
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Dira ". Panggil Putri dengan melambaikan tangannya pada sang sahabat, rupanya Putri sudah duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Melihat adanya sang sahabat yang memberi kode untuk mengharuskan dirinya ke sana, dengan perlahan Nadira pun melangkahkan sepasang kaki jenjangnya itu untuk menuju mejanya.
" Tumben kamu sudah lebih dulu sampai di kafe Put ". Seru Nadira setelah gadis cantik itu sampai.
" Ya tidak apa - apa ". Sahut Putri.
Lalu kedua gadis cantik itupun mulai memilih menu makan siang yang tersedia di sana.
Seperti biasa, suasana di kafe kampus mewah ini memang selalu ramai, meski di luar tempat di sekitar kampus ada beberapa kafe dan juga restoran, tak membuat kafe ini menjadi sepi pengunjung.
Rasa makanannya yang enak, pelayanannya yang baik itulah yang menjadi salah satu alasan utama di mana kafe ini selalu ramai dengan pengunjung, teruma bagi para mahasiswa.
Dengan sambil lalu menunggu menu makan siang, Nadira dan Putri nampak berbincang santai, lebih tepatnya Putri lah yang mengajak Nadira berbincang.
" Dir ". Seru Putri.
" Hum ". Sahut Nadira yang hanya berdeham.
" Wajah kamu terlihat lusuh, aku tahu penyebabnya ". Sahut Putri.
" Kamu ini bicara apa lagi sih Put, suka tidak jelas ". Sahut Nadira, karena ia merasa ada yang tak biasa dari raut wajah sahabatnya ini.
" Aku tahu kenapa kamu seperti ini, pasti karena sebentar lagi kamu tidak bertemu tuan Andra kan, kan kamu ikut kemah ". Sahut Putri dengan sedikit menggoda sahabatnya.
" Apa sih kamu Put, tidak ada hubungannya tahu antara kemah ku dengan mas Andra ". Sahut Nadira.
" Siapa yang tahu tentang itu, kan kemahnya selama tiga hari, kemungkinan selama tiga hari itu kamu tidak bertemu tuan Andra ". Sahut Putri.
Bukan Putri namanya jika tak suka menggoda sahabatnya.
" Tapi tenang saja Dir, meski tak ada tuan Andra, aku akan tetap ikut kemah kok ". Seru Putri lagi pada akhirnya.
" Hah... apa?, kamu akan ikut kemah Put?, memangnya kakak kelas harus ikut kemah? ". Sahut Nadira yang cukup terkejut.
__ADS_1
" Tidak, yang wajib ikut itu mahasiswa dan mahasiswi baru, tapi kalau kakak ingin ikut kemah, ya boleh - boleh saja kata dosen ". Sahut Putri.
" Jadi aku memutuskan untuk ikut saja, ya sekaligus untuk melindungi kamu dari tiga wanita yang sok kecantikan yang selalu mengganggu kamu ". Lanjut Putri lagi.
Mendengar penuturan sang sahabat membuat Nady merasa begitu terharu, Nadira sangat terharu, karena hanya demi untuk menjaga dirinya, sahabatnya Putri sampai rela ikut kemah, padahal jika tidak berkemah, Putri bisa membantu bu Dewi di rumahnya.
Beruntungnya Nadira yang memiliki seorang sahabat yang begitu tulus seperti Putri.
" Terima kasih ya Put ". Seru Nadira dengan tulus.
" Bagus, kamu memang harus berterima kasih padaku ". Sahut Putri yang dibuat sedikit angkuh.
Dan setelah obrolan yang ringan itu, kedua gadis cantik itupun sudah mulai bersiap untuk makan, karena pelayan di kafe itu sudah membawa menu yang mereka pesan.
*****
Sang waktu terus berjalan dengan detik demi detik, hingga tanpa terasa telah membawa waktu itu sendiri menuju malam hari.
Kini, di malam hari yang masih belum larut ini, seorang pria yang sudah berusia matang itu, masih berada di ruangan kerja pribadinya, ia nampak masih berkutat di depan meja kerjanya itu.
Ya, siapa lagi pria itu jika bukan Andra, seorang pria yang memiliki kebiasaan rutin untuk memeriksa kemaksimalan pekerjaannya sebelum benar - benar beristirahat.
Sudah sekitar dua jam lamanya Andra mengotak atik laptopnya itu, dan mungkin tak lama lagi dirinya akan selesai, tidak, sebenarnya sekarang inilah Andra sudah selesai dari kegiatan mengecek data dari hasil pekerjaannya.
Andra menyandarkan tubuh kekarnya itu di kursi kebesarannya, memang sedari tadi Andra belum beranjak dari tempat duduknya.
Pria berusia matang yang memiliki sepasang bola mata biru itu mengarahkan pandangannya ke langit - langit ruangan kerjanya, mungkin karena hampir seharian ini begitu banyak klien yang datang ke perusahaannya, tanpa Andra sadari, tubuhnya cukup merasa lelah, dan naasnya, membuat Andra belum berkeinginan untuk kembali ke ruangan kamarnya.
" Mas, hari ini aku ingin ke dokter untuk cek kandungan, aku mau hari ini kamu yang mengantarku ke rumah sakit ". Seru Dina pada Andra.
" Sayang, aku masih sibuk, besok - besok saja periksa nya, di luar sana kan ada pak Rahman, ya kamu minta antar saja padanya, hari ini aku tidak bisa ". Sahut Andra yang menolak permintaan istrinya.
" Mas mau sampai kapan sih kamu seperti ini, setiap kali aku mengajakmu untuk memeriksa kondisi calon anak kita, kamu selalu saja menolak, kapan sih kamu akan ada waktu untuk anak kita? ". Sahut Dina yang sudah mulai protes.
" Sayang, apa maksudmu, aku ini sedang banyak pekerjaan, kata siapa aku tidak pernah ada waktu untuk ikut memeriksa kondisi anak kita, bukankah di awal kehamilan mu aku sering mengantarmu ke rumah sakit untuk cek kandungan? ". Sahut Andra.
" Ya Tuhan, mas, kenapa kamu bicara seperti itu, memangnya untuk mengetahui kondisi anak kita hanya di awal - awal saja begitu, sekarang tidak lagi? ". Sahut Dina bahkan emosinya kini sudah mulai meninggi.
" Ya Tuhan, Dina, sudahlah jangan seperti anak kecil, aku ini sedang bekerja, lagipula aku ini bekerja untukmu dan juga anak kita, di luar ada pak Rahma, kamu minta antar saja pada... ".
__ADS_1
" Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri ". Putus Dina sehingga membuat kalimat Andra pun menjadi terhenti.
Andra begitu tersentak kala serpihan - serpihan kejadian itu tengah banyak bermunculan di memorinya, ia terjaga dari posisinya.
Hatinya saat ini merasa kembali hancur, bayang - bayang akan di mana istri tercintanya Dina yang begitu mengharapkan perhatiannya namun selalu dirinya abaikan.
Masih sangat teringat jelas dalam memorinya bagaimana istrinya Dina pergi dari rumahnya dalam keadaan emosi.
Andra sangat menyesal, benar - benar sangat menyesal, jika saja disaat itu dirinya menuruti keinginan istrinya, pastilah kejadian naas itu tak akan pernah terjadi.
Istrinya Dina keluar dan mengendarai mobilnya seorang diri, karena perasaan Dina yang kala itu sudah begitu emosional, akhirnya kecelakaan maut itupun sudah tak mampu dihindari lagi.
Dan tanpa terasa, Andra telah meneteskan air matanya, namun dibalik kecelakaan maut itu, masih ada sebuah harapan yang masih bisa disyukuri.
Iya, dari kecelakaan maut itu, janin dalam kandungan istrinya ternyata masih bisa diselamatkan, dan sekarang, janin itu, telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang begitu menggemaskan.
" Maafkan aku sayang ". Seru Andra dengan segala rasa penyesalannya.
Andra mengarahkan pandangannya ke arah laci di mejanya, lalu ia pun mengarahkan tangannya itu untuk membukanya.
Dari isi lacinya masih sama, di sana terdapat foto almarhumah istrinya yang saat itu sedang mengandung putrinya Aida.
Diraihnya foto sosok wanita yang pernah terukir, bahkan hingga detik ini masih terukir di hatinya, Andra memandangnya dengan penuh rasa cinta.
Namun, baru beberapa saat ia memandang foto mommy dari putrinya, nampak berkelebat wajah sosok bunda dari putrinya Aida, Nadira, itulah wajah yang muncul di pikirannya.
Merasakan adanya hal itu, membuat Andra pun semakin banyak meneteskan air matanya.
" Sayang, mommy dari putriku, maafkan aku... maafkan aku sayang, aku tidak tahu kapan perasaan ini mulai ada, namun saat ini, hatiku sudah terbagi ".
" Aku... sudah jatuh cinta pada wanita lain, maafkan aku Dina, aku sudah menodai cinta suci kita ".
" Kamu tidak marah kan padaku?... dia wanita yang baik, dia sangat menyayangi putri kita, dan aku... sudah jatuh cinta padanya ".
" Tapi meski begitu, percayalah sayang, tidak ada seorang wanita pun, yang mampu menghapus namamu di hatiku, karena apa, karena kamu adalah wanita istimewa di hatiku, kamu mommy dari putriku ". Ungkap semua perasaan Andra pada sebuah foto wanita cantik dari mommy putrinya.
Tak ada penyesalan yang datang di awal, dikatakan sebuah penyesalan, karena hal itu terjadi dan dirasakan setelah semuanya telah usai, dan penyesalan ini sebenarnya sudah dari dulu seorang Andra rasakan, semuanya sudah tak bisa diubah lagi, dan mungkin, karena itu semua adalah kehendak dari yang maha kuasa.
Bersambung.........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ