
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dengan langkahnya yang sedikit tertatih - tatih, Nadira melangkah mendekati kamar mandi, dengan bergandengan bersama putri kecilnya, dua wanita yang berbeda generasi itupun begitu sangat penasaran dengan yang dialami oleh Andra.
Tok... tok... tok...
" Mas, mas Andra sudah selesai muntahnya? ". Seru Nadira dari balik pintu kamar mandi.
" Bunda, daddy kok tidak nyahut? ". Heran Aida.
" Mungkin daddy masih belum selesai sayang ". Sahut Nadira.
" Daddy - daddy, daddy dengal kita kan?, kok tidak ada sualanya? ". Seru Aida.
Tok... tok... tok...
" Mas, mas Andra dengar kita kan?, akan aku buka pintunya ya mas? ".
Ceklek...
Belum sempat Nadira menyentuh gagang pintunya, suaminya Andra sudah membukanya.
" Mas, mas Andra tidak apa - apa kan? ". Serunya yang merasa sedikit khawatir.
" Tidak apa - apa tidak apa - apa, ya jelas ada apa - apa sayang, gara - gara kalian berdua aku harus memakan sate yang rasanya aneh itu ".
" Hahahaha... ya bukan salah kita dong daddy, kan kita tidak tahu kalau daddy akan muntah, tapi daddy lucu hahahaha... ". Tawa Aida yang ternyata masih menggoda daddy nya.
Nadira hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya, awalnya dirinya memang merasa sangat terhibur karena tingkah suaminya, namun sekarang dirinya merasa bersalah dan malu sendiri, tapi harus bagaimana lagi, dirinya sangat ingin jika suaminya Andra memakan sate itu, dan sayangnya sungguh di luar dugaannya suaminya Andra malah menjadi mual - mual dan ingin muntah.
" Bagaimana daddy, daddy masih mau melanjutkan makan satenya?, kalau masih mau itu bagus daddy ".
" Tidak - tidak, daddy tidak mau, lama - lama perut daddy bisa kram kalau mual - mual terus, daddy heran, hari ini putri daddy suka sekali menggoda daddy ya, sini - sini daddy gendong kamu, dasar putri daddy yang nakal ". Dengan begitu gemasnya Andra pun membawa tubuh mungil putrinya ke dalam gendongannya.
" Ayo kita ke kamar sekarang, memangnya kamu hanya mau berdiri saja di sini sayang? ". Lanjut Andra.
Tak ingin berlama-lama dengan drama di dekat kamar mandi, Andra pun membawa sang istri dan juga putrinya untuk menuju ke kamarnya.
Dan disaat melangkah bersama, entah mengapa Andra merasa ada yang aneh dengan istrinya. Merasa penasaran, Andra memperhatikan langkah istrinya yang ternyata sedikit tertatih-tatih.
" Sayang, kamu kenapa?, kenapa langkahmu agak aneh?, kamu keseleo sayang? ". Tanya Andra.
" Tidak ada mas, aku hanya... ".
" Itu gala - gala sustel Lia daddy, gala - gala sustel Lia kakinya bunda jadi luka ". Aida pun jadi mengadu pada daddy nya.
" Gara - gara suster Ria?, gara - gara bagaimana sayang? ". Kaget Andra.
" Tidak - tidak mas, tidak apa - apa kok, lagipula kakiku sudah diobati tadi, sudah tidak terlalu sakit mas ". Sahut Nadira.
__ADS_1
" Apa?, jadi kaki mu terluka sayang? ". Andra begitu sangat terkejut setelah mendengarnya, ternyata istrinya Nadira benar terluka.
Karena begitu sangat khawatir dengan keadaan istrinya, Andra pun mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya di atas bahunya.
" Mas Andra apa yang mas lakukan?, turunkan aku mas ". Seru Nadira.
Namun sayang Andra tak mempedulikan penolakan istrinya itu. Dengan begitu entengnya Andra pria yang bertubuh kekar dan tinggi itupun menggendong sang istri dan juga putrinya. Ia menggendongnya seolah tak merasakan berat.
" Ayo sayang rebahkan lah tubuhmu dulu, coba mana lukanya?, aku ingin melihatnya ". Seru Andra.
" Hanya memar sedikit mas, ini sudah tidak terlalu sakit, sudah mas Andra tidak perlu khawatir ". Sahut Nadira.
Namun Andra tak menyahut, Andra memperhatikan kedua kaki istrinya, dan ternyata benar, salah satu kaki istrinya terlihat memerah, bahkan sedikit melepuh.
" Sayang, ini kaki mu kenapa sayang?, ya Tuhan, apa yang terjadi?, ini bukan keseleo sayang ". Ujar Andra.
" Iya daddy, bunda memang tidak keseleo, bunda bisa luka sepelti ini gala - gala sustel Lia, tadi siang sustel Lia menumpahkan kuah sup yang masih sangat panas di kakinya bunda, bunda kesakitan daddy ". Terang Aida dengan segala aduannya.
" Bagaimana suster Ria itu, apa dia sudah bosan bekerja di rumah ini?, kalau dia memang sudah bosan akan segera aku pecat dia dari rumah ini ". Setelah mendengar aduan dari putrinya membuat Andra malah menjadi tersulut emosi.
" Mas, sudah, tidak apa - apa, aku tidak apa - apa mas, lagipula suster Ria tidak sengaja melakukannya, aku mohon mas Andra jangan memperbesar masalah ini ya ". Sahut Nadira.
" Memperbesar apanya sih sayang?, kamu itu istriku, siapapun orang yang ada di rumah ini tidak boleh sembarangan bertingkah, apalagi bertingkah sama kamu, sudahlah sayang, kamu istirahat saja di sini, aku harus mengurus Ria sekarang ". Putus Andra pada akhirnya dan dirinya sudah mulai melangkah.
" Mas, tapi mas Andra jangan memarahi suster Ria ya mas, dia hanya tidak sengaja mas ". Seru Nadira dengan sedikit meninggikan suaranya.
Namun sayang, Andra sudah terus melangkah dengan masih menggendong putrinya Aida. Nadira sangat khawatir jika suaminya Andra sampai memarahi suster Ria.
Andra memang sengaja membawa putri kecilnya juga karena yang paling tahu bagaimana situasi disaat Ria menumpahkan sup nya, putrinya Aida mengetahui semuanya.
" Kalian masih sibuk? ". Seru suara seorang yang terdengar hampir memenuhi ruangan dapur.
Sontak saja bi Sari, suster Lina dan suster Ria menjadi mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.
Dan ternyata yang datang adalah majikan mereka tuan Andra dan juga putrinya Aida.
" Tuan, nona Aida, apakah ada perlu sesuatu tuan? ". Seru bi Sari.
" Iya, aku ada perlu sesuatu, aku ada perlu sesuatu dengan suster Ria ". Sahut Andra dengan wajah datarnya namun tatapannya begitu menatap tajam pada suster Ria.
Ria yang mendengar hal itupun menjadi tersenyum samar. Dalam hatinya Ria merasa sangat senang karena tuan Andra nya ada keperluan dengannya, dan itu artinya dirinya akan mendapatkan kesempatan untuk bisa dekat dan berbicara pada tuan Andra nya.
" Ria, ikut denganku, aku ingin bicara denganmu ". Seru Andra.
" Iya tuan ". Sahut Ria.
Tak ingin kehilangan momen kebersamaan dengan tuan nya, tentu saja Ria tak menolak ajakan dari tuannya, kapan lagi dirinya bisa mendapatkan momen seperti ini jika bukan saat sekarang.
Dengan masih menggendong putri kecilnya, Andra melangkah menuju ke ruangan tengah, sebuah ruangan di mana putri kecilnya ini sering menghabiskan waktunya untuk bermain.
Dengan perasaannya yang begitu sangat gembira, Ria mengekori tuan Andra nya. Mungkin saat ini Ria masih bisa tersenyum, namun setelahnya, entah apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, di ruangan ini Andra, putrinya Aida, dan juga suster Ria telah berada.
" Kamu pasti tahu kenapa aku menyuruhmu ke sini kan Ria? ". Ujar Andra dengan tatapan yang begitu tajam.
Awalnya Ria memang merasa sangat senang karena diajak oleh tuan Andra nya, tapi setelah melihat dengan begitu dekat bagaimana tatapan tuannya, seketika itu membuat rasa senangnya menghilang dan berhasil menciutkan rasa percaya dirinya.
" Memangnya apa tuan, kenapa tuan Andra menyuruh saya untuk kemari?, tuan Andra ada perlu sesuatu? ". Rupanya Ria tak mengerti dengan maksud tuannya.
" Dasar asisten ceroboh, kamu benar tidak menyadari kesalahanmu atau hanya berpura-pura tidak menyadarinya?, apa kamu sudah bosan bekerja di rumah ini? ". Akhirnya amarah Andra sudah benar meluap.
" Apa yang kamu lakukan pada istriku Nadira?, kamu menumpahkan sup yang panas di kakinya, apa kamu sengaja ingin membuat istriku sakit? ". Kesal Andra.
" Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja melakukannya, saya tidak tahu kalau sup itu akan benar tumpah di kaki nona ". Sahut Ria.
" Tetap saja kamu salah sustel Lia, bunda kan tidak minta dibuatkan sup, telus halusnya sup nya di letakkan di atas meja, tapi kamu malah dekat - dekat bunda bawa sup nya, aku lihat sendili tadi ". Sahut Aida yang ikut menimpali.
" Benarkan itu Ria, kamu ingin mencelakai istriku?, putriku sudah melihatnya ".
" Ti-tidak tuan itu tidak benar, nona Nadira memang tidak meminta untuk dibuatkan sup, saya sendiri yang berinisiatif untuk membuatkannya sup, tapi sungguh tidak ada sedikitpun niat saya untuk mencelakai nona, sungguh tuan ". Sahut Ria.
Dengan sebisa mungkin Ria memasang raut kesedihan, berharap agar tuan Andra nya masih mau memberikan belas kasihan sehingga tak lagi menyalah - salahkan dirinya.
" Inilah kebodohan mu, kalau istriku tidak memintanya, kamu jangan sok membuatkan apapun, berapa kali sudah aku harus mengingatkan hal yang sama ".
" Untung putriku Aida yang sudah mengatakan semuanya, jika tidak, sudah pasti aku tidak mengetahui dengan apa yang sudah terjadi ". Jelas Andra panjang lebar dengan emosinya
Seperti itulah Ria, sangat tak jarang Ria sering melakukan hal - hal yang sama sekali tidak Andra suruh, dan itu sudah terjadi sangat lama.
" Apa kamu mengerti dengan yang aku katakan Ria? ". Sentak Andra.
" Iya tuan saya mengerti ". Sahut Ria.
" Awas saja jika kamu mengulangi kesalahan yang sama lagi, aku tidak akan segan - segan untuk memecat mu bekerja di rumah ini, ingat itu Ria ". Andra sungguh tidak main - main dengan apa yang dikatakannya.
Dan seusai melupakan segala amarahnya, Andra dengan masih menggendong putrinya Aida langsung berlalu pergi begitu saja dari hadapan Ria.
Ria, sang asisten rumah tangga yang mendapatkan kemarahan dari Andra tentu saja sangat tak terima dengan perlakuan tuannya.
Apa yang dilakukan oleh Andra membuat emosi Ria begitu sangat menggebu-gebu dan ingin segera di luapkan, namun sayang dirinya tak bisa melakukannya, karena jika sampai itu terjadi, sudah pasti dirinya akan di depak dari rumah besar tuannya ini.
Kebencian di dalam hati Ria pada Aida menjadi semakin bertambah saja. Bahkan mungkin kebenciannya malah mengubah hatinya.
" Ini semua gara - gara kamu Aida, gara - gara kamu Andra memarahiku hanya untuk wanita kampungan itu ".
" Hari ini kamu memang masih bisa berbicara, tapi lihat saja besok, apakah kamu masih bisa bersuara, dasar gadis kecil sialan, tukang mengadu ". Batin Ria.
Entah apa yang ingin dilakukan oleh Ria, namun yang pasti keadaan di hari esok belum tentu akan baik - baik saja.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€