Echelon System

Echelon System
Rencana Pelayaran Ke Filipina


__ADS_3

Sampai pada akhirnya Kevin melihat tebing tinggi yang ada didekat mereka dan berniat menggunakannya untuk menantang Nathan.


"Okey aku memang tidak terlalu baik dalam berselancar, tetapi apa kamu berani untuk melompat dari atas sana Nathan. Kalian berdua juga Harry, Robby!" Tantang Kevin dengan senyuman percaya diri.


Nathan, Harry, dan Robby kemudian menengok kearah tebing tinggi yang ada didekat mereka dimana jika jatuh dari atas sana maka akan langsung ke air laut, tetapi hal ini cukup berbahaya karena ada bebatuan di bawahnya.


"Apa kamu bercanda, kita sudah sering melompat dari tebing seperti itu waktu kecil. Tentu saja aku menerimanya, bagaimana dengan kalian?" Ucap Harry yang langsung diangguki oleh Nathan dan Robby dengan senang hati.


Setelah membuat kesepakatan keempat pria itu kemudian mencari jalan untuk naik keatas tebing dan meninggalkan para wanita yang sepertinya akan menghabiskan waktu bersama.


Begitu naik dan berdiri diatas tebing setinggi 40 meter, Kevin merasakan lututnya menjadi lemas saat berada diketinggian seperti itu belum lagi ditambah dengan deburan ombak yang menghantam tebing tersebut dengan keras dibawah.


"Apa kamu tidak ingin turun lagi saja kebawah Kevin? Lihatlah lututmu yang bergetar seperti itu!" Ejek Robby sambil tertawa terbahak-bahak saat melihat lutut Kevin yang bergetar akibat ketakutan.


"Huh, mana ada! Aku bisa melakukannya, lihat saja!" Balas Kevin dengan geram sambil melangkah menuju ujung tebing dan bersiap-siap untuk melompat.


Tetapi Kevin tampaknya tidak memiliki keberanian untuk melompat dan membuat Robby mendorongnya dari belakang yang membuat kedua pria itu jatuh bersamaan.


"Sialan kau Robby!" Teriak Kevin sebelum tubuhnya menghantam laut dan hanya ditertawakan oleh Robby yang ikut bersamanya.


Sementara itu diatas tebing Nathan dan Kevin masih berdiri disana saat melihat Kevin serta Robby yang sudah terlebih dahulu melompat.


Nathan yang merasa tertantang hendak melompat namun langkahnya terhenti saat Harry bertanya kepada nya mengenai siapa dia sebenarnya.


"Aku tahu, sosok yang waktu itu muncul adalah kamu bukan?" Tanya Harry dengan penuh keyakinan kalau memang Nathan sosok yang waktu itu membantu saat perang.


"Bukannya aku sudah menjawab pertanyaan itu semalam?" Balas Nathan sebelum akhirnya ia melompat kebawah.


Harry menghela nafas panjang dan masih yakin dengan pemikiran nya. Ia kemudian akhirnya melompat kebawah untuk menyusul ketiga pria yang sudah terlebih dahulu melompat.


Pada akhirnya keempat pria itu berhasil melakukan lompatan dari tebing setinggi 40 meter sebelum berenang kearah para wanita yang tengah bermain air.


Tatapan mata Harry, Kevin, dan Robby seketika terpaku saat melihat Emilia yang kini memakai bikini warna hitam hingga memperlihatkan lekukan tubuhnya.


Nathan yang menyadari tatapan mesum ketiga pria itu kemudian berdehem dan membuat mereka bertiga langsung tersadar dari fantasi mereka.


"Emilia, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu dan sebelum nya aku tidak pernah melihat kalau kamu memiliki nya?" Tanya Nathan yang heran dengan penampilan Emilia saat ini.

__ADS_1


"Bukannya aku terlihat lebih cantik, aku meminjamnya dari Amanda walaupun ini sedikit kekecilian untuk dadaku..." Ucap Emilia sambil memeluk Nathan.


Darah seketika keluar dari hidung Harry, Kevin, dan Robby saat melihat melon megah Emilia yang menekan dada Nathan.


Tetapi ketiga pria itu langsung mendapatkan pukulan dari istri mereka masing-masing yang menyadari perbuatan ketiganya. Ketiga pria itu lalu dijewer oleh istri mereka dan dibawa pergi masing-masing.


Disisi lain Nathan yang merasakan melon empuk milik Emilia menekan dirinya menjadi sedikit memerah dan mencoba melepaskan pelukan wanita itu yang sangat erat seolah disengaja.


"Emilia, bisakah kamu melepaskan ku. Ada banyak orang disini..." Ucap Nathan dengan lirih sambil melonggarkan pelukan Emilia darinya.


Emilia tersenyum dan mendekatkan wajahnya. "Memangnya kenapa. Barangmu dibawah sana sudah mengeras dan menusuk-nusukku..."


Melihat Emilia yang menggodanya, Nathan langsung menyentil dahi Emilia hingga memerah dan membuat wanita cantik itu langsung melepaskan pelukannya.


"Shhh! Apa kamu tidak bisa lembut sedikit kepada istri mu sendiri?" Tanya Emilia dengan kesal sambil memegangi dahinya yang memerah.


Nathan tidak menjawab pertanyaan Emilia dan hendak beranjak pergi dari dalam air yang setinggi pinggang untuk menghampiri ketiga pria yang tengah dicermahi oleh istri mereka.


Tetapi sebelum Nathan sempat pergi Emilia tiba-tiba menarik tali celana miliknya hingga membuat celana yang dikenakan pria itu hampir saja melorot jika tak cepat-cepat dipegang.


Dengan tali ditangannya Emilia memancaing Nathan sedikit lebih jauh dari keramaian sebelum akhirnya ia terpojok oleh pria itu sesuai dengan prediksi nya.


Nathan akhirnya dapat menggapai lengan Emilia saat mereka sudah sampai di dekat bebatauan dengan ketinggian air yang hanya seperut saja.


Saat Nathan memojokkan dan menggenggam pergelangan tangannya, Emilia tersenyum tipis. "Apa yang ingin kamu lakukan kepadaku ditempat sepi seperti ini, Nathan?"


"Bukannya kamu sendiri yang sengaja memancingku?" Jawab Nathan sambil tersenyum tipis dan seolah mengerti jalan pikir wanita cantik dihadapannya.


Nathan perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Emilia sementara kedua tangannya memegangi pinggang wanita tersebut.


Emilia melingkarkan tangannya dileher Nathan dan mengikuti permainan yang dipimpin oleh suaminya tersebut dengan senang hati.


Ciuman keduanya menjadi semakin panas sebelum akhirnya berakhir. Perlahan dari belakang Nathan mulai memasukan junior nya ke dalam tubuh Emilia.


Suara ******* manis Emilia yang keluar selama permainan mereka berlangsung dipudarkan oleh suara ombak yang menyapu bibir pantai dan membuat orang-orang tidak tahu kegiatan panas mereka dipantai.


*******

__ADS_1


Ketika hari sudah menjelang sore Nathan menghampiri rekan-rekannya sambil menggendong Emilia yang terlihat manja, padahal jika dilihat lebih jeli lagi wanita itu tengah meminum darah milik Nathan untuk mengisi staminanya yang sudah berkurang.


"Dari mana saja kalian, kami sudah mencari kalian dari tadi?" Tanya Harry dengan tatapan heran saat melihat Nathan yang datang sambil menggendong Emilia.


"Biasa, Jalan-jalan. Memangnya ada apa kalian mencariku?" Tanya Nathan sambil menurunkan Emilia yang terlihat sudah puas meminum darahnya dan membiarkan wanita itu berkumpul dengan wanita lain.


Ketika Emilia berkumpul dengan Julia, Amanda, dan Gisela ia langung mendapat tatapan menyelidik dari ketiga wanita itu sepertinya sudah tahu alasan kenapa Emilia dan Nathan pergi cukup lama setelah melihat bekas ciuman di leher wanita cantik itu.


"Bukannya kamu sendiri yang menyuruh kita tadi untuk berkumpul. Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Robby sambil menepuk-nepuk celananya yang berpasir setelah bermain bola volly.


Nathan berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Robby. "Ah... Ini soal dana yang kita butuhkan untuk membuat perusahaan. Sepertinya kita tidak perlu menjual tanah untuk mendapatkan dana mengingat harga pasaran sekarang yang terbilang rendah. Aku tahu tempat dimana kita bisa mendapatkan harta karun untuk dijadikan dana nantinya..."


Harry, Kevin, dan Robby yang mendengarnya jelas merasa bingung. Ketiganya merasa percaya tak percaya dengan ucapan Nathan sebab harta karun hanyalah cerita dongeng saja bagi mereka.


"Apa kamu bercanda, meskipun kamu berasal dari masa depan tidak ada yang namanya harta karun!" Ucap Harry sambil menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang bercanda, aku bahkan tahu siapa pemilik harta karun itu. Kebetulan sekali dia masih hidup sekarang. Yang kita butuhkan sekarang hanya sebuah kapal untuk sampai kesana sebelum orang itu mati tahun depan..." Balas Nathan.


Harry, Kevin, dan Robby saling menatap satu sama lain ketika mendengarkan perkataan dari Nathan barusan yang terpaksa membuat mereka akhirnya percaya meski masih ada sedikit keraguan.


"Kalau memang itu benar memangnya seberapa besar harta karun itu dan kamu tidak menyuruh kami untuk membuat kapal lalu berlayar seperti bajak laut bukan?" Tanya Kevin.


Nathan tersenyum dan berkata, "Yang pasti cukup untuk kalian hidup sampai tujuh turunan. Soal kapal memang kita akan membuatnya mulai besok..."


Ketiga pria itu yang mendengarnya sejetika menjadi syok selain karena membayangkan jumlah harta karun mereka juga memikirkan bagaimana cara mereka membuat kapal.


"Itu pasti akan memakan waktu lama untuk membuat sebuah kapal, kenapa tidak membelinya saja dan memangnya dimana tujuan kita?" Tanya Robby yang terlihat enggan untuk membuat sebuah kapal.


"Tujuan kita ada di Filipina dan kalau kita membeli kapal pasti akan sangat mahal..." Balas Nathan.


"Filipina? Apa kamu berniat membawa kami ke negara yang sekarang jadi jajahan Jepang itu? Kalau soal kapal kenapa kamu tidak meminjam uang dari istrimu saja, dia kan orang kaya dan memiliki tambang minyak?" Tanya Kevin.


"Memang ini sedikit beresiko tapi tidak ada jalan lain. Untuk kapal aku sudah memutuskan kalau kita tetap akan membuatnya dan aku juga tidak mau bergantung dengan uang milik istriku. Perusahaan ini adalah urusan kita dan bukan para wanita, apa kalian paham?" Ucap Nathan yang hanya diangguki oleh ketiga pria itu.


"Kalau begitu sampai jumpa besok pagi!" Ucap Nathan sebelum pergi bersama dengan Emilia untuk pulang.


Setelah Nathan pergi Harry, Kevin, dan Robby menghela nafas panjang karena mulai besok tenaga mereka akan digunakan habis-habisan untuk membuat sebuah kapal.

__ADS_1


__ADS_2