
Usai menghabiskan waktu bersama di Mall, Nathan dan Eimi memutuskan kembali menuju Hotel untuk menaruh barang belanjaan milik gadis terlebih dulu sebelum bersiap menuju tempat dimana balapan akan dilakukan.
Setelah sampai di dalam kamar hotel, Eimi merebahkan tubuhnya diatas sofa dan menyalakan TV. Sementara Nathan meletakkan barang belanjaan gadis tersebut terlebih dahulu.
"Mana nomor rekening milikmu, aku akan mengembalikan uang yang sudah ku pakai tadi..." Pinta Eimi yang tidak mau di anggap memeras uang milik Nathan.
Mendengar permintaan Eimi membuat Nathan tertawa saat tengah membereskan barang belanjaan milik gadis tersebut. "Tidak perlu, aku tak menginginkan uang sepeser pun dari mu. Lagipula aku sendiri bingung untuk menghabiskan uang milikku!"
Eimi memicingkan matanya dan berdecih saat mendengar perkataan Nathan. "Dasar sok kaya, cepat berikan nomor rekening mu aku tak mau berhutang kepadamu!"
Nathan menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia kemudian berjalan menghampiri Eimi yang membuat gadis tersebut segera memasang kuda-kuda jika Nathan berani macam-macam dengannya.
"Kamu bisa membayarnya dengan cara yang lain. Kamu paham dengan yang aku maksud bukan?" Bisik Nathan tepat disamping telinga Eimi.
Bulu kuduk Eimi seketika bangkit dan wajahnya langsung memerah setelah memahami perkataan yang baru saja terlontar dari mulut manis seorang buaya.
Dengan tenaga seadanya Eimi berusaha mendorong tubuh Nathan menjauh. "Jangan macam-macam denganku, aku akan melaporkan mu dengan bukti CCTV disana!" Balas Eimi sambil menunjuk kearah CCTV yang ada di sudut ruangan.
"Kamu sepertinya belum menyadari kalau sejak semalam CCTV itu sudah aku matikan. Jadi sekarang apa yang ingin kamu lakukan, tidak ada yang bisa membantumu sekarang..." Ucap Nathan sambil tertawa jahat.
Merasa kesal percaya dengan apa yang Nathan katakan, Eimi lalu menoleh kembali ke arah CCTV dan mendapati kalau memang benar kamera tersebut sudah mati.
Hal ini jelas membuat Eimi merasa panik dan tegang karena tidak ada lagi alat yang bisa ia gunakan untuk bertahan dari Nathan sekarang.
Dengan putus asa Eimi berusaha untuk lepas dari cengkraman Nathan yang sangat kuat, tetapi sekuat apapun usahanya untuk bebas semua tampak percuma saja. Hingga membuat Eimi ingin menangis.
Melihat Eimi yang mau menangis Nathan seketika tertawa dan menjauh dari tubuh gadis tersebut. "Aku hanya bercanda, cepat mandi. Kita sebentar lagi harus berangkat." Kata Nathan sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Eimi yang baru menyadari kalau dirinya dikerjai oleh Nathan tampak kesal sekaligus masih waspada jika saja pria tersebut benar-benar berniat untuk bercinta dengannya.
"Kenapa kamu terlihat santai begitu, padahal sekarang kamu bisa membalas perbuatan ku kepadamu?" Tanya Eimi yang masih merasa bingung dengan pemikiran pria dihadapannya tersebut.
"Ya... Sebenarnya dari awal aku hanya main-main saja. Kamu tahu belakang ini aku sedang sangat sibuk dan butuh hiburan..." Balas Nathan dengan santai.
"Ta-Tapi kenapa kamu masih mau menolong ku dari pria itu?" Tanya Eimi lagi.
"Tidak ada alasan khusus, cepatlah bersiap-siap atau kamu ingin mandi bersamaku?" Balas Nathan sambil tersenyum tipis.
Jelas Eimi menolak ajakan untuk mandi bersama dengan Nathan, ia langsung melempar bantal didekat nya ke wajah Nathan dan bergegas meninggalkan pria tersebut.
Nathan yang melihat tingkah Eimi hanya bisa tertawa dan menggeleng kan kepala. Merasakan kalau tubuhnya lengket setelah jalan-jalan seharian, Nathan memutuskan untuk mandi di kamar yang lain.
Beberapa menit kemudian setelah bersiap-siap, Nathan dan Eimi langsung berangkat menuju lokasi berkumpul nya para pembalap liar dikawasan Tokyo.
"Apa tidak ada orang di rumah mu yang melarang mu untuk mengikuti balapan semacam ini?" Tanya Nathan.
__ADS_1
"Ada, tapi untuk apa aku harus melakukannya sementara mereka saja tidak pernah mendengar permintaan ku..." Balas Eimi dengan nada dingin.
Mendengar balasan Eimi yang terkesan dingin dan bagaimana mimik wajah gadis tersebut, langsung membuat Nathan paham dan tidak menanyainya lebih jauh lagi.
Nathan hanya merespon jawaban Eimi dengan mengangguk kan kepala sebelum mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela melihat lalu lintas kendaraan di sana.
Disisi lain Eimi yang merasa Nathan cukup peka terhadapnya kemudian melirik ke arah pria tersebut sekilas sebelum kembali fokus menyetir mobilnya.
Sebuah pertanyaan seketika terlintas di kepala Eimi yang sebenarnya ia sendiri sudah merasa penasaran dengan jawaban dari Nathan nantinya.
"Ngomong-ngomong apa kamu punya pacar?" Tanya Eimi yang terdengar cukup canggung.
"Heh... Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa kamu menyukaiku?" Goda Nathan.
Eimi berdecih dan dengan kesal langsung memukul Nathan. "Idih najis, siapa juga yang menyukaimu dasar bodoh!"
"Lalu kenapa kamu menanyakan soal itu kepadaku?" Tanya Nathan sambil tersenyum mengejek.
"Memangnya ada yang salah. Jawab saja!" Kata Eimi.
"Ya... Sebenarnya aku sudah punya. Seorang istri dan tiga pacar..." Balas Nathan dengan santai.
Eimi yang sedang minum begitu mendengar jawaban dari Nathan langsung menyemburkan minumannya. "Apa kamu bercanda, memangnya wanita mana yang ingin melakukan hal semacam itu!?"
Dengan cepat Eimi mengambil ponsel milik Nathan dan melihat foto pria tersebut bersama dengan empat wanita cantik yang mustahil di jangkau oleh seorang pria biasa.
"Menghayal mu terlalu tinggi sampai membuat editan foto semacam ini..." Ucap Eimi sambil tertawa lepas dan menepuk-nepuk pundak Nathan yang ia rasa sudah sangat jauh menghalu.
"Siapa juga yang menghayal..." Balas Nathan.
"Lalu ini apa? Dari empat foto wanita ini aku pernah bertemu dengan mereka sekali dulu. Aku sedikit tahu kalau keduanya bukanlah wanita biasa, bahkan orang tuaku sampai harus menundukkan kepala saat bertemu dengan mereka!" Kata Eimi.
Merasa kalau akan percuma menjelaskan apa yang sebenarnya kepada Eimi. Nathan lalu melakukan panggilan grub video kepada Emilia, Alicia, dan Vivian. Untuk Liu Yifei sendiri ia masih belum memiliki nomornya, jadi dalam panggilan ini Nathan hanya menelpon mereka bertiga.
"Hallo, ada apa Nathan?" Tanya Emilia, Alicia, dan Vivian secara bersamaan dengan ekspresi wajah yang terlihat senang.
"Tidak, ini ada seseorang yang ingin berbicara dengan kalian..." Balas Nathan sebelum memberikan ponsel miliknya kepada Eimi.
Eimi yang awalnya meragukan perkataan dari Nathan, seketika menjadi gelagapan saat melihat kalau ketiga wanita cantik tersebut telah terhubung dengan ponsel yang ia pegang.
Emilia, Alicia, dan Vivian yang kebetulan kini sudah tinggal satu rumah begitu melihat seorang gadis asing memegang ponsel Nathan langsung memicingkan mata mereka.
Sebagai orang yang paling tua di sana, Emilia langsung mewakili Alicia dan Vivian untuk bertanya. "Siapa kamu, nona?" Tanya Emilia dengan anggun.
Ditanyai oleh seorang wanita yang memiliki pengaruh besar di perekonomian dunia membuat tangan Eimi bergetar dan tubuhnya seolah langsung menjadi kaku.
__ADS_1
Melihat gadis yang memegang ponsel Nathan diam saja saat ditanya, membuat Emilia langsung curiga begitupun Alicia dan Vivian.
"Gadis muda apakah suamiku ada bersama dengan mu, tolong kembalikan ponselnya aku ingin berbicara dengannya..." Ucap Emilia dengan sedikit nada yang terdengar cemburu.
Dengan tangan yang tremor Eimi mengangguk dan mengembalikan ponsel milik Nathan dengan perasaan campur aduk.
Setelah ponsel dikembalikan kepada Nathan, Emilia langsung menatap wajah pria tersebut dengan tajam seolah ingin mencabik-cabiknya.
"Siapa gadis yang bersama dengan mu sekarang!?" Tanya Emilia dengan nada mengancam.
"Ah itu... Dia temanku, aku bertemu dengannya kemarin saat mengunjungi bar..." Balas Nathan dengan santai sambil memakan keripik kentang.
Seketika raut wajah Emilia memerah begitupun dengan Alicia dan Vivian yang tampaknya telah salah mengartikan perkataan dari Nathan barusan.
"Dasar brengsek, apa kami bertiga tidak cukup untuk mu sampai kamu meniduri seorang gadis remaja!?" Tanya Emilia.
"Apa yang kamu bicarakan, aku tidak melakukannya. Jangan berpikir terlalu jauh..." Sangkal Nathan.
Melihat ekspresi Nathan yang tampak tak bersalah dan cukup meyakinkan, membuat Emilia merasa sedikit percaya namun tidak menutupi rasa curiganya.
"Baik aku sedikit percaya, sekarang kalian mau pergi kemana pergi malam-malam begini?" Tanya Emilia.
"Balapan... Apa kamu tahu ini keliatannya akan seperti adegan yang ada di film-film..." Balas Nathan sambil tertawa tanpa dosa.
"Hei jangan aneh-aneh, kamu datang ke sana bukan untuk hal itu!" Kata Emilia yang jelas dihiraukan oleh Nathan.
"Tenang saja, aku akan mencari keluarga pria itu besok. Kalau begitu sudah dulu ya!" Balas Nathan sebelum memutuskan panggilan video yang jelas membuat Emilia merasa kesal terutama Alicia dan Vivian yang belum menanyakan apapun.
"Apa kamu baik-baik saja menutup panggilan seperti itu?" Tanya Eimi.
"Ya... Mungkin saat pulang aku hanya akan diikat oleh mereka..." Balas Nathan.
"Bagaimana kamu bisa kenal dengan mereka, terutama nona Emilia yang memiliki paras awet muda dan merupakan bagian dari Lexton Company?" Tanya Eimi.
"Kamu tau Lexton Company?" Nathan bertanya balik kepada Eimi sebab merasa penasaran bagaimana gadis itu mengetahui perusahaan yang ia buat.
"Memang perusahaan itu jarang terdengar bahkan di internet tidak ada informasi mengenai perusahaan itu. Tapi tentu saja para pengusaha kelas atas mengetahui tentang nya. Aku tau saat meguping pembicaraan ayahku..." Jawab Eimi dengan antusias.
"Oh, begitu..." Balas Nathan singkat.
"Jangan hanya bilang oh saja! Bagaimana kamu kenal dengan nona Emilia dan bahkan dia mengatakan kalau suaminya?" Ucap Eimi.
"Aku tidak bisa menjawabnya. Jangan tanyakan hal itu lagi, sekarang lebih baik fokus untuk balapan..." Balas Nathan sambil menepuk-nepuk pundak Eimi.
Eimi berdecih kesal dan jujur saja ia masih penasaran bagaimana Nathan bisa memiliki hubungan dengan wanita kelas atas seperti Emilia serta Alicia.
__ADS_1