
Begitu selesai sarapan Nathan berjalan keluar rumah dan memesan taksi online seperti biasanya karena jujur saja dia belum membeli kendaraan untuk berpergian.
Saat Nathan tengah menunggu taksi yang ia pesan datang, dari belakang Alicia dan Emilia yang baru saja bangun menghampirinya.
"Kamu mau kemana, kenapa memakai pakaian rapih seperti itu?" Tanya Alicia saat melihat Nathan berpakaian rapih seperti seorang bos berjas hitam lengkap dengan dasi merah.
"Oh... Aku mau kekantor, ada hal yang harus aku urus disana..." Balas Nathan dengan santai sambil membetulkan dasinya.
Emilia yang melihat Nathan masih saja kesulitan memakai dasi tampak sudah terbiasa dan langsung membantu suaminya.
"Kamu memiliki perusahaan lain disini?" Tanya Emilia yang baru tahu kalau Nathan memiliki perusahaan lain, sambil membetulkan dasi Nathan yang salah.
Alicia yang merasa janggal dengan pertanyaan dari Emilia lalu bertanya, "Perusahaan lain? Apa yang kamu maksud? Dia hanya punya satu perusahaan saja..."
Emilia terkekeh dan menggelengkan kepalanya saat ditanya soal perusahaan oleh Alicia. "Aku akan memberitahumu nanti gadis kecil, tapi jangan kaget saat aku memberitahu semuanya kepadamu nanti..."
"Gadis kecil? Apa maksudmu!?" Ucap Alicia yang merasa tersinggung dengan panggilan yang diberikan oleh Emilia untuknya.
Kedua wanita cantik tersebut kemudian saling berhadapan dan menatap melon mereka satu sama lain yang sebenarnya tidak jauh berbeda untuk membuktikan siapa diantara mereka yang lebih besar.
Nathan yang melihat kedua wanitanya tengah bersitegang tidak mau ambil pusing dan menghampiri taksi pesanannya yang baru saja tiba.
"Kamu mau pergi menggunakan taksi? Kenapa tidak menggunakan mobil sendiri saja?" Tanya Emilia sambil menunjukkan kunci mobil
Bugatti La Voiture Noire kepada Nathan.
Melihat kunci mobil yang ditunjukkan oleh Emilia kepadanya, pandangan Nathan lalu menyisir kearea sekitarnya dan baru sadar jika ada sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire hitam terparkir tak jauh darinya.
__ADS_1
Nathan yang melihat Hyper Car termahal dengan harga mencapai 191,7 miliar rupiah dan itu belum termasuk pajak. Tetapi karena mengingat kalau perusahaan Bugatti merupakan anak perusahaan Volkswagen miliknya, membuat Nathan tidak jadi merasa terkejut lagi.
"Tidak, aku malas menyetir. Kalau begitu aku pergi dulu..." Tolak Nathan sebelum pergi menggunakan taksi online menuju kantor.
Supir taksi online yang melihat kalau penumpangnya adalah orang yang sama waktu itu memesan taksinya, menjadi sedikit terbiasa meskipun masih kaget saat melihat rumah megah dan juga dua orang wanita cantik milik pemuda tersebut.
Perjalanan Nathan untuk sampai dikantor sebenarnya hanya butuh waktu setengah jam, namun karena terjebak macet membuat Nathan harus menempuh waktu sampai satu jam lebih.
Sesampainya didepan gedung kantor, seorang pria yang usianya sudah menginjak lima puluh tahun dan memakai pakaian security menghampirinya.
"Hei Nathan, sudah lama tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu?" Tanya Pak Nano kepada Nathan dan telihat sudah sangat akrab dengan pemuda tersebut.
"Pak Nano? Ya kabarku baik-baik saja, bagaimana dengan bapak?" Nathan bertanya kembali dan tersenyum kepada pria tua tersebut.
"Ya masih seperti biasa pinggangku masih saja terasa pegal. Ngomong-ngomong kenapa kamu datang kesini, bukannya sudah dipecat?" Ucap Pak Nano.
Sebelum Nathan ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Pak Nano, sebuah mobil Ferrari 488 Pista Spider berwarna merah mendekat kearah mereka dan berhenti.
"Oh, sudah lama tidak melihatmu. Apa yang kamu lakukan disini? Ingin melamar menjadi OB?" Tanya Dion sambil tertawa mengejek dan diikuti oleh Angel.
Nathan yang dihina oleh Dion dan mantan kekasihnya tampak tidak perduli dan hanya melirik mereka sekilas sebelum berbincang kembali dengan Pak Nano.
Dion yang merasa tidak terima karena diabaikan oleh Nathan kemudian menginjak gas mobilnya hingga terdengar suara bising dan letupan api dari kenalpot nya.
Hal ini jelas membuat Nathan secara reflek melihat kearah Dito dengan kesal karena menimbulkan suara bising dari mobilnya yang harganya tidak seberapa dimata Nathan.
"Apa suara mobilku membuatmu terganggu? Maaf saja, mobil baru seharga lima miliar milikku memang selalu mengeluarkan suara bising terutama saat berada di dekat pengangguran sepertimu! " Sindir Dion sambil memijat stir mobilnya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, baru-baru ini aku mendapatkan proyek besar untuk membuat stadion bola dan ya seperti itu aku mendapatkan mobilku ini. Ah... Percuma saja membitahumu, kamu tak akan mengerti juga..." Ucap Dion sebelum pergi untuk memarkirkan mobilnya di basement.
Nathan yang melihat sikap Dion tidak merasakan apapun dan justru menganggap pria itu sudah gila. "Apa dia sudah gila berbicara seperti itu sendiri?" Ucap Nathan sambil terkekeh.
"Ya aku juga merasa dia sudah gila, dan pasti mobilnya itu hasil dari korupsi pembuatan stadion yang baru saja dia katakan sendiri tadi..." Sahut Pak Nano.
"Hahaha... Kalau begitu aku masuk dulu Pak Nano, ada hal yang perlu aku lakukan didalam..." Kata Nathan sebelum pergi masuk kedalam kantor.
Begitu masuk kedalam dan duduk di loby sambil menunggu Marsella menghubunginya, para staff dikantor yang melihat Nathan tampak tidak mengalihkan pandangan mereka darinya.
Kehadiran Nathan yang penampilannya sudah sangat berbeda dan memiliki aura tegas serta jiwa pemimpin menjadikannya magnet tersendiri untuk para staff yang melihatnya.
Tidak hanya staff wanita saja yang tertarik kepada Nathan, tetapi beberapa staff pria yang sudah belok juga tertarik dan diam-diam memotret nya.
Sampai seorang staff wanita cantik berambut pendek sebahu dan memakai kacamata menghampiri Nathan untuk menyapanya karena merasa pria itu adalah orang penting.
"Permisi Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya staff wanita tersebut dengan sopan dan sesekali mencuri pandangan saat Nathan tengah mengendurkan kerah bajunya.
"Tidak ada, aku hanya menunggu seseorang disini..." Balas Nathan dengan sikap acuh karena merasa risih saat diperhatikan oleh banyak orang.
"Siapa orang yang anda tunggu? Biar saya bantu mencarikannya..." Tanya staff wanita tersebut yang bersikukuh ingin membantu Nathan.
"Marsella..." Jawab Nathan singkat dan padat.
"Oh nona Marsella, aku assisten nya. Perkenalkan saya Dina..." Ucap Dina sambil mengulurkan tangannya.
Nathan menjabat tangan Dina dan menjawabnya, "Nathan..." Pria itu sendiri sebenarnya sudah tahu siapa Dina dan bisa dibilang cukup dekat sebab beberapa kali ia membantu wanita cantik dikantor saat dulu masih bekerja.
__ADS_1
Dina yang mendengar nama pria tersebut menjadi sedikit terkejut sebab merasa sangat familiar. Tetapi karena merasa belum yakin jadi ia memutuskan untuk tetap formal dan tidak terlalu akrab.
Dina yang termenung akhirnya tersadar dengan pesan yang diberikan oleh Marsella kepadanya. "Benar, tuan Nathan silahkan ikuti saya. Nona Marsella sudah menunggu..." Ucap Dina yang kemudian Nathan berjalan mengikutinya dari belakang.