
Sesampainya dikapal, Nathan, Harry, Kevin, dan Robby segera mempersiapkan pelayaran mereka berikutnya menuju ke Filipina untuk mencari harta yang telah dikubur oleh Yamamoto.
Dalam pelayaran menuju ke Filipina terlihat kepercayaan Harry, Kevin, dan Robby semakin bertambah kepada Nathan setelah melihat kejadian sebelumnya ditambah peta harta karun sungguhan yang kini mereka dapatkan dari pemiliknya sendiri.
"Kalau kalian mendapatkan harta karun itu mau buat apa? Kalau aku tentu saja menggandakannya dimeja jugi..." Ucap Kevin sambil membayangkan kehidupan glamor dengan harta yang akan mereka dapatkan nantinya.
Harry langsung memukul kepala Kevin begitu mendengar perkataan pria itu. "Apa kamu sudah lupa harta itu tidak akan dibagikan. Nathan yang akan mengurus semuanya!"
"Cih, aku hanya bercanda..." Balas Kevin sambil melirik sinis kearah Harry sebelum memalingkan pandangannya kearah Nathan. "Lalu apa yang akan kita lakukan dengan semua harta itu. Kalau sampai ketahuan pemerintah bisa-bisa diambil mereka dengan berbagai alasan. Kamu tahu sendiri bukan?"
Nathan tertawa dan melemparkan kacang kewajah Kevin yang secara reflek langsung pria itu makan. "Ya aku tahu itu, soal harta itu kalian hanya perlu mengikuti apa yang aku katakan kalau mau hidup kalian menjadi jauh lebih baik dimasa depan..."
"Tapi itu hanya sebentar, sementara kamu akan menikmatinya lebih lama dari kami bertiga!" Gerutu Kevin sambil menendang kotak kayu didekatnya.
"Ayolah apa bedanya, itu hanya masalah waktu saja..." Balas Nathan sambil tertawa.
Setelah berbincang dengan ketiga pria tersebut Nathan kemudian masuk kedalam kabin kapal saat melihat Emilia yang memanggilnya.
Ketika mereka berdua masuk kedalam kamar, Emilia langsung mengunci pintu kamar mereka dan menatap tajam kearah Nathan sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Melihat sikap Emilia seketika membuat Nathan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang ia perbuat sampai wanita cantik itu terlihat marah kepadanya.
"Ada apa denganmu, apa kamu sedang sakit perut karena datang bulan? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Nathan sambil memasang raut wajah bingung.
Emilia menunjuk kearah kasur dan memberi kode kepada Nathan untuk duduk sementara dirinya sendiri akan tetap berdiri seperti itu.
"Kamu tahu kan Julia dan Gisela sedang hamil sekarang?" Tanya Emilia sambil menatap tajam kearah Nathan untuk mengintimidasi pria tersebut.
__ADS_1
Nathan mengerutkan alisnya dan sedikit memiringkan kepalanya kesamping. "Iya tahu, memangnya kenapa. Bukannya itu bagus?"
"Ya memang bagus, aku juga menginginkan nya. Apa kamu tidak lihat, sekarang aku berumur tiga puluh tahun dan belum memiliki anak, sementara mereka yang baru berusia dua puluh satu tahun akan segera memiliki anak!" Balas Emilia dengan emosional karena merasa iri dengan kedua temannya.
Melihat Emilia yang marah-marah menginginkan anak darinya membuat seketika wajahnya dan terlihat gugup. Dimana hal ini jelas membuat Emilia menjadi tambah kesal.
"Kamu tahu kan kalau kita tidak bisa memilikinya sekarang. Aku sudah mengatakan hal ini berulang kali sebelumnya kepadamu..." Ucap Nathan sambil melonggarkan kerah bajunya akibat terlalu gugup.
Emilia memicingkan matanya dan jelas ia tidak percaya dengan perkataan pria tersebut sekarang usai mendengar fakta yang sebenarnya dari Echelon secara diam-diam beberapa waktu lalu.
"Kamu berbohong, teman kecilmu itu membiritahuku kalau kita bisa membuatnya sekarang karena kini aku sudah terkontaminasi setelah meminum darahmu setiap waktu!" Ucap Emilia dengan nada tinggi.
Mendengar perkataan Emilia seketika membuat Nathan menjadi sedikit kesal dengan Echelon dan memukul-mukul jam tangan yang ia kenakan.
"Apa menurutmu memiliki anak itu seperti membuat adonan? Ini akan sulit Emilia... Lagi pula apa kamu mau merasakan sakit saat melahirkan?" Tanya Nathan yang sebenarnya ia sendiri belum siap untuk menjadi orang tua disaat dirinya sendiri masih memiliki banyak masalah yang belum selesai dan jelas sangat berbahaya.
Nathan yang melihat Emilia menjadi sangat emosional dan sampai menangis lalu memberi wanita itu pelukan hangat.
"Bukan aku tidak mau memiliki seorang anak darimu Emilia... Hanya saja aku masih memiliki banyak masalah dan itu tidak segampang yang kamu pikirkan..." Ucap Nathan sambil menatap erat mata Emilia yang berkaca-kaca.
"Aku hanya ingin ada seseorang yang menemaniku setelah kamu pergi, Nathan... Aku tak mau sendirian lagi..." Kata Emilia sambil menatap sayup mata Nathan agar bisa membuat pria itu mengerti dengan apa yang ia maksud sebenarnya.
Nathan tersenyum dan menyeka air mata milik Emilia. "Kamu masih memiliki mereka. Harry, Kevin, Robby, Julia, Amanda, dan juga Gisela setalah aku pergi. Kita semua sekarang keluarga..."
Emilia menggelengkan kepalanya dan merasa bahwa Nathan masih belum mengerti dengan apa yang ia maksud. "Bukan begitu, aku hanya ingin seorang anak darimu agar aku bisa tetap merasa kalau kamu selalu ada didekatku..."
"Hei... Selama aku masih ada disini, aku berjanji akan selalu memberikan yang terbaik untuk mu tanpa berpura-pura. Meluangkan banyak waktu agar kita berdua tetap terhubung sepanjang waktu..." Ucap Nathan.
__ADS_1
"Aku menyayangimu dan akan terus seperti itu sampai kapanpun. Aku tidak akan merubah pikiranku sampai kapanpun. Aku mencintaimu dan tetap ada disini, tidak akan menghilang..." Kata Nathan sambil mencium kening Emilia.
Begitu mendengar ucapan dari Nathan, Emilia langsung memeluk tubuh pria tersebut. "Akhirnya kamu mengatakan kalimat itu, dasar..."
"Kalimat apa memangnya yang kamu maksud?" Tanya Nathan dengan raut wajah kebingungan sebab tidak tahu apa yang dimaksud oleh Emilia.
Emilia berdecih kesal dan menatap tajam kearah wajah Nathan yang sedang kebingungan saat ini. "Tentu saja kalimat kalau kamu mencintai ku. Apa sangat sulit untuk mu untuk mengatakan kalimat seperti itu kepada istrimu sendiri?"
"Ya memang sulit karena kalimat itu sangat menggelikan untukku..." Balas Nathan sambil tertawa canggung yang membuatnya langsung mendapat cubitan diperut dari Emilia.
"Jadi apa sekarang kamu sudah mengerti kalau aku tidak mau memiliki anak sekarang bukan?" Tanya Nathan.
Emilia menggelengkan kepalanya. "Aku tetap menginginkan, ayo cepat kita buat Nathan..." Ucap Emilia sambil tersenyum dan bergelanyut manja sambil memeluk Nathan.
Nathan seketika menjadi merinding dan berusaha membuka pintu yang ternyata sudah dikunci oleh Emilia agar dirinya tidak bisa kabur.
"Belakangan ini kita sangat jarang melakukannya. Kamu selalu saja sibuk dengan tiga pria bodoh itu dan mengabaikan istrimu sendiri..." Ucap Emilia sambil melepaskan kuncir rambutnya dan menanggalkan beberapa kancing bajunya.
Melihat Emilia yang tengah membelakangi dirinya, Nathan cepat-cepat berusaha membuka pintu yang tengah terkunci menggunakan kawat sebab tahu jika ia melakukannya dengan Emilia pasti akan berlangsung selama seharian penuh.
Namun setelah Nathan berhasil membuka kunci, pintu masih saja tidak dapat terbuka seolah ada yang mengganjalnya diluar. Hal ini tentu saja membuat Nathan semakin berkeringat dingin karena jelas Emilia tak akan melepaskannya dan ingin menuangkan semua hasrat nafsu kepadanya untuk balas dendam.
"Jangan membuang tenagamu itu, aku sudah menyuruh Amanda untuk menggembok pintu dari luar saat kita berbicara tadi..." Ucap Emilia sambil tersenyum sinis kearah Nathan yang sedang panik.
Emilia lalu mendorong tubuh Nathan keatas kasur dan melahap bibir pria itu dengan lembut karena sudah lama tidak melakukannya semenjak berlayar dari San Francisco.
Keadaan kini benar-benar terbalik dimana bukan seorang pria yang agresif melainkan wanita. Hal ini Emilia lakukan sebab merasa Nathan telah mengabaikannya sangat lama.
__ADS_1