
"Apa kamu serius meninggalkan mereka semua disana?" Tanya Emilia saat melihat kedatangan Nathan dan tiga temannya dari area kamp.
"Mereka semua adalah laki-laki, sudah sepatutnya memiliki akal untuk menghindari bantuan dari tentara Jepang yang sebentar lagi akan datang kesana..." Balas Nathan dengan ekspresi dingin.
"Um... Kalau aku boleh menambahkan, ada anak kecil, wanita, dan warga biasa yang ada disana sebenarnya..." Sela Kevin sambil tertawa canggung yang langsung membuat Nathan melirik kearahnya dengan tajam.
"Itu bukan urusan kita. Aku sudah mendapatkan jarahan itu, sebaiknya kita segera pergi dari sini..." Ucap Nathan sambil melenggang pergi mendahului rekan-rekannya.
Melihat ekspresi Nathan yang tampak berubah setelah keluar dari bunker membuat semua orang disana merasa heran terutama untuk Emilia, karena sebelumnya Nathan tidak pernah bersikap sedingin itu kepadanya ditambah tatapan mata kosong dari pria tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Kenapa bisa sikapnya berubah begitu?" Tanya Emilia kepada Harry, Kevin, dan Robby sambil menggendong Liu Yifei.
Harry, Kevin, dan Robby menggelengkan kepalanya sebab mereka sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi didalam bunker karena ketiganya sendiri berada diluar.
"Entahlah, tapi satu hal yang pasti dia benar-benar sudah menemukan harta itu..." Ucap Harry sambil menunjukkan patung emas ditangannya.
Mereka kemudian berjalan untuk kembali menuju tempat kapal mereka berada yang jaraknya cukup jauh. Meski merasa lelah tetapi demi menghindari masalah dengan tentara Jepang mereka lebih memilih untuk segera pergi dari sana.
Disisi lain Nathan yang telah berjalan lebih jauh dari rekan-rekannya tampak mengurangi kecepatan dan berjalan lebih santai lagi.
Pikiran Nathan kini seolah terisi dengan kejadian saat ia melihat eksperimen yang dilakukan oleh pihak Jepang didalam bunker tadi, dimana hal tersebut seolah membuat ingatan asing masuk kedalam otaknya.
Bayangan tentang sebuah eksperimen dan operasi memenuhi kepalanya seakan dirinya sendiri pernah mengalami hal tersebut.
Hal ini membuat kepala Nathan terasa pusing hingga membuatnya berjalan terhuyung dan beberapa kali menabrak pohon, sampai akhirnya ia meringkuk ditanah karena rasa sakit yang luar biasa diseluruh tubuhnya, padahal kini Nathan tidak memiliki luka sedikitpun.
"Tuan, apa kamu baik-baik saja!?" Tanya Echelon dengan nada yang seolah khawatir sebab emosional Nathan kini tengah tidak begitu baik dan terganggu.
Nathan tidak merespon pertanyaan dari Echelon dan membuat kecerdasan buatan tersebut akhirnya bertindak dengan mengalirkan sengatan listrik ringan untuk menenangkan pria tersebut.
__ADS_1
Setelah merasa tenang, Nathan mengatur nafasnya yang terengah-engah, sambil menutup mata dengan lengannya dan mencerna semua kilas balik yang ia lihat sebelumnya.
"Siapa itu tadi, apakah itu aku? Kenapa aku bisa merasakan semua itu?" Gumam Nathan yang bertanya-tanya dengan semua kilas balik tersebut.
Didalam kilas balik sebelumnya Nathan seolah melihat seorang anak kecil yang dijadikan kelinci percobaan oleh beberapa orang ilmuan dibawah sorot lampu operasi.
Tanpa belas kasih para ilmuwan itu memotong kakinya tanpa anestesi dan dalam keadaan sadar untuk melakukan sebuah uji coba hingga membuatnya kesakitan.
"Apa yang Anda maksud tuan?" Tanya Echelon yang merasa heran dengan beberapa pertanyaan asal dari mulut Nathan.
"Tidak... Aku hanya sakit kepala saja barusan..." Balas Nathan yang berkelit dan tidak mau memberi tahu apa yang barusan ia lihat serta rasakan sebelumnya.
Nathan lalu bangkit dan membasuh wajahnya ditepi sungai sambil merenung sejenak memikirkan apa yang barusan terjadi kepadanya.
'Itu bukan hanya ilusi belaka...' Batin Nathan sambil memegangi pergelangan tangannya yang sempat terasa sangat sakit tanpa sebab.
Tidak mau terlalu memikirkan kejadian yang ia alami barusan, Nathan kemudian melanjutkan perjalanannya dan akan mencari tahu hal yang sebenarnya terjadi ketika sudah kembali nanti.
Bertepatan saat Nathan masuk kembali kedalam hutan ia kebetulan berpapasan dengan rekan dan juga istrinya yang baru saja akan melewati jalan tersebut.
Emilia yang melihat ekspresi wajah Nathan tampak aneh seketika menatapnya dengan curiga. "Kenapa wajahmu terlihat seperti itu, apa ada sesuatu yang terjadi kepadamu? Biar aku periksa..."
Nathan menggelengkan kepala dan menolak untuk diperiksa oleh Emilia. "Tidak perlu aku baik-baik saja..." Ucap Nathan sambil mengambil alih Liu Yifei yang tengah tertidur digendong oleh Emilia.
Emilia tidak begitu saja percaya dengan apa yang Nathan katakan saat menemukan bercak darah pada pakaian pria tersebut.
"Jangan berbohong, bercak darah itu milikmu bukan?" Tanya Emilia sambil memperhatikan noda darah dipakaian Nathan.
"Tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan..." Balas Nathan dengan ekspresi dingin sebelum melenggang pergi sambil menggendong Liu Yifei.
__ADS_1
Emilia yang melihat tatapan dingin dari Nathan jelas merasa heran, namun ia tidak lagi berani untuk bertanya karena merasa itu bukanlah opsi terbaik dan berpikir kalau suasana hati Nathan saat ini tidak sedang baik-baik saja.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dan baru sampai dipantai saat pagi hari lalu segera berlayar untuk kembali pulang.
Nathan disisi lain kini tengah berbaring sendirian didalam kamarnya sementara Emilia tengah membersihkan tubuh Liu Yifei dibantu oleh Julia, Amanda, dan Gisela.
Beberapa saat kemudian Emilia masuk kedalam kamar dan berbaring disamping Nathan yang tengah membenamkan wajahnya di bantal.
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Emilia dengan nada lembut sambil mengelus punggung lebar dan kekar milik Nathan.
"Aku merasa sebelumnya sudah mati dan hidupku saat ini hanyalah bonus saja dari yang diatas..." Balas Nathan tanpa mengubah posisi berbaringnya.
Meski terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nathan, Emilia berusaha untuk tetap tenang dan mencoba agar bisa memahami apa yang tengah dirasakan oleh pria tersebut saat ini.
"Apakah masalahnya seburuk itu? Kalaupun sekarang ini hidup mu hanyalah bonus maka gunakanlah dengan semaksimal mungkin..." Ucap Emilia.
Nathan tampaknya tidak mau menceritakan apa yang ia alami semalam dan memilih untuk diam karena hal ini merupakan masalah pribadi nya.
Ia kemudian menoleh kearah Emilia dan memandangi wajah istrinya tersebut dalam-dalam. "Kenapa wanita secantikmu mau menikah dengan pria seperti ku?"
"Karena aku merasa kamu berbeda dengan pria lain. Dan tentu saja karena kamu tampan..." Balas Emilia yang menjawab pertanyaan spontan dari Nathan.
Nathan hanya tersenyum tipis dan memejamkan matanya saat mendengar jawaban dari Emilia yang membuatnya sedikit merasa puas.
Emilia yang melihat Nathan memejamkan matanya disaat suasana romantis tersebut merasa sedikit kesal, pasalnya hanya pria itu saja yang tampak tidak begitu perduli dengan kecantikan seorang wanita terutama dirinya.
'Meski menyebalkan, tapi ini juga yang membuatku tertarik denganmu...' Batin Emilia sambil memasang mimik wajah yang kesal.
Paham karena Nathan merasa kelelahan akibat kejadian semalam Emilia akhirnya membiarkan nya tidur, namun sebelum itu ia melakukan rutinitas hariannya yaitu menghisap darah Nathan sebelum pergi.
__ADS_1