Echelon System

Echelon System
Menjelaskan


__ADS_3

Pagi harinya Nathan terbangun saat mendengar ada banyak suara langkah kaki dari luar kamar. Ketika membua matanya Nathan melihat Emilia yang masih tertidur pulas sambil merangkul tubuhnya.


Dengan hati-hati Nathan beranjak dari kasur agar tidak membangunkan Emilia dan pergi keluar untuk mengecek siapa yang membuat keributan di pagi hari.


Setelah mencari kesana kemari Nathan pada akhirnya menemukan empat pria berjas rapih yang tengah membuat roti lapis di dapur.


Keempat pria tersebut tidak lain adalah Admiral Frank, Harry, Kevin, dan Robby yang datang kerumah tersebut dipagi-pagi buta untuk menyiapkan acara pemakan Nathan dihari itu.


"Hah... Aku masih tidak percaya kalau pria cengeng itu akan pergi begitu cepat..." Gumam Kevin yang tengah duduk di meja makan sambil memakan roti selainya.


"Bagaimana dengan istrinya nanti. Kalau boleh aku bisa menjaganya..." Tukas Kevin yang seketika sebilah pisau menancap tepat dihadapannya.


"Bisa kamu mengulangi perkataanmu barusan, tuan Kevin. Agak kurang jelas kedengarannya tadi..." Admiral Frank melirik tajam kearah Kevin.


Seketika nyali Kevin menjadi ciut dan ia langsung meminta maaf. Sementara Harry dan Robby menatap datar Kevin yang masih bisa bercanda disaat berkabung seperti ini.


"Apa maksudmu ingin menjaga istriku?" Suara yang sangat familiar seketika terdengar ditelinga Admiral Frank, Harry, Kevin, dan Robby.


Keempat pria tersebut kemudian saling menatap satu sama lain dengan wajah kebingungan. Mereka ragu untuk menanyakan suara yang barusan didengar tersebut satu sama lain.


"Apa kalian mendengar nya juga?" Admiral Frank mencoba menahan rasa takutnya saat mendengar suara orang yang telah mati barusan dan jelas ia memiliki firasat buruk akan hal ini.


Harry, Kevin, dan Robby mengangguk pelan sambil berkeringat dingin. Nafas mereka seolah terasa sesak dan jika bisa lari keluar rumah, maka sudah keempat nya lakukan saat ini. Tetapi lutut mereka terasa sangat lemas dan mustahil hanya untuk sekedar berjalan saja.


Menyadari dan melihat keempat pria itu yang tengah ketakutan, Nathan merasa sedikit bingung lalu segera berjalan menghampiri mereka berempat.


Dengan santainya Nathan duduk di meja yang sama dengan mereka dan mengoleskan selai kacang ke roti miliknya.


"Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa memakai jas hitam seperti sedang berkabung. Apa ada orang yang mati disekitar sini?" Nathan bertanya sambil memakan rotinya dengan santai.

__ADS_1


Melihat penampakan yang sangat nyata, keempat pria dewasa itu sudah tidak bisa bergerak bahkan salah satu dari mereka yaitu Kevin langsung pingsan di tempat.


Harry yang melihat jika Nathan bukanlah hanya sebuah penampakan lalu memberanikan diri untuk menyentuh wajah pria itu.


"Apa ini sungguhan, ini terasa sangat nyata..." Ucap Harry sambil menyentuh dan mengecek keaslian wajah Nathan yang ada dihadapannya.


Nathan segera menepis tangan Harry karena merasa tidak nyaman. "Apa maksudmu... Tentu saja aku nyata. Ada apa dengan kalian ini, bertingkah seolah melihat penampakan saja!"


Menyadari bahwa pria dihadapan mereka bukan hanya sebuah penampakan hantu. Harry dan Robby langsung menerjang Nathan hingga membuat mereka jatuh ke lantai dengan keras.


Sementara Admiral Frank masih terkejut dengan kejadian yang ia lihat langsung, dimana seorang manusia yang sudah benar-benar dinyatakan tewas kini masih hidup dan terlihat sehat.


Namun disisi lain Admiral Frank akhirnya bisa bernafas lega dan dengan ini tidak akan ada masalah yang terjadi kepada putrinya.


Disisi lain Emilia terbangun saat mendengar suara keributan di luar. Saat terbangun ia tidak mendapati keberadaan Nathan yang membuat wanita itu menjadi sedih.


Setibanya didapur ia melihat Harry dan Robby yang tengah menindih seseorang. "Bisakah kalian hentikan itu, apa kalian masih bisa bercanda disaat seperti ini!?" Ucap Emilia dengan kesal.


Mendengar Emilia yang membentak mereka berdua, Harry dan Robby kemudian berbalik lalu melihat wanita cantik tersebut yang terlihat marah.


Harry dan Robby menelan saliva mereka kemudian menyingkir dari atas tubuh Nathan yang mereka tibani sebelumnya karena terlalu senang.


Sedangkan Admiral Frank hanya diam membisu sambil meminum secangkir kopi karena tidak ingin terlibat masalah dengan Emilia. Sebab akan sangat repot jika berurusan dengan putrinya tersebut.


Disisi lain Nathan terbatuk dan mengatur nafasnya. "Terimakasih, untuk saja kamu datang. Kalau tidak mereka berdua sudah membunuhku tadi..." Ucap Nathan.


Emilia yang melihat penampakan Nathan seketika tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak menyangka bahwa kejadian semalam bukan sekedar khayalan nya saja.


"Apa ini benar-benar kamu Nathan?" Emilia mencoba memastikan bahwa pria itu benar-benar suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu juga bertingkah seperti mereka. Aku belum mati!" Nathan terlihat kesal dengan tatapan dan orang-orang yang mengiranya sudah mati.


Tanpa aba-aba Emilia langsung memeluk Nathan erat-erat dan membuat pria itu kembali merasakan sesak nafas.


*******


Beberapa saat kemudian setelah melakukan reuni yang sebenarnya tidak perlu dilakukan karena hanya sekedar salah paham saja. Mereka kini bekumpul dan menunggu penjelasan dari pria yang menjadi sumber masalah ini.


"Emilia, bisakah kamu melepaskan tanganku. Ada banyak orang disini..." Ucap Nathan yang dari tadi tangannya dirangkul oleh Emilia.


"Biarkan saja aku tidak perduli, lagipula mereka tidak begitu penting saat ini..." Balas Emilia sambil merangkul dan menyandarkan kepalanya dibahu Nathan.


Admiral Frank yang mendengar jika putrinya mengatakan kalau ia tidak penting menjadi sakit hati seolah tubuhnya dijadikan sasaran anak panah.


Sedangkan Harry, Robby, serta Kevin yang baru saja dari pingsannya seolah menjadi debu tertiup angin kencang usai mendengar perkataan dari Emilia.


Nathan yang melihat ekspresi keempat pria itu tertawa dengan canggung dan merasa tidak enak dengan perkataan Emilia barusan.


"Langsung saja, bagaimana kamu masih bisa hidup setelah dinyatakan tewas beberapa hari yang lalu?" Tanya Admiral Frank sambil menahan rasa sakit didadanya setelah mendengar ucapan putrinya tadi.


Nathan terlihat ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada semua orang disana, apalagi masih belum ada kepercayaan diantara mereka semua.


"Kalau mengatakannya bisa-biaa kalian menganggap ku gila. Dilain sisi aku tidak mau informasi ini menyebar keluar sana..." Ucap Nathan sambil tersenyum tipis.


"Setelah melihat semua ini apa kami akan menganggapmu gila? Dan apa kamu masih meragukan kami?" Tanya Harry dengan raut wajah serius.


Melihat tatapan semua orang kepadanya, Nathan seolah merasa tertekan. Tetapi ia juga tidak masalah jika informasi ini menyebar, karena bisa saja nanti hanya dianggap teori konspirasi belaka.


"Baiklah aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Tetapi jika sampai informasi ini menyebar, aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian kedepannya..." Ekspresi Nathan seketika berubah menjadi datar yang membuat orang disana merasa leher mereka dingin.

__ADS_1


__ADS_2