
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang mentari telah lama kembali ke tempat peraduannya. Malam indah yang mulai cukup larut inipun mulai terasa menyelimuti dengan sempurna.
Indahnya gemerlap bintang - bintang di langit malam menjadi semakin nyata dalam pandangan hampir semua insan, sehingga tak heran meski malam sudah cukup larut seperti malam ini, masih tak sedikit dari para insan itu yang menikmati indahnya bintang - bintang yang berkilauan.
Malam ini Andra tak menikmati indahnya langit malam, apalagi sampai memperhatikan indahnya gemerlap bintang - bintang.
Bukanlah kesukaan seorang Andra yang lebih suka memperhatikan keindahan alam, apalagi keindahan di malam hari.
Andra telah membaringkan tubuh kekar dan besarnya itu di atas ranjang kasur empuknya. Tubuh kekarnya itu berbaring dengan sedikit terjaga, di mana sebuah bantal empuk yang telah menjadi pengganjal di bawah leher dan juga bahu kekarnya.
Andra diam merenung dengan kedua bola mata birunya yang masih setia menatap langit - langit serta dinding kamarnya.
Semenjak kejadian tadi sore di mana dirinya secara tidak sengaja bertemu dengan Nadira bahkan dengan putranya, yang selama ini belum ia lihat, telah membuat otaknya seolah tak henti untuk memikirkan hal itu.
Setelah mengalami pertemuan tak terduga itu benar - benar membuat hati Andra merasa begitu sangat bersalah dan juga gelisah.
Andra merasa bersalah karena apa yang dilakukannya dengan Celine saat berada di mall, pasti sudah menyakiti hati Nadira.
Jujur sebenarnya Andra merasa begitu sangat khawatir dengan apa yang sudah terjadi. Bisa dipastikan jika kekasihnya Nadira telah salah paham pada dirinya dan juga Celine. Namun meski begitu, Andra sendiri sama sekali masih tak ada niat untuk memberikan penjelasan apapun pada Nadira. Andra masih tetap pada pendiriannya. Andra ingin jika Nadira bisa menyadari kesalahannya dan bisa lebih dewasa dalam menyikapi kesalahpahaman antara dirinya dan juga Celine, karena biar bagaimanapun tidak pantas rasanya seseorang yang sedang sakit diperlukan seperti itu hanya karena tak mampu menahan rasa cemburu. Itu sama sekali tidak menunjukkan sikap kedewasaan.
Selain karena persoalan itu, saat ini dirinya juga dilanda oleh rasa gelisah. Kegelisahan ini sebenarnya muncul dari perasaan Andra sendiri, sebuah perasaan yang sebenarnya takut akan kehilangan Nadira.
Semenjak Andra melihat Nadira berjalan bersama dengan putranya, entah mengapa membuat Andra begitu sangat khawatir dan juga gelisah. Berbagai anggapan yang sebenarnya tidak dirinya inginkan telah banyak berkecamuk dalam benaknya.
Memang tidak masalah jika seorang anak bisa bertemu dengan ibunya. Dan memang bukan itu yang menjadi rasa kekhawatiran dan kegelisahan yang Andra rasakan, namun yang membuatnya merasa khawatir dan gelisah adalah bagaimana jika Nadira sampai rujuk dengan suaminya.
Setelah putranya datang dan mampu memberikan pengaruh yang baik untuk hubungan Nadira dengan mantan suaminya, bukan tidak mungkin jika mereka akan rujuk.
Semakin lama memikirkannya, semakin membuat perasaan Andra tak karuan dibuatnya. Hingga tiba saatnya, Andra mulai terjaga dari posisi berbaring nya.
Andra duduk terjaga di bibir ranjang kasur empuknya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Semakin ke sini perasaannya semakin dibuat tak tenang saja.
" Haaahhh... ". Sebuah helaan nafas yang cukup panjang telah melewati dada bidangnya.
" Tidak, ini tidak akan terjadi, tidak mungkin jika Dira sampai rujuk dengan mantan suaminya ". Batin Andra.
__ADS_1
Andra tak ingin jika Nadira sampai rujuk dengan mantan suaminya. Andra benar - benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika Nadira sampai rujuk dengan suaminya. Jika hal itu sampai terjadi, sungguh itu adalah sebuah kesialan dalam hubungannya dan juga Nadira.
Sementara di lain tempat, namun masih dalam waktu yang sama. Sosok wanita yang saat ini masih bersemayam di kepala Andra karena persoalannya, nampaknya juga masih belum memejamkan kedua bola mata indahnya guna untuk meraih mimpi yang indah.
Ya, di malam ini, di malam yang sudah cukup larut ini, Nadira membaringkan tubuh mungilnya di atas ranjang kasurnya dengan membelakangi tubuh mungil putranya Alvin dan juga sahabatnya Putri yang telah lebih dulu meraih mimpi mereka dalam tidur.
Dengan kondisi lampu kamar yang nampak remang - remang, masih tak membuat Nadira secara perlahan ikut menjadi terlelap.
Nadira masih teringat akan bagaimana sikap Andra saat di mall pada tadi sore. Sikap Andra begitu sangat dingin padanya. Sikap dingin di mana Andra sama sekali tak mempedulikannya.
Mengapa Andra bersikap seperti itu. Apakah Andra tidak berpikir jika apa yang dilakukannya bisa melukai hati kekasihnya ini. Andra sama sekali tidak mempedulikannya. Mungkinkah Andra memang sudah tak mempedulikannya lagi.
Hingga tanpa Nadira sadari, iapun mulai menjatuhkan air matanya. Nadira menangis tanpa suara. Ia terisak dalam diam, bahkan lelehan air matanya itu sudah mulai membasahi pelipis hingga bantalnya.
Bagaimana nasib hubungannya dengan Andra, mungkinkah hubungannya dengan Andra telah berakhir. Mengapa hubungannya menjadi semu seperti ini, tidak ada kepastian dari kelanjutan hubungannya. Mungkin hubungannya dengan Andra memang sudah berakhir.
" Sudahlah Dira, mungkin hubunganmu dengan mas Andra memang sudah berakhir, sudahlah, kamu jangan mengharapkan apapun dari hubungan yang tidak jelas ini, mungkin mas Andra memang bukan jodohmu ". Batin Nadira yang sudah pasrah.
Mungkin memang seperti inilah nasib hubungannya dengan Andra, berakhir tanpa adanya kata berpisah.
Mungkin semenjak awal, hubungannya dengan Andra terbentuk karena suatu tujuan yang tidak tulus, sehingga seperti inilah yang harus terjadi.
Tapi ya sudahlah, semua itu sudah tidak ada gunanya jika dipikirkan kembali. Mungkin terasa berat bagi dirinya, namun Nadira harus bisa menerima semua ini.
*****
Masih di waktu malam, namun sudah mulai berjarak lama karena sudah terjadi selisih waktu, kini seorang pria masih terdiam dengan segala kegelisahan dan rasa bersalah yang begitu mendalam di hatinya.
Ia merasa bersalah karena dari perbuatannya ini, hubungan dari sepasang kekasih menjadi terancam kandas.
Semenjak mengetahui hancurnya hubungan Nadira dengan temannya Andra, membuat Daniel merasa begitu sangat bersalah. Bahkan akhir - akhir ini dirinya kurang bisa tidur dengan nyenyak setiap malamnya.
Daniel merasa memiliki beban moral yang begitu sangat luar biasa. Jalan satu - satunya yang harus dirinya lakukan untuk menghentikan semua kegelisahan ini adalah dengan memberitahukan semuanya kepada Andra.
Tapi bagaimana caranya. Jika dirinya mengaku sudah pasti Andra akan memecatnya. Dan setelah itu akan sangat sulit baginya untuk menerima pekerjaan lagi sebagai seorang dokter.
" Aduuuh... bagaimana ini, kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini?, ini benar - benar kacau kacau kacau ". Seru Daniel pada dirinya sendiri yang sudah tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Merasa sudah begitu tidak tahan dengan semua keadaan ini, Daniel pun mulai meraih handphone miliknya itu di atas meja santainya, entah apa yang diinginkan oleh Daniel.
__ADS_1
Dan ternyata benar, Daniel memang sengaja ingin menghubungi seseorang.
" Ayo angkat Celine ". Gumam Daniel yang sudah merasa kesal.
Ternyata Daniel sedang menghubungi Celine.
" Iya, ada apa, kenapa kamu menelfon ku malam - malam, kamu tidak lihat apa jika di jam seperti ini sudah waktunya bagi orang - orang untuk tidur ". Sahut suara seorang wanita dari balik handphone Daniel.
" Akhirnya kamu mengangkat nya juga, bagus, kamu memang harus mengangkatnya ". Sahut Daniel.
Ya, memang tak butuh waktu lama bagi Daniel untuk menghubungi Celine, dan ternyata Celine memang benar - benar mengangkatnya.
" Ya sudah, katakan ada apa Daniel, ini sudah malam, kamu mengganggu tidurku? ". Sahut Celine.
" Dengarkan ini baik - baik ratu drama, aku akan mengatakan semuanya pada Andra, aku akan mengatakan jika penyakitmu itu hanya pura - pura ". Sahut Daniel pada akhirnya.
" Apa?, kamu ingin mengatakannya?, jangan gila kamu Daniel ". Sahut Celine.
Sangat terdengar jelas dari balik handphone Daniel jika Celine sedang berteriak kepadanya.
" Tidak, aku tidak gila, justru kamu yang gila, seharusnya aku mengatakan ini sejak awal ". Sahut Daniel.
" Daniel, kamu jangan macam - macam Daniel, apa kamu tahu resiko jika kamu mengakui semuanya pada Andra, kamu bisa dipecat secara tidak terhormat ". Sahut Celine.
" Tidak apa - apa, lebih baik aku dipecat secara terhormat daripada aku harus melakukan kebohongan ini secara terus menerus, kamu memang jahat Celine, aku sudah tidak peduli lagi dengan semua drama ini, apapun yang terjadi aku akan mengakuinya di depan Andra, dan soal urusanmu, kamu urus saja sendiri, aku tidak peduli lagi ". Saut Daniel.
Tut...
Dengan tanpa menunggu sahutan dari Celine, Daniel pun segera mematikan handphone nya itu.
Seharusnya dirinya melakukan ini sejak awal. Seharusnya dirinya paham jika Celine hanya memanfaatkannya saja.
Daniel sudah tidak peduli saat ini dengan jabatannya, jika Andra memecatnya karena perbuatannya, maka dirinya akan menerima semua itu.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1