Echelon System

Echelon System
Tewas


__ADS_3

Dihari berikutnya Nathan terpaksa berpisah dengan Harry karena pesawat mereka mengalami masalah saat sedang disiapkan.


Akhirnya Nathan memutuskan untuk menggunakan pesawat lain yang hanya digunakan satu orang saja. Sedangkan Harry mendapat partner baru yang merupakan pilot dari kapal Induk Enterprise.


"Semoga beruntung dan ingat jangan mati!" Harry tertawa sambil melambaikan tangan saat Nathan sudah siap untuk terbang.


Nathan hanya tersenyum tipis dan mengacungkan jari tengahnya sebelum lepas landas dari deci kapal Induk Enterprise menuju ke pangkalan udara yang ada di Midway bersama para penerbang lain.


Dalam penerbangan kali entah mengapa merasakan hal buruk akan terjadi, namun ia menghiraukan firasatnya tersebut dan memilih untuk membiasakan diri dengan pesawat barunya.


Beberapa saat kemudian Nathan dan para penerbang lainnya melihat pesawat-pesawat pengebom Jepang yang akan mengebom kembali pangkalan di Midway.


Segera mereka berusaha mencegah pesawat-pesawat pengebom tersebut dan para pesawat yang mengawalnya.


Dengan nekat Nathan melakukan manuver untuk menerobos langsung formasi udara pihak Jepang. Satu pesawat pengebom Jepang berhasil Nathan jatuhkan, namun ia harus menjadi sasaran dua pesawat Zero mereka.


Karena belum terlalu menguasai pesawatnya, Nathan terlihat kaku dalam melakukan manuver dan membuat kedua pesawat Zero mudah untuk mengincarnya.


"Hei, apa kalian tidak kasihan kepada pemula ini!" Teriak Nathan mengumpati kedua pilot pesawat Zero yang mengejarnya.


Disisi lain kedua pilot pesawat Zero melihat Nathan sebagai domba empuk yang bisa kapan saja mereka tembak jatuh jika mau.


"Apa dia pemula, caranya mengemudi sangatlah buruk!" Ucap seorang pilot Zero kepada temannya melalui saluran radio.


"Hahaha! Aku tidak tahu, tapi lebih baik kita giring saja pria bodoh itu ke kapal. Pria itu bisa mereka instrogasi nantinya..." Ucap seorang pilot Zero lainnya.


Akhirnya kedua pilot Zero tersebut menggiring Nathan seperti domba menuju kapal mereka dan begitu mendekat keduanya segera menembak jatuh Nathan.


Pesawat yang diterbangkan Nathan akhirnya jatuh didekat kapal penjelajah milik Jepang. Saat pesawatnya menghantam air, Nathan seketika tak sadarkan diri setelah kepalanya terbentur keras.


*******


Beberapa waktu atau dua hari kemudian Nathan terbangun di sebuah ruangan minim cahaya dalam posisi kaki dan tangan yang terikat dikursi.

__ADS_1


'Dimana aku...' Batin Nathan sambil menahan rasa pusing dikepalanya dan terlihat darah menutupi separuh wajahnya.


Tak berselang lama tiga pria Jepang masuk kedalam ruangan tersebut dan salah satu dari mereka kemudian melepaskan tali yang diikatkan kemulut Nathan.


Seorang pria yang wajahnya sangat familiar dimata Nathan kemudian duduk tepat dihadapannya sambil memegang sebuah tongkat.


Pria itu tidak lain adalah Admiral Isoroku Yamamoto yang merupakan komandan tertinggi angkatan laut Jepang.


Nathan seketika sadar jika kini ia tengah berada di kapal Yamato yang legendaris. Kapal yang merupakan salah satu simbol kekuatan angkatan laut mereka.


"Aku tidak akan menyakitimu asal kamu memberikan informasi mengenai rencana kalian kedepannya..." Ucap Yamamoto dalam bahasa Inggris sambil memainkan tongkat ditangannya.


Nathan terkekeh saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Yamamoto. "Sepertinya kamu salah orang. Aku hanya seorang pilot dan tentu saja tidak tahu rencana para petinggi militer..." Balas Nathan dalam bahasa Jepang yang lancar.


Mendengar pilot muda dihadapannya berbicara dalam bahasa Jepang dengan lancar, Yamamoto dan kedua bawahan nya cukup dibuat terkejut namun disisi lain merasa kesal dengan ucapannya.


"Heh... Jarang sekali orang Amerika dapat berbahasa Jepang. Apa kamu orang campuran?" Tanya Yamamoto yang terlihat sedikit tertarik.


Mendengar perkataan Nathan yang membahasa harta jarahan miliknya seketika membuat Yamamoto cukup terkejut pasalnya hanya sedikit orang saja yang tahu. Bahkan petinggi militer dan Kaisar tidak mengetahuinya.


Dua bawahan Yamamoto yang belum mengetahui informasi tersebut sebenarnya terkejut, tetapi mereka jelas tidak berani dengan atasannya tersebut.


Dirasa pilot dihadapannya mengetahui informasi pribadinya yang jarang diketahui oleh orang lain, Yamamoto tidak jadi untuk mengintrogasinya.


"Bawa dia untuk berkumpul bersama tiga temannya..." Ucap Yamamoto sebelum pergi dari ruangan tersebut.


Dua bawahan Yamamoto kemudian menyeret Nathan dan melemparkan pria tersebut menuju sebuah sel yang didalamnya sudah terdapat tiga tawanan lainnya.


Kondisi ketiga orang tersebut tampak memperhatikan dimana terdapat luka lebam disekitar wajah serta beberapa luka disekitar tangan dan kaki.


"Apa kalian bertiga baik-baik saja?" Tanya Nathan.


"Kamu sudah melihatnya sendiri bukan. Tidak lama lagi kita pasti dieksekusi..." Balas seorang Marinir.

__ADS_1


Nathan mengangguk dan berbaring diatas lantai yang sangat dingin dengan santai. Hal ini jelas membuat ketiga tawanan lain merasa bingung dengan sikap Nathan tersebut.


"Kenapa kamu terlihat santai begitu. Apa kamu tidak paham, kita semua akan segera dieksekusi..." Tanya salah satu Marinir.


"Memangnya apa yang harus aku lakukan. Tidak ada jalan keluar. Semuanya akan sia-sia saja. Lebih baik santai sambil menunggu ajal yang tak akan lama lagi..." Balas Nathan sambil terkekeh.


Seorang Marinir yang merasa kesal dengan sikap Nathan langsung menerjang pria itu. Ia dengan mudah menyerang Nathan yang dalam kondisi tangan dan kaki terikat.


"Dasar sialan, apa maksud mu hah!?" Bentak Marinir tersebut sambil memukuli wajah Nathan sampai berdarah.


Nathan terkekeh dibawah pukulan yang diberikan oleh Marinir tersebut. Meski dipukuli sampai berdarah Nathan masih bisa tenang seolah tidak merasakan apapun.


Beberapa saat kemudian beberapa tentara Jepang datang lalu membawa mereka ke atas deck kapal Yamato dengan kondisi kepala ditutup kain hitam.


Setibanya diatas deck kapal, keempat pria tersebut dipaksa untuk duduk menghadap kearah Armada kapal Amerika yang lumayan dekat.


Kain hitam yang menutupi kepala dan wajah keemapt pria tersebut mulai dilepaskan. Hal ini sengaja dilakukan Yamamoto untuk memberi peringatan kepada pihak lawan.


Nathan membuka matanya perlahan dan melihat kapal induk Enterprise dari kejauhan. Dengan jelas ia dapat melihat Admiral Frank yang tengah mengamatinya menggunakan teropong.


Pria paruh baya itu beberapa kali mencari keberadaan Nathan yang sudah hilang beberapa hari lalu. Kini ia sudah menemukan pria itu namun dalam kondisi yang buruk


Satu persatu tawanan tersebut mulai ditembak pada bagian kepala dari belakang oleh tentara Jepang. Sebelum menjadi sasaran tembak terakhir Nathan tersenyum tipis.


Timah panas seketika menembus kepala Nathan dan ia langsung ambruk bersama tiga tawanan lainnya yang sudah terlebih dahulu ditembak mati.


Admiral Frank dan beberapa orang lain yang melihat kejadian tersebut seketika tersentak. Hal ini seolah membuat pukulan tersendiri bagi pihak mereka dan mengecam tindakan Jepang yang menyalahi aturan perang dengan membunuh tawanan.


Empat mayat tersebut kemudian dilempar kelaut sebelum akhirnya Armada kapal Jepang memutuskan untuk mundur setelah mengalami kekalahan telak di Midway.


Dua kapal perang Amerika berusaha untuk mengejar kapal-kapal Jepang sementara yang lainnya memilih mundur.


"Seseorang tolong jemput menantuku dan tiga orang lainnya..." Ucap Admiral Frank dalam diamnya. Ia kini tidak tahu harus berbuat apalagi saat bertemu putrinya.

__ADS_1


__ADS_2