
Ditengah perjalanan Nathan menunjukkan mimik wajah yang terlihat kesal seolah tidak betah duduk terus didalam mobil milik Eimi. Hal ini dikarenakan pria tersebut merasa jengkel karena sudah terjebak kemacetan selama hampir satu jam dan tidak tahu kemana tujuannya pergi bersama Eimi.
Rasa jengkel Nathan bertambah lagi setelah merasa hawa didalam mobil yang terasa panas dan pengap karena Eimi tidak menyalakan AC mobilnya.
Nathan yang sudah merasa sangat kepanasan lalu menyalakan AC mobil untuk mendinginkan hawa di dalam mobil agar tak terasa panas.
Namun hal itu justru membuat Eimi menoleh kearah Nathan dan menatap pria tersebut dengan tajam. Eimi memang sengaja tidak menyalakan AC karena merasa kedinginan, akan tetapi Nathan justru menyalakan nya yang membuat ia merasa kesal.
Dengan cepat Eimi langsung mematikan AC mobil yang baru saja dinyalakan Nathan dan membuat pria tersebut balik menatapnya dengan kesal.
"Kenapa kamu mematikannya?" Tanya Nathan sambil menyalakan kembali AC mobil yang telah dimatikan sebelumnya.
Eimi yang melihat Nathan kembali menyalakan AC mobilnya, ia berdecih kesal dan kembali mematikannya. "Kamu bodoh apa gimana? Jelas-jelas sekarang musim gugur hawanya dingin!"
"Mana aku tahu, dinegara ku hanya ada dua musim saja panas dan hujan! Cepat nyalakan lagi AC mobilnya!" Balas Nathan sambil berusaha menyalakan AC mobil tapi dihalangi oleh Eimi.
Pada akhirnya kedua orang itu saling berselisih hanya karena memperebutkan AC mobil sampai mengabaikan klakson dari kendaraan lain yang ada di belakang mereka.
Nathan yang melihat Eimi begitu kekeh tak mau mengalah, terpaksa ia sendiri yang mengalah dan membiarkan wanita itu menang.
"Baik! Terserah saja!" Kata Nathan yang membuat Eimi tersenyum lebar penuh kemenangan.
Tetapi raut wajah senang Eimi langsung berubah menjadi gugup dan memerah, saat melihat apa yang dilakukan oleh Nathan.
Nathan melepaskan jaket yang ia pakai karena kepanasan, dan membuat Eimi tak sengaja melihat roti sobek miliknya yang tak sengaja terlihat akibat kaos miliknya ikut terangkat.
Menyadari tatapan mata Eimi kepadanya, Nathan lalu menoleh kesamping dan melihat wajah gadis tersebut yang memerah seperti orang terkena demam.
__ADS_1
"Apa kamu sedang sakit, kenapa pipimu merah seperti itu?" Tanya Nathan yang merasa heran.
Eimi seketika tersadar dari lamunannya dan kembali ke mode galaknya. "Sigh! Siapa yang sakit dasar bodoh!" Balas Eimi sebelum fokus melakukan mobilnya lagi.
Nathan yang dibentak oleh Eimi hanya bisa menatap gadis tersebut dengan bingung, dan berpikir kalau kepala Eimi memiliki sedikit masalah.
Lima belas menit kemudian Eimi dan Nathan sudah sampai di Mall. Dari belakang Nathan terus mengikuti Eimi dan tentu saja beberapa kali ia mendapat perhatian dari para pengunjung wanita yang berada di Mall tersebut.
Tak lama Eimi membawa masuk Nathan mengunjungi iBox untuk membeli smartphone baru untuk dirinya sendiri, karena handphone miliknya sudah rusak setelah kejadian semalam.
Setelah memutuskan handphone mana yang ingin ia beli, dengan entengnya Eimi mengeluarkan kartu hitam milik Nathan dari dompet milik pria tersebut yang sudah ia rebut sebelum nya untuk melakukan pembayaran.
Melihat kartu miliknya di gunakan untuk membayar oleh Eimi membuat sudut bibir Nathan berkedut, tetapi ia sendiri tak merasa risau mengingat kartu miliknya adalah kartu tanpa batas.
"Hanya itu saja atau masih mau beli yang lain?" Tanya Nathan saat melihat raut wajah senang Eimi saat mendapatkan handphone baru miliknya.
Dengan penuh antusias Eimi mulai membeli berbagai macam barang branded seperti tas, baju, sepatu, jam tangan, sampai perhiasan.
Merek barang yang Eimi beli meliputi, Louis Vuitton, Armani, Chanel, Hermes, Versace, Burberry, Dior, Guuci, Rolex, Tiffany. Yang jelas akan menguras kantong Nathan.
Raut wajah Eimi seketika menjadi cerah dan ia tersenyum lebar saat melihat banyaknya tas belanja miliknya yang dibawakan oleh Nathan.
Disisi lain Nathan yang membawakan barang belanjaan milik Eimi tanpa santai dan tersenyum tipis kepada gadis cantik tersebut.
"Apa hanya segini saja?" Tanya Nathan yang kembali ingin memancing sampai mana batasan tenaga Eimi saat disuruh belanja sepuasnya.
Kini giliran sudut bibir Eimi yang berkedut. Ia tak menyangka Nathan dapat bertanya kepada nya dengan enteng setelah secara terang-terangan diperas sampai lebih dari seratus juta yen yang mana lebih dari sepuluh miliar rupiah.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar Eimi mengecek kartu hitam milik Nathan dan baru sadar jika kartu tersebut tampak aneh bahkan berbeda dari seluruh kartu hitam yang pernah ia lihat bahkan ia punya.
"Apa-apaan dengan mu. Aku sudah membeli banyak barang dan kamu masih bisa terlihat santai?" Tanya Eimi.
Nathan terkekeh dan berkata, "Ini bukan apa-apa, bahkan kalau kamu mau menggunakan kartu milikku untuk membeli Mall ini silahkan saja..."
Seketika Eimi berdecih kesal dan menengok kembali kartu hitam ditangannya. Tulisan Unlimited dengan goresan emas di sudut kartu membuat Eimi semakin penasaran serta curiga dengan kartu hitam yang saat ini dia pegang.
Karena capek setelah berkeliling dan ingin memeras Nathan lebih jauh lagi, Eimi lalu membawa Nathan ketempat makan yang ada disana dan memesan menu mahal.
Lagi-lagi Eimi dibuat kesal saat melihat Nathan dengan santainya makan dan sama sekali tidak terlihat memiliki masalah, padahal sudah jelas dia adalah korban disana.
Menyadari tatapan dari Eimi, Nathan lalu melihat kearah gadis yang tengah duduk didepan nya itu. "Kenapa kamu terlihat marah begitu, apa makanannya tidak enak? Kalau begitu pesan lagi yang lainnya aku akan menghabiskan semua makanan ini kalau kamu tidak mau.."
Eimi berdecih kesal dan akhirnya mengembalikan dompet serta kartu hitam milik Nathan karena merasa gagal untuk membuat pria tersebut kesal kepadanya.
"Sebenarnya siapa kamu, aku tidak pernah melihat pemuda berusia dua puluh satu tahun seperti mu memiliki harta sebanyak ini, bahkan terlihat biasa-biasa saat diperas!?" Tanya Eimi dengan geram.
Nathan tertawa dan mengetuk kepala Eimi menggunakan sumpitnya. "Itu tidak penting. Apa kamu sekarang berpikir untuk menjadikan ku sugar daddy mu?"
"Cih! Aku tidak kekurangan yang sialan. Buat apa aku harus memiliki sugar daddy, apalagi jika itu kamu. Menjijikkan!" Balas Eimi.
"Baiklah, tapi bagaimana kalau aku menjadi sugar daddy untuk para wanita cantik itu?" Kata Nathan sambil melihat kearah para wanita yang tengah memperhatikan mereka.
Eimi mengepalkan tangannya dan langsung memukul meja makan sambil memperhatikan para wanita yang memperhatikan mereka, yang alhasi membuat para wanita itu ketakutan.
Nathan hanya tertawa saat melihat Eimi menjadi marah dan kelihatan tidak senang dengan perkataan yang ia katakan sebelumnya.
__ADS_1