
Di halte bus Nathan sekarang berteduh karena hujan lebat yang tiba-tiba saja turun. Hanya ada Nathan sendirian di halte bus dan tidak ada orang lain selain dirinya.
"Kenapa aku tidak memakai mobilnya Emilia saja..." Gumama Nathan sambil menggosok tubuhnya yang mulai kedinginan saat menunggu bus yang tidak kunjung tiba.
Saat sedang menunggu bus atau taksi yang lewat, sebuah mobil polisi tiba-tiba menepi kearahnya yang membuat Nathan sendiri merasa heran dan merasa kalau dirinya tidak memiliki kesalahan apapun.
Namun saat kaca mobil dibuka Nathan akhirnya melihat seorang polisi wanita cantik yang ia kenal dan dia adalah Vivian. Melihat kalau itu adalah Vivian, Nathan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Apa kamu butuh tumpangan?" Tanya Vivian dari dalam mobil sambil menawarkan tumpangan kepada Nathan.
Nathan memilih untuk diam dan seolah tidak melihat serta mendengar suara Vivian. Ini dia lakukan karena masih ingat kalau wanita itu sendiri yang bilang tidak mau melihat dirinya lagi waktu itu.
Merasa diacuhkan oleh Nathan, Vivian kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Nathan. Beberapa kali Vivian mencoba agar merespon dirinya tetapi hal itu percuma saja karena Nathan tetap saja masih acuh kepadanya.
Karena kesal akhirnya Vivian menyudutkan Nathan dan menahan pergerakan nya dengan satu tangan. "Hei, apa kamu tidak mendengarkan ku!?" Tanya Vivian.
"Seseorang pernah berkata kepadaku untuk tidak bertemu dan berbicara lagi dengan mu..." Balas Nathan sambil mengalihkan pandangan kearah lain.
Untuk sejenak Vivian memikirkan kembali perkataan Nathan sampai akhirnya dia ingat kalau pernah mengusir Nathan di apartemennya beberapa waktu lalu.
"Baiklah aku minta maaf... Aku yang salah karena mengatakan hal kasar kepadamu..." Ucap Vivian sambil menundukkan wajahnya.
Nathan mengangkat sebelah alisnya saat melihat Vivian yang tiba-tiba menjadi murung. "Tidak perlu minta maaf, justru akulah yang harusnya meminta maaf karena tanpa sopan mencampuri urusan pribadi mu..."
"Tidak, justru karena perkataanmu waktu itu aku memberanikan diri untuk pulang dan dapat membuat orang tuaku mengerti. Sekarang hubungan kami sudah membaik, dan aku sekarang bebas memilih tujuan hidupku sendiri..." Ucap Vivian sambil tersenyum.
Mendengarnya membuat Nathan menjadi sedikit senang dan tanpa sadar tersenyum, ya itu adalah senyuman tulus dari Nathan yang sudah lama hilang dan tidak pernah ia tunjukkan lagi kepada siapapun.
Nathan mengacak-acak rambut Vivian dan dengan santai kemudian masuk kedalam mobil patroli yang dibawa oleh polisi cantik tersebut.
"Ayo, kenapa kamu melamun saja disana?" Tanya Nathan yang sudah duduk didalam mobil.
__ADS_1
Dengan perasaan senang Vivian kemudian masuk kedalam mobil dan mengemudikan nya kerumah Nathan meninggalkan halte bus.
Tetapi karena curah hujan yang sangat lebat dan berkabut membuat jarak pandangan Vivian hanya sepuluh meter saja. "Aku tidak bisa melihat jalan dan akan sangat berbahaya kalau melanjutkan nya. Apa kamu mau mampir dulu ke tempatku sambil menunggu hujannya reda?" Tanya Vivian.
"Baiklah, tidak masalah..." Balas Nathan santai sambil memejamkan matanya di kursi yang ada disamping Vivian.
Pada akhirnya Vivian membawa Nathan ke apartemen miliknya untuk kedua kali dan setelah sampai mereka berdua langsung masuk kedalam sambil menunggu hujan reda.
Saat sampai didalam Nathan langsung melepaskan jasnya yang sedikit basah dan meletakkan sepatunya dirak dekat pintu masuk.
"Berikan jasmu, aku akan mencucinya..." Ucap Vivian yang membuat Nathan memberikan jasnya yang basah untuk dicucui sebab merasa hujan akan berlangsung cukup lama.
"Terimakasih..." Balas Nathan sebelum disuruh oleh Vivian menunggu diruang tengah.
Nathan kemudian duduk disofa dan merenggangkan tubuhnya yang pegal sambil memperhatikan tempat tinggal Vivian yang cukup bersih meski tinggal sendirian.
Karena bosa akhirnya Nathan konsol game yang ia lihat didepannya dan tanpa permisi mulai memainkan game sepak bola sambil menunggu Vivian datang.
Tetapi seketika akal sehat Vivian kembali dan ia langsung saja memasukkan jas milik Nathan kedalam mesin cuci. "Apa yang sedang kamu lakukan dasar gila!?" Gumam Vivian yang kesal terhadap naluri wanita nya.
Setelah selesai mencuci dan meletakkan jas Nathan di gantungan, Vivian kemudian keluar dari kamar mandi dan melihat Nathan yang sedang memainkan Play Station 5 miliknya.
Vivian tersenyum tipis dan membiarkan Nathan bermain. Ia lalu mengambil beberapa minuman kaleng dari kulkas sebelum menghampiri Nathan.
Sambil minum Vivian dengan sengaja menempelkan minuman kaleng ke pipi Nathan dan membuat pria yang tengah fokus itu menjadi kaget.
Nathan lalu menerima minuman yang diberikan oleh Vivian, tetapi saat ia melihat layar TV gawangnya sudah kebobolan satu poin dari lawannya.
"Ah sial, ini gara-gara kamu!" Ucap Nathan dengan kesal sambil keluar dari pertandingan menuju menu utama untuk mengulangi lagi permainan nya.
Vivian yang melihat Nathan kesal hanya bisa tertawa lalu duduk di sebelahnya dan mengambil stick lainnya untuk bermain dengan Nathan.
__ADS_1
"Hoh... Apa kamu berani bermain denganku?" Tanya Nathan yang menyindir Vivian saat wanita itu hendak bermain dengannya, karena jika urusan game ia tidak akan menahan diri.
"Tentu saja, apa yang perlu ditakutkan dari bayi sepertimu..." Balas Vivian sambil tersenyum sini kearah Nathan.
Nathan berdecih kesal dan mulai mengatur permainan untuk mereka berdua. "Jangan menyesalinya..." Ucap Nathan.
Permainan demi permainan mereka lakukan dan yang kalah akan disuruh minum minuman kaleng hingga tanpa sadar mereka sudah bermain lebih dari lima jam.
Pada akhirnya sudah jelas pemenangnya adalah Vivian dimana ia unggul empat permainan dari Nathan yang membuat pria tersebut menjadi kesal.
Hal yang tidak teduga terjadi saaat Vivian tiba-tiba akan ambruk kebelakang dan untungnya Nathan dengan sigap menangkapnya.
"Lepaskan aku atau aku akan memberimu sebuah pelajaran yang belum pernah dirasakan oleh orang lain!" Ucap Vivian yang terlihat mabuk.
Nathan yang merasa ada hal salah kemudian melihat botol kaleng minuman mereka dan menemukan kalo itu mengandung dua puluh persen alkohol.
"Hei, sadarlah. Kamu kelihatan aneh kalau sedang mabuk!" Kata Nathan sambil mencoba menyadarkan Vivian yang jelas akan percuma saja.
Vivian seketika menarik kerah baju Nathan dan menatap pria itu dengan kesal sambil mabuk. "Siapa yang kelihatan aneh hah? Cepat lepaskan aku sekarang!" Ucap Vivian.
Jelas Nathan tidak melepaskan tubuh Vivian yang hampir jatuh dan hal itu membuat wanita cantik tersebut mencium bibirnya dalam-dalam.
Nathan yang dicium oleh Vivian jelas kaget dan langsung menjauhkan wajah, namun hal itu percuma saat Vivian melingkarkan kedua tangan dilehernya dan kembali menciumnya.
Disini Nathan perlahan mulai terbawa suasana dan membalas ciuman Vivian sebelum ia kembali sadar dan melepaskan ciuman mereka berdua.
"Berhentilah bersikap seolah tidak ingin. Kamu sudah membalas ciuman ku lebih dalam..." Kata Vivian yang mulai sedikit mendapatkan kesadarannya kembali.
"Hentikan, kamu sedang mabuk..." Balas Nathan sambil mencoba menjauhkan diri dari Vivian tetapi wanita cantik tersebut langsung mendorongnya kebelakang hingga membuat mereka jatuh keatas karpet.
Raut wajah Vivian kini benar-benar sudah memerah dan matanya kini sudah berkaca-kaca. "Aku minta maaf karena waktu itu sudah mengusirmu. Sejak hari itu aku selalu merasa bersalah dan selalu memikirkan tentangmu. Aku mencintaimu, Nathan..."
__ADS_1
"Hentikan Vivian, sikap dan perkataanmu jadi sangat aneh saat sedang mabuk..." Ucap Nathan yang sebenarnya cukup terkejut saat mendengar pernyataan dari Vivian.