Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Mendadak Tempramental


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Hari - hari baru bagi seorang Nadira yang telah berstatus menjadi seorang istri tuan Andra telah berjalan selama enam hari sudah.


Rasa yang berbeda dan juga suasana yang berbeda teramat sangat dirinya rasakan. Di rumah ini dirinya diperlakukan layaknya seorang ratu dan kondisi ini tentu sangat jauh berbeda disaat dirinya masih berada di kampung halamannya dulu.


Saat di sana dirinya diperlakukan menjadi seorang pembantu bahkan lebih parah dari itu, seolah tak mengenal waktu terutama mama dan saudara tirinya hampir selalu saja menyuruhnya untuk melakukan hal apapun yang mereka inginkan. Seolah sengaja dilakukan, mereka seperti ingin menyiksa dirinya dengan membuat hari - harinya menjadi kelelahan.


Suaminya Andra benar - benar menepati janjinya. Semenjak hari pertama menikah suaminya Andra memang selalu memberikan hal yang selalu mejadi kebutuhannya.


Nadira merasa kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat sangat berbeda setelah menikah. Ditambah lagi dengan hadirnya seorang putri kecil dalam hidupnya, benar - benar membuat hidup Nadira menjadi sangat lebih berwarna.


Hari ini, di pagi hari yang sangat cerah ini, Nadira menemani putri kecilnya Aida yang sedang bermain sepeda ayun mengelilingi taman.


Semenjak tadi pandangan Nadira merasa sangat dimanjakan karena adanya atraksi dari putri kecilnya itu. Putrinya Aida sedang sibuk mengelilingi taman di rumah ini dengan begitu gembira rianya, bahkan sekali - kali putrinya itu melambaikan tangannya sebagai isyarat jika dirinya aman - aman saja.


" Bunda bagaimana bunda?, Aida hebat kan main sepedanya? ". Tanya Aida di sela mengayun sepedanya.


" Iya sayang, anak bunda memang hebat, dari tadi Aida sangat pintar main sepedanya, bunda sampai gemas sendiri loh melihatnya ". Sahut Nadira dengan tersenyum senang pada putrinya.


" Iya dong bunda siapa dulu yang main Aida begitu loh ". Sahut Aida dengan begitu bangganya.


Nadira hanya bisa tersenyum melihat tingkah putri kecilnya yang begitu polos dan aktif ini. Meski Aida terkesan lebih cerewet, namun tetap saja Aida terlihat seperti Andra versi perempuan. Iya tentu saja seperti itu, karena Aida adalah putri kandungnya.


Ketika Aida menginginkan sesuatu maka apa yang diinginkannya itu haruslah dipenuhi sama seperti daddy nya Andra yang menginginkan sesuatu.

__ADS_1


Ketika Aida marah, marahnya pun terbilang sama seperti daddy nya Andra. Keduanya bisa sangat berwajah garang ketika sangat marah, dan persamaan lainnya yang bak copy paste yaitu sama - sama keras kepala. Ternyata memang benar dengan apa yang dikata oleh banyak orang, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Adapun perbedaannya hanya satu, putrinya Aida cenderung lebih banyak bicara daripada daddy nya Andra. Mungkin karena Aida masih kecil sehingga dirinya lebih banyak bicara dan cenderung ingin tahu sesuatu yang menurutnya unik.


Aida memanglah sangat mirip dengan Andra. Mengingat tentang Andra, entah mengapa malah membuat Nadira menjadi teringat akan saat sarapan di waktu yang sangat pagi tadi.


Sikap suaminya agak berubah, memang benar jika suaminya Andra memiliki sifat yang dingin, namun hal itu hanya terjadi jika suaminya berada di luar dengan orang - orang yang tak dikenal, beda halnya ketika suaminya bersama dengan orang - orang yang sangat disayanginya, pasti sikap suaminya itu cenderung lebih hangat dan sangat peduli.


Mendadak perasaan Nadira menjadi sedikit khawatir. Mungkinkah sikap suaminya Andra sedikit berubah karena selama empat malam ini dirinya tak tidur bersama, sehingga dari hal itulah sikap suaminya sedikit berubah.


" Ya Tuhan, apa jangan - jangan mas Andra berubah karena aku sudah tidak tidur bersamanya lagi?, mungkinkah seperti itu? ". Batin Nadira.


Ya, semenjak dokter Budi mengatakan agar dirinya istirahat dulu untuk beberapa hari ini, semenjak itu pula dirinya dan suaminya Andra sudah tak lagi tidur bersama. Bukan karena dirinya tak ingin tidur bersama dengan suaminya sendiri, hanya saja putrinya Aida melarang dirinya untuk tidur bersama dengan daddy nya.


Aida tak ingin jika dirinya sakit lagi karena tidur dengan daddy nya. Namun apapun itu, bukan itu yang menjadi pokok persoalannya. Saat ini Nadira merasa sangat begitu khawatir.


" Haruskah aku datang ke kantornya mas Andra? ". Batin Nadira.


*****


Bukankah berkas penting diajukan pada tuannya memang untuk diperiksa terlebih dahulu sehingga jika terdeteksi adanya sebuah kesalahan bisa segera diperbaiki. Namun kenyataannya apa yang terjadi, tuannya malah marah besar hanya karena sedikit kesalahan saja pada berkas penting itu. Akibatnya dua karyawan yang dimarahi oleh tuannya ini hanya bisa diam pasrah menghadapi perlakuan tuan mereka.


" Apa kalian sebegitu bodohnya tidak bisa mengerjakan berkas seperti ini?, kalian masih mau bekerja di tempat ini atau tidak? ". Marah Andra dengan yang sudah kesekian kalinya.


" Masih tuan, kami masih sangat ingin bekerja ". Sahut Mereka.


" Ya sudah tunggu apalagi kalian?, cepat perbaiki ini, aku sudah muak dengan ini ". Dengan kasarnya Andra pun langsung melempar berkas penting itu di hadapan kedua karyawannya.


Dengan takut takut kedua karyawan itupun memungut berkas - berkas itu yang berserakan tak karuan.

__ADS_1


" Kalau begitu kami permisi dulu tuan ". Pamit keduanya.


" Bukankah aku sudah mengatakan nya, ya sudah cepat keluar, bereskan pekerjaan kalian itu ". Sentaknya.


Entah apa yang terjadi pada diri Andra, kemarahan nya kali ini sangatlah tidak wajar. Andra memang sering marah, namun untuk hal kecil seperti ini sangat aneh rasanya jika Andra benar sampai semarah ini. Andra mendadak tempramental. Mungkinkah dirinya menjadi seperti ini karena akibat tidak tidur bersama istrinya sehingga gejolak amarah di dalam dirinya tak mampu untuk ia bendung lagi.


*****


Siang ini Nadira sudah bersiap ingin menemui suaminya di kantor, setelah cukup lama melakukan bujuk rayu pada putri kecilnya agar mau memberikannya izin, akhirnya Nadira benar - benar mendapatkan izin itu.


Dengan diantar oleh pak Rahman, Nadira sudah bersiap untuk menuju kantor suaminya.


" Pak, apa kantor mas Andra sangat jauh? ". Tanyanya.


" Tidak juga nona, mungkin kalau berangkat dengan kecepatan sedang membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan ". Sahut pak Rahman.


Nadira pun hanya bisa mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh sang supir kepercayaan suaminya, toh yang lebih tahu adalah pak Rahman, lebih baik dirinya tidak perlu banyak bertanya.


" Nona Aida tidak ikut nona? ". Tanya pak Rahman.


" Tidak pak, putriku tidak ingin ikut ". Sahut Nadira.


" Oh seperti itu nona ". Sahut pak Rahman yang mengangguk angguk paham.


Aida tak ingin diajak ke kantor daddy nya, menurutnya kantor daddy itu sangatlah membosankan.


Bersambung........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2