
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Andra masih terus membawa Nadira ke dalam rengkuhannya, bahkan pria berusia matang itupun masih belum ada niat untuk melepaskan Nadira.
Andra lupa jika yang menyebabkan dirinya bisa memeluk Nadira seperti ini adalah karena malam ini adalah pesta ulang tahun putrinya Aida, sehingga di tempat inipun banyak anak - anak kecil yang menyaksikannya.
Sementara putri mereka si kecil Aida yang sedari tadi merasa heboh sendiri sudah berhasil mengambil berbagai macam gambar serta video indah dari mereka, sudah meletakkan kembali kameranya.
Aida ingin ikut bergabung merasakan kebahagiaan bersama bunda dan juga daddy nya, sehingga di tengah - tengah meriahnya pesta, gadis kecil itupun berlari mendekati sang daddy dan juga bunda nya.
" Bunda... ". Pekik Aida dengan merengkuh sepasang kaki daddy dan juga bunda nya.
Sontak perbuatan Aida itupun berhasil membuat Andra dan Nadira menjadi terkejut, dan reflek membuat mereka melepaskan pelukannya.
" Sayang ". Sahut Nadira.
" Daddy sama bunda pelukan kok Aida tidak diajak sih, kan Aida mau dipeluk juga, bunda, Aida mau digendong ". Sahut Aida dengan segala keinginannya.
Mendengar keluhan dari putri kecilnya membuat Nadira langsung membawa tubuh mungil itu dan menggendongnya, sementara Andra yang mendapati protesan dari putri kecilnya hanya bisa tersenyum datar, seharusnya dirinya sadar jika saat berpelukan tadi, putrinya Aida dan juga teman - temannya yang masih anak - anak sedang menyaksikan adegan romantisnya.
Merasa malu?, mungkin, tapi ya sudahlah, toh semua orang juga merasa senang karena sikap romantisnya tadi.
Cup...
Sebuah ciuman hangat pun telah Nadira sematkan di kening putri kecilnya itu, wanita yang akrab dipanggil bunda itu memeluk putrinya dengan penuh sayang.
" Ayo kita ke sana ". Ajak Andra pada dua wanita yang sangat berharga itu, lalu mereka pun mulai menepi menjauhi area dansa.
Dan sepasang orang tua yang masih belum terikat oleh hubungan pernikahan itu ikut bergabung bersama beberapa tamu undangan di sana dengan Aida yang masih setia berada di dalam gendongan bunda nya.
" Aida - Aida ". Seru semua teman - teman Aida setelah mendekat ke arah Aida.
" Iya ". Sahut Aida.
" Jadi benar kamu punya mommy? ". Tanya salah satu anak perempuan yang juga teman Aida.
" Iya Aida, apa aunty ini mommy kamu? ". Timpal yang lainnya juga.
Rupanya semua teman - teman Aida begitu sangat ingin memastikan jika Aida memang benar memiliki seorang mommy.
" Iya benal, bunda ini adalah mommy ku, aku sayang sekali sama bunda ". Sahut Aida dengan memeluk erat bunda nya.
Dan semua teman - teman Aida pun mengangguk paham, mereka sudah percaya jika Aida memang benar memiliki seorang mommy.
" Ehmm... ". Andra berdeham.
" Memangnya jika putriku tidak memiliki seorang mommy kenapa? ". Tanya Andra dengan memandangi semua anak - anak kecil itu.
Sontak Nadira pun langsung mengarahkan pandangannya pada Andra, entah mengapa mendengar pertanyaan Andra yang diajukan pada anak - anak kecil yang mendekat ini seolah terdengar menantang dan cenderung ada rasa tak suka.
Anak - anak kecil itu tak menjawab, setelah melihat tatapan dari daddy Aida, membuat mereka menjadi merasa takut, namun meski begitu, masih ada salah satu dari mereka yang masih tak mengerti maksud dari tatapan dingin dari daddy Aida.
__ADS_1
" Uncle bertanya pada kalian, memangnya jika Aida tidak memiliki mommy kenapa?, bukankah itu tidak ada hubungannya dengan kalian? ". Tanya Andra lagi, nampaknya Andra sudah lupa jika yang dirinya tanyai adalah segerombolan anak kecil.
" Tuan Andra ". Seru salah satu rekan kerjanya yang berada tak jauh dari mereka.
" Maafkan anak - anak ini, mereka kan masih anak - anak tuan, jadi ya yang namanya anak - anak selalu saja ingin tahu dan suka membanding - bandingkan antara miliknya dengan milik anak - anak yang lain, jadi saya harap, anda tidak terlalu membawa sampai hati ucapan mereka ". Sahut rekan kerjanya itu.
" Iya benar tuan ". Timpal yang lainnya juga.
" Saya sangat paham tuan - tuan, saya sangat paham jika yang namanya anak - anak memang suka bersikap seperti itu, tapi sebagai orang tua, kita harus tetap bijak dalam mendidik anak, anak jangan dibiasakan melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain ".
" Anak harus di didik yang benar, bukan berarti saya menyuruh orang tua untuk berbuat kasar pada anak, bayangkan saja, jika sejak kecil anak suka mengucilkan anak - anak yang lain, dan perbuatannya itu malah dibiarkan dan dianggap jika hal itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh seorang anak, akan jadi apa anak - anak itu kalau sudah besar nanti? ". Sahut Andra dengan panjang lebar.
Hal ini tidak biasa Andra lakukan, Andra yang memang terkenal sebagai pria yang tak banyak bicara itu, kali ini benar - benar melontarkan kalimatnya dengan panjang lebar.
Memang suara Andra terdengar datar dan tak menggebu - gebu, namun pernyataannya telah berhasil membuat beberapa rekan kerjanya itu menjadi merasa bersalah.
" Iya benar sekali sayang, aunty ini bunda nya Aida, dan Aunty sayang sekali pada Aida... kalian ini kan teman - teman Aida, kalian ini lucu - lucu sekali, cantik dan tampan pula ". Seru Nadira tiba - tiba.
" Terima kasih aunty, aunty juga cantik ". Sahut mereka senang.
" Ya iyalah bunda cantik, bunda kan bunda nya Aida, iya kan bunda ". Timpal Aida dengan senyuman bahagianya.
" Iya sayang ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
Kondisi yang cukup dingin yang baru saja terjadi, kini mendadak sudah hilang, Nadira sangat bahagia karena putrinya dan teman - temannya bisa tersenyum bersama, mengalihkan suasana yang cukup mencekam ini sepertinya jalan terbaik untuk menghentikan semuanya.
Hal ini sengaja Nadira lakukan karena dirinya berusaha untuk menghilangkan ketegangan yang sempat terjadi. Nadira tidak ingin jika diacara penting putrinya ini sampai ternodai dengan hal yang kurang menyenangkan.
Andra menghela nafasnya cukup panjang, rasa emosi yang tadi sempat tertahan, kini mulai mereda, Andra sudah mengerti jika Nadira melakukan semua ini agar ketegangan antara dirinya dan juga tamu undangannya menjadi tak berlanjut.
" Hai - hai, ada apa ini - ada apa ini? ". Seru Firly yang sok penasaran melihat perkumpulan mereka.
Namun baik Andra maupun rekan kerjanya yang lain tak ada yang menyahut.
" Nadira ". Bisik Putri.
" Iya, ada apa? ". Sahut Nadira yang tak kalah berbisik.
" Bagaimana tadi rasanya? ". Goda Putri.
Nadira pun menjadi mengernyit bingung, apa maksud dari pertanyaan dari sahabatnya ini.
" Maksud kamu apa Put? ". Sahut Nadira.
" Iya itu yang tadi, bagaimana rasanya dicium dengan tuan Andra? ". Akhirnya pertanyaan itu muncul juga dari Putri.
Sontak Nadira pun menjadi terdiam, Nadira tersipu malu karena godaan dari sahabatnya Putri.
" Dir, hubungan kamu dengan tuan Andra sudah baikan ya? ". Seru Putri lagi.
" Apa sih kamu Put ". Bisik Nadira yang kurang begitu suka.
" Bunda, aunty, kalian sedang bicala apa sih, kok bisik - bisik begitu? ". Tanya Aida.
__ADS_1
" Hehe... tidak ada sayang, aunty dengan bunda mu hanya membicarakan tentang mata kuliah di kampus ". Sahut Putri yang berbohong.
" Huum, begitu, Aida kila bunda sama aunty sedang membicalakan apa ". Sahut Aida yang mengangguk - angguk paham.
Di saat mereka masih bersama dan berbincang - bincang, ada sebagian dari rekan kerja Andra dan juga anak - anaknya datang menghampiri, mereka itu adalah para rekan kerja Andra yang tadi sempat berbincang mengenai calon istri Andra, Nadira.
" Tuan Andra ". Sapa mereka.
" Iya ". Sahut Andra.
" Ini sudah cukup malam tuan, saya dan anak saya sudah berencana untuk pulang ke rumah ". Sahut rekan kerjanya itu.
" Saya juga tuan, ini sudah cukup malam, dan putri saya juga sudah merengek ingin pulang katanya, sudah mengantuk ". Sahut yang lainnya.
" Baiklah tuan - tuan, tidak apa - apa, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir ke pesta ulang tahun putriku ini ". Sahut Andra.
" Iya tuan, sama - sama, tapi jangan lupa, kami tunggu kabar baik anda dengan nona Nadira, pasti acara pernikahan kalian nanti akan digelar dengan sangat mewah ". Sahut rekannya lagi.
Deg....
Seketika itu tubuh Nadira menjadi membeku. Nadira begitu sangat tertegun dengan ucapan dari rekan kerja Andra. Apa dirinya tidak salah mendengar, apa maksud dari rekan kerja Andra yang mengatakan jika acara pernikahannya dengan Andra akan berlangsung sangat mewah, memangnya siapa yang akan menikah, tidak mungkin kan jika dirinya yang akan menikah dengan Andra.
Lalu Nadira menatap Andra, namun yang ditatap malah bersikap biasa saja. Andra sendiri sudah mengerti apa maksud dari tatapan Nadira, pasti Nadira sedang membutuhkan jawaban darinya.
" Ya sudah tuan, kalau begitu kami permisi untuk pulang, jangan lupa undang kami ya tuan, jika acara pernikahan anda telah digelar, kami akan menunggu undangan itu ". Sahut dari mereka sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.
" Saya juga sudah mau pulang tuan, ini sudah pukul delapan malam lewat, sudah saatnya bagi anak saya tidur ". Timpal rekan kerjanya yang tadi, yang sempat bersitegang dengan Andra.
" Baiklah tuan - tuan, silakan jika memang sudah ingin pulang, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang ". Sahut Andra pada semua rekan kerjanya.
Perlahan namun pasti, semua rekan kerja Andra dan juga anak - anaknya satu persatu sudah meninggalkan area pesta itu, dan kini hanya menyisakan Andra dan juga orang - orang terdekatnya lah yang masih bertahan.
Dan mungkin, waktu yang mulai sepi inilah keempat orang dewasa itu akan benar - benar membahas hal yang mengejutkan ini.
Dalam keadaan ini, Firly sudah tak merasa heran lagi dengan apa yang terjadi berikutnya setelah Andra mengaku pada semua orang jika Nadira adalah calon istrinya, Firly sudah menduga jika ujung - ujungnya pastilah penentuan hari pernikahan.
Namun yang membuatnya bingung serta tak tahu harus berbuat apa adalah, bagaimana Andra mengatasi kebohongan ini, apalagi dirinya bisa melihat dengan jelas, jika raut Nadira sudah menunjukkan rasa bingung dan menginginkan kepastian.
" Dira, kamu benar ingin menikah dengan tuan Andra, kamu kok tidak cerita padaku Dir? ". Sentak Putri yang begitu tak percaya.
Dengan cepat Nadira pun menggeleng.
" Mas, jelaskan padaku apa maksud dari rekan kerja mas tadi, kita akan menikah?, maksudnya kita yang akan menikah apa mas?, siapa yang ingin menikah? ". Seru Nadira yang menginginkan jawaban.
" Jawab aku mas, kenapa kita harus menikah, memangnya kapan kita pernah menentukan tanggal pernikahan? ". Seru Nadira lagi.
Nadira begitu sangat bingung dengan situasi ini, bagaimana bisa ada kabar jika dirinya dan juga Andra akan melangsungkan acara pernikahan, bahkan sangat mewah, sementara dirinya sendiri tidak tahu menahu soal pernikahan yang disebut - sebut itu.
Sementara si kecil Aida yang berada di tengah - tengah mereka menjadi merasa bingung, gadis kecil itu tak mengerti akan persoalan yang terjadi, Aida masih tetap setia berada dalam gendongan bunda nya.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ