
Ditempat lain Harry, Kevin, dan Robby terlihat tengah minum-minum dibar sebagai acara perpisahan masa lajang mereka masing-masing, sebab besok ketiganya akan menikah.
Wajah ketiga pria itu kini terlihat memerah setelah menenggak minuman beralkohol dalam jumlah cukup banyak dan membuat mereka sedikit mabuk.
Kevin yang tidak sanggup lagi pada akhirnya pingsan diatas meja sementara Harry dan Robby masih sanggup minum beberapa putaran lagi.
"Bagaimana, apa kamu sudah bertanya ke Nathan soal itu?" Tanya Robby.
Harry mengangguk dan berkata, "Ya aku memang sudah bertanya kepadanya, tetapi bukannya memberi solusi dan masukan dia justru malah menyebarkan ketakutan..."
"Ketakutan... Memangnya seperti apa?" Robby kembali bertanya.
"Entahlah, tapi yang pasti nanti kita akan menjadi babu mereka. Aku sendiri tidak terlalu percaya dan berpikir kalau Nathan cuma mengada-ada saja..." Ucap Harry yang langsung diangguki oleh Robby.
Usai menjelaskan kepada Robby, Harry kini terlihat tengah memikirkan sesuatu dan membuat Robby yang melihatnya jelas merasa penasaran.
Sangat jarang Robby melihat Harry memikirkan sesuatu dengan serius sebab sekalinya pria itu berpikir maka pasti ada hal yang sangat menarik perhatiannya.
"Kenapa kamu melamun Harry, apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Robby.
Harry mengangguk dan meminum gelas berisi minuman beralkohol miliknya. "Apa menurutmu sosok yang membantu waktu di Midway adalah Nathan? Kalau aku sendiri berpikir kalau dia orangnya..."
"Ya aku juga berpikir memang dia sosok yang waktu muncul, apalagi saat pria itu mengaku berasal dari masa depan. Tetapi yang membuat ku bingung, kalau dia dari masa depan lalu dimana Nathan yang kenal dulu?" Ucap Robby.
"Aku sudah menanyakan soal itu, tapi dia tidak mau mengatakannya karena berpikir aku tak akan mengerti. Walaupun benar..." Balas Harry.
Kedua pria itu menghela nafas saat mencapai kebuntuan tentang sosok Nathan dan mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang ingin mereka lakukan besok.
*******
__ADS_1
Pada keesokan harinya dimeja makan Nathan dan Emilia tengah sarapan sebelum menghadiri acara pernikahan ketiga teman pria itu.
Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Nathan di pagi hari ini dan hal ini membuat Emilia menjadi sedikit pusing dengan sikap suaminya.
"Um... Ada apa dengan sikapmu ini, apa kamu sedang marah kepada ku?" Tanya Emilia yang ingin memastikan apa Nathan marah kepadanya atau tidak, sebab sejak semalam pikiran ini selalu terlintas di otaknya.
Nathan tidak menjawab dan memalingkan wajahnya dari Emilia, namun ia mengangguk sedikit untuk memberi jawaban kepada wanita cantik tersebut.
Melihat Nathan yang mengangguk, akhirnya pemikiran yang selalu terlintas di kepala Emilia terjawab sudah dan membuatnya sedikit lega meski disisi lain merasa was-was jika Nathan mengatakan sesuatu yang tidak sama sekali ia ingin dengar sepanjang hidupnya.
Emilia kembali berpikir, tetapi kini mengenai alasan Nathan sampai bisa marah kepadanya. "Jadi... Apa yang membuatmu marah kepadaku. Apa ini tentang aku yang sekarang suka meminum darahmu. Kalau iya aku minta maaf, tapi ini juga salahmu..."
Awalnya Nathan yang mendengar Emilia meminta maaf kepadanya merasa sedikit lebih baik dan berpikir kalau wanita itu sedikit peka, tetapi saat Emilia menyalahkan nya Nathan menjadi kembali kesal.
Nathan berdecih dan memakan roti selainya dengan kesal sambil melontarkan kata serapah didalam batinnya untuk Emilia.
Emilia yang melihat tingkah Nathan dibuat mengelus dada dan tidak pernah mengira kalau pria itu ternyata bisa marah juga kepadanya.
"Siapa yang mengatakan kalau kamu tidak boleh meminum darahku, aku cuma tidak mau kamu meminum darah orang lain..." Sahut Nathan tanpa melirik sedikitpun kepada Emilia.
Menyadari sesuatu dari Nathan seketika Emilia tersenyum tipis. "Ah... Jadi kamu cemburu saat aku mengatakan kalau waktu itu meminum darah pria lain... Lucunya..." Emilia tertawa lirih sambil menutup mulutnya.
Wajah kesal Nathan seketika berubah menjadi memerah setelah Emilia dapat menebak sesuatu hal yang tidak ia duga sebelumnya akan ada yang menebaknya.
Karena merasa malu Nathan akhirnya memutuskan untuk beranjak dari meja makan tetapi saat berjalan pergi ia langsung diterjang oleh Emilia dari belakang yang membuat keduanya jatuh diatas sofa.
"Ternyata bayi besarku bisa cemburu juga..." Ucap Emilia sambil tertawa dan menggelitik leher milik Nathan.
"Siapa juga yang cemburu. Huh! Ada-ada saja..." Sahut Nathan yang mencoba untuk menyangkal kebenaran dari ucapan Emilia.
__ADS_1
Nada bicara Nathan dan perkataan nya seketika membuat Emilia semakin menjadi untuk memancing rasa malu pria itu.
Karena merasa sedikit kesal dengan Emilia yang menertawakan dan juga menggelitikinya, Nathan mencoba menyingkirkan Emilia dari atas punggung nya tetapi sepertinya usaha itu gagal.
Emilia tiba-tiba berhenti tertawa dan menggigit leher Nathan untuk meminum darah milik pria tersebut yang membuat suasana menjadi sedikit canggung.
Nathan yang masih kesal kemudian melepaskan diri dari gigitan Emilia dan membalik tubuhnya menghadap wanita cantik tersebut.
"Aku minta maaf, tetapi aku tidak bisa untuk tidak meminum darahmu..." Ucap Emilia.
"Baiklah aku paham, sekarang menyingkir dari atas tubuhku. Kamu tidak lihat ini sudah jam berapa?" Tanya Nathan.
Emilia langsung menahan Nathan yang ingin pergi darinya. "Apa kamu tidak mau kalau aku memberimu bayaran dan lagipula semalam kita tidak melakukannya..."
Otak Nathan langsung menyadari apa yang dikatakan oleh Emilia, ia kemudian menggelengkan kepalanya dan dengan sedikit tenaga kemudian menyingkir dari Emilia.
"Kita tidak ada waktu itu, apa kamu tidak lihat kalau acaranya sudah mau dimulai. Cepatlah..." Ucap Nathan sambil melangkah pergi keluar rumah.
Emilia berdecih kesal namun raut wajahnya seketika berubah menjadi senang sebab Nathan tidak lagi marah kepadanya dan ia kemudian dengan langkah cepat berlari menyusul Nathan.
Setelah berhasil menyusul Nathan, Emilia lalu merangkul lengan pria itu dan berjalan berudua menuju tempat acara yang tidak jauh dari rumah Nathan.
Hanya dalam hitungan menit keduanya telah sampai dan melihat kalau sudah ada banyak orang yang hadir di sana.
Nathan dan Emilia kemudian duduk. Dari kejauhan Nathan dapat melihat Harry, Kevin, dan Robby yang terlihat memakai setelan jas rapih tengah menunggu calon mereka diatas mimbar.
"Sepertinya mereka bertiga sedang berhemat sampai-sampai melakukan pernikahan masal seperti ini..." Gumam Nathan sambil terkekeh saat melihat ketiga pria itu yang tampak gugup didekat pendeta.
Tanpa Nathan sadari Emilia yang berada di samping mendengarkan perkataannya barusan dan tersenyum tipis. "Ya, setidaknya mengeluarkan modal untuk acara pernikahan. Tidak seperti suamiku yang bahkan tak mengadakan pesta meski kecil..."
__ADS_1
Mendengar sindiran Emilia, Nathan lalu melirik kearah wanita cantik itu yang tengah tersenyum mengejeknya. "Jadi apa kamu tidak suka menikah denganku begitu? Baiklah, silahkan saja cari pria lain yang bisa membuatkan mu pesta pernikahan yang besar..."
"Oh ayolah, aku hanya bercanda. Jangan marah lagi..." Emilia terkekeh dan menggelitik perut Nathan saat melihat pria itu kembali mulai kesal kepadanya.