Echelon System

Echelon System
Wellerman


__ADS_3

Nathan hanya bisa terdiam dan memakan kembali roti yang sempat ia jatuhkan diatas meja sambil bersikap seolah dia tidak pernah melakukan sesuatu diluar batas bersama dokter tersebut.


Raut wajah dan keheningan yang Nathan tunjukkan seketika membuat Harry menjadi curiga begitupun Kevin serta Robby saat melihat pria tersebut menjadi gugup.


"Apa kamu baik-baik saja, Nathan. Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" Tanya Robby yang keheranan dengan sikap Nathan saat ini, begitupun Harry dan Kevin yang sama-sama penasaran.


Nathan berusaha menyembunyikan bahwa ia sempat akan menancapkan taringnya ditubuh indah milik dokter Emilia dan mencoba tersenyum meski tampak terpaksa.


"Kalian tenang saja aku baik-baik..." Balas Nathan sambil memasang senyuman palsunya kepada ketiga pria tersebut.


Harry, Kevin, dan Robby yang merupakan tentara apa lagi dalam masa perang mengetahui betul mimik ekspresi seseorang yang berbohong dimana kini sedang dipasang oleh Nathan.


Melihat hal ini kecurigaan mereka semakin bertambah dan berspekulasi bahwa ada yang tidak beres diantara Nathan dengan dokter Emilia.


Ketiganya berpikir bahwa Nathan memiliki hubungan khusus dengan dokter cantik tersebut, namun setelah mengingat bahwa dokter cantik itu sangat membenci laki-laki, membuat mereka bertiga langsung membuang pemikiran gila tersebut.


Yang tidak mereka ketahui sebenarnya memang sekarang belum ada hubungan antara Nathan dan dokter Emilia, namun mengingat kejadian saat diruangan kerja dokter tersebut sudah dipastikan ada yang berubah tidak lama lagi.


"Jangan berbohong percuma saja kamu melakukannya, kita sudah saling mengenal dari masih kecil dan sudah tahu semuanya!" Ucap Harry.


"Ya, kamu seharusnya tidak berbohong seperti ini!" Timpal Kevin.


"Cepat ceritakan apa yang terjadi saat kamu bersama dokter cantik tersebut!" Ucap Robby menambahkan.


Karena ditekan seperti ini oleh teman-temannya, Nathan berpikir keras untuk mengatakan hal yang sejujurnya sebab sangat tidak mungkin mengatakan hal semacam ini.


"Kalian ini kenapa sudah ku katakan kalau aku baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" Balas Nathan sambil mengayunkan tangannya.


Merasa yang dikatakan oleh Nathan adalah benar Harry, Kevin, dan Robby akhirnya berpikiran bahwa pria tersebut tidaklah berbohong.

__ADS_1


Pembahasan masalah mengenai Nathan akhirnya berakhir dan kini mereka mulai membicarakan tentang perang besok yang mungkin saja akan menimbulkan korban jiwa cukup banyak.


Sebagai penjelajah waktu karena unsur ketidak sengajaan, Nathan sudah mengetahui semua alur cerita peperangan ini namun jelas ia tidak akan menyatakan karena pasti menimbulkan butterfly efek dimasa depan.


Dalam perang Dunia II ini Nathan sebisa mungkin akan mengikuti alur peristiwa yang akan terjadi, dan berusaha untuk tidak membuat kesalahan meskipun harus menutup mata melihat jutaan nyawa yang akan menghilang.


Bukan karena Nathan tidak perduli dengan kekejaman perang tetapi ia tidak punya pilihan lain kecuali melakukannya, tetapi disamping itu Nathan juga akan berusaha menekan korban jiwa sebisa mungkin.


"Melihat para pilot tentara Jepang yang nekat bunuh diri dengan menabrakan pesawat ke kapal perang kita, aku menjadi sedikit takut..." Ucap Kevin.


"Kamu benar aku memikirkan hal yang sama. Sepertinya otak mereka sudah didoktrin atasannya!" Timpal Robby.


"Yang kalian berdua katakan memang benar, apalagi prajurit mereka tidak takut mati bahkan dengan sengaja menabrakan pesawat-pesawatnya!" Harry menambahkan.


"Apa kalian takut mati? Kenapa harus takut mati, tentu saja kita bisa mati besok atapun di Pertempuran lainnya. Jadi santai saja..." Ucap Nathan dengan santai sambil memakan rotinya.


Mendengar pemaparan Nathan bukan membuat psikologis ketiga temannya menjadi lebih baik malah kini sebaliknya bertambah takut serta pesimis lagi.


Namun karena sudah terlanjur bergabung dan sampai pada titik ini akhirnya mereka hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa nyawanya bisa hilang kapan saja.


Ketiganya kemudian melihat kearah Nathan yang tampak terlihat santai seolah tidak memiliki beban bahwa nyawanya juga bisa menghilang besok.


"Kenapa kamu terlihat santai seperti ini, besok kita bisa saja mati?" Tanya Harry sambil melihat kearah Nathan begitupun dengan Kevin dan Robby.


Nathan kemudian menoleh dan menjawab, "Kita berempat pasti akan mati tapi bukan besok... Tenang saja semuanya akan baik-baik saja..."


Mendengar perkataan dari Nathan kini membuat ketiga pria tersebut merasa sedikit tenang dan memilih untuk melakukan permainan sederhana yang bisa saja menjadi permainan terakhir mereka berempat.


Permainan yang mereka lakukan cukup mudah jika hanya melakukan undian menggunakan pensil, dan ketika salah satu diantara keempatnya terpilih maka harus bersedia bernyangi.

__ADS_1


Undian secara bergiliran menunjuk ke arah Robby, Harry, dan Kevin yang membuat ketiganya harus bernyanyi meski harus menerima lemparan makanan dari tentara lain akibat suara sumbang mereka.


Karena merasa kesal karena Nathan selalu beruntung akhirnya dengan curang Harry, Kevin, dan Robby membuat pria tersebut harus mendapat giliran berikutnya.


Awalnya Nathan sempat menolak karena tahu ketiga pria tersebut curang, namun karena didesak oleh mereka membuat Nathan terpaksa melakukannya.


"Kalau begitu cepat nyanyikan sebuah lagu dan semoga bisa menghibur yang lainnya. Jangan membuat kami kecewa!" Ucap Kevin.


Nathan berdecih kesal dan kemudian mulai memukul-mukul meja untuk mengiringi lagu yang ia nyanyikan berjudul Wellerman. Lagu ini menceritakan tentang perjalanan para pelaut yang sedang berlayar ditengah kerasnya kehidupan di laut.


Nada lagu khas para perompak bajak laut membuat Harry, Kevin, Robby dan para Marinir yang mendengarnya mudah mengerti hingga perlahan ikut bernyanyi bersama Nathan.


Suasana kantin yang semula senyap dan hanya diisi suara alat makan kini berubah menjadi lebih hidup dengan semangat baru para Marinir disana.


Meja dan alat makan mereka semua bunyikan saat melantunkan nyanyian Wellerman yang dibawakan oleh Nathan. Meski asing dengan lagu tersebut kini mereka sudah lancar menyanyikannya.


Seorang komandan militer yang ada bertugas di kapal induk Yorktown menghampiri kantin bersama assistennya untuk memanggil beberapa orang untuk melakukan rapat membahas pertempuran esok hari.


Ketika tiba dikantin mereka berdua dikejutkan dengan para Marinir yang bernyanyi bersama dan tampak menikmatinya meski kini sedang berada di tengah tekanan perang.


Komandan tersebut kemudian memutuskan untuk menunggu sambil memperhatikan para Marinir yang sedang asik bernyanyi. Ia tidak ingin mengganggu mereka karena momen inilah yang bisa membuat mereka bisa sejenak melupakan kekejaman perang yang sedang berkecamuk diseluruh dunia.


Sampai pada akhirnya nyanyian pun berakhir dan ditutup dengan tepuk tangan meriah oleh semua Marinir yang ada di kantin.


Komandan yang dari tadi menunggu kemudian masuk dan membuat para Marinir berdiri untuk memberinya penghormatan.


Tanpa basa-basi komandan itu mulai memanggil beberapa nama dan secara mengejutkan nama Nathan juga ikut terpanggil untuk mengikutinya.


Meski cukup terkejut Nathan juga merasa senang lalu mengikuti komandan tersebut bersama dengan beberapa Marinir lainnya menuju suatu tempat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai disuatu ruangan yang merupakan tempat mengatur strategi dan mendapati sudah ada beberapa petinggi penting militer dari pihak Amerika serta Australia.


Mata Nathan terbelalak saat melihat sosok legendaris dan merupakan ayah dari dokter Emilia yaitu Admiral Frank Jack Fletcher pemimpin armada perang kali ini.


__ADS_2