Echelon System

Echelon System
Malfungsi Echelon


__ADS_3

Ditengah penerbangan menuju San Francisco, Nathan menyimak informasi yang diucapkan oleh Echelon kepadanya mengenai Emilia.


Echelon mengatakan bahwa dengan memberikan darah Nathan ketubuh Emilia maka wanita itu akan menjadi sepertinya, yaitu Mutan.


"Apa kamu sudah tidak waras, mana ada hal yang seperti itu didunia nyata. Ini sangat mustahil..." Nathan tampak meragukan anjuran yang diberikan Echelon jika masih tetap ingin bersama dengan Emilia.


"Kembali ke masa lalu apa manurut tuan itu adalah hal yang mustahil? Tentu saja tidak bukan, nyatanya anda berhasil melakukan nya..." Ucap Echelon.


Untuk sejenak Nathan memikirkan kembali perkataan Echelon sambil melihat kearah Emilia yang tertidur pulas disampingnya.


Nathan tersenyum lembut dan merapihian rambut panjang Emilia yang menutupi wajah cantik wanita itu. Seketika Emilia meringkuk dan menyandarkan kepala dibahu Nathan.


"Baiklah aku akan mencobanya... Jadi bagaimana caranya?" Tanya Nathan yang terlihat enggan jika kelak harus melihat menua saat ia tinggal beberapa tahun nantinya.


"Beri dia minum dengan darah tuan..." Balas Echelon.


Alis Nathan seketika mengerut dan matanya memicing. "Apa itu... Kamu ingin membuatnya menjadi vampir dengan menghisap darahku?" Tanya Nathan.


"Tidak ada pilihan lain, darah dari sumbernya langsung adalah cara yang terbaik. Kalau anda masih ingin bersama wanita itu lakukan saja, jika tidak saya juga tidak terlalu perduli..." Balas Echelon dingin.


Entah mengapa Nathan merasa nada bicara Echelon terdengar aneh seolah kecerdasan buatannya itu memiliki perasaan seperti manusia.


Tetapi Nathan tidak begitu perduli akan perubahan itu dan kini hanya fokus mengurus Emilia yang kelak akan ia tinggal untuk sementara waktu.


Saat memikirkan Emilia, Nathan teringat Alicia dan yang lain dirumah. Ada perasaan bersalah yang Nathan rasakan setelah meninggalkan Alicia tanpa pamit terlebih dahulu.


Belum lagi tentang ia yang malah menikah tanpa sepengetahuan Alicia. "Aku benar-benar pria yang buruk. Dengan sengaja melakukan hal yang sama dengan mantanku dulu..." Desah Nathan.


"Ya, anda benar-benar pria yang buruk. Tak lama setelah anda kembali nanti kemasa depan, kemungkinan besar anda akan tewas..." Echelon menimpali.

__ADS_1


"Tewas... Apa maksudnya?" Tanya Nathan yang dilanda kebingungan dengan ucapan Echelon barusan.


"Sebagai kecerdasan buatan yang baik dan perhatian, saya telah memberitahu semua yang terjadi kepada nona Alicia. Raut wajahnya yang awalnya khawatir langsung berubah menjadi kesal. Sepertinya dia sudah menyiapkan pemakaman untuk anda nantinya..." Balas Echelon tanpa rasa bersalah.


"Hah? Setan kecil apa maksud mu. Bagaimana kamu bisa memberitahunya dan kenapa kamu lakukan itu kepada pencipta mu sendiri!?" Ucap Nathan dengan raut wajah panik.


"Tentu saja itu bisa dan saya tidak bisa mengatakan nya. Jangan salahkan saya, nona Alicia yang bertanya kepadaku saat anda menghilang. Jadi terpaksa saya buka mulut..." Balas Echelon.


"Tapi tenang saja dia tidak sendiri, semua pelayan anda sepertinya akan ikut serta untuk memberi perhitungan kepada tuan bersama dengan nona Alicia..." Ucap Echelon.


Nathan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya ada satu jalan untuk membujuk Alicia dan ia harap wanita cantik itu tidak memperpanjang masalah. Tentunya Nathan sudah siap dengan konsekuensi atas perbuatan nya terhadap Alicia.


"Y-Ya, ini tidak terelakkan. Untuk dua puluh lima tahun ini, aku akan menikmati hidup ku sebelum berakhir ditangannya..." Ucap Nathan pasrah.


Bagi Nathan untuk melawan Alicia cukup sulit, apalagi dalam hal peralatan dan kemampuan bertarung wanita itu berada di level yang sangat berbeda meski ia mengenakan pakaian tempur sekalipun.


Nathan menghela nafas panjang dan mencoba untuk tetap tenang meski jantungnya kini berdetak sangat kencang mengetahui hidupnya akan berakhir di salah satu wanita yang ia suka.


"Saya tidak tahu..." Balas Echelon.


"Bagaimana denganmu, apa kamu juga menginginkannya?" Tanya Nathan meski ia sendiri tahu jika Echelon hanya sebuah kecerdasan buatan dan tidak memiliki wujud fisik.


"Bukankah anda tahu jika hal itu mustahil untuk saya yang hanya berupa kecerdasan buatan. Meskipun begitu suatu hari nanti jika memiliki tubuh fisik meski hanya sebuah android, saya berpikir untuk memiliki seorang bayi. Apa anda ingin membuat bayi bersama saya tuan?" Tanya Echelon dengan nada lembut seorang wanita penuh harap.


Nathan seketika membeku, ia langsung menjadi gugup dan pura-pura tidak mendengar permintaan Echelon. Meski hal itu bisa saja terjadi dengan kempuannya, tetap saja Nathan merasa ragu.


Menyadari Nathan yang berpura-pura tidak mendengar, Echelon langsung memberi setrum kejut melalui jarum-jarum halus yang terdapat pada jam tangan pria itu.


Alhasil Nathan merasa kebas dibagian lengan kirinya dan meski begitu aliran listrik masih saja menyengat pria itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi denganmu, kenapa bertingkah aneh seperti ini. Hentikan..." Ucap Nathan sambil memegang lengannya.


Kini giliran Echelon yang acuh kepada Nathan, ia terus dan menambah arus listrik yang membuat tubuh Nathan sedikit berasap.


"Baik-baik aku mengerti, setelah ini aku akan membuatkan tubuh untukmu yang layaknya seorang manusia. Cepat hentikan..." Nathan meringis kesakitan sebab ia merasa tubuhnya akan matang tersengat listrik.


Echelon akhirnya berhenti dan diam seribu bahasa yang membuat Nathan merasa kalau kecerdasan buatan nya itu sudah memiliki pola pikir sendiri.


Sekarang Nathan harus berpikir keras kembali untuk membuatkan tubuh robot android untuk Echelon yang jelas akan memakan waktu yang lama, sebab harus benar-benar memiliki kemiripan dengan manusia asli.


Kini pekerjaan Nathan bertambah satu lagi dan nyawanya tidak hanya berada ditangan Alicia melainkan Echelon kecerdasan buatan nya sendiri.


Nathan bisa saja menonaktifkan Echelon tetapi itu sama saja dengan bunuh diri, karena Echelon terhubung dengannya.


Sedikit penyesalan telah membuat program pencegahan itu tetapi kini tidak ada yang bisa dirubah, dan ini membuat Echelon seperti seorang wanita yang jika dia tidak bersama dengan Nathan maka wanita lain pun tidak.


"Sepertinya aku memiliki kutukan jika berurusan dengan wanita..." Nathan mendesah pasrah dan menangisi takdir nya. Meskipun begitu ia bersyukur karena bisa merasakan kenikmatan duniawi.


Nathan akhirnya memutuskan untuk tidur selama perjalanan menuju San Francisco yang akan menempuh waktu selama 4 Jam.


Ketika Nathan sudah terlelap Emilia perlahan membuka matanya. Sorot matanya seketika tertuju kearah jam tangan yang dikenakan oleh Nathan.


Sebenarnya Emilia sedari awal mendengarkan pembicaraan antara Nathan dan Echelon, meski samar-samar tetapi itu terdengar jelas ditelinganya karena jarak mereka sangat dekat.


Emilia tersenyum lembut dan memejamkan matanya kembali sambil memposisikan tidurnya dengan merangkul lengan Nathan.


Meski bingung dengan siapa Nathan berbicara sebelumnya, tetapi mendengar percakapan yang berlangsung ia merasa senang karena nyatanya Nathan perduli terhadap nya.


Namun disisi lain Emilia juga merasa sedih dan mengeratkan rangkulan nya sebab tak lama lagi ia akan berpisah dengan Nathan.

__ADS_1


Meski masih 25 tahun lagi tetapi tetap saja waktu akan terasa berjalan sangat cepat dan meski akan bertemu lagi dalam waktu dekat, tetap saja Emilia tampak masih sangat enggan.


__ADS_2