Echelon System

Echelon System
Bumerang Balik


__ADS_3

Nathan, Harry, Kevin, dan Robby selama seharian penuh tertidur karena kelelahan yang membuat para wanita terpaksa giliran untuk mengendalikan kapal mereka agar tidak keluar jalur.


Meski awalnya kesulitan karena belum terbiasa dan takut akan membuat kapal mereka karam, tetapi perlahan Emilia, Julia, Amanda, dan Gisela mulai bisa mengendalikan kapal tersebut dengan bantuan catatan yang diberikan oleh Kevin.


Terlihat Liu Yifei yang kini ikut bergabung tampak merasa senang dan mulai mempelajari bahasa Inggris dengan dibantu oleh Emilia serta tiga wanita lainnya.


Sampai keesokan harinya saat para pria terbangun, tatapan mereka berempat seketika menjadi kosong saat melihat bahwa kapal mereka kini terdampar di sebuah pulau kecil yang hanya ada hamparan pasir saja.


Ketika melihat keadaan deck kapal yang porak-poranda serta layar sobek dan beberapa tiang rusak membuat para pria itu cukup dibuat merasa menyesal.


"Bukankah usulanku untuk bergantian mengendalikan kapal ini cukup bagus dan tidak membiarkan mereka melakukan nya. Lihat, inilah alasanku dari awal tidak setuju dengan usulan Kevin..." Ucap Harry sambil menatap kondisi kapal dengan tertegun.


Kevin yang disalahkan oleh Harry tidak dapat mengelak dan merasa menyesal karena telah mengusulkan ide itu agar mereka berempat bisa istirahat seharian penuh.


Dibawah terlihat para wanita yang kini tampak bersenang-senang dipulau pasir itu sambil memainkan bola volly bersama dengan seorang gadis kecil.


*******


Selang beberapa waktu kemudian kini kapal mereka terliat sudah berlayar kembali seperti semula dengan haluan yang benar tidak seperti sebelumnya.


Terlihat Emilia, Julia, Amanda, dan Gulia yang kini tengah duduk menghadap kearah empat orang pria yang menatap mereka dengan kesal.


"Ini tidak adil, kenapa hanya kami saja sementara Liu Yifei tidak?" Ucap Emilia yang melakukan protes sambil melihat kearah Liu Yifei yang tengah digendong oleh Nathan.


"Apa kalian tidak memiliki perasaan dengan membuat dua wanita yang tengah dijemur dibawah sinar matahari?" Julia menambahkan protes yang dilakukan oleh Emilia.


Harry yang mendapat tatapan tajam dari Julia tentu saja merasa gusar, begitupun dengan Kevin yang ditatap tajam oleh Amanda. Robby juga mendapat tatapan tajam yang sama dari Gulia dan merasa gusar, sementara Nathan yang ditatap seperti itu oleh Emilia tampak tidak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


Sebuah balok kayu kemudian Nathan ambil dan di acungkan kearah para wanita tersebut sambil menatap mereka dengan tatapan dingin.


"Jangan banyak bertanya, bukankah kalian sendiri yang selalu mengusulkan apa itu kesetaraan gender?" Nathan menyerahkan Liu Yifei kepada Robby lalu berjalan menghampiri keempat wanita tersebut sambil menyeret balok kayu.


Melihat Nathan yang membawa balok kayu cukup besar membuat nyali keempat wanita tersebut menjadi ciut dan tahu akibatnya jika sampai balok itu mengenai kepala mereka.


Nathan kemudian berdiri tepat di hadapan Emilia, Julia, Amanda, dan Gisela. "Apa kalian bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sampai kapal ini terlihat seperti kapal hantu hanya dalam semalam?"


Para wanita yang melihat balok kayu ditangan Nathan dan juga ekspresi dingin wajah pria itu sendiri, membuat mereka merasa terintimidasi dan tidak berani menatap wajahnya langsung tak terkecuali Emilia sekalipun.


Tak hanya para wanita saja, para pria juga merasakan hal yang sama dan tidak dapat mengucapkan sepatah katapun dari mulut mereka saat ingin menegur Nathan yang dianggap sedikit keras kepada para wanita.


Beberapa menit karena tidak ada yang menjawab, Nathan lalu mengayunkan balok kayu ditangannya hingga hancur saat berbenturan dengan tiang layar.


Hal ini membuat semua orang disana kaget terutama untuk para wanita yang salah satu dari mereka kini mengompol ketakutan sedangkan tiga lainnya ingin menangis.


Nathan menghela nafasnya dan kemudian mulai mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Liu Yifei. Dari apa yang diucapkan Liu Yifei terungkap kalau semalam terjadi badai, dan para wanita itu tidak mau meminta bantuan karena berpikir bisa melakukan nya berempat hingga hal sebelum nya terjadi.


Mendengar penjelasan dari Liu Yifei, Nathan memijat keningnya dan merasa sedikit pusing dengan sikap para wanita itu yang melakukan ajang pembuktian disaat dalam bahaya.


Tetapi Nathan tidak bisa menyalahkan mereka dan memilih untuk kembali kedalam lalu menyuruh Harry melakukan sisanya.


"Seharusnya kalian tidak perlu egois seperti itu, aku tahu apa yang sedang kalian pikirkan. Tetapi kalian harusnya sadar, beberapa hal kadang tidak bisa kalian lakukan dan sudah tugas para pria untuk melakukannya. Apa kalian mengerti?" Ucap Harry.


"Kami mengerti..." Balas Emilia, Julia, Amanda, dan Gisela secara kompak dengan nada lesu.


"Sekarang bereskan diri kalian masing-masing, terutama kamu Amanda..." Ucap Harry sambil menatap Amanda yang kini berada di tengah genangan air.

__ADS_1


Keempat wanita itu kemudian pergi untuk membersihkan diri diikui oleh Liu Yifei, sementara para pria kembali mengerjakan tugas mereka.


Disisi lain Nathan kini tengah meminum Wine didalam kamar nya sambil menatap kearah luar jendela memikirkan rencana untuk kedepannya.


"Apa kamu tidak bisa bersikap lembut dihadapan wanita, setidaknya dihadapan istrimu sendiri huh?" Tanya Emilia yang kini sudah berada tepat dibelakang Nathan.


"Maaf, aku hanya melakukan apa yang diinginkan oleh seorang wanita yang mengatakan tentang kesetaraan gender..." Ucap Nathan sambil meminum Wine pada gelas ditangannya.


Emilia yang tersentil dengan perkataan Nathan kemudian menarik pakaian pria tersebut hingga kini mereka dapat berhadapan satu sama lain.


"Bisakah kamu hentikan itu sekarang?" Tanya Emilia dengan kesal sambil menatap Nathan yang memasang ekspresi datar diwajahnya.


Nathan menenggak semua Wine digelasnya dan meletakkannya dimeja. Ia kemudian berjalan mendekat hingga menyudutkan Emilia ditembok.


"Menghentikan apa? Aku tidak melakukan apapun dari tadi. " Nathan balik bertanya sambil menatap mata Emilia dalam-dalam.


Bukannya takut dengan tatapan Nathan, Emilia menarik kerah baju pria tersebut sambil balik menatap nya seolah ingin menantangnya.


"Apa matamu ingin aku cungkil? Jangan menatap ku seperti itu..." Ucap Emilia dengan nada dingin.


Nathan yang melihat ekspresi Emilia lalu tertawa. "Apa kamu marah karena sudah membuat mu hampir nangis tadi? Kalau begitu aku minta maaf..."


Emilia berdecih kesal dan mendorong Nathan keatas kasur lalu duduk tepat diatasnya. "Kalau sampai kamu mengulangi nya lagi awas saja..."


"Awas kenapa memangnya, lagipula aku tidak bisa mati disini..." Ucap Nathan yang langsung membuat Emilia mengarahkan kuku tajam kearah matanya.


"Itu bagus, karena dengan begitu kamu akan merasakan rasa sakitnya sepanjang waktu..." Balas Emilia sambil tersenyum tipis seperti seorang psychopath.

__ADS_1


Nathan yang awalnya tampak tenang dan berani kini harus tunduk saat mendapat ancaman dari Emilia yang tidak main-main.


__ADS_2