
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Malam hari yang masih belum cukup larut sudah menyelimuti di hampir setiap sudut yang ada di ibu kota.
Tidak sedikit dari para insan yang telah mengistirahatkan tubuh mereka setelah hampir seharian penuh bekerja dalam mencari nafkah.
Istirahat bersama dan bersantai dengan keluarga mereka itulah yang dilakukan. Termasuk yang dilakukan oleh Andra bersama keluarga kecilnya.
Di dalam kamarnya benda persegi empat yang memiliki ukuran yang cukup lebar, masih setia menyala, layarnya masih terus menampilkan kelucuan - kelucuan dari film - film kartun yang membuat siapapun bisa tertawa ketika melihatnya.
Namun sang tokoh utama yang menjadi penonton setia dari film - film kartunnya ternyata sudah terlelap.
Nadira menyelimuti tubuh mungil putrinya. Putrinya Aida sudah cukup lama terlelap sehingga film kartun kesukaannya pun bergantian dengan suaminya yang menontonnya.
Cup... cup... cup...
" Tidurlah yang nyenyak sayang, biar besok kamu bisa main lagi ". Seru Nadira lembut setelah menciumi wajah mungil putrinya.
Nadira sangat menyayangi dan mencintai Aida, itu sudah tak diragukan lagi. Semakin bertambahnya hari semakin membuat rasa sayang dan cintanya semakin bertambah saja pada putri kecilnya ini.
Andra membalikkan tubuhnya dan memeluk Nadira istrinya dari arah belakang.
" Sayang, aku ingin tidur, kamu menghadap ke sinilah sayang ". Bisik Andra dari belakang tengkuk istrinya.
Nadira pun benar membalikkan tubuhnya. Kalau sudah ingin tidur seperti ini, pasti suaminya akan bersikap manja.
" Mas sudah ingin tidur? ". Seru Nadira.
" Iya sayang aku ingin tidur, aku ingin tidur dengan memelukmu ". Sahutnya dengan mengeratkan pelukannya.
" Mas benar ingin langsung tidur, apa tidak ingin ke... ". Nadira pun tak melanjutkan kalimatnya.
" Tidak sayang, malam ini kita tidak perlu ke kamar sebelah, karena aku tidak ingin meminta jatah ku, aku ingin malam ini kamu istirahat sayang, kaki mu masih sakit ". Sahut Andra.
Nadira hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dalam urusan ranjang suaminya Andra memang sangat begitu berhasrat, namun siapa sangka jika suaminya rela tak meminta jatahnya hanya karena dirinya sedikit sakit di bagian kakinya.
" Benar mas Andra tidak ingin? ". Goda Nadira.
Entah keberanian dari mana Nadira sampai bisa menggoda suaminya.
" Dasar kamu sayang, jangan sok - sok menggodaku, kalau malam ini aku benar sampai memakan mu, jangan harap aku akan melepaskan mu sayang ". Sahut Andra.
Entah keberanian dari mana yang istrinya dapatkan, jujur saja akhir - akhir ini istrinya Nadira sedikit bertingkah aneh dan lebih suka menggodanya, bahkan tak jarang istrinya ini bersikap malas, sebenarnya apa yang membuat istrinya bertingkah seperti ini. Memang benar perubahan sikap istrinya tak begitu frontal, namun tetap saja perubahan sikapnya tetap bisa Andra rasakan.
Nadira hanya bisa tersenyum garing, tentu saja dirinya tak ingin jika suaminya Andra benar sampai memakannya tanpa ampun.
__ADS_1
" Kamu tidak nyahut sayang?, kamu akhir - akhir ini sering menggodaku, ada apa denganmu sayang? ". Andra ingin mendengar jawaban dari istrinya.
Nadira merasa bingung harus menjawab bagaimana, karena dirinya pun juga tak mengerti. Yang dirinya rasakan saat ini adalah perasaan yang biasa seperti hari - hari sebelumnya, dan dirinya merasa itu semua sama saja.
" Menggoda apa sih mas, aku sama sekali tidak menggoda mas, mungkin itu perasaan mas sendiri ". Sahut Nadira bahkan rautnya menjadi sedikit judes.
" Sayang, jangan judes begitu dong, aku kan hanya bertanya sayang, dasar istriku yang sensitif ". Sahut Andra dengan begitu gemasnya.
" Emmuah... emmuah... dasar, sensitif sekali istriku ini, apa kamu mau datang bulan sayang jadinya sensitif seperti ini?, ini sudah malam, aku ingin tidur dengan memelukmu sayang ". Andra pun memeluk istrinya dengan begitu erat.
Tak ada sahutan lagi dari kedua belah bibir Nadira. Nadira malah menjadi terdiam dengan membiarkan suaminya Andra yang mendekap nya.
Mendengar kata ingin datang bulan dari suaminya seketika itu membuat Nadira tersadar jika sudah dua bulanan ini dirinya tidak kedatangan tamu bulanannya, dan dirinya baru menyadarinya ketika suaminya yang mengatakannya.
" Ada apa dengan ku?, kenapa aku masih belum datang bulan? ". Batin Nadira yang bertanya - tanya.
Nadira merasa enggan untuk mengutarakan kebingungannya ini, apalagi ini soal tamu bulanan seorang wanita, mana mungkin suaminya Andra bisa mengerti hal itu dengan baik, itulah yang dirasakan oleh Nadira.
*****
Sinar mentari pagi sudah hampir memenuhi rumah besar bak sebuah istana ini. Tak begitu banyak aktivitas yang begitu merepotkan, semuanya telah berjalan seperti hari - hari biasanya bahkan mungkin sudah terasa lebih santai.
Pagi hari ini hati Andra sedang dilanda kebimbangan, bagaimana tidak hari ini dirinya ingin bersama sang istri Nadira dan juga buah hatinya si kecil Aida, ditambah lagi karena Nadira yang masih mengalami sakit di bagian kakinya membuat Andra sebenarnya begitu berat untuk pergi ke kantor perusahaan nya, namun harus bagaimana lagi karena hari ini ada pertemuan dengan tamunya yang berasal dari luar negeri membuat Andra mau tak mau harus pergi ke perusahaan nya.
" Sayang, kamu benar tidak apa - apa kan jika aku tinggalkan sebentar? ". Seru Andra lagi.
" Iya mas tidak apa - apa, mas Andra pergi saja ke kantor, aku kan ditemani putri kita di sini ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Iya pelgi saja daddy, daddy kan selalu gila kelja, Aida seling di tinggal - tinggal, beluntung Aida punya bunda, jadi ada yang menemani Aida ". Timpal si kecil Aida.
Mendengar ucapan sang putri, seketika itu membuat hati Nadira menjadi terenyuh. Jadi putrinya memang kurang mendapatkan perhatian.
Andra tak menyahut lagi, memang benar jika putrinya sering kali ditinggal karena urusan pekerjaan, sering pergi ke luar negeri hingga berhari - hari sangat tak jarang dirinya lakukan.
" Sana daddy pelgi, nanti daddy bisa kesiangan, kasihan tamunya daddy ". Meski Aida terkesan cerewet, namun Aida termasuk anak yang pengertian dan peka.
" Maafkan daddy sayang, sini daddy ingin memelukmu ". Dengan penuh rasa haru Andra memeluk putri kecilnya.
Cup... cup... cup...
Andra menciumi wajah mungil putrinya, wajah yang terlihat sangat cantik namun bak copy paste wajahnya.
Cup... cup... cup...
Aida pun juga menciumi wajah tampan daddy.
" Ih, cium wajah daddy buat Aida jadi geli, coba daddy cukul belewok belewoknya, sudah agak panjang ini ".
__ADS_1
" Hahahaha... ". Nadira pun menjadi tertawa dibuatnya.
Yang sebelumnya sempat sedih karena nasib putrinya, kini dirinya malah tertawa dengan begitu gemasnya.
" Hahahaha... iya sayang, brewoknya daddy sudah agak panjang, tumben tidak di cukur ya? ". Nadira malah menggoda suaminya.
" Aku kan memang brewokan sayang, ya ini memang lebih panjang dari biasanya sih, tapi ini salah kamu juga sayang, kenapa kamu belum mencukur brewok ku, kamu ingin aku brewokan panjang? ". Sahut Andra dengan nadanya yang sedikit menyindir.
" Hihihihi... iya mas, nanti kalau mas Andra sudah pulang dari kantor, aku akan cukur brewoknya mas Andra ". Sahut Nadira.
" Begitu dong sayang ". Sahut Andra.
Ya, semenjak Andra beristrikan Nadira, Andra sudah tak pernah lagi mencukur bulu - bulu halus di sekitar dagu dan pipinya sendiri lagi, bahkan dirinya juga sudah tidak lagi datang ke tempat cukur untuk mencukur brewoknya.
Semenjak memiliki istri Nadira, Andra lebih memilih istrinya lah yang mencukur brewoknya, alasannya sangat sederhana yaitu ingin dimanja oleh istrinya.
Kalau sudah keasyikan seperti ini, rasanya Andra tak ingin pergi ke kantornya, tapi itu rasanya tidak mungkin untuk dilakukan.
*****
Andra masih tak kunjung keluar dari kamarnya, dan kesempatan ini tentu tak ingin dilewatkan oleh Ria.
Saat ini, Ria sedang menyapu di sekitar kolam Renang. Alih - alih sedang menyapu, sebenarnya sudah ada niat jahat yang telah dirinya rencanakan bahkan sudah mulai dirinya lakukan.
Ria sangat sadar betul jika di beberapa sudut di rumah tuannya Andra terdapat cctv yang akan selalu memantau pergerakan semua orang, menyadari akan hal itu tentu saja membuat Ria tak ingin bertindak gegabah.
Ria memang menyapu di sekitar kolam, padahal di sekitar kolam sama sekali tak begitu banyak debu.
Di sela - sela kegiatan menyapunya, ternyata Ria juga meneteskan minyak di atas lantai yang ada di sekitar kolam. Dan bisa dipastikan jika siapapun akan terpleset bila melewati lantai ini.
Ria melakukan aksinya dengan begitu sangat apik, bahkan meski terekam oleh cctv sekalipun tidak akan terlihat hal yang mencurigakan sama sekali, karena yang terekam adalah Ria sedang menyapu di area sekitar kolam.
" Lihat saja gadis kecil sialan, apakah setelah ini kamu masih bisa bersuara?, sudah dari kemarin aku ingin menghabisi mu, tapi sepertinya hari ini akan baru terwujud ". Batin Ria.
Ria sangat tahu jika Aida punya kebiasaan jika di pagi hari seperti ini akan memberi makan ikan - ikan yang ada di kolam sebelah. Dan sebelum memberi makan ikan - ikannya, sudah pasti anak dari majikannya itu akan lewat di tempat ini.
Aida yang masih kecil tentu masih belum memiliki kemampuan untuk bisa berenang. Dan jika Aida ingin berenang, sudah pasti tak akan lepas dari bantuan Andra. Jika di pagi hari ini Aida akan benar memberi makan ikan - ikannya, bisa dipastikan jika Aida akan benar terpleset, dan parahnya jika benar hal itu terjadi, sudah pasti Aida akan terjatuh dan masuk ke kolam renangnya.
" Selamat menemui ajal mu gadis kecil, setelah kamu pergi, giliran bunda mu lah yang akan segera aku singkirkan ". Batin Ria dengan tersenyum puas.
Merasa langkah awalnya sudah berjalan dengan sangat lancar, Ria pun meninggalkan area di sekitar kolam.
Ria merasa sangat yakin jika rencananya pasti akan berjalan dengan sangat baik, tinggal menunggu bagaimana hasilnya.
Ini benar - benar sangat mengkhawatirkan. Keberadaan Aida saat ini sudah terbilang sangat tidak aman. Aida berada dalam bahaya, dan ini sangat mengancam keselamatannya. Saat ini bahaya sedang mengancam Aida. Jika Andra benar pergi menuju ke kantornya, bukan tidak mungkin jika hal buruk yang akan menimpa putrinya, akan benar - benar terjadi.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€