Echelon System

Echelon System
Pengkhianat


__ADS_3

Nathan masuk kedalam cockpit pesawat dan mulai melakukan prosedur penerbangan. Mulai dari mengecek mesin sampai sayap dan ekor pesawat.


"Hei Nathan, Hati-hati cuacanya sedang tidak bagus dan kemungkinan akan ada badai. Jangan terlalu memaksakan pesawat ini!" Ucap seorang Marshall.


"Baiklah aku mengerti..." Balas Nathan sambil menutup kap pesawat dan siap untuk terbang.


Saat Nathan mengacungkan jempol nya, sang Marshall kemudian mengarahkan Nathan untuk melakukan penerbangan.


Ketika sudah melakukan Take-off Nathan mulai menaikan ketinggian pesawat hingga 8000 kaki dan segera melakukan pengintaian di radius 30 Km dari kapal Induk Yorktown.


Semua hal yang Nathan lihat mulai ia catat kedalam note sebagai laporan nantinya. Ditengah penerbangannya tanpa sengaja Nathan melihat cairan hitam dipermukaan laut.


"Apakah itu minyak?" Gumam Nathan yang langsung menurunkan ketinggian pesawat untuk melihat cairan minyak tersebut.


Perasaan curiga yang Nathan rasakan terjawab saat sebuah kapal selam milik Jepang muncul ke permukaan untuk mengisi udara dan memperbaiki kerusakan.


Beberapa awak kapal selam tersebut kemudian keluar dan langsung menembaki Nathan menggunakan meriam yang ada di deck kapal.


Nathan yang tidak mau ambil resiko dan curiga kalau masih ada beberapa kapal selam milik Jepang kemudian memberikan sinyal radio kepada kapal perusak milik Sekutu.


Laporan yang diberikan oleh Nathan diterima dengan baik oleh kapal perusak terdekat dan langsung menuju ke kordinat yang telah Nathan tunjukkan.


Kapal selam milik Jepang yang melihat kedatangan kapal perusak milik Sekutu berusaha kabur dan menyelam sebab tidak mungkin melawan dengan kerusakan pada kapal selam tersebut.


Tetapi semuanya sudah terlambat, bom air mulai dijatuhkan oleh kru kapal penghancur dan meledak tepat disamping kapal selam milik Jepang.


Alhasil kapal selam mengalami kerusakan parah dan membuat kru didalamnya menjadi panik lalu berusaha memperbaiki kerusakan yang ada.


Usaha yang dilakukan oleh kru kapal selam Jepang sia-sia saja dan pada akhirnya mereka harus tenggelam bersama kapal tersebut ke dasar laut meninggalkan tugas pengintaian mereka.


Puing-puing kapal selam mulai naik kepermukaan laut yang menandakan bahwa kapal tersebut sudah hancur dan membuat kru kapal penghancur menjadi senang.

__ADS_1


Namun tidak dengan Nathan yang hanya bersikap biasa-biasa saja dan segera kembali menuju kapal Induk Yorktown setelah menyelesaikan tugasnya.


Ketika hendak mendarat Nathan sedikit kesulitan sebab angin badai yang mulai bertiup kencang. Tetapi pada akhirnya ia berhasil mendarat meski roda pesawat nya mengalami kerusakan.


Setelah menyerahkan laporan nya Nathan dibuat heran saat menemukan Harry, Kevin, dan Robby yang sudah berkumpul didalam kamarnya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Nathan sembari mengganti pakaian nya.


"Ada yang ingin kami bicarakan dan ini tentangmu!" Balas Kevin dengan spontan dan terlihat sangat terburu-buru seolah tidak sabar setelah menemukan sesuatu.


"Oh... Tentu katakan saja..." Ucap Nathan.


Kevin dan Robby kemudian menatap kearah Harry yang membuat pria itu mengangguk mengerti lalu mengeluarkan selembar kertas dari sakunya.


"Sosok asing yang dibicarakan oleh semua kru apa itu kau?" Tanya Harry dengan tatapan mata menyelidik begitupun Kevin dan Robby.


Nathan tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Ada-ada saja, kalian tahu bukan kalau aku ditembak jatuh saat kejadian terjadi sebelum berakhir terdampar di sebuah pulau?"


"Lalu bagaimana dengan ini. Kamu yang menggambar ini bukan dan aku menemukannya sebelum berita penampakan sosok tersebut menyebar luas!" Ucap Harry dengan penuh keyakinan bahwa sosok tersebut adalah Nathan.


"Ah... Itu hanya kebetulan saja. Mana mungkin aku orang yang berada dibalik kostum aneh itu. Jangan berspekulasi terlalu tinggi... Apa ada hal lain yang ingin kalian katakan?" Kata Nathan.


Jawaban yang diberikan oleh Nathan jelas tidak diterima ketiga pira itu, namun mereka juga tidak bisa membuktikan jika orang yang berada dibalik kostum tersebut adalah Nathan karena tidak adanya bukti kuat.


Sedangkan Nathan ia hanya bisa menghela nafas saat melihat ketiga pria tersebut percaya dengan alibi palsunya yang cukup konyol.


"Ya, pertanyaan kedua ini sangat penting. Hubunganmu dengan dokter Emilia sebenarnya apa. Kalian berdua terlihat begitu dekat!" Kevin terlihat serius begitu pula dengan Robby dan juga Harry.


Nathan menghela nafas dan menjatuhkan badannya diatas kasur. "Kalian bertiga lupa dengan yang aku katakan kemarin tentang pernikahan?"


Mendengar pertanyaan dari Nathan, membuat Harry, Kevin, dan Robby mencoba untuk mengingatnya kembali.

__ADS_1


Tatapan ketiga pria itu seketika menunjukkan keterkejutan dan melihat kearah Nathan. Ketiganya tidak percaya jika Nathan dapat melakukannya.


"Hahaha! Dasar pendongeng handal. Mana mungkin kamu dan dokter cantik itu akan menikah!" Kevin tertawa lantang diikuti oleh Harry dan Robby.


Nathan yang melihat ketiga pria itu menertawakan dirinya tidak terlalu memikirkan hal itu dan memilih untuk merilekskan tubuhnya.


"Jika yang kamu katakan benar, kami bertiga akan menjadi anak buahmu. Benarkan, Kevin, Robby?" Harry tertawa kencang bersama dua temannya.


Tak berselang lama bertepatan dengan gelak tawa mereka, Emilia tiba-tiba datang dan masuk kedalam kamar tersebut sambil membawa sebuah dokumen.


Melihat kedatangan Emilia ketiga pria yang menertawakan Nathan seketika terdiam membisu dan tak menyangka jika dokter cantik tersebut masuk begitu saja kedalam.


"Kenapa kalian diam, coba tanyakan langsung kepadanya..." Ucap Nathan tanpa semangat dan masih menikmati berbaring diatas kasurnya.


Raut wajah Emilia sempat bingung sebab tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Nathan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah Harry, Kevin, dan Robby.


"Be-Begini dokter, pendongeng handal itu mengatakan jika kalian akan menikah. Apa itu benar?" Tanya Kevin dengan ragu-ragu dan ingin memastikannya.


"Ah... Benar juga... Nathan cepat tandangani surat pengajuan ini. Aku tidak mau ada hal kesalahan dihari pernikahan kita nanti!" Ucap Emilia sambil menyodorkan berkas kepada Nathan.


Nathan kemudian bangkit dari tidurnya dan mulai membaca lalu mendatangani berkas tersebut sementara ketiga temannya hanya bisa diam seribu bahasa.


Raut wajah Harry, Kevin, dan Robby berubah menjadi pucat seperti telah kehilangan semangat hidupnya setelah mendengar ucapan yang dikatakan langsung oleh Emilia.


'Dasar pengkhianat!' Umpat ketiga pria itu didalam batin mereka saat menyaksikan Nathan yang dengan santai mengisi formulir pendaftaran pernikahan.


"Hei, kalian bertiga jangan lupa untuk datang di hari H. Okey?" Nathan tersenyum mengejek ketiga temannya tersebut.


Ketiga pria itu hanya bisa berdecih kesal dan jika tidak ada Emilia disana mungkin mereka sudah menggulung Nathan yang dianggap pengkhianat.


"Soal alat yang kamu minta, ayahku tidak mengijinkan nya dan malah memintamu untuk mengambil alih perusahaan." Ucap Emilia.

__ADS_1


Perasaan iri sudah benar-benar menyelimuti hati ketiga pria itu dan mereka berpikir jika Nathan mendekati Emilia hanya untuk menguasai hartanya saja.


__ADS_2