
Kepergian Nathan seolah membuat semua orang diacara tersebut menjadi keheranan. Selain bingung, mereka juga tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dan sosok pria yang mereka kenal hilang begitu saja dari ingatan mereka.
Hal yang sama juga dirasakan oleh keluarga besar Lexton Company dimana mereka merasa bahwa ada salah satu diantara mereka yang hilang, tetapi tidak tahu siapa itu.
Emilia yang sudah merasa tidak betah dan cemas tanpa sebab kemudian memutuskan untuk pulang bersama dengan Liu Yifei, yang merasakan hal itu juga.
Meski Emilia dan Liu Yifei pergi acara tetap dilanjutkan walaupun ada perasaan tidak enak dibenak semua orang yang hadir di acara itu.
Sesampainya dirumah Emilia kemudian mengunci diri didalam kamar dan tidak mengijinkan siapapun untuk masuk sebab ingin menyelidiki buku yang ia temukan didalam tas.
Sedangkan Liu Yifei juga masuk kedalam kamarnya sendiri dan melihat banyak kanvas lukisan yang terpapang didinding kamarnya tetapi kosong tidak ada gambarnya.
"Kenapa aku memasang kanvas kosong didinding dalam jumlah banyak?" Ucap Liu Yifei yang keheranan sambil melepaskan satu persatu kanvas kosong didinding.
Hingga saat Liu Yifei telah selesai melepas semua kanvas didinding, pandangannya kemudian tertuju kearah lukisan setengah jadi yang membuatnya merasa penasaran.
Ketika Liu Yifei melihat lukisan itu dari dekat ia mendapati gambar dirinya semasa kecil yang tengah dipangku oleh seorang pria tampan yang memakai pakaian militer.
Liu Yifei yang melihat lukisannya sendiri merasa bingung dengan siapa sosok pria tersebut dan mencoba mengingatnya yang hasil membuat kepalanya terasa pusing.
Sementara itu Liu Yifei yang tengah membaca halaman demi halaman buku yang ia temukan didalam tasnya juga berusaha mengingat sosok pria bernama Nathan.
Dalam beberapa paragraf Emilia mengetahui bahwa pria yang menyebut dirinya sebagai Nathan itu mengaku menjadi suaminya dan juga menuliskan beberapa kejadian tentang kebersamaan mereka.
Sampai pada saat Emilia menemukan foto pernikahan dirinya dan Nathan, perlahan ingatannya mulai kembali lagi dan membuat Emilia mendekap buku tersebut sambil menangis.
"Terimakasih karena sudah menemaniku selama ini, Nathan..." Ucap Emilia sambil menangis terisak.
__ADS_1
*******
Setelah kejadian tersebut Emilia melanjutkan hari-harinya seperti biasa meskipun terasa hampa karena ditinggal oleh pria yang selama ini selalu ada disisinya.
Emilia juga telah membantu keluarga besar Lexton Company yang terus merasa kehilangan seseorang dan membuat mereka gelisah setiap hari, untuk mengingat tentang Nathan.
Hingga waktu pun tak terasa telah berjalan selama lima puluh tahun dan kini sikap Emilia sudah berubah kembali menjadi wanita yang dingin, bahkan tidak segan untuk menghabisi musuh bisnisnya.
Buku peninggalan Nathan juga tidak pernah lepas dari dirinya dan selalu ia bawa kemanapun, sampai hari yang telah ditunggu nya tiba.
Emilia kini tinggal sendirian di Mansion mewahnya dengan beberapa orang pelayan, sementara untuk Liu Yifei kini menetap di China untuk mengelola salah satu perusahaan mereka yaitu Sinopec yang bergerak dalam bidang minyak bumi.
Liu Yifei juga kini memiliki seorang putri yang merupakan anak angkatnya hanya untuk sekedat mengingat kembali masa bersama dengan Nathan.
Meski sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun tetapi Liu Yifei tampak masih sama seperti Emilia yang tidak menua, dan terlihat sama pada saat berumur tiga puluh tahun.
Emilia kini terlihat tengah berada di bandara dan masuk kedalam pesawat tipe Boeing 747-8 yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Selain sangat aman pesawat itu juga memiliki fasilitas yang membuat Emilia seperti berada dirumah.
Pesawat itu sendiri juga berada dibawah salah satu perusahan Lexton Company yaitu Delta Air dan dibuat khusus untuk Emilia.
Dua orang pilot dan juga pramugari tampak menyambut baik Emilia ketika ia datang dan masuk kedalam pesawat. Setelah Emilia masuk, pramugari langsung menutup pintu pesawat dan pilot kemudian segera bersiap untuk lepas landas.
Bandar Udara Internasional Hartsfield–Jackson di Atlanta yang merupakan bandara terpadat di Amerika sekaligus didunia kini tampaknya sangat memprioritaskan salah satu penerbangan dihari itu.
Semua jadwal pesawat yang sebelumnya lancar seketika dirubah mendadak dan terlihat banyak pesawat yang sudah mengantri untuk lepas landas hanya karena satu pesawat saja.
Setelah pesawat yang ditumpangi oleh Emilia berhasil lepas landas seketika penerbangan internasional yang sempat tertunda akhirnya dapat berjalan dengan normal lagi.
__ADS_1
Dua Jet tempur Lockheed Martin F-35 Lightning II yang berasal dari pasukan Textron milik Lexton Company terlihat terbang disamping pesawat milik istri pemilik perusahaan tersebut dan akan mengawalnya.
Untuk bahan bakar dari Jet tempur itu sendiri tidak perlu dikhawatirkan karena kedua pesawat itu juga mendapatkan prioritas dengan diperbolehkan mengisi bahan bakar dari pesawat tanker milik negara ketika mengudara.
Emilia membutuhkan waktu selama dua belas jam meskipun penerbangannya diprioritaskan, tetapi ini jauh lebih cepat daripada penerbangan biasa yang rata-rata memerlukan waktu dua puluh jam untuk sampai ke Jakarta.
Selama dua belas jam sendiri Emilia menghabiskan waktunya untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan dengan fasilitas yang ada didalam pesawat agar saat bertemu dengan Nathan bisa menjadi lebih cantik.
Emilia sampai di Jakarta saat sore hari dan ia melanjutkan perjalanan dengan menaiki mobil Rolls-Royce Phantom menuju tempat dimana ia akhirnya dapat menemui Nathan kembali.
Mobil yang dinaiki Emilia berhenti dilampu merah. Emilia terlihat menoleh kearah luar jendela yang kini tengah gerimis saat sedang membaca bukunya.
Tanpa disangka sebelumnya oleh Emilia, ia melihat seorang pria yang sangat dia nantikan tengah berlari diluar mengejar seorang penjahat.
"Nathan..." Gumam Emilia dengan perasaan senang bercampur sedih setelah dapat kembali melihat sosok Nathan yang selalu ia rindukan.
Emilia lalu turun dari mobil dan membuat supirnya menjadi heran sekaligus panik saat bos besarnya keluar disaat sedang gerimis.
Beberapa menit kemudian Emilia kini telah sampai di sebuah gedung terbengkalai dan melihat Nathan yang tengah beradu mekanik dengan seorang penjahat.
Dengan mata merah menyala Emilia dengan mudah dapat melihat setiap gerakan Nathan dan penjahat tersebut, tetapi ia hanya diam saja karena ingin menikmati pertarungan suaminya tersebut.
Tetapi saat melihat Nathan tertembak dibagian punggung jelas membuat Emilia merasa marah dan tanpa sadar meremat tiang beton disampingnya hingga hancur.
Supir Emilia yang kini berdiri dibelakang wanita cantik tersebut merasa takut dan tidak menyangka bos besarnya memiliki kekuatan sebesar itu.
Lagi-lagi Emilia dibuat kesal saat melihat Nathan masuk kedalam mobil bersama seorang polisi wanita cantik dan pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Emilia yang merasa cemburu dan kesal akhirnya memutuskan untuk pergi juga, lalu berniat tidak menemui pria itu untuk beberapa waktu.