Echelon System

Echelon System
Terdampar


__ADS_3

Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dari Echelon, daya dorong pada pakaian yang dikenakan Nathan hilang dan membuat pria itu terhempas ke bawah dengan cepat.


"Hei-hei! Apa yang terjadi, Echelon!" Teriak Nathan yang panik akibat sekarang tubuhnya jatuh dengan kecepatan tinggi.


Seperti mesin yang mengalami masalah, jet pendorong kadang mati dan menyala yang diakibatkan keterbatasan energinya. Hal ini karena Echelon sudah memulai pengisian daya untuk Time Stone dan membuat armor Nathan hanya menerima sangat sedikit energi.


Boommm!!!


Seperti sebuah kaleng rongsokan Nathan jatuh dan terpelanting di sebuah pulau tak berpenghuni, sebelum pada akhirnya berhenti usai armor yang menutupi seluruh anggota tubuhnya tercerai-berai menjadi jutaan partikel kecil, dan berubah menjadi jam tangan lagi.


"Uhuk-uhuk! Aku membencimu Echelon!" Ucap Nathan sambil mengibaskan tangannya untuk menyingkirkan debu disekelilingnya.


"Hei, kenapa kamu diam saja?" Nathan merasa janggal dengan Echelon yang tidak menjawab perkataan nya dan setelah dicek kembali ia menemukan bahwa jam tangannya kini sudah mati.


Nathan menghela nafasnya mengetahui jika Echelon sudah mulai melakukan proses pengisian daya Time Stone dan membuat jam tangannya mati total.


"Bagus, sepertinya kau membuatku terdampar di pulau kecil yang ada di tengah laut. Echelon..." Urat didahi Nathan muncul karena merasa geram dengan kelakuan sistemnya tersebut.


Sejauh mata memandang Nathan hanya menemukan hamparan air laut tak berujung dan mendapati hanya ada dirinya sendiri di pulau tersebut.


"Ini seperti pulau yang ada di kartun Spongebob..." Nathan tersenyum tipis dan melemparkan batu kerikil ke laut kemudian duduk bersandar di bawah pohon kelapa.


Nathan terlihat sangat santai dan menganggap bahwa semua ini seperti kamping berbeda dengan orang-orang yang pasti akan panik jika terdampar di sebuah pulau kecil.


Untuk mengisi waktu menunggu sampai dia dapat menggunakan armor nya lagi, Nathan mencari ikan yang terjebak di antara karang serta kepiting untuk dijadikan makan malam.


Dengan alat seadanya Nathan mulai membuat perapian dan membakar ikan serta kepiting yang dia tangkap sebelumnya sambil meminum air kelapa.


"Jangan merasa panik meski sedang menghadapi hal yang sulit, jalani saja hidup seperti Larry..." Gumam Nathan tanpa beban sama sekali.


Beberapa waktu kemudian setelah menghabiskan makanan nya, Nathan membaringkan tubuhnya dan menatap kearah langit yang dipenuhi oleh hamparan bintang.


"Echelon, apa kamu masih hidup. Aku ingin bertanya kepadamu..." Ucap Nathan sambil memainkan tangannya seolah-olah meraih bintang dilangit.


"Iya tuan, silahkan saja bertanya. Saya akan menjawabnya sebisa mungkin..." Balas Echelon.

__ADS_1


"Dari sebuah kecerdasan buatan seperti kau, menurut mu manusia itu seperti apa?" Tanya Nathan.


"Ada banyak hal yang bisa dikatakan tentang manusia. Mereka adalah makhluk yang tidak memiliki ideologi tetap dan suka berubah-ubah.


Terkadang bisa baik namun juga bisa jahat tergantung dengan kondisi hati mereka. Masih banyak lagi sifat manusia dan akan sangat panjang untuk menjelaskannya..." Ucap Echelon.


"Bagaimana denganku?" Nathan bertanya.


"Penipu ulung..." Balas Echelon.


Sudut bibir Nathan berkedut mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Echelon. "Siapa yang kau panggil penipu ulung. Aku bukan seorang penipu!"


"Tentu saja Anda. Semua yang selalu Anda katakan, sikap, dan ekspresi yang Anda keluarkan merupakan sebuah kebohongan." Balas Echelon.


Nathan seketika terdiam dan membuktikan bahwa yang dikatakan oleh Echelon tentangnya merupakan sebuah kebenaran.


"Bagaimana kau mengetahuinya?" Tanya Nathan sambil tersenyum tipis.


"Cukup mudah hanya dari mimik wajah dan detak jantung Anda, saya dapat mengetahuinya. Bahkan saat tersenyum pun sebenarnya Anda hanya berpura-pura saja, saya mengetahuinya..." Ucap Echelon.


"Untuk seorang manusia Anda terlihat seolah tidak memiliki jiwa dan gairah, seperti sebuah tong kosong..." Sambung nya.


Dulu aku tinggal di panti asuhan saat berumur sepuluh tahun dan tidak memiliki ingatan apa-apa disaat aku belum berusia sepuluh tahun.


Saat memasuki bangku SMA tiba-tiba ada sepasang suami istri yang mengaku bahawa mereka orang tuaku. Aku kemudian dibawa ke Amerika dan diperkenalkan dengan semua kerabat ku.


Sejujurnya aku masih bingung, kenapa waktu itu aku dititipkan ke panti asuhan dan bertanya-tanya alasan mereka menitipkan ku disana..." Ucap Nathan.


Echelon hanya diam mendengarkan cerita tentang tuan nya tersebut dan tidak tahu harus berkata-kata apa lagi.


Nathan menertawakan dirinya sendiri yang mengatakan semua hal dibenaknya selama ini, kepada sebuah kecerdasan buatan yang sama sekali tidak memiliki perasaan.


*******


Ditempat lain setelah berhasil menolong Harry, Emilia terlihat mencari keberadaan Nathan yang sama sekali tidak terlihat setelah pertempuran berakhir.

__ADS_1


"Kemana perginya pria itu?" Emilia bertanya-tanya dan terlihat sangat antusias saat mencari keberadaan Nathan.


Meski masih merasa kesal kepada Nathan setelah pria itu membuat keributan, Emilia hanya ingin memata-matai pria tersebut secara sembunyi-sembunyi.


Setelah mencari kekamar Nathan dan Harry dia tidak kunjung menemukan nya. "Apa dia sedang ada dikantin. Ya, mungkin saja..."


Begitu sampai dikantin Emilia juga tidak menemukan keberadaan Nathan. Kehadiran nya dikantin justru membuat para marinir yang tengah makan melirik kearahnya diam-diam dan merasa waspada.


Pernah sekali ada marinir yang tengah mabuk menggoda Emilia dan alhasil marinir tersebut dimasukkan kedalam ruang isolasi tanpa cahaya selama 1 minggu.


Hal inilah yang membuat para marinir merasa waspada, meskipun penampilan Emilia sangat menggoda iman mereka para marinir tidak mau menjadi gila karena hal konyol.


Lebih baik mengangguminya diam-diam dari pada harus berurusan dengan ayahnya yang tidak akan main-main kepada pria yang berani menggoda putrinya.


Raut wajah Emilia tampak menjadi lesu dan menghampiri Kevin serta Robby yang tengah makan sambil membicarakan sesuatu.


"Hei, kalian berdua temannya Nathan bukan?" Tanya Emilia.


Kevin dan Robby yang melihat kedatangan Emilia langsung merapihkan rambut serta pakaian mereka masing-masing.


"Iya benar, memangnya ada apa dokter?" Ucap Kevin.


"Begini, aku memiliki urusan dengan pria itu dan sampai sekarang belum juga menemukannya dimana pun. Apa kalian mengetahui keberadaan nya?" Ucap Emilia.


Raut wajah Kevin dan Robby tampak menjadi lesu usai Emilia menanyakan tentang Nathan. Hal ini jelas membuat wanita itu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi disana.


"Kenapa dengan raut wajah kalian. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ucap Emilia.


"Maaf mungkin dokter tidak bertemu dengannya lagi begitupun kami. Nathan sudah dinyatakan gugur setelah mencoba menghentikan pesawat musuh yang ingin menabrakan diri ke kapal ini..." Balas Robby dengan enggan.


Tatapan mata Emilia seketika menjadi kosong. Ia mencoba mencerna kembali apa yang telah disampaikan oleh Robby, dimana hal itu membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


"Apa kalian sedang bercanda, ini bukan April mop jadi jangan berbohong kepadaku!" Emilia tersenyum tanpa ekspresi.


"Untuk apa kami bercanda. Dia memang telah gugur dan jika tidak percaya, dokter bisa menanyakan langsung kepada Admiral..." Ucap Kevin.

__ADS_1


"Memangnya ada perlu apa dokter mencari Nathan?" Tanya Robby.


Emilia tidak menjawabnya dan bergegas pergi menuju tempat Admiral Frank berada yang membuat Kevin serta Robby merasa bingung dengan sikap wanita itu.


__ADS_2