
Setelah Nathan dapat mengontrol tekanan batin dan adik kecilnya, ia kemudian menghela nafas panjang dan menatap lurus kearah Alicia yang sedang tersenyum dengan polos kepada dirinya.
"Begini, baru-baru ini aku membeli sebagian besar dari perusahaan itu dan mendapat beberapa komisinya..." Ucap Nathan sambil menunjuk kearah perusahaan besar yang ada disebrang jalan.
Alicia melihat kearah yang ditunjuk oleh Nathan dan tidak percaya jika pria tersebut mampu untuk membeli sebagian saham dari perusahaan raksasa tersebut.
Melihat raut wajah Alicia yang tidak percaya, Nathan tersenyum tipis dan berkata, "Kedengarannya memang tidak masuk akal, tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya, dan aku tidak bisa mengatakan caranya..."
Mendengar perkataan dari Nathan, Alicia memicingkan matanya dan kecurigaan seketika membutakan wanita cantik tersebut.
Pandangan Alicia menurun dan wajahnya seketika menghitam. "Biar aku tebak, apa kamu memiliki hubungan khusus dengan wanita bernama Marsella yang membuatmu dapat mendapatkan sejumlah besar saham perusahaan nya?"
Nathan merasa bingung dengan ucapan Alicia dan ia segera membantahnya. "Hei, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Marsella tidak memiliki hubungan khusus sama sekali!"
Alicia tersenyum tipis dan berkata, "Huh, lalu kenapa wanita itu mau repot-repot menunggumu sewaktu kamu masih koma?"
"Aku juga tidak tahu, kalau kamu masih tidak percaya coba tanyakan langsung kepadanya!" Nathan berusaha menyangkal pemikiran Alicia yang sekarang merasa curiga tanpa sebab.
Melihat Alicia yang tidak bergeming sama sekali, Nathan menggelengkan kepalanya dan pergi dari sana sambil membawa kedua tas miliknya.
Nathan kemudian menghentikan sebuah taksi yang lewat dan langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia sengaja melakukan hal ini karena merasa percuma jika menjelaskan kepada Alicia yang masih berpikir negatif kepadanya.
Setelah Nathan pergi Alicia langsung menghubungi Marsella untuk meminta penjelasan yang sebenarnya dari wanita tersebut tentang hubungannya dengan Nathan.
*******
Disisi lain setibanya Nathan sampai di rumah ia langsung masuk kedalam kamarnya dan mengabaikan sambutan dari para pelayan.
Nathan kemudian menuju ruang bawah tanah untuk melanjutkan projek yang sebelumnya tertunda karena kekurangan bahan baku.
Berlian, Emas, dan Tungsten segera Nathan masukan kedalam wadah yang berbeda lalu ia kemudian menyalakan alat yang sebelumnya ia buat selamat tiga hari.
Alat yang sebelumnya Nathan buat merupakan sebuah printer 3D namun alat tersebut tidak seperti printer 3D pada umumnya dan memiliki fungsi lebih canggih lagi.
__ADS_1
"Estimasi waktu pembentukan masih akan berlangsung selama sepuluh jam tuan, sebaiknya anda istirahat untuk malam ini..." Ucap Echelon.
Nathan mengangguk karena saran yang diberikan oleh Echelon tidaklah salah, beberapa hari ini ia sangat jarang beristirahat dan hari ini dirinya merasa cukup setelah menghabiskan waktu seharian bersama Alicia.
Ia kemudian kembali kekamar dan sebelum tidur Nathan memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah mandi Nathan mangunci pintu kamarnya rapat-rapat dan mematikan lampu sebelum akhirnya tidur dengan hanya mengenakan celana pendek.
Saat tengah malam seseorang dengan diam-diam menyelinap ke rumah Nathan, dan masuk kedalam kamarnya dengan mudah seolah sistem keamanan disana tidaklah berarti sama sekali.
Penyusup tersebut kemudian masuk kedalam selimut dan berbaring menghadap kearah Nathan yang memunggunginya.
Saat penyusup tersebut menempelkan telapak tangannya dipunggung Nathan, pria tersebut seketika tersadar dari tidurnya.
"Apa kamu sudah bangun, aku ingin meminta maaf dengan kejadian yang sebelumnya terjadi..." Ucap penyusup tersebut yang tidak lain adalah Alicia.
Nathan yang menyadari bahwa orang dibelakangnya adalah Alicia, memutuskan untuk tidak bergeming sama sekali dan membiarkan wanita cantik tersebut.
"Maafkan aku... Aku mengaku salah karena tidak percaya dan mencurigaimu..." Ucap Alicia di tengah tangisannya.
Mengetahui Alicia yang menangis Nathan seketika panik, ia seketika mengingat perjanjian yang dibuat dengan Ivan dan akan sangat berbahaya jika membuat masalah dengannya.
Nathan sekali membalik badannya dan menyingkap selimut yang ia gunakan. Seketika ia melihat Alicia yang sedang menangis hingga terisak-isak.
Tanpa pikir panjang Nathan segera memeluk Alicia dan membelai rambutnya untuk menenangkan wanita cantik tersebut.
"Baik-baik sudah cukup, aku tidak mempermasalahkan nya dan berhentilah menangis..." Ucap Nathan sambil menicum rambut Alicia.
Beberapa menit kemudian Alicia sudah mulai tenang dan Nathan masih menepuk-nepuk punggung wanita cantik tersebut dengan lembut sambil memeluknya.
Alicia menyeka air matanya dan mendongak keatas untuk melihat wajah Nathan. "Aku minta maaf karena cemburu tanpa sebab kepadamu..." Ucap Nathan.
Nathan mengecup kening Alicia dan mendekap wajah wanita cantik tersebut kedalam pelukannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Hal ini membuat pipi Alicia memerah. Alicia kemudian menyembunyikan wajahnya dibalik dada Nathan yang membuatnya merasa nyaman.
Suasana hening seketika menyelimuti kamar Nathan, hanya ada suara AC yang terdengar lirih mengisi keheningan disana.
Namun keheningan seketika pecah saat Alicia tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Nathan.
"Kapan kamu akan menikahiku, ayahku sudah memberikan restu untuk hubungan kita..." Ucap Alicia sambil menatap wajah Nathan.
Seketika mata Nathan yang sebelumnya terpejam langsung terbuka lebar mendengar keinginan dari Alicia.
"Menikah? Tapi kamu tahu kan kita berdua masih terlau muda dan masih ada banyak hal yang ingin aku lakukan sebelum itu..." Balas Nathan.
Raut wajah penuh harap dari Alicia berubah seketika menjadi datar. "Kalau begitu berikan aku seorang anak!" Pinta Alicia.
"Anak? Ini jauh lebih besar dari permintaan mu sebelumnya. Kita ini masih muda dan jika memiliki seorang anak aku ragu kamu dapat merawat nya..." Balas Nathan.
Alicia berdecih kesal namun ia sadar apa yang dikatakan oleh Nathan ada benarnya. "Baiklah yang ini tidak terlalu sulit, coba katakan bahwa kamu mencintaiku sekali saja. Kamu belum pernah mengatakan nya sama sekali kepadaku!"
Apa yang dikatakn oleh Alicia kedengarannya memang tidak sulit, tetapi ego Nathan untuk mengatakan hal tersebut sangat membuatnya merasa malu.
"我爱你..." Ucap Nathan dengan lirih sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat malu dan geli.
Mendengar perkataan dari Nathan barusan Alicia tidak mengerti karena bahasa yang pria tersebut gunakan merupakan bahasa China.
"Wo ai ni? Apa artinya?" Tanya Alicia dengan heran.
"Cari tahu sendiri, aku tidak ingin membahasnya lagi..." Balas Nathan dengan ketus dan menolak untuk mengatakan nya lagi.
"Katakan dalam bahasa Indonesia atau Inggris agar aku bisa mengerti. Ayolah, sekali saja!" Alicia merengek sambil menggoyangkan tubuh Nathan.
Nathan tidak menggubris rengekan Alicia dan justru menutup seluruh tubuh wanita tersebut tanpa menyisakan rambut sehelai pun dibalik selimut.
Alicia yang diperlakukan seperti itu oleh Nathan terus memberontak dan pada akhirnya ia lelah lalu tertidur pulas dibalik selimut yang disusul oleh Nathan.
__ADS_1