Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Ingin Makan Bakso


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Dilarang banyak melakukan aktivitas di pagi ini nampaknya sudah mulai kembali aktif. Sebenarnya bukan hanya pagi ini, di waktu - waktu sebelumnya memang dirinya dilarang untuk banyak beraktivitas oleh sang suami.


Aida si gadis kecil hanya diam dengan menyilangkan kedua tangan mungilnya di dadanya. Gadis kecil itu hanya bisa menggeleng melihat tingkah daddy nya. Ada apalagi dengan daddy nya, mengapa bundanya malah disuruh berbaring.


Pagi hari seperti ini, sudah kembali ada drama. Setahunya bundanya tidak sakit, tapi daddy nya menyelimuti bundanya dengan begitu rapi seolah bundanya mengalami demam.


" Mas, apa perlu sampai seperti ini? ". Seru Nadira karena menurutnya suaminya agak berlebihan.


" Sudahlah sayang, istirahat saja dulu, kamu perlu istirahat ". Sahut Andra.


Lantas pria yang memiliki bola mata biru itu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya seolah ingin berbisik.


" Sayang, pagi ini kamu harus beristirahat, aku tidak mau kamu sampai kelelahan karena yang semalam ". Bisik Andra.


Sontak Nadira menjadi tersipu malu yang mendengarnya, ternyata ini alasan mengapa suaminya menyuruhnya untuk beristirahat di waktu sepagi ini, ternyata karena kegiatan panasnya yang semalam.


" Daddy ". Panggil Aida.


" Iya, ada apa sayang? ". Lantas sang daddy mendekati putrinya.


" Ada apa sih putri daddy? ". Serunya, Andra membawa tubuh mungil putrinya itu dan membawanya duduk di pangkuannya.


" Daddy yang ada apa?, kenapa bunda halus diselimuti sepelti itu lagi, kan bunda tidak sakit?, heeeh... daddy mulai posesif lagi ". Sahut Aida.


" Memangnya kenapa kalau daddy posesif sama bunda mu sayang, kan bagus? ". Sahut Andra.


" Ya sudah telselah daddy saja, daddy memang selalu aneh ". Pasrah Aida.


Aida tak ingin bertanya - tanya lagi, agar tak semakin panjang urusannya.


Cup... cup...


" Besok Aida harus belajar berenang lagi ya, daddy mau putri daddy ini cepat lancar berenangnya ". Tutur Andra.


" Iya, besok Aida belenang lagi sama daddy ". Sahut Aida.


" Iya itu harus, daddy mau dalam waktu dua bulan ini, putri daddy yang cantik ini sudah harus benar-benar bisa berenang ". Sahut Andra.


" Memangnya Aida bisa daddy?, dua bulan itu lama atau sebental? ". Sahut Aida.


" Itu cukup lama sayang, kalau Aida rajin belajar berenangnya daddy yakin tidak sampai dua bulan Aida sudah bisa berenang ". Jelas Andra.


" Mas... jangan terlalu dipaksakan, kasihan putri kita mas ". Seru Nadira yang tiba - tiba ikut menimpali.

__ADS_1


" Tenang sajalah sayang, percayakan pada suami mu, Aida masih belum bisa berenang karena memang aku jarang mengajarinya berenang, tapi mulai besok aku akan lebih rajin mengajarinya berenang ". Sahut Andra.


" Ya sudah, terserah mas Andra saja sudah, aku tidak mau saja kalau putri kita sampai kelelahan ". Sahut Nadira.


Nampaknya dirinya memang tak perlu merasa khawatir, karena suaminya Andra memang orang yang dapat dipercaya.


" Daddy ".


" Iya, ada apa sayang? ". Sahut Andra.


" Daddy, Aida mau nanti sole kita ke taman kota ya, Aida sudah lama tidak ke sana daddy ". Bahkan Aida sedikit merengek.


" Benarkah sayang?, Aida ingin ke taman? ". Lantas Nadira mulai bangkit dari berbaring nya.


" Iya bunda, Aida ingin ke taman, Aida sudah lama tidak ke taman kota, kalau daddy mau mengantal, kita akan jadi belangkat nanti sole ". Sangat jelas jika Aida begitu sangat antusias.


" Mas, mau ya mas, aku sudah lama tidak ke sana, mumpung Aida ingin ke taman, aku ingin juga pergi ke sana mas ". Kali ini Nadira benar membujuk suaminya.


" Kalian ini kompak sekali ya, ya sudah nanti sore kita pergi taman ".


" Yeay... kita jadi ke taman, pasti selu sekali yeay - yeay... telima kasih daddy ". Dengan begitu girangnya Aida merasa sangat senang, akhirnya dirinya bisa berkunjung ke taman lagi.


Wajar saja jika gadis kecil itu merasa senang, karena dirinya memang sudah lama tak pernah bermain ke taman kota lagi. Dan pada saat daddy nya setuju untuk pergi ke taman, tentulah dirinya tak ingin menghilangkan kesempatan ini, apalagi dirinya pergi ke sana dengan ditemani oleh bundanya.


" Kalian berdua senang sekali, kalian puas ya? ". Seru Andra.


" Iya mas, iya daddy ".


Ternyata tak sulit juga untuk mengajak Andra, biasanya ketika diajak keluar Andra akan cenderung melarang, namun ternyata tidak untuk kali ini.


*****


Suasana alam menjadi terasa lebih sejuk ketika memasuki sore hari. Mobil mewah berwarna silver itu telah tiba di parkiran taman kota.


Sesuai dengan kesepakatan tadi pagi jika keluarga kecil ini akan berkunjung ke taman kota.


Andra dan keluarga kecilnya telah sampai di taman kota. Keluarga kecil itu mulai keluar dari mobilnya.


" Yeay... akhilnya sampai juga di taman kota asyiiik... ". Bahkan dari saking senangnya si kecil Aida sampai merentangkan kedua tangan mungilnya.


" Aida senang ya sayang?, sama, bunda juga senang ". Sahut Nadira dengan tersenyum.


Sepasang ibu dan putri kecilnya itu benar-benar sangat senang bisa menginjakkan kaki mereka di taman ini lagi. Sebuah taman yang menjadi tempat di mana keduanya saling bertemu untuk pertama kalinya. Taman kota yang indah ini benar-benar menjadi sebuah tempat bersejarah bagi Nadira dan juga putrinya Aida, karena taman inilah yang menjadi pengantar sampai membuat seorang gadis muda benar menjadi seorang ibu dari seorang gadis kecil.


" Kalian berdua senang sekali ya, seperti orang yang baru menang lotre ". Sindir Andra pada anak dan juga istrinya.


" Ya tentulah kami senang daddy, kami kan sudah lama tidak main di sini ". Sahut Aida.

__ADS_1


Iya, yang dikatakan oleh putrinya memang benar, anak dan istrinya memang sudah cukup lama tak berkunjung ke taman ini, maka tak heran jika keduanya merasa begitu sangat senang ketika kembali menginjakkan kaki mereka di taman ini.


Lantas Andra mulai meraih tangan istrinya dan juga tangan mungil putri kecilnya. Pria yang memiliki postur tubuh yang tinggi itu membawa dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya untuk melangkah menuju ke tengah taman.


Banyak pasang mata yang menatap kagum pada mereka, apalagi dari beberapa pengunjung lainnya sudah tahu siapa sosok Andra.


Andra membawa sang istri dan juga putri kecilnya untuk duduk di salah satu kursi kayu panjang yang ada papan sandarnya, ia sengaja memilih kursi itu agar istrinya Nadira bisa bersandar.


" Wah... lama tidak ke sini telnyata bunga - bunganya banyak yang tumbuh, cantik - cantik lagi bunganya ". Puji Aida setelah gadis kecil itu mengetahui keadaan tanaman bunga di taman ini berkembang sangat indah.


" Iya sayang, bunganya sudah banyak yang bermekaran, Aida suka?, bunda juga suka sayang ". Puji Nadira.


Menyaksikan senyuman dari sang istri dan juga putri kecilnya membuat hati Andra merasa tentram dibuatnya. Bagaimana tidak seperti itu, cukup dengan hal yang sederhana saja sudah membuat dua sosok wanita yang sangat berharga ini mampu tersenyum.


Nadira terus memandangi bunga - bunga yang indah itu, satu persatu dari setiap pohon bunga yang ada terus dirinya pandangi, hingga tanpa sengaja dirinya malah melihat sebuah gerobak bakso yang tak jauh dari bunga itu tumbuh.


Jujur Nadira malah tergoda dengan gerobak bakso itu, lebih tepatnya Nadira ingin makan bakso di sana.


" Mas... ". Seru Nadira lembut.


" Iya ada apa sayang? ". Sahut Andra.


" Apa mas lihat gerobak bakso itu? ". Sahut Nadira dengan menunjuk ke arah gerobak bakso.


Sontak Andra pun langsung mengarahkan pandangannya mengikuti ke mana tangan istrinya menunjuk.


" Iya, itu gerobak bakso, ada apa sayang? ". Sahut Andra.


" Aku ingin makan bakso itu mas ". Sahut Nadira.


" Apa?... makan bakso itu?... tidak - tidak, itu kan tempatnya terbuka sayang, pasti bakso itu sudah terkontaminasi dengan polusi udara yang ada di sini, tidak - tidak, kamu tidak boleh makan bakso itu ". Dengan begitu sarkasnya Andra melarang keinginan istrinya.


Dan benar saja, Nadira langsung tertunduk lesu setelah suaminya melarangnya. Padahal dirinya begitu sangat ingin memakan bakso itu, namun suaminya malah dengan tegas melarangnya.


Si kecil Aida melihat gerobak bakso itu, dan di sana juga banyak orang-orang yang membeli bakso.


" Daddy, di sana banyak yang beli bakso, belalti baksonya belsih daddy ". Seru Aida.


" Bersih apanya sayang, jelas - jelas itu tempatnya terbuka, sudahlah jika kita ingin makan bakso, kita makan saja di restoran, di sana lebih terjamin kebersihannya ". Sahut Andra.


Bukannya Andra tak ingin menuruti keinginan sang istri dan juga putrinya, hanya saja dirinya tak ingin jika istri dan anaknya sampai memakan makanan yang tak jelas kebersihannya.


Apakah seperti ini caranya untuk memberikan yang terbaik bagi istri dan juga anaknya, sampai-sampai untuk makan saja begitu sangat selektif.


Apakah Andra menyadari jika larangannya ini akan membuat istrinya merasa sedih. Padahal bisa jadi istrinya yang menginginkan bakso itu karena sedang mengidam.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2