
"Tuan-tuan terimakasih sudah mau hadir di tempat ini dan juga terimakasih untuk konstribusi kalian di pertempuran hari ini!" Admiral Frank Jack Fletcher menyambut kedatangan beberapa prajurit yang dipanggil oleh Komandan atau lebih tepatnya Laksamana Thomas C. Kinkaid.
Tidak hanya kedua tokoh penting itu saja yang saat ini berada diruangan strategi melainkan juga ada Jendral Besar Douglas MacArthur.
Wakil Laksamana Sir John Gregory Crace yang memimpin pasukan dukungan Australia-Amerika dalam satuan tugas 44 di Pertempuran Laut Koral juga tampak hadir disana.
Admiral Aubrey Wray Fitch yang akan mengomandoi kapal induk Lexington tampak ikut serta dalam pertemuan untuk membahas strategi perang besok.
Melihat kehadiran para petinggi militer berada satu ruangan dengan mereka membuat beberapa pilot pesawat yang dipanggil menjadi sedikit gugup sekaligus senang tak terkecuali Nathan.
Tetapi meski Nathan terlihat bersemangat dalam pertemuan kali ini, ia juga merasa prihatin saat melihat kearah Admiral Aubrey dimana kapal induk yang ia komandoi akan dipensiunkan esok hari.
Ingin rasanya Nathan memberitahu kejadian yang besok akan terjadi kepada semua petinggi disana, namun Nathan memilih untuk mengurungkan niatnya agar sejarah dapat berjalan sebagai mana mestinya.
Rapat untuk membahas strategi perang yang akan digunakan esko hari kemudian segera dimulai. Suasana diruang tersebut kini banyak diisi oleh perdebatan antar para pemimpin.
Wajar di antara mereka saling berselisih sebab strategi awal yang digunakan untuk menghentikan pergerakan dalam memperkuat posisi defensif Wilayah Kekaisaran Jepang di Pasifik Selatan.
Dimana pihak Jepang berencana untuk menginvasi dan menduduki Port Moresby di Nugini serta Tulagi di tenggara Kepulauan Solomon.
Namun Armada kapal yang dikirim oleh Sekutu lebih kecil jika dibandingkan dengan pihak Armada kapal Kekaisaran Jepang. Hal inilah yang membuat pihak sekutu cukup kesulitan belum ditambah dengan pasukan berani mati milik pihak Jepang.
Di tengah perbincangan yang belum menemukan titik terang untuk menentukan strategi perang esok hari, Admiral Frank Jack Fletcher melihat kearah seorang pilot muda yang dibawa oleh Komandan Thomas sebelumnya.
"Pilot muda, apa kamu memiliki saran untuk strategi kali ini?" Admiral Frank mencoba ingin melihat dan menguji pemikiran dari seorang pilot muda yang menjadi pahlawan di Pertempuran hari pertama.
__ADS_1
Petinggi lain yang mendengar ucapan dari Admiral Frank sontak saja merasa heran, karena menanyakan hal semacam ini kepada seorang pilot muda yang belum cukup berpengalaman.
Jenderal Besar Douglas adalah salah satu orang yang meragukan bahwa pilot muda tersebut mampu untuk memberikan saran masuk akal kepada mereka.
Memang tidak banyak yang tahu tentang aksi pilot muda tersebut dalam pertempuran hari ini, karena terlalu banyaknya pesawat tempur yang ikut berperang dan membuat mereka kesulitan untuk membedakannya.
Hanya beberapa pihak yang mengetahuinya, seperti Admiral Frank dimana ia sendiri adalah pemimpin di kapal Induk Yorktown dan melihat langsung bagaimana salah satu pilot nya menenggelamkan sebuah kapal induk milik Jepang.
"Admiral Frank tolong jangan bercanda, kondisi kita saat ini benar-benar genting. Kenapa kamu menanyakan saran kepada seorang pilot muda, apa dia cukup berkontribusi?" Jenderal Besar Douglas tampak ragu.
Admiral Frank tertawa mendengarnya. "Pilot muda, kamu bisa menjelaskan aksimu hari ini dan boleh memberikan saran untuk pertempuran besok!"
Pilot muda yang dimaksud oleh Admiral Frank dan petinggi militer lainnya tidak lain merupakan Nathan. Kini ia menjadi sangat gugup karena dimintai saran oleh seorang legenda perang Dunia II.
Meski awalnya ragu untuk berkata tetapi Nathan berusaha agar dia bisa menjawab keinginan dari salah satu petinggi militer tersebut.
"Langsung ke intinya saja, apa kontribusi mu dalam pertempuran hari ini!" Jenderal besar Douglas tampak sudah tidak sabar karena merasa percuma bertanya kepada seorang pilot muda yang belum berpengalaman.
Melihat tempramen Jenderal besar Douglas, Nathan hanya bisa mengepalkan tangannya dan memahami sikap Jenderal tersebut yang ingin gerak cepat.
"Tidak banyak... Hanya menenggelamkan satu kapal induk ringan Shoho dan lima belas pesawat tempur!" Nathan menanggapinya dengan santai.
Para petinggi militer tak terkecuali Jenderal besar Douglas yang mendengarnya kaget, karena baru mengetahui bahwa pilot muda itulah yang berhasil menenggelamkan satu kapal induk Jepang dan menjatuhkan lima belas pesawat tempur.
Nathan yang melihat beberapa petinggi sedang terhenyak lalu menggeleng kapalanya, dan mulai memberikan saran untuk strategi yang akan digunakan besok.
__ADS_1
"Saya hanya bisa menyarankan untuk menghancurkan perlindungan udara milik pihak Jepang dan merusak beberapa perang kecil milik mereka yang memiliki kecepatan cukup tinggi.
Kalau diijinkan saya ingin memimpin sepuluh pesawat tempur yang sudah dilengkapi satu torpedo dan bom untuk memberi kerusakan kepada salah satu kapal induk mereka yaitu Shokako.
Dengan melumpuhkan pertahanan udara milik mereka saya bisa memastikan bahwa Armada Jepang akan memilih untuk mundur. Itu saja saran yang bisa saya berikan..." Nathan memaparkan pemikirannya.
Mendengar saran dari Nathan para petinggi merasa terkesan dengan pemikirannya. Para petinggi kemudian berunding tentang saran yang diberikan oleh Nathan meskipun ide tersebut sangat beresiko.
Setelah berunding para petinggi kini sudah memutuskan. "Baiklah, kamu diijinkan untuk memimpin sepuluh pesawat tempur, tapi kamu tahu bukan untuk melepaskan torpedo kamu harus cukup dekat dengan kapal mereka dan itu sangat berbahaya?"
Nathan mengangguk dengan penuh keyakinan bahwa rencana yang ia usulkan akan berjalan lancar meski tak menutup kemungkinan akan ada korban dari pihaknya.
Akhirnya rencana Nathan disetujui dan kemudian rapat strategi kembali berlangsung hingga beberapa jam sebelum satu persatu petinggi mulai meninggalkan ruangan.
Saat Nathan hendak kembali kekamar ia dihentikan oleh Admiral Frank. "Tolong berhenti sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan empat mata denganmu!"
"Apa ada yang bisa saya bantu, Admiral?" Nathan bertanya tanpa mengurangi rasa hormat nya kepada pria yang ada dihadapannya.
Admiral Frank meletakkan topinya di atas meja dan menatap Nathan. "Jangan terlalu formal, bersikaplah santai karena sekarang aku hanya bertindak sebagai seorang ayah untuk putrinya... Duduklah..."
Nathan menjadi gugup karena Admiral Frank terlihat ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan dokter Emilia.
Nathan lalu duduk di sebrang Admiral Frank dan terlihat keringat dingin mulai membasahi keningnya. 'Apa dia melaporkan ku kepada ayahnya karena hal sebelumnya... Sial seharusnya aku tidak terbawa suasana saat itu!'
Admiral Frank menyangga dagunya dengan kedua tangan yang terlipat dan menatap mata Nathan yang kini tampak gusar.
__ADS_1
"Apa kamu memiliki hubungan istimewa dengan putriku?" Admiral Frank langsung menayangak ke intinya dan jelas nada bicara yang ia gunakan seolah membuat tubuh Nathan seperti tertusuk sebilah pedang tajam.