Echelon System

Echelon System
Malam Terakhir


__ADS_3

Sudut bibir Nathan berkedut setelah ia terjatuh dari atas kasur usai didepak oleh Emilia. "Apa maksud mu, kenapa kamu menendangku dari atas kasur?"


Emilia tidak menjawab dan mengeluarkan simbol jari tengah dari balik selimut. Wanita itu sudah sangat kesal dan memutuskan untuk berbicara sampai Nathan meminta maaf dan bercerita kepadanya.


Disisi lain Nathan yang melihat tingkah Emilia mengira bahwa wanita itu sedang mengalami datang bulan dan membuat sikap nya menjadi tempramental.


"Apa kamu mau uang untuk belanja, aku akan memberikannya kepadamu..." Ucap Nathan sambil memberikan beberapa pecahan 20 dollar disamping Emilia.


Emilia dengan sigap mengambil semua uang itu kedalam selimut dan masih tetap tidak ingin berbicara kepada Nathan.


"Ah begitu, kamu ingin cokelat. Ambillah..." Nathan mengira wanita yang tengah datang bulan menyukai manisan dan ia kemudian meletakkan sebatang permen cokelat disamping Emilia.


Untuk kedua kalinya Emilia dengan cepat mengambil cokelat tersebut dan masih tetap tidak ingin berbicara kepada Nathan.


"Apa yang kamu inginkan, kenapa dari tadi diam saja. Apa kamu sedang marah kepadaku?" Tanya Nathan yang tidak tahu menghadapi sikap Emilia sekarang.


Emilia tetap diam membisu dan dibalik selimut ia mulai memakan cokelat yang diberikan oleh Nathan. Ia ingin membuat suaminya itu lebih peka meski dirinya tidak berbicara.


"Hei aku bukan pesulap. Aku tidak tahu dengan apa yang kamu mau. Jadi cepat katakan apa yang kamu mau sekarang..." Ucap Nathan yang sedikit pusing dengan salah satu sikap wanita yang mengharuskan seorang pria untuk peka.


Karena tidak ada jawaban, Nathan kemudian berbaring di samping Emilia dan langsung menjadikan wanita itu sebagai guling pribadinya.


Dari balik selimut Emilia terus memberontak dan ingin melepaskan diri rangkulan Nathan yang menjadikannya sebagai guling.


Emilia mengeluarkan kepalanya dari balik selimut dan menatap kesal kearah Nathan yang tersenyum hangat kearahnya. Meski tampak kesal ia tidak bisa menyembunyikan perasaan saat melihat wajah Nathan saat ini.


"Baik... Aku tahu kamu kelelahan malam ini. Jadi mari kita tidur saja..." Nathan merangkul tubuh Emilia dan mencium kening wanita itu sebelum memejamkan matanya.


"Dasar menyebalkan..." Emilia tersenyum tipis sambil memandangi wajah Nathan yang mulai terlelap. Ia kemudian mencium bibir Nathan dan membenamkan wajahnya sendiri didada pria itu.


*******

__ADS_1


Dikantor intelijen, seorang petugas menerima sebuah telegram dari kapal selam Sekutu yang tengah melakukan patroli di kawasan laut Pasifik.


"Pak, saya mendapat laporan jika Armada kapal perang Jepang tengah melakukan konvoi ke Pearl Harbor!" Ucap petugas itu sambil menyerahkan kertas laporan kepada atasannya.


Saat menerima laporan dari anak buahnya. Atasan tersebut kemudian segera menghubungi para perwira untuk membahas laporan yang ia terima.


"Ada apa memanggil di tengah malam begini?" Tanya seorang perwira yang terlihat kesal sebab waktu istirahat nya yang sangat singkat harus terganggu.


Kepala intelijen tidak menggubris perkataan perwira tersebut dan mulai menjelaskan laporan yang ia terima sebelumnya dari salah satu bawahannya.


*******


Dipagi-pagi buta para Marinir segera dibangunkan oleh suara pengumuman dan beberapa prajurit yang membangunkan mereka semua untuk berkumpul.


"Cih! Apa-apaan ini, aku baru saja bisa tidur dan sekarang harus bangun. Ini sungguh tidak adil..." Ucap Kevin.


"Jangan mengeluh. Kita harus segera bergegas atau nanti akan kena hukuman..." Ucap Robby yang diangguki oleh Harry.


Mereka bertiga kemudian segera bergegas menuju tempat dimana para Marinir lainnya berkumpul untuk menerima sebuah tugas baru.


Disisi lain Nathan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara seseorang mengetuk pintu rumah. Ketika terbangun ia melihat Emilia yang masih tertidur lelap di dalam dekapan nya.


Saat ingin pergi Emilia tiba-tiba merangkuk tangan nya dan membuat Nathan harus berusaha ekstra sebelum bisa mengecek siapa orang yang mengetuk pintu rumah.


Begitu dicek Nathan mendapati seorang pria paruh baya berpakaian seperti seorang perwira. Nathan segera merapihkan bajunya dan bersikap sopan kepadanya.


"Ada yang bisa saya bantu Pak. Kenapa repot-repot datang kesini?" Tanya Nathan.


Bukannya merasa tersanjung dengn sikap sopan Nathan, pria paruh baya tersebut justru terlihat kesal. "Berhentilah bersikap formal seperti ini. Aku sekarang adalah ayah mertuamu dasar pencuri!" Ucap Admiral Frank.


Nathan kemudian segera mempersilakan Admiral Frank masuk dan keduanya lalu mulai berbicara empat mata diruang tamu.

__ADS_1


"Jadi begini, sebelumnya kami menerima sebuah laporan dari markas intelejen tentang sebuah Armada besal milik Jepang yang beberapa hari lagi akan menyerang pulau ini..." Ucap Admiral Frank dengan santai sambil menghisap cerutunya.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Jawab Nathan dengan polos karena ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi sebelumnya.


Admiral Frank yang mendengar ucapan Nathan langsung menyipitkan matanya. "Tentu saja ada. Kamu akan dibebas tugaskan dan kembali ke New York bersama Emilia..."


"Huh? Tidak, aku tidak bisa menerimanya. Sebagai seorang Marinir aku tidak bisa mundur dari tanggung jawabku!" Nathan menolak usulan Admiral Frank mentah-mentah.


"Ini perintah. Lagipula setelah apa yang kamu lakukan saat pertempuran sebelum nya, kami sudah sepakat untuk memberikan mu cuti..." Ucap Admiral Frank.


"Apa kamu tidak kasihan dengan putriku yang baru saja menikah dan bisa menjadi seorang janda kapan saja?" Sambung Admiral Frank.


Untuk sesaat Nathan memikirkan kembali perkataan Admiral Frank kepdanya. Namun setelah membuat keputusan untuk tetap ikut, akhirnya Nathan tetap bersikeras.


"Bagaimana dengan istri prajurit yang lain, mereka juga akan menjadi janda jika suami mereka tewas. Aku akan tetap ikut dan tenang saja, semuanya akan baik-baik saja..." Ucap Nathan.


Melihat kesungguhan dari mata Nathan, akhirnya Admiral Frank hanya bisa menghela nafas dan membiarkan pria itu untuk ikut perang bersamanya.


"Baiklah, kita akan berangkat jam lima pagi dan sebaiknya kamu menikmati waktu bersama putriku. Aku sudah menjadwalkan penerbangannya, jadi tenang saja..." Ucap Admiral Frank sebelum beranjak pergi dari sana.


Nathan berterimakasih kepada Admiral Frank dan setelah itu ia kembali masuk kedalam kamar untuk menemui Emilia yang masih tertidur pulas.


Hanya tersisa tiga sebelum keberangkatan nya dan Nathan memutuskan untuk sejenak melihat wajah Emilia yang tidak akan ia temui selama beberapa minggu.


Merasa sentuhan seseorang diwajahnya Emilia kemudian terbangun dan mendapati Nathan yang tengah mengusap pipinya dengan menggunakan ibu jari.


"Apa!?" Tanya Emilia yang masih kesal dengan kejadian sebelumnya.


Nathan tersenyum dan tiba-tiba memeluk Emilia seperti sebuah guling. "Tidak ada, cepat tidurlah kembali atau aku akan memakanmu malam ini..."


Mendengar perkataan Nathan sontak membuat Emilia merasa sedikit merinding sebab ia masih merasakan ngilu di areanya setelah dihajar habis-habisan oleh pria itu beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Emilia segera memejamkan matanya kembalikan dan berusaha untuk tidur kembali karena takut akan dimakan oleh Nathan.


Nathan yang melihat tingkah Emilia hanya bisa terkekeh. "Selamat malam..." Ucap Nathan sebelum mematikan lampu.


__ADS_2