Echelon System

Echelon System
Liu Yifei


__ADS_3

Dengan diam-diam dan juga hati-hati Nathan, Harry, Kevin, Robby, Emilia, serta Amanda berjalan mengikuti rombongan pasukan Jepang yang membawa tawanan menuju kamp dari belakang.


Mereka berenam mencoba sebisa mungkin tidak mengeluarkan sedikitpun supaya tak diketahui oleh tentara Jepang yang mengawal para tahanan.


Setelah satu jam mengikuti akhirnya mereka sampai di sebuah kamp kerja paksa milik pihak Jepang dan keenamnya memutuskan untuk tetap bersembunyi terlebih dahulu.


Nathan mengeluarkan peta dari dalam sakunya dan melihat bahwa secara kebetulan kamp tersebut adalah tempat yang mereka sedang cari untuk menemui Jenderal Yamashita.


"Ubah rencananya, kita akan membakar kamp itu malam ini juga..." Ucap Nathan dengan santainya yang membuat semua rekannya menjadi kebingungan.


"Hah? Apa yang kamu maksud. Bukannya kamu sendiri yang mengatakan untuk tidak bertindak gegabah, sekarang malah ingin membakar tempat ini." Balas Kevin.


Nathan langsung memberikan peta ditangannya kepada Kevin agar pria itu dan juga yang lainnya dapat mengetahui bahwa kamp tersebut lah tujuan mereka saat ini.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Robby yang baru saja menyadari bahwa mereka saat ini sudah sampai ditempat yang dimaksud dalam peta.


Mengabaikan pertanyaan dari Robby kepadanya, Nathan mengeluarkan salah satu drone miliknya untuk melihat kondisi terlebih dahulu didalam kamp tersebut.


Layar hologram diatas jam tangan milik Nathan dan membuat mereka semua yang ada p bisa melihat kondisi kamp dari atas langit.


Harry, Kevin, Robby, Emilia, dan Amanda yang melihatnya tentu merasa penasaran dengan teknologi milik Nathan.


Bahkan saking penasarannya salah satu dari mereka yaitu Kevin mencoba untuk menyentuh hologram yang melayang diatas jam tangan milik Nathan, namun jelas ia tidak dapat menyentuhnya seolah tembus.


"Bagaimana gambar ini bisa melayang seperti ini dan tidak bisa disentuh?" Tanya Kevin sambil berusaha menyentuh layar hologram tersebut.


Nathan menepuk tangan milik Kevin yang mengganggu pandangannya dari layar hologram dan melirik pria tersebut.


"Orang-orang seperti kalian tidak akan mengerti meski dijelaskan ribuan kali, berhentilah mengacau, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas..." Ucap Nathan yang membuat Kevin berdecih kesal.

__ADS_1


Tak hanya Kevin saja yang merasa tersinggung dengan perkataan Nathan, melainkan mereka semua yang ada disana bahkan Emilia juga.


"Jadi apa maksud mu aku bodoh?" Tanya Emilia dengan kesal sambil mencubit bahkan memelintir pinggang Nathan.


"Bukan seperti itu..." Balas Nathan sambil mengelus pinggangnya yang terasa perih.


Nathan kemudian menyimpan kembali drone nya dan juga menutup layar hologram. "Ada lima ratus tentara Jepang disana dan tujuh ratus tahanan. Kita akan mengurusnya jam dua pagi nanti..."


Semua orang disana mengangguk dan setuju dengan usulan yang diberikan oleh Nathan. Selain akan membebaskan semua tawanan perang tersebut, mereka juga akan mencari pemimpin di kamp tersebut yaitu Jenderal Yamashita.


Meski tampaknya sulit untuk 6 orang saja melakukan tindakan berbahaya tersebut, namun mereka percaya dengan adanya Nathan semuanya akan jauh lebih mudah.


Sambil menunggu waktu yang telah ditentukan, mereka berenam mulai membahas tentang cara melepaskan para tahanan yang mungkin mereka selamat kan.


Dari diskusi yang berjalan diputuskan bahwa Nathan akan menjadi umpan sementara lima orang lainnya akan menyelinap untuk melepaskan para tawanan.


"Nathan, katamu kamu berasal dari masa depan. Apa kamu bisa menceritakan bagaimana perang ini nantinya akan berakhir?" Tanya Harry dan membuat semua orang disana juga ikut penasaran.


Mendengar angka kematian paska perang yang dikatakan oleh Nathan, seketika membuat nafas mereka yang mendengarnya sedikit sesak.


"Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk sekedar hanya mengurangi jumlah korban nya. Dengan alat yang kamu miliki aku yakin kamu pasti bisa melakukannya..." Ucap Robby yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nathan.


"Itu sudah menjadi takdir dan aku tidak mau merubahnya. Memangnya siapa aku berani untuk merubah takdir..." Balas Nathan sambil tersenyum tipis.


Usai mengatakan hal tersebut Nathan kemudian pergi untuk buang air kecil didekat sungai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.


Saat sedang buang air kecil tak sengaja Nathan melihat ada dua orang prajurit Jepang yang membawa seorang gadis kecil berusia sembilan tahun ketepi sungai.


Awalnya Nathan mengira kedua prajurit tersebut tidak akan melakukan hal apapun kepada gadis kecil tersebut dan membiarkan nya pergi.

__ADS_1


Tetapi ia salah, kedua prajurit tersebut dengan paksa tiba-tiba menarik pakaian gadis kecil tersebut dan jelas itu bukan hal baik yang akan terjadi.


Melihat dua penjahat kelamin ingin melecehkan seorang gadis kecil yang masih sangat dibawah umur, Nathan langsung mengeluarkan pistol yang ada dipinggang nya dan melepaskan dua tembakan kearah dua prajurit Jepang tersebut.


Karena pistol milik Nathan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, alhasil kedua prajurit Jepang tersebut tidak tahu bahwa ada yang menyerang mereka dan keduanya langsung mendapat luka dibagian leher.


Dua prajurit Jepang tersebut seketika tertunduk ditanah sambil memegangi leher mereka yang terus mengucurkan darah. Ia berteriak tetapi itu percuma sebab pita suara mereka telah rusak.


Mereka cukup beruntung karena tidak mati, tetapi saat hendak mengambil senjata mereka yang terjatuh beberapa tembakan langsung mengenai kaki dan tangan kedua prajurit tersebut.


Gadis kecil yang melihat kejadian tersebut tentu saja kaget dan takut, namun di sisi lain ia merasa senang karena ada orang yang diam-diam menolongnya.


Dari balik kegelapan Nathan muncul dan berjalan mendekat yang membuat dua prajurit tersebut menatapnya dengan kesal karena menyerang mereka diam-diam.


Ingin rasanya mereka melawan, tetapi dengan kondisi tubuh mereka yang sekarang bahkan hanya untuk berjalan saja tidak bisa.


Ketika sudah mendekat Nathan langsung menembak ******** dua prajurit tersebut yang membuat mereka berteriak namun suara yang dapat didengar hanya serak akibat darah di kerongkongan mereka.


Tidak cukup dengan menembak ******** mereka, Nathan dengan brutalnya menumbuk kepala kedua prajurit tersebut menggunakan batu besar hingga tewas.


Setelah selesai menghabisi nyawa kedua penjahat kelamin yang ingin melakukan aksi mereka, Nathan lalu menoleh kearah gadis kecil yang kini tampaknya sedang ketakutan terhadapnya.


"Siapa namamu?" Tanya Nathan sambil membersihkan noda darah yang ada di tubuhnya ditepi sungai tanpa melirik kearah gadis kecil tersebut.


Gadis kecil yang ditanyai nama oleh Nathan tidak menjawab apapun karena terkendala bahasa. Jika dilihat gadis kecil tersebut bukan merupakan orang Filipina melainkan berasal dari China.


Mengetahui kalau gadis kecil tersebut tidak tahu bahasa Inggris dan nampaknya masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi, Nathan kemudian menghampiri nya dan memberi gadis kecil tersebut sebatang coklat.


Dengan ragu-ragu gadis kecil tersebut menerima coklat pemberian Nathan dan memakannya karena merasa lapar usai tak makan selama dua hari.

__ADS_1


Nathan kemudian berjongkok dihadapan gadis kecil tersebut. "Nathan..." Ucapnya memperkenalkan diri.


Mengetahui kalau pria dewasa di hadapan tidak memiliki niat buruk kepadanya, gadis kecil tersebut kemudian buka suara. "Liu Yifei..."


__ADS_2