
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang mentari pagi masih nampak baru muncul, semburat cahayanya masihlah belum sepenuhnya bisa menyinari setiap hamparan tanah dan tumbuh - tumbuhan yang ada, artinya waktu subuh baru saja usai.
Namun meski subuh baru saja usai, ternyata seorang gadis cantik dengan mengendarai motor matic nya telah datang ke kediaman mewah Andra, entah apa yang ingin dilakukannya di pagi - pagi seperti ini.
" Selamat pagi nona Dira, wah nona Dira pagi sekali sampai di sini? ". Seru pak Rahman yang menyambut kedatangan Nadira namun para bodyguard yang lain yang juga bekerja hanya sedikit membungkukkan tubuh gagah mereka pada Nadira.
" Pagi pak Rahman, pagi semuanya, iya nih, saya memang sengaja datang pagi - pagi sekali datang ke mari, saya memang sengaja datang pagi pak karena saya ingin menemui Aida ". Sahut Nadira.
" Begitu nona, tapi tadi subuh tuan Andra menghangatkan mobilnya, sepertinya tuan Andra ada rencana untuk menjemput nona, tapi nona sudah datang lebih dulu ". Sahut pak Rahman lagi.
" Itulah mengapa saya datang lebih pagi pak, supaya mas Andra tidak jadi menjemput ke rumah, hitung - hitung kedatangan saya ke mari sebagai kejutan ". Sahut Nadira.
" Hihihihi... iya, benar juga nona ". Sahut pak Rahman yang merasa lucu dengan tingkah nona Nadira nya.
" Ini pak, saya bawa puding, pak Rahman dan yang lainnya bisa makan ini ". Sahut Nadira lagi dengan menyodorkan bungkusan kue yang sudah berisi potongan puding.
" Wah terima kasih nona, pasti rasanya sangat enak, saya dan yang lainnya pasti suka ". Seru pak Rahman yang berterima kasih dengan sambil lalu menerima bungkusan kue puding itu.
" Selamat menikmati ya pak, ya sudah, saya mau masuk dulu ". Seru Nadira pada akhirnya.
Lalu dengan membawa bungkusan puding yang sudah dibuatnya itu, gadis cantik itupun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah Andra.
" Hey, ayo yang lain, sini - sini, kenapa malah diam di tempat, ayo kita makan puding nya ". Seru pak Rahman yang mengajak para bodyguard tuan Andra nya.
Setelah mendapat panggilan dari pak Rahman, mereka semua pun langsung mendekat.
Senyum sumringah nampak terlihat dari wajah - wajah bodyguard itu, ternyata mereka bisa juga tersenyum.
" Ayo, di makan ini, kalian sok terlihat tidak mau ". Seru pak Rahman yang meledek mereka.
" Bukan tidak mau pak, hanya saja kami menunggu nona Dira benar - benar masuk ke dalam rumah ". Sahut salah satu dari mereka.
Pak Rahman yang mendengarnya hanya bisa menggeleng kepala, rupanya sosok - sosok yang terlihat garang ini bisa memiliki rasa tak enak hati juga pada nona Nadira nya, ya baguslah, itu semua sudah menandakan jika mau terlihat segarang apapun mereka, mereka tetaplah manusia yang memiliki hati dan perasaan.
*****
Sepasang daddy dengan putri kecilnya itu sedang duduk bersama untuk menikmati sarapan pagi mereka, daddy dengan putri kecilnya itu akhir - akhir ini memang telah sering sarapan lebih awal dari waktu biasanya, karena mereka telah memiliki kebiasaan rutin untuk menjemput Nadira yang tak lain adalah kekasih Andra dan juga bunda bagi Aida.
Namun, daddy dan putrinya itu sama sekali belum mengetahui jika sosok yang akan mereka jemput nanti telah datang ke kediaman mereka, sehingga mereka pun memakan sarapan mereka dengan sedikit terburu - buru.
" Assalamualaikum, mas, putrinya bunda ". Seru salam dari seorang wanita yang begitu tak asing dalam indera pendengaran sepasang daddy dan putrinya itu.
Adanya seruan yang terdengar begitu tak terduga itu, sontak membuat Andra dan juga putri kecilnya langsung menoleh ke arah sumber suara.
" Bunda ". Seru si kecil AidaAida.
Dan ternyata memang benar jika suara itu memanglah suara Nadira.
__ADS_1
" Bundaaa... ". Pekik si kecil Aida dengan begitu girangnya, karena begitu sangat senang gadis kecil itupun langsung turun dari kursinya sebelum akhirnya berlari menuju ke arah bunda nya.
Andra yang awalnya menikmati sarapannya menjadi cukup terkaget, pasalnya kekasihnya Nadira sama sekali tak memberikan kabar apapun jika ingin datang sendiri ke rumahnya.
" Sayang, kamu datang ke sini, kenapa tidak memberitahuku? ". Seru Andra setelah mendekati kekasihnya.
" Karena aku ingin memberi kejutan, tidak apalah mas sekali - kali datang sendiri ke sini ". Sahut Nadira dengan tersenyum manis pada Andra.
Cup... cup... sudah menjadi kebiasaan bagi Andra untuk memberikan ciuman di kening kekasihnya.
" Bunda, ini apa, bunda bawa sesuatu? ". Tanya Aida, pasalnya Aida menajdi begitu penasaran dengan bungkusan yang bergelantungan di tangan kanan bunda nya.
" Ini untuk Aida dan juga daddy, bunda bawa puding susu pandan sayang, ini enak sekali rasanya ". Sahut Nadira.
" Wah... Aida jadi penasalan bunda, Aida mau bunda, sepeltinya ini enak kalau di makan ". Sahut Aida dengan tanpa menurunkan pandangannya dari bingkisan kue itu.
Karena merasa sudah begitu tak sabar ingin melihat isinya, dengan gerakan cepat sepasang tangan mungil milik Aida pun mulai meraih bungkusan kue yang ada di genggaman tangan bunda nya itu.
Nadira yang melihat aksi menggemaskan dari putri kecilnya ini menjadi tersenyum sendiri, selain tak sabar ingin agar selalu bisa bertemu dengannya, rupanya putri kecilnya juga begitu sangat tak sabar dengan hasil olahan kue nya.
" Putri daddy hati - hati sayang ". Seru Andra kala putri kecilnya Aida berlari dengan terburu - buru sambil membawa pudingnya.
" Aduh, ada - ada saja Aida, ya sudah sayang, kita sarapan yuk, pasti kamu masih belum sarapan ". Seru Andra pada akhirnya.
" Mas Andra tahu saja kalau aku memang belum sarapan ". Sahut Nadira dengan tersenyum masam pada Andra.
Tentulah Andra bisa mengetahui dan merasakan jika kekasihnya Nadira masih belum sarapan, karena waktu sepagi ini adalah waktu yang biasa orang - orang lakukan untuk mengganjal perut mereka, namun Nadira yang seharusnya sarapan di waktu seperti ini, malah menyempatkan dirinya itu datang lebih dulu.
*****
Sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kecil ini untuk menikmati kebersamaan mereka, seolah tak pernah kehilangan semangatnya gadis kecil yang sibuk dengan mainannya itu ternyata masih tak henti - hentinya memakan puding susu pandannya.
Ia bermain sambil lalu mengunyah puding buatan bunda nya, rupanya puding susu pandan itu terasa begitu enak di lidahnya.
Nadira yang juga ikut bermain bersama putri kecilnya dengan menata berbagai macam boneka yang berukuran serba mini ini, menjadi tak henti - henti tersenyum, bagaimana tidak, tingkah putrinya yang seperti ini benar - benar begitu sangat menggemaskan.
" Aida, sini nak, duduk di pangkuan bunda ". Seru Nadira lembut pada putrinya.
Dengan tanpa keberatan Aida pun menuruti keinginan sang bunda tercintanya itu, ia duduk di atas pangkuan bunda nya.
Beruntung Aida memilih untuk duduk lesehan saja di atas karpet tebal dan berbulu empuk itu, sehingga tubuh mungilnya bisa dengan mudah berpindah posisi apalagi jika hanya sekedar duduk di pangkuan bunda nya.
Dengan penuh perasaan sayang, Nadira memeluk tubuh mungil putrinya itu, bukan hanya itu, wanita cantik yang akrab dipanggil bunda itu, menciumi pucuk kepala putrinya.
Nadira sangat menyayangi dan mencintai Aida, kasih sayangnya pada Aida tidak kalah dari kasih sayang seorang ibu kandung pada putrinya sendiri.
Ya tentu saja seperti itu, dan itu sudah tidak diragukan lagi.
" Ehem... ". Terdengar dehaman dari sang tuan yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua wanita yang begitu berharga di hatinya.
" Enak sekali kalian ya, dari tadi sibuk sendiri dan mengabaikanku di sini ". Seru Andra yang menyindir.
__ADS_1
" Salah daddy sendili, kenapa daddy tidak ikut bantu Aida main, hanya bunda saja yang dali tadi bantu ". Sahut Aida yang tak kalah menyindir dari daddy nya.
Mendengar sahutan dari putrinya, membuat Andra tak berani menyahut lagi, jika dirinya menyahut sudah pasti urusannya akan semakin panjang.
Alih - alih tak melanjutkan sahutannya, daddy dengan satu orang anak itu hendak akan mengambil puding susu pandan yang tadi sudah sempat merasakannya, dan sekarang Andra pun kembali ingin merasakan puding itu lagi.
" Daddy, daddy mau apa?, daddy mau ambil puding nya Aida? ". Seru Aida tiba - tiba lantaran melihat aksi daddy nya.
" Puding ini bukan hanya puding nya Aida, tapi puding nya daddy juga ". Sahut Andra dan ia pun berhasil meraih sepotong puding dari wadahnya itu.
" Ini yang telahil daddy ambil puding nya Aida, setelah ini jangan ambil lagi, nanti bisa habis daddy ". Aida benar - benar protes pada daddy nya, rupanya Aida tak ingin berbagi kue lebih banyak lagi dengan daddy nya.
Andra kembali menikmati potongan puding yang rasanya begitu enak ini, karena rasanya enak seperti ini, tidak mengapa kan jika dirinya ingin agar kekasihnya Nadira bisa membawanya setiap hari.
" Andra ". Seru suara seorang wanita yang secara tiba - tiba tanpa mereka ketahui mengapa tiba - tiba suara itu muncul.
Sontak semuanya pun menoleh ke arah belakang, dan pada saat mereka menoleh, mereka malah di hadapkan pada sebuah tas yang terbilang besar, tidak, ini bukan tas, melainkan sebuah koper baju yang terbilang cukup besar.
" Celine... apa yang kamu lakukan di sini? ". Seru Andra.
Andra merasa bingung, mengapa Celine datang ke rumahnya dengan membawa koper.
" Dra, untuk sementara waktu, aku ingin tinggal di rumahmu dulu, hanya satu bulan Dra ". Sahut Celine.
Andra menjadi terdiam, Celine ingin menginap di rumahnya, ingin menolak, tapi merasa kasihan, apalagi dari raut wajah Celine nampak begitu sangat pucat.
" Kamu tahu kan Dra, di Indo aku tidak punya rumah karena aku sudah menjualnya, jadi boleh ya aku tinggal di rumahmu?, satu bulan saja, karena setelah itu akan akan keluar negeri untuk melakukan pengobatan ". Seru Celine lagi bahkan raut wajahnya nampak terlihat memelas.
" Mbak Celine, mbak Celine lebih baik duduk dulu, jangan berdiri, nanti mbak bisa kelelahan ". Seru Nadira yang merasa begitu khawatir dengan Celine.
" Bagaimana Dra, apa aku boleh tinggal di rumahmu untuk sementara waktu?, aku tidak ingin disaat kondisi ku yang seperti ini, aku malah menginap di hotel ". Celine rupanya benar - benar ngotot ingin menginap di rumah Andra.
Andra sebenarnya kurang begitu suka, tapi jika menolak, kasihan juga dengan Celine.
" Sudah tahu sakit, kenapa tidak tinggal di rumah sakit, memangnya sebegitu berhemat nya kamu Celine, sampai tidak mau tinggal di rumah sakit ".
" Tapi kasihan juga dengan Celine, sudah sakit begini tapi terlihat bingung ". Batin Andra.
" Baiklah, kamu boleh tinggal di sini Celine, selama dalam proses pengobatan dan kamu masih belum pergi keluar negeri, iya, kamu boleh tinggal di sini ". Sahut Andra pada akhirnya.
" Terima kasih Dra, terima kasih ". Sahut Celine yang nampak tersenyum senang.
Celine sungguh merasa senang, akhirnya apa yang diinginkan nya telah berhasil, dirinya sudah berhasil masuk ke rumah ini, akan sangat mudah baginya untuk melakukan rencana selanjutnya.
Celine begitu sangat senang, sungguh begitu sangat senang, ia tak pernah menyangka jika semua rencananya akan berjalan secepat ini.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
β€β€β€β€β€
__ADS_1