
Beberapa prajurit kemudian keluar dari dalam kapal selam dan menodongkan senjata mereka kearah Nathan. Terlihat seorang pria yang tampaknya Kapten kapal selam tersebut muncul dan menatap kearah Nathan dengan kesal sebab melihat bagaimana pria itu tadi membunuh salah satu prajuritnya.
Saat Kapten tersebut ingin berbicara kepada Nathan, salah satu bawahan nya yang mengingat cerita tentang sosok tersebut langsung berbisik kepadanya dengan raut wajah ketakutan.
Mendengar bisikan dari anak buahnya, raut wajah Kapten tersebut seketika berubah menjadi ramah meski sangat terpaksa.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Kapten tersebut sambil tersenyum ramah kearah Nathan.
"Bukankah kamu sudah mengetahuinya. Pertama kamu menenggelamkan kapal dagang dan kedua kamu juga ingin melakukan hal yang sama kekapalku..." Balas Nathan sambil mengumpulkan energi pada droen miliknya.
Belum sempat melakukan pembelaan, Kapten dan para anak buahnya seketika harus menjadi butiran debu setelah ditembak oleh Nathan menggunakan laser drone.
Tak cukup sampai disitu saja, Nathan kemudian masuk kedalam kapal selam dan mulai melakukan pembersihan dengan menjadikan seluruh prajurit disana abu.
Ketika pembersihan telah selesai Nathan menghampiri ruangan tempat dimana lima belas orang yang berasal dari kapal dagang sebelumnya berada.
Begitu dibuka Nathan melihat Kapten dan kru kapal dagang sedang berdesak-desakan diruangan yang sangat sempit itu.
"Keluarlah, kalian bebas sekarang..." Ucap Nathan.
Awalnya para tawanan tersebut yang melihat kehadiran sosok hitam besi merasa ketakutan, namun setelah Nathan membuka helmnya mereka menjadi sedikit lega karena mengetahui sosok itu ternyata juga orang barat seperti mereka.
"Kalian bisa mengoperasikan kapal selam ini bukan?" Tanya Nathan memastikan.
"Iya kami sedikit mengerti bahasa Jepang, sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menolongku dan juga kru kapalku!" Balas Kapten tersebut.
Nathan mengangguk dan menggunakan kembali helmnya. "Baguslah, kalian bisa kembali menggunakan kapal selam ini. Sampai jumpa..." Ucap Nathan sebelum melenggang pergi meninggalkan mereka.
Setelah keluar dan pergi dari kapal selam Nathan lalu terbang kembali menemui rekan-rekannya dikapal phinisi yang tidak jauh dari lokasinya.
Setibanya disana Nathan langsung melihat Harry, Kevin, dan Robby yang menatap kearahnya dengan tatapan mata bergetar akibat melihat kejadian yang baru saja terjadi disana.
Tidak hanya para pria saja yang ketakutan melainkan para wanita juga tetapi tidak dengan Emilia yang justru terlihat biasa-biasa saja dan malah senang melihat pembunuhan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Kenapa kalian menatapku seperti itu, aku tidak akan menggigit kalian..." Ucap Nathan sambil menyimpan kembali pakaian tempurnya dan berjalan kearah ayunan gantung nya.
"Ya kamu memang tidak menggigit tapi langsung menjadikan kami abu!" Sahut Kevin yang membuat Nathan tertawa lepas.
"Santai saja aku tidak akan melakukannya. Lebih baik kita kembali bekerja..." Nathan menggelengkan kepalanya dan tiduran diatas ayunan.
"Sudah aku duga orang didalam pakaian besi itu kamu dan apa maksudmu kembali bekerja sementara dari awal kamu hanya tiduran saja, sialan!" Ucap Harry.
"Hei, kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Aku akan bekerja kalau sudah sampai nanti..." Balas Nathan dengan malas.
Mereka semua yang ada disana kemudian bubar melanjutkan kegiatan masing-masing sebelumnya dan meninggalkan Nathan serta Harry saja disana.
"Apa kamu yakin ini semua aman, Nathan? Kapal kita akan sangat mudah ditemukan kalau tetap menuju kesana." Tanya Harry.
Nathan mengeluarkan sebuah kelereng dari sakunya lalu melemparnya keatas dan beberapa saat kemudian memancarkan lapisan tipis yang mengelilingi kapal.
Harry yang melihat fenomena tersebut jelas merasa penasaran. "Apa yang baru saja kamu lempar tadi?" Tanya Harry.
"Hanya pelindung saja agar orang lain tidak bisa melihat kapal ini dari luar. Sudahlah jangan dipikirkan, aku mau masuk dulu. Udara disini sangat dingin untuk tidur..." Ucap Nathan sambil menguap dan melenggang pergi masuk kedalam meninggalkan Harry disana.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Nathan dengan mata yang sudah tertutup.
"Tidak ada. Bisa kamu tunjukkan lagi benda-benda yang melayang disekitar mu tadi, Nathan?" Ucap Emilia dengan penuh harap.
"Besok saja, aku ngantuk..." Balas Nathan singkat.
Emilia berdecih kesal dan niat jahatnya muncul ketika Nathan mulai tertidur. Diam-diam karena penasaran Emilia melepas jam tangan milik Nathan.
Sekilas awalnya Emilia mengira tidak ada hal yang aneh pada jam tangan tersebut, namun ketika mencoba memakainya ratusan jarum kecil langsung menusuk tangannya.
Aliran listrik kemudian mulai menyambar Emilia setelah Jam tangan tersebut mendeteksi kalau yang menggunakannya bukanlah Nathan melainkan orang lain.
Darah seketika keluar dari luka tusukan di lengan Emilia dan wanita itu merintih kesakitan saat lengannya mulai disetrum.
__ADS_1
Nathan yang mendengar rintihan Emilia langsung bangun dan melihat wanita cantik itu tengah kesakitan sambil memegang lengan.
Tanpa berpikir lama Nathan langsung melepaskan jam tangan itu dari lengan Emilia dan memakainya hingga membuat wanita dapat sedikit bernapas lega.
Lengan Emilia sedikit membiru dan perlahan lukanya mulai menghilang tetapi rasa sakit masih dapat jelas ia rasakan.
Tetapi jantung Emilia kembali berdetak kencang saat mendapati Nathan yang terlihat memasang wajah marah tengah menatap kesal dirinya.
"Aku sudah memberitahumu puluhan kali agar tidak menyentuh jam tangan ku, tetapi sekarang kamu bahkan memakainya!" Ucap Nathan dengan nada tinggi.
Emilia yang dibentak oleh Nathan seketika menciut dan tidak berani untuk menatap langsung mata pria itu, karena merasa sangat ketakutan apa bila Nathan marah kepadanya.
"Aku cuma mau melihat benda terbang itu saja..." Ucap Emilia dengan lirih sambil menundukkan wajahnya kebawah.
"Kan aku sudah bilang kalau besok. Kenapa kamu tida sedikit saja bersabar. Apa kamu tidak lihat jika saja aku membiarkan mu menggunakan jam ini sudah pasti kamu akan mati sekarang!" Kata Nathan sambil menunjuk Emilia.
"Aku minta maaf..." Ucap Emilia.
"Sekarang aku mau kamu berdiri di pojok sana dan renungkan perbuatan mu!" Perintah Nathan sambil menunjuk kearah sudut ruangan.
Tanpa banyak bicara Emilia langsung menuruti perintah Nathan karena sadar dengan perbuatan yang baru saja ia lakukan.
Emilia tidak berani menolak saat ini sebab ia baru pertama kalinya melihat Nathan marah apalagi kepadanya sampai membuatnya ketakutan apabila pria itu membencinya.
Nathan menghela nafas panjang dan melihat kalau tadi racun yang ada dalam sistem perlindungan jam tangan nya sudah hampir di suntikan ke lengan Emilia.
Dengan menekan satu tombol Nathan berhasil mengatasi hal itu dan melihat kearah Emilia yang diam-diam menangis dipojokan.
"Kemarilah..." Ucap Nathan.
Emilia menyeka air matanya dan perlahan berjalan mendekat kearah Nathan tanpa berani untuk melihat mata pria itu.
Nathan menghela nafas panjang dan menarik Emilia lalu mendekap nya sambil berbaring dikasur. "Maaf sudah membentakmu, tapi bisakah lain kali tidak melakukan hal bodoh. Aku benci mengkhawatirkan seseorang, kamu tahu itu..."
__ADS_1
Emilia mengangguk didalam dekapan Nathan. "Baik, aku mengerti. Aku minta maaf..."