
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu memang sudah sangat larut sore, anak - anak yatim dan piatu pun sudah kembali ke panti asuhan mereka.
Semua pelayan restoran yang sempat Andra undang untuk menyiapkan jamuan pada para tamu undangan telah kembali ke restoran mereka, dan itu menandakan jika acara dalam tujuh bulanan kehamilan Nadira istrinya telah usai.
Bi Sari, pak Rahman, suster Lina serta para bodyguard yang lainnya tengah merapikan dan membereskan halaman belakang rumah tuan mereka agar bisa kembali rapi seperti sedia kala.
Acara ini sudah selesai, karena kehamilannya membuat Nadira merasa lebih baik jika istirahat lebih awal saja. Namun sebelum beristirahat, ibu muda itu memandangi tempat di sekitarnya. Nadira baru teringat jika semenjak beberapa jam yang lalu dirinya sudah tak melihat akan keberadaan putri kecilnya.
" Mas, Aida kemana?, kenapa aku tidak melihatnya? ". Seru Nadira pada suaminya yang ada di sampingnya.
Lantas Andra mengedarkan pandangannya ke area sekelilingnya, dan ternyata hanya terdapat orang-orang kepercayaannya saja, tak ada putrinya Aida.
" Mungkin Aida ada di dalam rumah sayang, sebentar, aku mau menanyakannya pada bi Sari dulu ". Sahut Andra.
Karena posisi bi Sari yang tak terlalu jauh darinya, membuat Andra memilih untuk bertanya pada pengasuh putrinya saja.
Andra mendekati bi Sari dan pak Rahman yang sedang mengelap meja hidangan.
" Bi ". Seru Andra setelah pria itu mendekati pengasuh putrinya.
" Iya tuan? ". Sahut bi Sari.
" Aida ada di dalam rumah kan?, apa bibi mengantar putri ku tidur? ". Tanya Andra.
Mendengar hal itu dari tuannya membuat bi Sari jadi mengernyit bingung, pasalnya yang dirinya ingat nona kecil Aida nya bersama tuan Andra dan nona Nadira nya sendiri.
" Maaf tuan, bukankah nona Aida tadi bersama anda dan nona Nadira tuan? ". Sahut bi Sari.
Andra terdiam, yang dikatakan oleh pengasuh putrinya ini memang benar, tadi putrinya Aida bersama dengannya dan juga istrinya, namun kebersamaannya itu tak berlangsung cukup lama setelah anak - anak dari panti asuhan mulai datang.
" Iya tuan, saya sendiri hanya tadi yang melihat nona Aida, mungkin nona Aida sedang ada di kamarnya tuan ". Timpal pak Rahman juga.
Seketika itu rasa khawatir langsung menggelayuti hati Andra. Andra langsung berbalik badan, pria itu ingin memastikan apakah putri kecilnya baik - baik saja.
" Ayo sayang kita masuk ". Ajak Andra.
" Putri kita ada di dalam mas? ". Sahut Nadira.
" Mungkin, itulah kenapa kita masuk ke rumah dulu, mungkin Aida ada di kamar sayang ". Sahut Andra.
" Bi Sariii... tinggalkan dulu pekerjaan mu, ayo masuk dulu ". Teriak Andra.
Cepat - cepat bi Sari melepaskan kain yang sempat digunakannya itu untuk mengelap meja. Bi Sari mengikuti tuan dan nona nya untuk masuk juga ke rumah.
*****
Dengan menggandeng tangan sang istri, Andra menuju ke kamar mereka.
Ceklek...
__ADS_1
Dan pintu kamarnya pun telah berhasil dibukanya.
" Aida... ". Panggil Andra.
Namun di dalam kamar sama sekali tak ada Aida. Mereka tak melihat keberadaan gadis kecil itu.
" Mas, Aida tidak ada di kamar, Aida, sayang ". Lantas Nadira menuju ke kamar mandi.
Kriett...
" Aida, sayang ". Serunya.
Namun masih sama, di dalam kamar mandi pun putrinya Aida juga tak ada.
Mendadak rasa khawatir mulai menggelayuti hati Nadira. Nadira sangat khawatir dengan putrinya yang entah ada di mana. Apakah putri kecilnya merasa kesal karena hampir seharian ini dirinya kurang begitu memperhatikan putri kecilnya itu.
" Mas, Aida kemana mas, kenapa tidak ada? ".
" Tuan, nona, mungkinkah nona Aida ikut pergi dengan anak-anak yatim? ". Seru bi Sari.
Entah pemikiran dari mana yang bisa muncul dari kepala bi Sari, mungkin karena Aida adalah tipikal anak yang suka penasaran, sehingga dari hal itulah membuat bi Sari beranggapan jika Aida penasaran dengan anak - anak yatim sehingga lebih memilih untuk ikut dengan mereka.
" Mas, bagaimana ini, apa benar putri kita ikut anak - anak panti?, kalau begitu kita ke panti yuk mas ". Seru Nadira.
" Tidak, itu tidak mungkin, sebentar ". Sahut Andra.
Andra meraih handphone pintarnya, pria itu sangat yakin jika putri kecilnya tak mungkin keluar dari rumahnya apalagi jika hanya untuk ikut bersama anak - anak panti.
Andra mulai memutar beberapa rekaman cctv rumahnya yang memang sudah terhubung dengan handphone pintarnya, pasti semua rekaman ini akan terlihat dengan jelas kemana sajakah putrinya.
" Mas, duduk saja ya, aku mau lihat juga rekaman cctv nya ". Pinta Nadira.
" Oh iya, maafkan aku sayang ". Sahut Andra.
" Bi, bi Sari boleh keluar ". Lanjut Andra.
" Baiklah tuan ". Sahut bi Sari.
Lantas bi Sari benar melangkah menuju ke pintu keluar. Sebenarnya bi Sari sangat khawatir akan di mana keberadaan nona kecilnya.
Lebih baik dirinya mencari ke semua sudut ruangan di rumah ini, tak mengapa jika dirinya menjadi kelelahan karena mencari nona kecilnya.
Nadira bersama dengan sang suami memperhatikan hal apa saja yang dilakukan oleh putri kecil mereka selama kegiatan berlangsung.
Hingga tiba di mana rombongan anak yatim dan piatu mulai datang, di situlah semua orang berdiri menyambut kedatangan mereka, dan dalam keadaan seperti itu Andra bersama sang istri Nadira dengan tanpa sadar telah melepaskan Aida.
" Mas, dipercepat lagi ya rekamannya, aku penasaran di mana terakhir kali Aida ada ". Seru Nadira.
Sesuai permintaan istrinya Andra sedikit mempercepat rekaman cctv nya. Dan dari rekaman itu sangat jelas jika putrinya berdiri dengan posisi yang cukup jauh darinya.
" Mas, apa mungkin Aida ada di ruangan kerja mu? ". Tanya Nadira.
Namun Andra menggeleng, Andra sangat yakin jika putrinya tak mungkin ke ruangan kerjanya. Mungkinkah putri kecilnya itu merasa kesal padanya sehingga bersembunyi di ruangan yang sulit untuk orang lain bisa menemukannya.
__ADS_1
Dari rekaman itu nampak jelas jika putrinya Aida sedang memegangi perut bagian bawahnya.
" Mas, itu Aida sepertinya mau pipis, apa mungkin Aida ada di kamar mandi bawah mas?, ayo kita ke sana mas ". Ajak Nadira.
" Sayang, tahan dulu, jangan terburu-buru ". Tahan Andra.
Andra sangat tahu jika istrinya sangat khawatir, tapi alangkah lebih baik jika memperhatikan rekaman ini hingga selesai agar bisa diketahui di manakah posisi putrinya secara pasti.
Dalam rekamannya putrinya Aida berlarian ke dalam rumah, dan ternyata benar, putri kecilnya itu menuju ke kamar mandi di lantai bawah. Namun tunggu dulu, apa ini, mengapa ada pelayan restoran yang mengikuti putrinya.
" Mas... ".
" Kurang ajar... Ria... ".
Dan sosok pelayan restoran yang mengikuti Aida adalah Ria, mantan asisten rumah tangga di rumah Andra.
" Mas... apa yang ingin dilakukan oleh pelayan itu? ".
" Mas ayo kita ke bawah sekarang ". Sungguh Nadira sangat khawatir akan keadaan putrinya.
" Tenanglah sayang jangan panik, kita tonton rekamannya hingga selesai, aku ingin lihat seberani apa Ria berulah di rumah ini ". Sahut Andra.
Nadira sudah begitu sangat khawatir dengan keadaan putrinya, tapi suaminya Andra malah bersikap santai. Apakah suaminya ini tak berpikir jika suatu hal buruk bisa saja bisa menimpa putrinya.
Andra sendiri masih mengira jika Ria masih berada di dalam rumahnya. Entah ada apa dengan Andra, mengapa dalam hal ini sikap Andra terkesan lelet.
Deg...
" Ya Tuhan, mas, Aida kenapa? ".
" Kurang ajar kamu Riaaa... ".
" Mas... hiks... Aida mas ".
Entah apa yang dilakukan oleh Ria pada Aida, dalam rekaman itu Aida sudah tak sadarkan diri dengan Ria yang telah berhasil membawanya.
" Mas hiks... berarti Aida diculik mas hiks... ". Tangis Nadira benar-benar sudah pecah.
" Tenanglah sayang tenang, jangan khawatir, kamu beristirahatlah di sini ". Lantas Andra ingin bergegas keluar.
" Mas mau kemana?, aku ikut mas hiks hiks... ". Tahan Nadira.
" Sayang tenanglah, aku akan mencari putri kita, tenanglah sayang ".
" Bagaimana aku bisa tenang mas hiks... Aida hilang, dan aku sama sekali tidak tahu hal itu hiks hiks... ".
" Sayang tenanglah, aku pastikan Ria tidak berani berbuat macam-macam dengan putri kita, aku akan membawa Aida pulang ".
Dan seusai mengucapkan kalimatnya itu, Andra langsung melenggang pergi dari kamarnya tanpa menunggu sahutan dari istrinya.
Sebenarnya Andra begitu sangat khawatir bukan main, namun dirinya tetap berusaha untuk bersikap tenang. Bisa - bisanya dirinya kecolongan seperti ini.
Bersambung.............
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€