Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Nona Nadira Hamil


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Jam dinding yang terpasang di salah satu bagian dinding di ruangan perawatan khusus VVIP ini masih terus menggerakkan arah jarumnya sebagai penunjuk waktu.


Ini sudah hampir menjelang siang, namun si kecil Aida masih belum menunjukkan tanda - tanda untuk membuka kedua matanya.


Sementara Nadira sang bunda yang merasa begitu sangat khawatir akan kondisi putrinya, sedikitpun tak ada niat untuk beranjak dari duduknya. Nadira sedari tadi masih setia menemani putri kecilnya yang masih tak kunjung sadar.


" Sayang ". Seru Andra lembut sembari mengusap kepala istrinya.


" Kamu istirahat dulu ya sayang, dari tadi kamu duduk terus, baringkan tubuhmu di sofa kasur itu ". Sarannya.


" Tidak mas, aku ingin di sini, aku ingin lihat putri kita sadar ". Sahut Nadira, ternyata Nadira masih tetap pada keinginannya.


" Tapi kamu sudah dari tadi duduk di sini sayang, apa kamu tidak lelah, aku tahu jika kamu begitu sangat mengkhawatirkan putri kita, tapi kamu juga harus istirahat agar tidak sakit, aku tidak ingin kamu sakit sayang ". Sahut Andra agar istrinya mau mengikuti sarannya.


" Tidak mas, aku mau tetap di sini, mas Andra saja sana yang istirahat, aku ingin menemani putri kita di sini mas ". Lagi, Nadira menolak saran dari suaminya.


Andra hanya bisa menghela nafas pasrah, kalau sudah seperti ini sangat tidak mungkin jika dirinya terus memaksakan keinginannya.


Sebenarnya tubuh Nadira sudah merasa lelah dan ingin beristirahat, namun rasa tak tenang sebelum putri kecilnya bisa sadar membuatnya begitu sangat enggan untuk berpindah dari sisi putrinya.


Tok... tok... tok...


Ceklek...


Tiba - tiba saja pintu ruangan rawat ini ada yang membukanya, dan ternyata yang datang adalah bi Sari, suster Linda dan pak Rahman.


" Siang, tuan nona ". Seru semua asisten Andra.


" Siang ". Sahut Andra dengan singkat.


" Tuan nona, saya membawakan makan siang untuk tuan Andra dan juga nona Dira, pasti tuan dan nona masih belum makan siang ". Tutur bi Sari.


Bi Sari pun meletakkan makanan itu di atas meja yang telah tersedia.


" Kalian dari tadi hanya bertiga ya?, kemana Ria? ". Tanya Andra.


" Suster Ria ada di rumah tuan, katanya ingin di rumah saja ". Sahut suster Lina.


" Aneh sekali dia, putriku sudah tenggelam ke dasar kolam karena kecerobohannya, dan dia sama sekali tidak punya inisiatif untuk datang kemari, dasar tidak bertanggungjawab ". Sahut Andra.


Bi Sari, suster Linda serta pak Rahman cukup terheran dengan ucapan tuannya, mungkinkah tuannya menyindir semua asisten di rumahnya, lalu mengapa hanya Ria yang dianggap tidak bertanggungjawab, seharusnya kan bukan hanya Ria yang disalahkan, namun semuanya.


" Tuan Andra maafkan atas keteledoran kami yang sudah gagal dalam menjaga nona Aida, kami janji setelah ini akan lebih berhati - hati lagi dalam bekerja ". Seru bi Sari.


" Iya tuan tolong maafkan kami, setelah ini kami akan lebih berhati-hati lagi dalam menjaga nona kecil ". Timpal suster Lina.


Mereka sibuk dengan obrolan mereka tentang tanggungjawab dan keteledoran yang sudah terjadi, mereka tak menyadari jika Nadira sama sekali tak memberikan respon terhadap persoalan yang sedang di bahas.


Nadira diam karena sedang menahan sesuatu, kepala Nadira terasa begitu pusing dan dirinya malah tetap berusaha untuk menguat - kuatkan.


" Ya Tuhan, kepalaku pusing, ini pusing sekali ". Batin Nadira.


Dengan tak mempedulikan obrolan sang suami beserta semua asistennya, Nadira berusaha memegangi kepalanya, namun rasanya percuma karena kepalanya terasa semakin pusing saja.


" Sudah kalian jangan berdiri saja, duduklah di sofa, ke depannya kalian memang harus lebih baik dalam bekerja, persoalan ini tidak terlalu mempermasalahkan apa yang kalian kerjakan tadi pagi, yang terjadi pada putriku adalah keteledoran dari Ria, jadi dia harus... ".


Brukk...


" Ya Tuhan nona ".

__ADS_1


" Ya Tuhan sayang ".


Semuanya pun mendadak dibuat sangat terkejut karena Nadira yang tiba - tiba saja pingsan tak sadarkan diri.


" Ya Tuhan sayang ".


Rasa khawatir kembali mencuat dalam benak Andra, apa yang terjadi pada istrinya Nadira, mungkinkah istrinya bisa pingsan seperti ini karena kurang istirahat.


" Ya Tuhan nona Dira apa yang terjadi kenapa bisa sampai pingsan begini non? ".


" Cepat panggil dokter istriku harus segera di tolong ". Teriak Andra.


Pak Rahman, bi Sari dan suster Lina pun langsung berlarian keluar untuk memanggil dokter.


Ruangan rawat ini menjadi gaduh, semuanya mendadak menjadi panik karena pingsannya Nadira.


Andra membawa tubuh mungil istrinya yang tak sadarkan diri itu ke atas sofa lebarnya.


" Sayang, sadarlah sayang, kenapa kamu jadi pingsan begini?, ya Tuhan ".


Putri kecilnya masih belum sadar, dan sekarang ditambah dengan istrinya yang juga ikut - ikutan tak sadar.


Ada rasa penyesalan dalam benak Andra, seharusnya dirinya bisa lebih tegas bersikap agar istrinya Nadira mau beristirahat, pingsannya istrinya adalah bukti jika dirinya tak bisa menjaga istrinya dengan baik.


Ceklek...


Bi Sari, suster Lina, pak Rahman serta sang dokter dan susternya pun sudah memasuki ruangan.


" Dok tolong istriku ". Seru Andra dengan begitu khawatirnya.


" Baik tuan ". Sahut sang dokter.


Dengan dibantu oleh susternya dokter pria itupun mulai melakukan pemeriksaan.


" Semoga saja nona tidak kenapa - kenapa ". Khawatir bi Sari.


" Kita doakan saja agar nona Dira baik - baik saja ". Bisik pak Rahman diantara keduanya.


Bi Sari dan suster Lina pun mengangguki dengan yang dikatakan oleh pak Rahman. Benar yang harus dilakukan adalah mendoakan nona dari tuannya agar tidak terjadi hal yang buruk.


" Bagaimana dok, istriku kenapa? ". Tanya Andra.


" Tuan, kapan terakhir kali nona kedatangan tamu bulanannya? ". Sang dokter malah balik bertanya.


Sontak Andra pun menjadi bingung.


" Aku tidak tahu, tapi dari tiga bulan selama masa pernikahan kami hingga sekarang yang aku ingat istriku hanya satu kali datang bulan, iya yang aku ingat baru satu kali, memangnya ada apa dengan istriku? ". Sahut Andra.


Dokter pun menjadi tersenyum setelah mendengar jawaban dari tuannya, sepertinya dugaannya tidak salah.


" Ada apa?, kenapa kamu tersenyum dok?, istriku pingsan begini kamu malah tersenyum ".


" Ini baru dugaan saya tuan, sepertinya nona Dira sedang hamil, untuk memastikan apakah nona benar positif hamil alangkah lebih baik jika dokter kandungan yang lanjut melakukan memeriksanya ". Jelas sang dokter.


Andra menjadi terdiam kala dokternya mengatakan hal yang tak pernah dirinya duga. Benarkah istrinya sedang mengandung. Apakah mungkin sikap aneh yang seringkali istrinya tunjukkan adalah karena bawaan dari kandungannya.


" Jadi untuk mengetahui pemeriksaan lebih lanjut, sebaiknya nona di pindah ke kamar lain tuan, karena setelah saya periksa tubuh nona sedikit mengalami kelelahan ". Lanjut sang dokter.


" Jadi nona Dira benar hamil dok?, alhamdulillah... akhirnya nona Aida akan segera punya adik, selamat ya tuan Andra karena tidak lama lagi tuan akan segera dapat tambahan momongan ". Seru bi Sari yang begitu sangat bahagia.


" Iya tuan selamat tuan kita semua turut bahagia tuan ". Seru suster Lina.


" Tuan Andra selamat, saya turut bahagia dengan kabar ini, pasti setelah ini nona kecil Aida akan sangat bahagia setelah mendengar kabar ini, mungkin ini adalah hadiah untuk nona Aida karena telah melewati ujian yang hampir merenggut nyawanya, selamat tuan Andra ". Seru pak Rahman yang juga ikut bahagia.

__ADS_1


Andra hanya bisa diam dengan senyuman hambarnya. Dalam benaknya sebenarnya dirinya begitu sangat bahagia jika apa yang dikatakan oleh dokter memang benar adanya. Namun dirinya juga tak boleh langsung mengambil kesimpulan, bagaimana jika prediksi dari dokternya ternyata salah.


*****


Dokter cantik dengan menggunakan hijab berwarna hijau daun itu sedang memeriksa nona dari tuannya. Dokter cantik yang berprofesi sebagai dokter kandungan yang telah bekerja hampir tujuh tahun di rumah sakit ini melakukan pemeriksaan dengan begitu sangat hati - hati terutama disaat memeriksa bagian dari perut nona nya.


Namun belum lama pemeriksaan berlangsung, nona dari tuannya ini malah tersadar dari pingsannya.


" Sayang, kamu sudah sadar ". Seru Andra dengan senyuman bahagianya.


" Akhirnya nona sadar, syukurlah kalau nona sudah sadar ". Ujar sang dokter cantik itu dengan masih melakukan pemeriksaannya.


Nadira menatap bingung pada suaminya. Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa dirinya seperti ada di ruangan pemeriksaan, dan apa maksud dari gambar - gambar yang terpasang di dinding ruang ini, mengapa ada gambar - gambar bayi serta ibu hamil yang lengkap dengan keterangannya.


Cup... cup... cup...


" Tenanglah saya, dokter masih melakukan pemeriksaan, sebentar lagi kita akan tahu hasilnya ". Seru Andra.


Andra sangat tahu jika istrinya pasti masih merasa bingung, tapi jika benar, tidak lama lagi kebingungan itu akan berubah menjadi kebahagiaan.


" Selamat tuan, nona, tidak lama lagi tuan dan nona akan segera mendapat tambahan momongan, nona Dira positif hamil ". Seru sang dokter pada akhirnya.


" Jadi istriku benar hamil dok? ". Sungguh Andra begitu sangat bahagia dengan kabar ini.


" Iya tuan, nona Dira positif hamil, coba tuan dan nona perhatikan layar monitor di sini, lihatlah, di sini sudah begitu nampak dengan jelas janinnya ". Ujar sang dokter dengan memperlihatkan keadaan janin.


" Sayang, kita akan punya anak, lihatlah, itu calon anak kita, sebentar lagi Aida akan punya adik sayang, terima kasih sayang ".


Cup... cup... cup...


Andra menghujani di hampir semua bagian wajah istrinya dengan ciuman. Sungguh tak bisa digambarkan lagi akan bagaimana bahagianya hati Andra karena kehamilan istrinya.


Nadira hanya bisa terdiam dengan tatapannya yang masih menatap lekat pada layar monitor pemeriksaan itu. Apakah dirinya tidak salah melihat, benarkah itu.


Tanpa terasa Nadira menjatuhkan air matanya. Benarkah yang dirinya lihat ini. Sesuatu yang terlihat seperti gumpalan daging yang masih belum jelas apa warnanya adalah janinnya. Jadi dirinya benar mengandung.


" Lihatlah tuan nona, jika dilihat dari ukuran janinnya, janin sudah berumur sekitar dua bulanan, dan janin berkembang dengan sangat baik ". Jelas sang dokter yang memberikan penjabarannya.


" Sayang ".


" Mas itu... ".


" Iya, itu anak kita, adiknya Aida, kamu hamil sayang, kamu hamil, terima kasih istriku karena kamu aku banyak mendapatkan kebahagiaan ".


Cup...


Nadira semakin menjatuhkan air matanya, ia menangis bahagia. Sungguh ini adalah kebahagiaan yang begitu luar biasa yang dirinya rasakan. Nadira tak menyangka jika di dalam rahimnya saat ini telah tumbuh hasil dari buah cintanya bersama sang suami Andra, dan ini sungguh kebahagiaan yang sangat luar biasa.


" Aku mencintaimu sayang, terima kasih atas hadiah yang begitu luar biasa yang sudah kamu berikan ".


Cup...


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


Buat kakak - kakak yang bertanya mengapa Author jarang update, karena Author juga sibuk di novel sebelah kak, dan Author juga merevisi beberapa bab karya novel Author di aplikasi lain.


Mohon maafkan Author apabila tidak bisa update setiap hari ya. Tapi InsyaAllah, meski Author jarang update, Author akan tetap menamatkan semua karya Author.


Selama Author masih sehat dan masih diberi umur yang cukup, insyaallah Author akan menyelesaikan semua karya Author dan tidak akan berhenti di tengah jalan.

__ADS_1


Buat kakak - kakaknya, terima kasih karena selama ini sudah banyak memberikan dukungan untuk karya Author.


❀❀❀❀❀


__ADS_2