
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sebuah kasur yang tak begitu tebal yang memiliki ciri khas dua pasang roda - roda kecil yang bisa mengarah ke segala arah nampak di dorong oleh beberapa orang suster, apalagi kasur unik yang dimaksud jika bukan brankar.
Setelah usai menjalani pemeriksaan, dan dokter telah menyatakan jika dirinya positif mengandung, semenjak itu pula suaminya Andra menjadi begitu sangat protective pada dirinya, sampai - sampai saat ingin kembali ke ruangan rawat putrinya saja dirinya harus dibawa menggunakan brankar.
Nadira hanya bisa pasrah dengan tingkah berlebihan dari suaminya, jika dirinya menolak sudah pasti urusannya akan menjadi panjang.
" Ada apa sayang?, kenapa menatapku seperti itu?, kamu menyadarinya kan jika suamimu ini sangatlah tampan ". Seru Andra dengan tersenyum menggoda pada istrinya.
" Tidak, aku hanya heran saja sama mas kenapa untuk ke kamar Aida saja aku harus dibawa dengan brankar, kan jalan kaki saja bisa mas ". Sahut Nadira.
" Sayang, kamu itu sedang hamil anakku, aku tidak ingin kamu kenapa - kenapa sayang ". Sahut Andra.
" Mas, aku ini sedang hamil, tidak sedang sakit, jadi mas Andra jangan khawatir ". Sahut Nadira.
" Jangan khawatir apanya sih sayang, tadi saja kamu sampai pingsan, pokoknya kamu tidak boleh melakukan apapun kecuali aku yang mengizinkannya ". Sahut Andra yang memutus semuanya.
Nadira hanya bisa menghela nafas pasrah dengan sikap suaminya, selalu saja suaminya bertingkah seperti ini.
Sementara dua orang suster yang ikut serta mendorong brankar nona mereka hanya bisa tersenyum samar dengan perasaannya yang merasa yang sangat terheran-heran, bagaimana tidak seperti itu, tuan Andra yang mereka kenal sebagai sosok yang dingin dan hampir selalu bersikap tak bersahabat itu ternyata bisa bersikap ke kanakan juga, bahkan menjadi sedikit lebih cerewet.
Apa yang kedua suster itu lihat adalah hal yang langka dari sikap tuannya, ternyata tuan Andra mereka bisa bersikap sangat berbeda ketika bersama istrinya.
Hingga setelah beberapa menit brankar yang membawa tubuh Nadira berjalan, akhirnya sampai juga dan di bawa masuk ke dalam kamar Aida.
β
Masuknya mereka ke dalam kamar perawatan si kecil Aida tentu saja menjadi pusat perhatian bagi orang yang ada di dalam, terlebih nona Nadira mereka dibawa masuk dengan menaiki brankar rumah sakit.
" Nona Dira sudah sadar, syukurlah kalau nona sudah sadar, ini waktu yang sangat pas karena nona Aida juga sudah sadar tuan nona ". Ujar bi Sari yang begitu senangnya.
" Putriku sadar ". Sontak saja Nadira pun langsung terjaga dari brankar itu.
" Hati - hati sayang kamu sedang hamil adiknya Aida ". Peringat Andra.
Nadira tak menyadari jika putri kecilnya sudah sadar, betapa sangat senangnya Nadira ketika mengetahui putri kecilnya yang di tunggu - tunggu agar bisa segera sadar akhirnya benar sadar juga.
" Sayang, Aida cup... ".
" Bun-da ".
Betapa sangat bersyukur dan bahagianya Nadira bisa kembali mendengar suara putri kecilnya. Meski terdengar begitu sangat lirih, namun ini adalah perubahan yang sangat baik, setidaknya dengan terdengarnya kembali suara putrinya ini sudah menunjukkan jika keadaan putrinya telah membaik.
Cup...
" Bunda sangat merindukanmu sayang, bunda ingin lihat Aida sembuh ". Seolah tak ingin lepas dari menatap wajah mungil putrinya, Nadira terus memandangi wajah kecil yang masih pucat itu.
" Dad-dy, dad-dy kok diam?, dad-dy tidak lindu Aida ya? ". Serunya pada sang daddy.
__ADS_1
Andra hanya bisa tersenyum melihat sikap putrinya yang baru sadar ini. Ternyata putrinya masih saja suka mencecarnya dengan pertanyaan disaat masih sakit seperti ini, ya bukan Aida namanya jika tak suka bertanya.
" Daddy sangat bahagia bisa melihatmu sadar sayang, tentu daddy sangat merindukan putri daddy yang cantik ini, apalagi suara cerewet dan cempreng nya sudah pasti daddy sangat rindu itu semua ".
" Tapi daddy masih belum bisa peluk Aida dengan utuh, karena ada bunda yang memeluk Aida, daddy tidak kebagian sayang ".
Ya inilah penyebab utama Andra tak bisa memeluk putrinya kala sudah sadar, karena istrinya Nadira langsung menyerobot dan memeluk putrinya seorang diri hingga membuat tubuh putri kecilnya hampir tak terlihat, alhasil seperti inilah jadinya, Andra masih belum bisa memeluk putrinya.
" Maafkan aku mas ". Nadira merasa tak enak hati dengan suaminya.
" Sekarang kamu istirahat lah sayang, ini aku sudah sediakan kasur untuk kamu istirahat, kan enak kamu bisa saling tatap tatapan dengan putri kita, sekarang giliran aku yang akan memeluk putriku ". Sahut Andra.
Dan akhirnya sang daddy yang tak lama lagi akan memiliki dua orang anak itupun baru mendapatkan kesempatan untuk memeluk putri kecilnya.
Cup...
" Cepat pulih kembali sayang daddy ingin lihat keceriaan mu lagi ".
Dengan penuh kehangatan Andra pun memeluk tubuh mungil putrinya, tubuh mungil yang masih lemah, yang ingin semua orang lihat bisa lagi berlari ke sana ke mari.
Nadira tak kunjung naik ke atas ranjang kasurnya, sampai sebeginikah sikap suaminya Andra sampai - sampai kasur yang berukuran sama besarnya dengan kasur milik putrinya juga telah suaminya sediakan.
Sebenarnya semua ini tidak perlu, karena dirinya masih bisa beristirahat di atas sofa yang ada. Namun ya sudahlah, tak ada salahnya juga jika menuruti perintah dari suaminya, toh apa yang diinginkan oleh suaminya bukanlah hal yang buruk.
" Ayo sudah daddy, daddy jangan peluk Aida telus ".
" Oh maafkan daddy sayang, kamu merasa pengap ya? ".
" Wah... akhirnya nona Aida mulai cerewet lagi, suster Lina senang deh mendengarnya iya kan bi Sari pak Rahman? ". Seru suster Lina.
" Iya benar ".
" Cepat sembuh non, rumah jadi sepi kalau tidak ada suaranya nona Aida ". Ujar bi Sari.
" Iya benar nona, rumah akan jadi sepi kalau tidak ada suaranya non, apalagi saya, memangnya di sini siapa yang bisa memanggil saya dengan nama pak Maman kalau bukan selain nona Aida, kan nama saya yang sebenarnya pak Rahman ".
" Hahahaha.... ".
Tawa gembira ria menjadi terdengar menggema di ruangan rawat ini. Seolah seperti hilang semua beban yang ada mereka semua tertawa dengan begitu riangnya, hanya si kecil Aida yang tidak tertawa, dan gadis kecil itu malah menatap pada bundanya yang sedang tersenyum.
" Hahahaha... ada - ada saja pak Rahman, tapi benar juga sih hahahaha... ". Seru Lina dengan tawa lepasnya.
" Daddy, tadi daddy mengatakan sesuatu? ".
Sontak semua tawa mereka pun menjadi terhenti kala Aida kembali bersuara.
" Mengatakan apa sayang? ". Sahut Andra.
" Tadi daddy mengatakan sama bunda hamil anakku, anaknya daddy kan Aida, Aida kan anaknya bunda sama daddy, hamil itu kan?... ". Aida mencoba memahami kalimatnya sendiri.
" Iya sayangnya daddy benar, bunda sedang hamil, hamil adiknya Aida, bunda dan daddy akan memberikan adik untuk Aida, pasti Aida senang sekali sayang ". Dengan begitu bahagianya Andra menjelaskan pada putri kecilnya.
__ADS_1
Prok... prok... prok...
" Selamat nona Aida sebentar lagi nona Aida akan punya adik, pasti suasana rumah akan jadi ramai ". Seru bi Sari.
" Iya benar, adik bayinya itu hadiah untuk nona Aida, punya adik sangat menyenangkan loh non ". Seru suster Lina.
Aida masih tak mengerti sepenuhnya dengan kalimat orang - orang dewasa ini. Dirinya memang mengerti jika yang namanya adik adalah sosok mungil yang ukurannya lebih kecil dari dirinya yang bisa digendong dan diajak bermain. Dan yang menjadi pertanyaan dalam otak kecilnya adalah di manakah adiknya, mengapa adiknya tak terlihat.
" Daddy, bunda ". Serunya dengan menatap wajah sang daddy dan juga bundanya.
Aida menatap wajah kedua orang tuanya dengan begitu lekat yang menandakan jika dirinya ingin sebuah kepastian.
" Di mana adiknya?, daddy sama bunda akan membelikan Aida adik, mana adiknya daddy? ". Dan pertanyaan itu benar Aida lontarkan.
Dan benar saja Andra pun menepuk jidatnya sendiri setelah putrinya menanyakan hal yang tidak dirinya duga. Andra hanya bisa menggeleng pasrah, iya benar, putrinya Aida memang memiliki pemikiran yang sangat kritis, namun Aida masihlah seorang anak kecil yang yang notabene nya masih belum mengerti akan pembahasan dari orang - orang dewasa.
" Mana adiknya daddy, katanya daddy sama bunda akan membelikan Aida adik, mana adiknya? ". Pinta Aida.
Semuanya menjadi menatap bingung. Mereka lupa jika Aida masih belum mengerti dengan kata hamil. Dan sekarang Aida malah meminta adiknya.
" Kalau sudah begini akan panjang urusannya, kalau dijawab adiknya masih ada di perut, pasti setelah itu putriku akan bertanya kenapa bisa ada di perut daddy?, tidak mungkin kan aku menjawab yang sebenarnya, kacau - kacau ". Batin Andra.
" Daddy, kenapa tidak jawab?, mana adiknya daddy? ".
Jika sudah seperti ini, maka urusannya akan benar menjadi panjang. Sepertinya dirinya harus bisa memutar otaknya agar bisa memberikan jawaban yang dapat membungkam putri kecilnya.
*****
Malam telah menyelimuti di hampir setiap atap rumah serta bangunan - bangunan yang ada di ibu kota, tak terkecuali di kediaman mewah milik Andra.
Para bodyguard kepercayaan Andra akan menjadi lebih siap siaga jika sudah malam hari seperti ini. Mereka akan bertugas secara bergantian hingga menjelang waktu subuh.
Pak Rahman, bi Sari, dan juga suster Lina telah kembali semenjak tadi dan mereka telah beristirahat dengan tenang di kamarnya masing - masing, mengingat hari esok adalah hari di mana nona tuan dan nona mereka akan kembali pulang ke rumahnya, mereka lebih memilih untuk tidur lebih awal agar keesokan harinya memiliki stamina yang baik dalam menyambut kedatangan tuan dan nona mereka.
Jika mereka telah beristirahat di kamar mereka, maka beda halnya dengan Ria. Semenjak dari sore hari tadi perasaannya menjadi tak begitu tenang. Ria merasa sangat cemas untuk menghadapi hari esok.
Dirinya dari tadi hanya bisa mondar - mandir ke sana ke mari melangkah melewati pintu di kamarnya dengan pikirannya yang masih terus berkecamuk.
" Bagaimana ini?, apa mungkin tuan Andra sudah tahu kejahatan ku?, aduuuh... kenapa jadi pusing begini sih? ".
" Tapi kalau tuan Andra tahu, kenapa tidak langsung pulang dan memecat ku?, itu artinya tuan Andra tidak tahu perbuatan ku ".
" Aduuuh... kenapa jadi begini sih?, tenang Ria tenang, pasti tuan Andra masih belum tahu ".
Merasa sangat dihantui oleh perbuatannya sendiri mungkin itulah yang dialami oleh Ria. Niat jahatnya pada Aida yang telah gagal, sepertinya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Bagaimana nasib Ria, hanya hari esok lah yang akan menjadi penentu nya.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€