
Suasana terasa canggung disaat mereka sedang sarapan bersama, hal ini karena perbuatan salah satu dari mereka yang membuat semua orang disana menjadi cukup ketakutan.
Nathan yang tengah sarapan menyadari tatapan semua orang disana kini tertuju kearahnya dan membuat nafsu makannya sedikit berkurang akibatnya.
"Ada apa dengan kalian, kenapa menatapku seperti itu?" Ucap Nathan sambil meletakkan alat makannya dan melihat kearah orang-orang disekitarnya.
Seketika semua orang yang ditanya oleh Nathan menjadi gugup dan berusaha menjauhkan mata mereka agar tidak bertemu dengan tatapan mata pria itu.
Nathan yang melihat semua orang berpaling darinya kemudian menatap kearah Harry. "Apa ada yang terjadi sebelumnya Harry. Kenapa sikap kalian sedikit aneh hari ini?"
"Bukan aku tapi yang lain. Mereka masih takut saat melihat kamu memenggal kepala prajurit Kamikaze semalam dengan cara meremas lehernya, sampai keluar sirup merah..." Balas Harry yang terlihat lebih santai dari semua orang disana.
Mendengar kata sirup merah seketika membuat Kevin, Robby, Julia, Amanda, Gisela, dan bahkan Emilia sekalipun menjadi mual karenanya.
"Oh... Begitu..." Nathan mengangguk pelan dan kembali melanjutkan sarapan paginya tanpa memperdulikan mereka yang kini menjadi mual.
Sarapan di pagi hari itu tetap berjalan meski ada beberapa dari mereka yang masih mual sebelum semua orang kembali melakukan tugas mereka masing-masing dikapal tersebut.
Di deck kapal Nathan terlihat sedang mengutak-atik jam tangannya dengan ditemani oleh Harry dan Robby yang penasaran sementara Kevin masih enggan untuk berdekatan dengan pria itu.
Setelah mengatur beberapa program kecil pada jam tangannya, Nathan lalu merubah kembali jam tangan tersebut menjadi pakaian tempurnya.
"Bagaimana caranya kamu membuat pakaian seperti. Apa bahannya?" Tanya Harry sambil mengetuk-ngetuk pakaian tempur milik Nathan.
"Aku tidak bisa mengatakan nya yang pasti di jaman ku bahan untuk membuat pakaian ini sangat mahal. Untuk satu titik kecil serat pakaian ini saja bahkan mencapai satu juta dollar lebih..." Balas Nathan.
Harry mengerutkan alisnya dan menatap heran kearah Nathan. "Apa kamu orang kaya disana sampai bisa membuat hal semacam ini?"
Nathan tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, bahkan untuk makan selama sebulan saja aku harus berhemat..."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu bisa membuat pakaian semahal dan secanggih ini?" Kini giliran Robby yang bertanya untuk mengetahui sumber keuangan Nathan.
Nathan menunjuk kepalanya dan berkata, "Tentu saja karena aku pintar, bahkan beberapa teknologi pada pakaian yang ku kenakan belum ada dijaman ku..."
"Sudahlah, jadi siapa yang mau lebih dulu ikut denganku?" Tanya Nathan. Sebelumnya Harry dan Robby membuat suatu permintaan agar Nathan membawa mereka terbang dengan menggunakan pakaian tersebut..
Dengan cepat Robby mengenakan helm perang miliknya yang digunakan sewaktu masih ikut dimedan perang lalu naik untuk digendong oleh Nathan.
Harry yang melihat Robby mengambil jatah pertama menjadi kesal, namun tiba-tiba ia dibawa terbang keatas didepan oleh Nathan sementara Robby dibelakang.
Nathan dengan cepat melesat keatas langit yang langsung membuat Harry dan Robby mengeratkan pegangan nya ditubuh pria itu karena takut jatuh.
"Pemandangan dari atas sini tidak buruk juga tapi bisakah kamu lebih pelan sedikit, aku dan Harry bisa terhempas!" Ucap Robby sambil menepuk-nepuk helm Nathan.
Nathan tertawa lalu melayang di ketinggian 1000 kaki tepat diatas kapal phinisi. Tanpa peringatan terlebih dahulu pria itu kemudian menjatuhkan Harry dan Robby yang membuat keduanya berteriak keras.
"Persetan denganmu Nathan, aku akan membalasmu dialam sana!" Teriak Harry dengan putus asa setelah dibuang begitu saja oleh Nathan.
Kaki Harry dan Robby seketika menjadi lemas saat menyentuh deck kapal. Tubuh mereka bergetar hebat setelah selamat dari kematian dan membuat keduanya terduduk disana karena ketakutan.
"Bagaimana, apa kalian mau lagi?" Tanya Nathan sambil tertawa saat melihat raut wajah pucat milik Harry dan Robby saat ini.
Harry dan Robby melambaikan tangannya sambil mencoba bangkit meski kaki mereka kini terlihat bergetar hebat.
Bertepatan dengan itu Emilia keluar dari dalam kapal dan mendatangi Nathan yang tengah menertawakan Harry serta Robby.
"Mau kemana kamu, kenapa memakai pakaian itu?" Tanya Emilia yang heran karena Nathan terlihat santai memakai pakaian seperti itu.
"Tidak, bagaimana denganmu. Kenapa kesini?" Nathan balik bertanya.
__ADS_1
"Persediaan makanan kita sudah hampir habis, sepertinya perhitungan kita waktu itu salah..." Ucap Emilia.
"Oh... Tunggu disini..." Balas Nathan sebelum terbang dan masuk kedalam laut untuk mencari ikan.
Beberapa menit kemudian dua ikan tuna sirip biru dengan panjang 2,5 meter dan berat masing-masing 250kg terlempar keatas deck kapal yang membuat orang-orang disana kaget.
Harry dan Robby yang berada disana langsung mengambil pistol lalu menembak dua ekor ikan tuna tersebut yang membuat kondisi deck kapal menjadi kacau.
Nathan kemudian terlihat kembali ke atas deck kapal saat Harry dan Robby berhasil membunuh dua ekor tuna sirip biru berukuran jumbo tersebut dengan susah payah.
"Sekarang kita tidak akan kekurangan makanan, kalau dua ekor tuna kurang bilang saja..." Ucap Nathan sambil tiduran diatas ayunan nya.
Melihat sikap Nathan yang tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun setelah membuat mereka berdua kesulitan jelas membuat Harry dan Robby kesal.
Kedua pria itu kemudian mulai memarahi Nathan yang jelas tidak didengar oleh pria tersebut karena kupingnya sengaja ditutup, agar tidak mendengar ocehan Harry dan Robby.
Sementara itu Emilia yang melihat dua ekor tuna sirip biru itu tampak senang dan membawa kedua ikan tersebut kedalam dengan mudah meski sangat berat.
Pelayaran kelompok pemburu harta karun itu kemudian berlanjut hingga sebulan kemudian mereka sampai di kepulauan salomon setelah sempat beberapa kali berpapasan dengan kapal perang Jepang.
Untung saja pelindung yang dipasang oleh Nathan bekerja hingga membuat armada laut Jepang tidak melihat kapal phinisi tersebut meski berlayar tepat disamping kapal perang mereka.
"Jadi dimana orang yang kamu maksud itu, jangan bilang ini semua hanya lelucon mu saja..." Ucap Kevin sambil menoleh kesana kemari saat menginjakan kaki di pulau tersebut.
"Aku tidak bohong, kita akan bertemu dengan orang itu dibulan April..." Balas Nathan yang tengah merenggangkan tulang-tulangnya.
"Hah! Lalu apa yang akan kita lakukan selama dua bulan ditempat ini!?" Tanya Kevin dengan raut wajah putus asa.
"Mana aku tahu, lakukan apa saja yang kalian mau entah itu liburan atau membuat keturunan dengan istri kalian. Entahlah, lakukan apa saja yang kalian mau..." Ucap Nathan sebelum beranjak pergi memanjat pohon kelapa.
__ADS_1
Raut wajah Harry, Kevin, dan Robby seketika menjadi merah pada ketika mereka bertiga membayangkan untuk membentuk sebuah koloni di pulau tersebut.