Echelon System

Echelon System
Festival


__ADS_3

Sesampainya dihotel, Nathan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tidak ada hal yang ingin ia lakukan saat ini, hanya tidur dan sekedar mengistirahatkan pikirannya yang berkecamuk.


"Um... Sebelum pergi, bisakah aku datang ke sekolah dulu untuk mengikuti festival disana?" Tanya Eimi sambil menatap wajah Nathan dengan penuh harap.


"Tidak masalah, kita bisa pergi sore harinya..." Balas Nathan tanpa membuka matanya yang terasa berat untuk melihat saat ini.


Mendengar balasan dari Nathan, Eimi langsung memeluk Nathan dengan erat sampai-sampai pria itu hampir kehabisan nafasnya.


Sementara itu Kanae sendiri hanya tersenyum melihat tingkah Eimi yang mulai sedikit terbuka kepada Nathan dan berkurang marah-marahnya.


Kanae kemudian memutuskan tidur dengan bantalan lengan Nathan dan tidak meminta berhubungan meski sebenarnya dia ingin, karena melihat raut wajah lelah Nathan.


Melihat Kanae yang sudah tertidur, Nathan meminta untuk Eimi lebih tenang sedikit dan menyuruhnya tidur karena gadis itu sendiri cenderung sangat aktif apalagi saat malam hari.


Eimi mengangguk patuh dan sama seperti Kanae ia juga sebenarnya ingin melakukannya lagi dengan Nathan, tetapi mengingat kalau ia harus pergi ke sekolah pagi-pagi Eimi pun menuruti perkataan dari Nathan.


*******


Keesokan harinya Nathan, Kanae, Eimi diantar oleh Hirota menuju kampus tempat dimana Eimi kuliah untuk menuruti permintaan gadis berusia 19 tahun tersebut.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit mereka akhirnya sampai di salah satu Universitas terbaik yang ada di Tokyo.


"Pintar juga kamu sampai bisa kuliah ditempat seperti ini..." Sindir Nathan yang langsung mendapat cubitan dari Kanae.


"Jangan bicara seperti itu, Nathan..." Kanae memperingati Nathan agar tidak mengejek Eimi yang kini sudah menjadi istrinya sendiri.


Mendengar sindiran dari Nathan, Eimi berdecih kesal. "Tentu saja aku cukup pintar. Apa menurutmu aku membayar seseorang untuk masuk ke Universitas ini?"


"Siapa tau saja..." Balas Nathan sambil tertawa dan lagi-lagi pinggangnya langsung dipelintir oleh Kanae agar dia menjaga omongannya.


Bukkk!!!

__ADS_1


Dengan kesal Eimi memukul Nathan menggunakan tas miliknya. "Dasar menyebalkan, kamu akan membayarnya saat kembali nanti. Sudahlah, aku akan menemui teman-temanku, kalian nikmati saja festival nya..."


Setelah Eimi pergi, Kanae langsung menatap Nathan dan menyalahkan pria itu karena telah membuat Eimi merasa kesal lalu memilih pergi bersama teman-teman nya.


"Apa salahnya, dia hanya ingin berkumpul dengan teman-teman nya sebelum berpisah bukan?" Ucap Nathan sambil tertawa canggung.


Kanae menghela nafas panjang dan keluar dari mobil disusul oleh Nathan. Agar tidak mencolok perhatian banyak orang, Nathan memilih memakai Hoodie dan masker. Begitupun dengan Kanae agar tidak ada masalah nantinya.


Keduanya lalu mulai berkeliling menyusui stand-stand yang dibuat oleh para mahasiswa disana. Nathan dan Kanae berhenti di depan stand yang menjual sosis bakar karena pria itu merasa kelaparan padahal dihotel sudah sarapan sebelumnya.


Merasa kepanasan Nathan lalu membuka tudung di kepala nya. Nathan kemudian membuka maskernya saat hendak makan sosis bakar miliknya yang alhasil menarik perhatian para mahasiswi disana.


Kanae yang tidak senang Nathan ditatap oleh para gadis muda langsung menatap suaminya tersebut dengan kesal.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Nathan saat Kanae menatap nya dengan kesal dari balik kacamata hitamnya.


"Apa kamu sengaja ingin menarik perhatian gadis-gadis muda itu?" Kanae mengalihkan pandangannya dan melipat kedua tangannya didada dengan kesal.


Merasa paham, Nathan segera menghabiskan makanannya dan memakai kembali masker untuk menutupi wajahnya lalu menarik tangan Kanae pergi.


"Siapa juga yang tertarik dengan gadis muda, aku lebih suka wanita yang sudah matang seperti mu..." Bujuk Nathan agar Kanae tidak merasa kesal lagi.


Pada akhirnya Kanae menghilangkan rasa kesalnya dan sebagai gantinya ia mengajak Nathan melakukan kencan pertama mereka disana.


Mereka berdua mulai menjajal permainan yang ada di setiap stand dan menonton pertunjukan teater berdua, sebelum mengunjungi tempat berlangsung nya lomba basket yang diadakan disana.


Begitu memasuki lapangan basket dari atas kursi penonton Nathan dan Kanae dapat melihat Eimi yang ternyata merupakan pemandu sorak juga ada disana.


"Aku baru tau dia menyukai hal semacam ini. Kupikir gadis itu hanya suka balapan saja..." Ucap Nathan sambil tertawa.


Kanae berdecak kesal dan melirik Nathan. "Jangan mulai lagi..."

__ADS_1


Melihat tatapan kesal dari Kanae, Nathan langsung memeluk istrinya tersebut untuk menghiburnya dan agar tidak marah lagi.


"Apa mau melakukan itu disini?" Bisik Nathan nakal ditelinga Kanae yang membuat wajah wanita tersebut seketika menjadi merah.


"Jangan aneh-aneh, kita ada ditempat umum sekarang. Bagaimana jika orang lain melihat kita nanti?" Tolak Kanae sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Nathan yang membuat tubuhnya mulai menjadi panas.


"Lampu hanya menyorot lapangan saja dan disini cukup gelap. Bagaimana, apa mau melakukannya disini?" Ucap Nathan sambil tersenyum dan tangannya mulai bergerak dengan nakal ditubuh Kanae.


Raut wajah Kanae semakin memerah dan nafasnya mulai memanas. Pikiran nya perlahan mulai kosong dan ia tidak dapat lagi menolak permintaan dari Nathan, bahkan ia tidak perduli lagi jika ada orang lain yang melihat mereka nantinya.


Melihat Kanae yang sudah pasrah Nathan langsung menghentikan aksinya dan menertawakan Kanae. "Apa sampai segitunya kamu ingin melakukan hal itu?"


Menyadari kalau Nathan hanya mengerjainya, Kanae langsung mencubir pinggang Nathan dengan kesal dan hanya bisa menunduk malu. Namun didalam pikiran nya ia sudah merencanakan untuk membalas perbuatan Nathan saat kembali Nathan.


Setelah puas mengerjai Kanae, Nathan kemudian pamit dulu untuk pergi kekamar mandi dan menyuruh Kanae menunggunya disana sambil memperhatikan Eimi.


Begitu selesai dari kamar mandi dan hendak kembali, Nathan tiba-tiba didatangi oleh seorang pria berusia empat puluh tahun yang memakai pakaian pelatih.


"Hei, apa kamu bisa main basket? Salah satu pemainku mengalami cidera dan aku membutuhkan pemain pengganti sekarang..." Ucap pelatih tersebut dengan nafas tersengal karena habis berlari.


Awalnya Nathan ingin menolak tetapi karena tidak melihat raut wajah kelelahan pelatih tersebut, ia akhirnya mengangguk setuju dan menyanggupinya.


"Iya Pak aku bisa tapi tidak terlalu bagus..." Ucap Nathan sambil tersenyum.


"Tidak masalah, ayo ikut aku keruang ganti cepat!" Kata pelatih mengajak Nathan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Setelah sampai diruang ganti Nathan langsung diberikan pakaian pemain basket berwarna putih dengan nomor punggung tujuh.


"Postur tubuhmu tidak terlalu buruk..." Puji pelatih saat melihat Nathan menggunakan pakaian basket yang ia berikan sebelumnya.


Nathan hanya tersenyum tipis dan kemudian segera bergegas menuju lapangan bersama dengan pelatih yang baru saja ia kenal.

__ADS_1


__ADS_2