
"Apa kalian ingat waktu itu saat menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak kepada Emilia?" Tanya Nathan untuk mengingatkan kembali kejadian saat ia ingin menembak dirinya sendiri, namun digagalkan oleh Emilia.
Kevin, Robby, dan Admiral Frank mengangguk sementara Harry yang pada waktu itu masih dirawat tidak tahu apa-apa. Untuk Emilia sendiri wajahnya sedikit memerah karena penyebab Nathan mendapat tuduhan palsu waktu itu karena dirinya.
"Sebenarnya waktu itu aku mencoba menembak kepalaku sendiri untuk melakukan percobaan, tetapi gagal karena wanita ini..." Ucap Nathan sambil melihat kearah Emilia yang berada disampingnya.
Emilia sontak merasa kesal dan mencubit pinggang Nathan hingga membuat pria itu merintih kesakitan. "Jangan memanggilku wanita itu atau ini. Aku ini istrimu sekarang!" Ucap Emilia sambil mendengus kesal.
Nathan meringis sambil mengelus pinggangnya dan hanya bisa mengangguk untuk meminta maaf kepada koala betina miliknya itu.
"Ah... Aku ingat kamu pernah mengatakan hal itu kepadaku. Lalu apa hubungannya dengan kejadian ini?" Admiral Frank tampak penasaran.
Sebelum mengatakan hal yang sebenarnya, Nathan mengatur nafasnya terlebih dahulu. "Sebenarnya aku bukan berasal dari masa ini. Atau biasa disebut sebagai time traveler. Dengan begitu aku tidak bisa mati dimasa selain tempatku berasal..."
Lima orang yang mendengar perkataan Nathan hanya bisa terdiam dan tidak tahu harus membuat ekspresi seperti apa saat ini.
Menyadari bahwa mereka masih bingung, Nathan kemudian mengambil sebilah pisau dan menyayat tangannya. "Kalian bisa lihat, benda yang tidak berasa dari tempat asliku sama sekali tidak menimbulkan efek kepada tubuhku..." Ucap Nathan saat luka ditelapak tangannya menutup dengan cepat.
Admiral Frank, Harry, Kevin, Robby, dan Emilia mengangguk meski masih belum percaya dengan apa yang barusan mereka saksikan.
"Jadi singkatnya kamu berasal dari masa depan. Lalu apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Harry meski tampak ragu.
"Yah... Waktu itu aku melakukan kesalahan saat menguji coba salah satu alat milikku dan pada akhirnya terdampar dimasa sekarang. Aku membutuhkan waktu dua puluh lima tahun sebelum akhirnya bisa kembali lagi..." Balas Nathan sambil menyesap secangkir kopi.
Emilia yang mendengar hal itu langsung mendekat dan menatap Nathan. "Apa maksudmu, apa kamu akan meninggalkan ku saat itu?" Tanya Emilia.
Nathan terdiam sejenak namun diamnya itu justru membuat Emilia memikirkan hal yang tidak-tidak hingga membuat wanita tersebut menjadi salah paham.
"Apa kamu menikah denganku hanya karena nafsu saja tanpa perasaan. Kenapa kamu tega melakukan hal itu kepadaku!" Ucap Emilia sebelum pergi dari sana sambil menangis.
__ADS_1
Melihat Emilia yang pergi Nathan ingin menghentikannya namun tidak sempat. Ia merasa jika wanita itu benar-benar salah paham terhadap dirinya.
"Bisakah aku meminta tolong kepada kalian kedepannya untuk memalsukan kematianku saja. Nanti aku akan melanjutkan cerittaku, sekarang aku harus mengurus Emilia, sepertinya dia salah paham..." Pinta Nathan.
"Tenang saja, sekarang cepat datangi putriku. Aku tidak ingin dia melakukan tindakan diluar batas..." Ucap Admiral Frank yang diangguki oleh Harry, Kevin, dan Robby.
Nathan kemudian pergi menyusul Emilia yang kini sedang berada didalam kamar, sementara Admiral Frank, Harry, Kevin, dan Robby pergi dari rumah itu untuk mengurus sisanya.
Saat masuk kedalam kamar, Nathan bisa mendengar suara tangisan Emilia yang kini membungkus dirinya sendiri didalam selimut.
Dengan ragu Nathan mengampiri Emilia dan berbaring disampingnya. "Bisakah kita berbicara sebentar, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu..." Ucap Nathan sambil membuka selimut yang menutupi kepala Emilia.
Begitu ujung selimut terbuka, Nathan dengan jelas bisa melihat Emilia yang sedang menangis. Namun hal itu tidak berlangsung lama saat Emilia menutup kembali wajahnya.
"Tidak perlu, aku sudah tahu kalau kamu memang hanya menikahi ku karena nafsu saja dan berpikir bisa meninggalkan ku begitu saja. Kamu bisa pergi sekarang!" Emilia membalik badannya membelakangi Nathan.
Nathan tidak menghiraukan perkataan Emilia tersebut. Pria itu kemudian memeluk Emilia dari belakang sambil mencium tengkuk leher wanita tersebut.
Emilia yang awalnya menangis seketika berhenti, perkataan Nathan barusan seketika membuat pikiran rancaunya menghilang.
"Apa kamu berjanji untuk tidak meninggalkan ku lagi dan akan selalu bersama?" Ucap Emilia dengan suara lirih.
"Ya... Aku janji... Sekarang apa yang ingin kamu mau?" Nathan mencoba agar Emilia percaya kalau dia tidak akan meninggalkan nya.
Emilia membalik tubuhnya kearah Nathan tetapi tetap menyembunyikan wajahnya yang masih sembab setelah menangis.
Tanpa Nathan sangka tangan Emilia mulai meraba-raba dan berakhir dengan menggenggam adik kecil milik pria itu.
"Apa yang kamu lakukan. Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau tidak boleh ada nafsu?" Ucap Nathan sambil mencoba menyingkirkan tangan Emilia dari adik kecilnya.
__ADS_1
Usaha Nathan bukannya berhasil malah membuat pria itu merasa kesakitan saat Emilia tetap menggenggam adik kecilnya dengan kuat.
"Aku mau ini, kita sudah lama tidak melakukannya..." Ucap Emilia sambil mengelus kepala adik kecil milik Nathan.
Merasa kalau Emilia hanya mengelabuhi nya saja dengan cara menangis sebelumnya, sudut bibir Nathan menjadi berkedut.
"Enggak, aku tidak mau melakukannya!" Ucap Nathan sambil menjauh dari Emilia.
Meski berhasil menjauh dari Emilia, Nathan langsung dihentikan oleh Emilia yang kini sudah berada di atasnya.
"Berikan aku bayimu kalau memang kamu tidak akan meninggalkan ku nantinya..." Ucap Emilia sambil menatap Nathan.
"Itu mustahil terjadi, kita tidak berasal dari waktu yang sama dan jelas hal itu tidak bisa-" Sebelum Nathan menyelesaikan perkataan nya, Emilia yang tidak tahan langsung mencium bibir pria itu.
Nathan seolah dipaksa untuk melakukannya saat Emilia mengunci pergerakan nya. Bahkan pria itu tidak diberi waktu untuk mengatur nafasnya.
Tak lama kemudian Emilia melepas ciumannya dan menjilat bibirnya setelah merasa puas karena dapat merasakan kembali sensasi manis dari bibir Nathan yang membuatnya candu.
"Kamu sudah kelewatan..." Ucap Nathan sambil memgatur nafasnya yang tersengal.
"Kelewatan bagaimana..." Balas Emilia sambil menyentuh dada Nathan yang jelas membuat naluri liar pria itu memuncak.
Emilia yang menyadari pikiran Nathan langsung tersenyum tipis seoalah menantangnya. Alhasil Nathan bangkit dan kini giliran Emilia yang ada dibawah.
Nathan yang melihat wajah cantik Emilia memerah kemudian mencium bibir wanita itu dengan intens dan perlahan mulai melucuti pakaiannya.
Udara pagi hari yang awalnya terasa dingin seketika berubah menjadi panas disekitar tubuh Nathan dan Emilia.
Keduanya bergumal didalam selimut dengan keringat yang mulai membasahi tubuh mereka sesaat sebelum puncak acara dimulai.
__ADS_1
"Setelah ini jangan salahkan aku..." Ucap Nathan yang langsung diangguki oleh Emilia tanpa pikir panjang lagi.