
Saat hari sudah menjelang malam, Nathan, Harry, Kevin, Robby, Emilia, dan Amanda memutuskan berkemah ditengah hutan dan melanjutkan perlahan mereka esok harinya.
Mereka berenam kini tengah duduk mengelilingi perapian dan mengobrol santai sambil menunggu beberapa ayam hutan bakar mereka matang.
Emilia dan Amanda yang merasa kedinginan terlihat mencari kehangatan pada pasangan mereka berdua masing-masing. Hal ini secara langsung jelas membuat Harry dan Robby merasa iri terhadap Nathan serta Robby karena bisa bermesraan seperti sekarang ini, sedangkan mereka berdua tidak.
"Bukannya peta yang diberikan oleh Pak tua itu sepertinya salah, bukannya ke tempat harta jarahan itu berada tetapi kita justru diarahkan menuju kamp konsentrasi milik tentara Jepang didekat sini..." Ucap Harry sambil menusuk-nusuk kayu bakar dengan ranting.
"Memang ini yang sebenarnya aku cari, sangat sulit untuk menemukan pria yang lokasinya ada dipeta itu..." Balas Nathan.
"Tunggu, katamu hanya Jendral itu saja yang tahu. Kenapa sekarang ada satu orang lagi yang tahu?" Tanya Kevin yang merasa janggal dengan perkataan Nathan.
Nathan tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya saat ditanyai oleh Kevin. "Sebenarnya tidak hanya ada satu orang saja yang tahu. Memang benar ada beberapa orang lain yang tahu dan mereka semua tergabung dalam sebuah kelompok, yang berada dibawah komando langsung Kaisar. Tujuannya satu, yaitu menyembunyikan hasil jarahan karena mereka tahu posisi mereka sudah semakin terdesak...."
"Lalu siapa orang yang sebenarnya kita cari?" Sahut Robby dengan raut kesal saat melihat Kevin yang tengah bermesraan bersama Amanda.
"Umm... Aku tidak terlalu tahu, namun yang pasti orang itu dikenal sebagai Jenderal Yamashita..." Balas Nathan sambil mengelus dagunya dan berpikir.
Harry, Kevin, dan Robby mengangguk memahami jawaban dari Nathan. Sementara Amanda dan Emilia masih bingung dengan apa yang dibicarakan ketiga oleh pria tersebut, meski sudah sangat jelas.
Namun satu hal yang pasti, Amanda serta Emilia jelas sangat bosan dan ingin segera pulang ke Amerika lalu melakukan program agar bisa memiliki anak seperti kedua teman mereka yang tengah mengandung.
"Nathan, apa perjalanan ini masih lama? Aku ingin segera pulang..." Tanya Emilia sambil mendongakkan wajahnya kearah Nathan.
Melihat Emilia yang terlihat manja seperti itu kepada Nathan, membuat Harry tambah merasa iri dan sangat menyayangkan tidak membawa Julia bersamanya.
"Dasar wanita, jangan kebanyakan mengeluh. Kalian sendiri yang dari awal bersikukuh untuk ikut bersama kami. Kalau mau pulang, pulanglah sendiri..." Sahut Harry sambil berdecih kesal.
Mendengar perkataan dari Harry jelas membuat Emilia tersinggung dan raut wajahnya seketika berubah dari yang awalnya terlihat maja kini menjadi datar.
__ADS_1
"Apa sebelumnya aku bertanya kepada mu, tuan Harry?" Tanya Emilia dengan tatapan tajam dan terlihat kuku di jarinya mulai memanjang bersiap mencabik pria tersebut.
Harry dengan malas melirik kearah Emilia dan begitu melihat raut wajah wanita cantik tersebut seketika membuat tubuhnya bergetar ketakutan.
"Memangnya kenapa, apa itu masalah buatmu. Apa kamu tersinggung? Dasar wanita..." Harry tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya dari Emilia.
Merasa geram dengan pria tersebut Emilia langsung mengeluarkan kuku jarinya yang sangat tajam dan hendak menyerang Harry.
Namun pergerakan Emilia langsung terhenti saat Nathan memeluk perutnya dan mencegahnya untuk menyerang Harry, yang mana hal ini disaksikan oleh semua orang.
Karena tidak mau dianggap buruk dimata Nathan akhirnya Emilia memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
"Sebaiknya kamu berpikir sebelum berbicara untuk kedepannya, dan sepertinya kamu lebih cocok menjadi seorang wanita, nona Harry..." Sindir Emilia sambil melihat kearah Harry yang tersungkur di tanah karena sebelumnya kaget akan ia serang.
Mendengar sindiran keras dari Emilia, Harry hanya bisa mengepalkan tangannya karena percuma jika ia tetap melanjutkannya bisa-bisa dia tewas tercabik-cabik, dan yang paling buruk dibuat menjadi butiran abu oleh Nathan.
Disisi lain Amanda yang tadi melihat Emilia marah dan kukunya memajang bukannya takut justru sebaliknya merasa penasaran.
Harry menggelengkan kepalanya dan berkata, "Entahlah, tapi kalau dilihat sepertinya kukunya sangat tajam. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Nathan..."
Saat situasi yang menengang mulai mencair, jam ditangan Nathan tiba-tiba berbunyi menandakan ada sekelompok orang asing yang mendekat.
Nathan sebelumnya telah memasang alat untuk mendeteksi jika ada orang yang mendekat kearah mereka, agar ia dapat melakukan pencegahan jika orang yang mendekat memiliki niat buruk.
Pria itu kemudian segera mematikan perapian dan bahkan membuat ayam yang tengah dibakar menjadi jatuh sampai tidak layak untuk dimakan lain.
Aksi Nathan jelas membuat semua orang disana bingung sekaligus kesal, karena ayam hutan yang sebentar lagi matang dijatuhkan bahkan di injak-injak oleh Nathan tanpa mereka tahu penyebabnya.
"Hei, ayolah aku sudah sangat lapar kenapa kamu malah menginjak semua ayam bakar itu dan mematikan perapian!?" Tanya Kevin dengan kesal dan di angguki oleh semua orang.
__ADS_1
Dengan cepat Nathan membungkam mulut Kevin dengan tangannya. "Kalian semua diamlah dan bersembunyi, kita kedatangan beberapa tamu..."
Harry, Kevin, Robby, Emilia, dan Amanda awalnya merasa bingung dengan sikap Nathan. Namun ketika mendengar beberapa langkah kaki mendekat mereka langsung sadar dan mencari tempat persembunyian.
Benar saja tak lama kemudian setelah mereka semua bersembunyi, sebuah rombongan tentara Jepang lewat didekat tempat mereka sebelumnya menuju ke suatu tempat.
Dalam rombongan tersebut terlihat beberapa truk dan kendaraan perang tampaknya menuju kamp dengan diikuti beberapa prajurit yang mengawal tahanan perang mereka.
Jika dilihat dari dekat para tahanan kebanyakan berasal dari pihak prajurit Sekutu dan juga warga lokal yang melakukan pemberontakan terhadap pasukan Jepang.
Bahakan didalam rombongan para tawanan terlihat beberapa anak muda dan anak kecil yang nantinya akan dijadikan pekerja paksa.
Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang kelaparan terlihat meminta makanan dari seorang prajurit Jepang dan dengan polosnya menerima roti pemberian tentara tersebut.
Ketika bocah tersebut sedang memakan roti pemberian tentara Jepang dengan senang, dari belakang tentara yang memberikan nya roti langsung menembak kepalanya dan membuat bocah tersebut tewas seketika.
Sepasang suami-istri yang melihat anaknya tewas ditembak langsung memberontak, namun sayangnya mereka berakhir sama dengan anak mereka yaitu ditembak mati.
Para tahanan yang melihat merasa geram dengan tentara Jepang namun mereka tidak dapat melakukan apapun saat ini dan memilih diam atau nasib mereka semua akan berakhir sama.
Dari kejauhan Emilia yang melihat kejadian tersebut sangat muak dan ingin menyerang para tentara Jepang tersebut, begitupula dengan yang lainnya kecuali Nathan.
Emilia yang kini tahu kalau dirinya mempunyai kekebalan tubuh dengan nekat ingin keluar dari persembunyian nya, namun tangan langsung ditahan oleh Nathan.
"Jangan melakukan tindakan bodoh, kalian juga..." Ucap Nathan kepada Emilia dan juga yang lainnya karena hendak keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Memangnya kenapa, apa kamu tidak lihat kejadian yang barusan terjadi. Nathan?" Tanya Emilia dengan raut wajah tidak percaya saat melihat Nathan yang tampak tenang seolah tidak melihat kejadian sebelumnya.
"Apa dengan kamu keluar dan menyerang mereka, semuanya dapat selesai. Tidak... Justru mereka akan langsung menembaki para tahanan itu..." Balas Nathan.
__ADS_1
Dengan kesal akhirnya Emilia mengurungkan niatnya dan hanya bisa mengeratkan giginya ketika melihat beberapa anak yang dipukul menggunakan senjata karena menangis.