Echelon System

Echelon System
Hari H


__ADS_3

Nathan, Harry, Kevin, dan Robby telah sampai ke kamp. Setelah memarkirkan mobil keempat pria tersebut segera berlari menuju hanggar pesawat tempat di berlangsungnya konser Marlin Monroe.


"Kenapa kalian tidak memberitahu ku lebih cepat, konsernya sudah dimulai!" Ucap Nathan sambil berlari tergesa-gesa.


"Apa maksud mu malah menyalahkan kami, sudah jelas ini salahmu yang malah bermesraan dirumah!" Balas Kevin dengan kesal.


"Dasar tidak tahu diri!" Harry dan Robby menimpali.


Dengan langkah cepat akhirnya mereka sampai dan langsung menerobos masuk kebarisan depan tanpa perduli jika harus mendapat pukulan dari para Marinir yang lain akibat tingkah mereka.


Tatapan mata Nathan terbuka, ia sangat antusias saat melihat idol yang kelak akan terkenal dengan adegan ikonic rok tertiup angin beberapa tahun kedepan.


Meski tidak tahu dan hafal lagu yang sedang dibawakan, Nathan tidak perduli dan hanya fokus mengayunkan papan bertuliskan nama idola nya itu.


Para Marinir terus menyorakan nama idola mereka sambil sesekali melontarkan kata-kata manis kepadanya agar mendapat respon.


*******


Beberapa jam kemudian setelah konser berakhir. Nathan, Harry, Kevin, dan Robby kini sudah berada di sebuah bar untuk menghabiskan waktu dengan minum-minum.


"Hei Nathan, kenapa kamu selalu saja beruntung setiap waktu huh!?" Tanya Kevin yang iri dengan keberuntungan Nathan tentang wanita.


"Ya Kevin benar, kenapa kamu bisa mendapatkan tanda tangannya dan juga ciuman di pipi. Apa kamu tidak kasihan dengan kami?" Timpal Harry yang tengah mabuk.


"Kamu sudah mendapatkan dokter itu dan sekarang mengincar penyanyi muda itu. Dimana letak keadilannya!" Robby terlihat frustasi ditengah mabuknya.


Nathan yang melihat ketiga temannya sudah mulai meracau tertawa. "Sayang sekali dengan wajah kalian itu semua mustahil. Kenapa tidak mengurusi pacar kalian masing-masing saja?"


"Cih! Kamu tahukan butuh waktu beberapa hari untuk kembali dan bertemu dengan kekasih kami masing-masing. Sedangkan kau bisa setiap saat dan kenapa harus kamu yang mendapatkan wanita secantik dokter Emilia!?" Balas Harry dengan kesal dan diangguki oleh Kevin serta Robby.


Untuk kesekian kalinya Nathan tertawa. Mereka berempat kemudian melanjutkan pesta lajang Nathan hingga menghabiskan 20 lebih botol minuman.


Hingga tanpa sadar mereka sudah semalaman berada didalam bar dan tertidur di sana karena mabuk berat.

__ADS_1


Keesokan harinya dari keempat pria tersebut Harry terbangun terlebih dahulu dan melihat ketiga temannya yang masih tertidur dengan botol-botol berserakan disekitar mereka.


Untuk sesaat Harry mengumpulkan nyawanya kembali dan matanya tiba-tiba terbuka lebar saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


"Hei Nathan bangun, ini sudah jam sembilan pagi. Apa kamu ingin terlambat diacara pernikahan mu!" Ucap Harry sambil menggoyangkan tubuh Nathan.


Bukannya Nathan yang bangun, justru Kevin dan Robby yang bangun karena terganggu dengan suara Harry saat membangunkan Nathan.


Nathan sendiri terlihat tidak kunjung bangun dan membuat ketiga temannya harus menggotong pria tersebut menaiki mobil untuk menuju ke acara pernikahan.


Ketiga pria tersebut mulai melakukan tugasnya masing-masing untuk membantu teman mereka yang masih tepar. Kevin bertugas menyetir sementara Harry dan Robby memakaikan jas serta merpihkan penampilan Nathan.


Sesampainya ditempat acara pernikahan. Dengan dibantu oleh ketiga temannya, Nathan masuk kedalam dengan langkah yang masih sedikit sempoyongan.


Didalam sudah terlihat beberapa tamu dan juga pengantinnya yaitu Emilia. Wanita itu terlihat cantik dengan gaun putih dan sedikit riasan tipis diwajahnya.


Nathan kemudian dituntun oleh Harry menghampiri Emilia yang sudah menunggu bersama dengan seorang pendeta di atas mimbar.


"Tidak, aku tidak mabuk. Hanya sedikit pusing saja..." Balas Nathan sambil tersenyum tipis dan raut wajah yang sayup menandakan jika pria itu masih setengah sadar.


Emilia kemudian mencubit pinggang Nathan untuk membuat pria itu sadar lalu acara pernikahan mereka pun dimulai.


*******


Beberapa jam setelah acara pernikahan sederhana mereka selesai. Nathan dan Emilia kini terlihat tengah duduk satu meja untuk makan malam berdua.


"Bagaimana rasanya dicium oleh idolamu?" Emilia bertanya disela-sela makan dan terlihat melirik dengan tajam kearah pria yang kini menjadi suaminya tersebut.


"Apa yang kamu maksud, aku tidak mengerti..." Nathan mencoba menyangkal pertanyaan dari Emilia tentang kejadian kemarin.


Emilia mengusap pipi Nathan yang masih ada sedikit bekas lipstik. "Lalu ini apa? Tidak mungkin bukan kalau temanmu itu yang mencium mu?"


Karena tidak bisa mengelak lagi, Nathan akhirnya tertawa dengan gugup. "Itu semua hanya kecelakaan saja dan lagipula aku tidak melakukan hal aneh seperti yang kamu pikirkan bukan?"

__ADS_1


"Ah benar juga, kamu sebaiknya cepat kembali ke Amerika..." Ucap Nathan.


"Kenapa, apa kamu tidak suka kalau aku terus berada disampingmu?" Tanya Emilia sambil menatap tajam kearah pria di hadapan nya.


"Bukan... Hanya saja dalam beberapa hari lagi pulau ini akan menjadi sasaran bom pesawat tempur Jepang..." Balas Nathan dengan santainya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nathan, Emilia tentu kaget dan tidak menyangka jika Nathan mengatakan hal semacam itu yang belum diketahui oleh petinggi militer.


"Dari mana kamu bisa tahu kalau mereka akan menyerang pulau ini?" Tanya Emilia yang masih penasaran dengan pernyataan Nathan.


Nathan meletakkan alat makan nya dan menatap Emilia. "Kalau aku mengatakan nya pasti kamu akan menganggap ku gila..."


"Aku tidak mungkin menganggapmu gila, jadi katakan saja..." Balas Emilia untuk meyakinkan Nathan agar bercerita kepadanya.


"Umm... Tidak." Ucap Nathan sebelum pergi meninggalkan Emilia sendiri dimeja makan dan menuju kekamar.


"Hei! Jangan pergi, cepat katakan yang sebenarnya terjadi kepadaku!" Ucap Emilia dengan suara lantang yang hanya dibalas kibasan tangan oleh Nathan.


Melihat sikap Nathan tersebut jelas membuat Emilia menjadi kesal. Ia kemudian memberesakan bekas makan mereka dan segera bergegas menghampiri Nathan.


Emilia melompat keatas punggung Nathan yang tengah tengkurap diatas kasur. "Cepat katakan padaku kenapa kamu bisa mengatakan hal semacam itu tadi atau aku tidak akan memberi jatah malam ini kepadamu!"


"Aku menolak untuk mengatakan nya dan kalau kamu tidak mau memberi jatah, aku bisa menemui penyanyi itu. Kebetulan aku diundang kesana malam ini..." Ucap Nathan dengan santai.


"Kenapa kamu sangat menyebalkan!" Emilia terlihat kesal dan memukul punggung Nathan.


"Terimakasih atas pujiannya dan tolong pijat pukul punggung lagi. Disana terasa pegal..." Ucap Nathan sambil menepuk-nepuk punggung nya.


Menyikapi sikap Nathan, Emilia yang kesal pun turun dari punggung Nathan dan membungkus tubuhnya sendiri menggunakan selimut.


Emilia melupakan semua rasa kesalnya didalam selimut sambil mengumpati Nathan yang ia rasa sangat menyebalkan dan tidak peka terhadapnya.


Melihat tingkah laku Emilia, Nathan tertawa dan seketika ia didepak dari atas kasur oleh istrinya sendiri yang tengah kesal.

__ADS_1


__ADS_2