Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Pemecatan Ria


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Keluarga kecil yang ditunggu tunggu pun akhirnya telah tiba. Senyum ramah menyambut kedatangan sosok yang ditunggu itu tak henti hentinya terpancar dari mereka yang telah cukup lama mengabdikan diri pada tuan mereka.


Sesuai yang telah ditentukan di hari kemarin jika hari ini adalah hari di mana si kecil Aida telah kembali pulang dari rumah sakitnya.


Aida kembali datang ke rumahnya dengan digendong oleh daddy nya, sementara sosok bundanya jangan ditanya lagi, sudah pasti bundanya itu datang dengan naik kursi roda.


" Selamat datang nona Aida nona Nadira bibi senang sekali karena nona sudah kembali pulang ". Seru bi Sari yang penuh dengan suka cita menyambut kedatangan majikannya.


" Telima kasih bi Sali ". Sahut Aida dengan suara khas cempreng nya.


" Kami senang sekali non bisa mendengar suara nona Aida lagi, kalau tidak ada non suasana rumah jadi sangat sepi non, iya kan bibi? ". Timpal suster Lina.


" Iya benar sekali rumah jadi sangat sepi kalau tidak ada suara non Aida ". Sahut bi Sari.


Mereka begitu sangat bahagia karena nona kecil yang selalu bisa menghidupkan suasana rumah mulai kembali menggaungkan suara cempreng nya yang pastinya akan selalu menjadi hiburan bagi semuanya.


" Daddy tulunkan Aida, Aida mau minta gendong sama bi Sali ". Pinta Aida.


" Apa, masih ingin digendong oleh bi Sari?, sayang, berat badanmu sudah bertambah, apa kamu tidak kasihan kalau harus minta digendong pada bi Sari, kasihan bi Sari sayang ". Sahut Andra.


" Tidak apa - apa tuan saya masih kuat, ayo sini nona Aida kalau ingin digendong sama bibi ".


Bi Sari pun mendekati Aida dan ingin membawanya pada gendongannya.


Andra hanya bisa pasrah, mungkin putri kecilnya merindukan bibi asuhnya sehingga ingin digendong.


Jika diingat - ingat semenjak Aida memiliki bunda Nadira, memang hampir tak pernah putrinya Aida digendong oleh bi Sari, jangankan digendong, minta untuk ditemani saja sudah tak pernah dirinya lihat.


" Emmuah - emmuah Aida sayang bi Sali ". Serunya dengan bergelayut manja dan mencium wajah bibi asuhnya.


" Jadi begitu, apa Aida sudah tidak sayang bunda? ". Akhirnya setelah sekian lama Nadira mulai membuka suaranya.


" Sayang bunda, Aida sayang sekali sama bunda, baiklah Aida akan tulun dali bi Sali sekalang juga ".

__ADS_1


" Tidak perlu sayang, bunda hanya bercanda hihihihi... ".


" Ih bunda tidak selu, bunda jadi sama sepelti daddy suka goda Aida huh... ".


" Hihihihi... maafkan bunda sayang ".


Untuk sesaat Andra memang sedikit heran dengan istrinya, namun setelah itu dirinya menjadi tersenyum. Ternyata kehamilan istrinya memberikan dampak yang ada baiknya juga. Entah apakah ini memang benar tapi setelah istrinya mengandung istrinya ini memang suka sekali menggoda.


" Sudah - sudah ayo kita masuk, kalau di sini terus kapan kita akan masuknya ". Putus Andra pada akhirnya.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah, akibat dari terlalu senangnya dengan kedatangan si kecil Aida hampir menyebabkan drama yang tak kunjung selesai.


*****


Sepasang wanita yang berbeda generasi ini membaringkan tubuh mereka di atas ranjang kasur empuknya, apalagi si gadis kecilnya selalu saja mengelus elus perut bundanya.


" Aida sudah tidak sabal ingin lihat si adik lahil bunda, Aida mau adiknya nanti milip sama Aida ". Dengan begitu polosnya Aida mengutarakan keinginannya.


" Iya sayang kita berdoa saja semoga adiknya nanti kalau sudah lahir mirip sama Aida ".


" Aida mau adiknya nanti pelempuan bunda bial Aida ada temannya ". Pintanya.


" Iya bunda, Aida mau adiknya pelempuan ". Serunya lagi.


" Sayang, kalau ternyata kita diberikan adik laki - laki bagaimana?, kan adiknya masih ada di dalam perut bunda, jadi masih belum kelihatan apakah adiknya laki - laki atau perempuan sayang ". Tutur Nadira yang menjelaskan agar putri kecilnya bisa mengerti.


Dan benar saja seketika itu putrinya Aida menampakkan wajah tak sukanya. Aida menjadi sedikit merengut kala mendengar sahutannya, rupanya putri kecilnya ini begitu sangat menginginkan seorang adik perempuan.


" Aida, sayang, dengarkan bunda nak, jadi Aida tidak mau jika seandainya adiknya yang lahir nanti adalah adik laki - laki, iya begitu sayang? ".


Sungguh Aida merasa bingung dengan keadaan ini, dirinya ingin memiliki seorang adik perempuan, akan tetapi jika yang lahir nanti adalah adik laki - laki ya harus bagaimana.


" Ya sudah, kita berdoa saja agar adiknya kalau sudah lahir adalah adik perempuan sesuai keinginan Aida, jadi Aida ada temannya ". Sahut Nadira pada akhirnya.


Nadira tak ingin jika putri kecilnya ini berpikir terlalu keras akan kehamilannya, yang dirinya lakukan adalah dirinya harus bisa memberikan pengertian pada putrinya kecilnya jika suatu hari nanti adiknya yang lahir ternyata adalah laki - laki.


*****

__ADS_1


Brakkk...


Sebuah koper berwarna hitam itu telah dibantai di atas lantai hingga mengakibatkan nilai rupiah di dalamnya menjadi berhamburan.


" Tuan, apa ini tuan? ". Sungguh suster Ria sangat terkejut dengan koper berisi uang yang tuan Andra nya bantai.


" Kamu benar buta atau pura - pura buta, mulai hari ini kamu tidak perlu lagi bekerja di rumahku ".


Deg...


" Tapi tuan kenapa?, maksudnya apa ini tuan?, tuan memecat saya? ".


" Iya aku memecat mu, seharusnya dari dulu aku memecat asisten seperti mu, aku tidak mau tahu lagi pokoknya hari ini juga kamu sudah harus berkemas dan pergi dari rumahku ".


" Tapi tuan, apa salah saya?, kenapa saya tiba - tiba di pecat? ". Entah Ria yang memang benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti.


" Kamu masih bertanya apa kesalahan mu?, kesalahan mu adalah karena kamu ceroboh, karena kecerobohan mu putriku Aida sampai tenggelam di kolam ". Andra menjadi tersulut emosinya.


" Tuan, itu bukan kecerobohan saya, tapi kecerobohan nona Nadira, salah siapa yang tidak bisa menjaga nona Aida ".


" Riaaa... beraninya kamu menyalahkan istriku, jelas ini adalah kecerobohan dan kesalahan mu, kamu tahu jika di dekat kolam ada minyak tapi kamu malah tidak membersihkannya dengan benar, dasar pembantu pemalas ".


Habis sudah kesabaran Andra, niat awalnya yang tak ingin marah pada Ria sudah lenyap karena tingkah berani Ria.


" Masih untung aku tidak memenjarakan mu karena kecerobohan yang kamu lakukan, cepat kemasi barang - barang mu dan segeralah pergi dari rumahku ".


Sungguh Andra teramat sangat marah pada asistennya yang satu ini, sudah jelas melakukan kesalahan tapi tak mau mengakui kesalahannya.


" Aku tidak mau tahu, jika selama dua jam kamu masih juga belum berkemas dan pergi dari rumah ini, jangan salahkan aku jika menyeret mu secara paksa dari rumah ini ".


Dengan tanpa mempedulikan bagaimana respon dari Ria, Andra pun langsung pergi begitu saja dari hadapan asistennya itu.


Mungkin karena amarah yang sudah tak mampu dirinya kontrol lagi membuat dirinya tak ingin jika asistennya ini masih bertahan di rumahnya.


Bersambung.........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2