantik sayang, anak bunda selalu cantik, hanya saja sekarang lebih cantik lagi karena sudah mandi. " jelas Nadira.
" Huuum... begitu, iya dong cantik, kan Aida milip bunda cantik. "
" Dasar, semua orang sudah tahu kalau anak daddy ini sudah cantik, jadi jangan mudah tersinggung. " sindir Andra.
" Ih, sepelti daddy yang tidak mudah telsinggung saja, daddy kan suka malah - malah, ada salah sedikit saja langsung malah. " sahut Aida yang tak kalah menyindir.
Andra tak menyahut lagi, yang dikatakan putrinya memang benar adanya.
Tak lama dari itu Andra memperhatikan perut buncit istrinya, perut istrinya itu sudah terlihat nampak turun, yang menandakan jika tak lama lagi istrinya ini akan segera melahirkan.
Menurut informasi dari dokter kandungan kepercayaannya, istrinya Nadira kemungkinan akan melahirkan sekitar dua hari lagi, itu artinya waktunya sudah sangat dekat, dan dalam waktu yang sangat dekat ini, membuat Andra menjadi lebih siaga.
Kriett...
Suara dari gagang pintu kamar mandi tiba-tiba saja terdengar, dan ternyata si kecil Alvin sudah keluar dari kamar mandi.
Alvin terlihat sangat menggemaskan ketika menggunakan handuk kimononya yang berwarna biru muda, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas padanya.
" Sayang, sudah mandinya?. " seru Nadira setelah putra kecilnya itu mendekat.
" Iya bunda, bajunya Alpin mana bunda?. " sahut Alvin.
" Kamu ini lucu sekali ya, daddy jadi gemas padamu. " lantas Andra mencubit gemas kedua pipi Alvin.
" Aduh daddy, jangan telas - telas cubitnya, pipinya Alpin jadi satit. " protes Alvin.
__ADS_1
Andra hanya tersenyum saja mendengarnya, jika putrinya Aida yang dicubit sudah pasti akan marah - marah.
Alvin meraih setelan baju yang sudah disediakan bundanya, lalu bocah itu berbalik badan.
" Mau ke mana kamu Alvin?. " bingung Andra.
" Mau pasang baju daddy. " sahut Alvin.
" Ya pasang di sini saja, memangnya kamu mau pasang di mana?. "
" Di tamal mandi daddy. "
Andra malah semakin bingung, mengapa Alvin harus repot - repot kembali ke kamar mandi lagi hanya demi memasang bajunya, bukankah dipasang di sini saja bisa.
" Alvin, kamu ini kok aneh sekali sih?, mau kembali ke kamar mandi hanya untuk memasang baju, kenapa tidak dipasang di sini saja?. " sahut Andra.
" Alpin malu daddy, Alpin malu talo pasang baju di sini. " sahut Alvin pada akhirnya.
Sontak saja pernyataan Alvin ini membuat Andra melongo. Apakah dirinya tak salah mendengar, anak sekecil Alvin sudah punya rasa malu seperti orang dewasa.
" Alvin, kamu ini mau pasang baju saja lepot, kenapa tidak dipasang di sini saja sih? lagipula kamu malu sama siapa?, siapa yang mau lihat kamu?. " cerocos Aida yang merasa sangat heran dengan tingkah Alvin.
" Ya malu sama tamu sama daddy. " sahut Alvin.
" Ya sudah - ya sudah, kalau Alvin mau ganti baju jangan di kamar mandi nak, gantinya di ruangan sebelah, itu di sana. " sahut Nadira dengan menunjuk sebuah ruang ganti baju.
" Sayang, apa aku tidak salah lihat?. " tanya Andra.
" Salah lihat apa mas?, memangnya mas Andra lihat apa?. "
" Ya Alvin, apa dia memang suka malu seperti itu?, masih kecil saja rasa malunya tidak kalah dengan orang dewasa. " sahut Andra.
Nadira yang mendengarnya hanya tersenyum saja. Suaminya Andra masih belum tahu jika Alvin memang tak terbiasa dengan orang yang masih belum benar-benar dekat dengannya, apalagi putranya itu dari semenjak masih sangat kecil selalu dirinya ajari untuk tidak memperlihatkan tubuhnya ke semua orang.
" Kenapa kamu tersenyum sayang?, ada yang lucu?. "
" Tidak - tidak, Alvin memang seperti itu anaknya mas, dia masih belum terbiasa dengan mas Andra dan juga Aida. "
" Dari semenjak masih sangat bayi aku memang selalu membimbing dan mengajari Alvin agar tidak memperlihatkan tubuhnya ke semua orang kecuali pada orang-orang tertentu, dan sekarang anak itu merasa malu sama mas dan juga Aida, maklum, masih belum terbiasa mas. " tutur Nadira agar suaminya ini mengerti.
Andra baru paham, memang tak diherankan jika anak sekecil Alvin sudah memiliki kesadaran yang tinggi seperti itu, pasalnya sudah semenjak dari bayi istrinya Nadira yang mendidiknya sehingga Alvin tumbuh menjadi anak yang bisa menjaga sikapnya.
Semenjak awal dirinya sudah menyadari jika Alvin memang memiliki kemiripan dengan Nadira, terutama dalam bersikap.
Semoga saja putrinya Aida bisa perlahan berubah, berubah menjadi seperti bundanya Nadira, meski itu sangat sulit karena Aida menuruni sifat dari dirinya.
" Bunda, apa menulut bunda Aida tidak tahu malu?. " tiba - tiba saja Aida malah menanyakan hal itu.
__ADS_1
" Tidak tahu malu?, tidak tahu malu apa sayang?. " bingung Nadira.
" Iya, tidak tahu malu, kata bunda Alvin melasa malu pada daddy dan juga Aida kalna belum telbiasa, Aida pasang baju di depan daddy dan bunda, apa itu altinya Aida tidak tahu malu bunda?. " terang Aida.
Nadira jadi menghela napasnya ketika mendengar hal ini, apakah putrinya ini merasa berkecil hati karena tak sama seperti Alvin.
Dengan lembut Nadira menarik tubuh putrinya agar duduk di sampingnya.
" Ya tidaklah sayang, memangnya Aida tidak tahu malu?, putri bunda yang cantik ini bukan tidak tahu malu, tapi sangat pemberani. "
" Orang yang pemberani itu bukan berarti tidak tahu malu, selama ini kan putri bunda suka menentang hal yang tidak disukai. "
" Hanya saja putri bunda ini harus belajar untuk lebih bisa bersikap lebih lembut lagi, bagaimana?, apa anak bunda yang cantik ini mau melakukannya?. " dengan panjang kali lebar Nadira menuturnya.
Aida mengangguk saja, yang dituturkan bundanya baik, maka dirinya harus menurutinya.
" Begitu dong putri daddy harus nurut. " timpal sang daddy Andra.
" Daddy juga halus nulut, nulut sama bunda jangan hanya Aida saja yang disuluh nulut. " sahut Aida cepat - cepat.
Baru saja Andra merasa bangga karena putrinya yang akan berubah menjadi lebih baik, namun rasa bangganya itu malah terhempas setelah mendengar bantahan dari putrinya, tapi ya sudahlah, setidaknya sudah ada sedikit perubahan pada putrinya semenjak bersama istrinya Nadira, lebih tepatnya putrinya Aida lebih menuruti Nadira daripada dirinya.
Namun Nadira tak lagi bersuara, setelah memberikan penuturannya pada putrinya, ibu muda itu jadi diam.
Nadira kembali merasakan gejolak yang tak nyaman di perutnya, seperti ingin kembali ke kamar belakang, padahal tadi pagi - pagi sekali dirinya sudah ke kamar belakang.
" Kenapa perutku mulas lagi?. " batinnya.
Hingga pada akhirnya Nadira mulai bangkit dari posisinya.
" Sayang, mau ke mana?. " tanya Andra.
" Aku mau ke toilet mas, kalau Alvin sudah keluar, pakaikan saja body lotion dan bedaknya. " sahut Nadira.
Lantas Nadira mulai melangkah untuk menuju ke kamar kecil.
" Daddy, bukankah tadi bunda sudah ke toilet?, sekalang malah ke toilet lagi?. " tanya Aida.
" Iya sayang. " hanya itu sahutan Andra.
Andra juga agak bingung, apakah istrinya tadi malam banyak makan makanan pedas sehingga harus bolak balik ke kamar kecil?, tapi tadi malam tidak seperti itu, lagipula itu tidak mungkin, istrinya Nadira kurang menyukai makanan pedas.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1