
Pagi harinya Emilia terbangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih tertutup Emilia meraba area kasur dan merasa janggal saat tidak menemukan keberadaan Nathan.
Merasa ada yang janggal Emilia kemudian membuka matanya. "Nathan kamu ada dimana? Apa kamu sudah bangun?" Ucap Emilia sambil mengucek kedua matanya.
"Nathan?" Panggil wanita itu lagi ketika tidak mendapat jawaban dari Nathan dan rasa khawatir seketika menyelimuti dirinya.
Emilia beranjak dari kasurnya dan memancari keberadaan Nathan sambil memanggil nama pria itu berulang kali disekitar rumah kayu tersebut.
Beberapa menit setelah mencari, Emilia belum juga menemukan keberadaan Nathan dan hal ini membuatnya merasa khawatir serta frustasi.
Ditengah pencariannya, Emilia tidak sengaja menemukan secarik kertas berisi surat yang ditulis langsung oleh Nathan untuknya sebelum pria itu pergi.
"Hm... Kenapa dia menyuruhku bersiap lalu pergi ke hanggar?" Gumam Emilia saat membaca surat yang diberikan oleh Nathan kepadanya.
Karena merasa penasaran Emilia pun segera bersiap-siap dan membawa semua barang-barangnya menuju hanggar pesawat.
Sesampainya disana ia bingung karena tidak menemukan satu orang pun dan hanya terlihat sebuah pesawat yang sudah menunggunya.
"Apa yang terjadi disini, kenapa semua orang dan kapal-kapal tidak terlihat?" Tanya Emilia kepada seorang pilot pesawat.
"Saya akan menjawabnya nanti, silahkan masuk kedalam. Nona..." Ucap pilot tersebut sambil membantu Emilia membawakan kopernya.
Emilia hanya mengangguk dan masuk kedalam. Disana ia mendapati ada seorang wanita yang terlihat seperti petugas administrasi.
Setelah membawakan koper milik Emilia, pilot segera menerbangkan pesawat nya menuju California sesuai tugas yang diberikan kepadanya.
Ketika sudah mengudara dari jendela pesawat Emilia semakin curiga sebab tidak ada satupun mesin perang di pulau tersebut dan seolah semua orang telah mengungsi ke suatu tempat.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Emilia dengan tatapan tajam kearah wanita yang duduk dihadapannya.
"Semalam ada informasi mengenai Armada kapal Jepang yang menuju Pearl Harbor dan diyakini akan segera mengebom tempat tersebut. Jadi pagi-pagi sekali para perwira memutuskan untuk pergi dan merencanakan serangan balik..." Balas wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ayah dan suamiku. Apa mereka ikut?" Tanya Emilia dan dibalas anggukan oleh wanita tersebut.
"Lalu sekarang kalian ingin membawaku kemana?" Tanya Emilia.
"Anda sudah dipindah tugaskan dan akan menjadi kepala rumah sakit di sebuah rumah sakit militer yang berada di California..." Balas wanita itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu barusan, Emilia hanya bisa berdecih kesal sambil menggigit ibu jarinya hingga berdarah.
Bagaimana pun juga ia khawatir dengan kesalamatan ayah dan juga suaminya yang diam-diam pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadanya.
Mau memberontak pun Emilia sadar jika wanita di hadapan nya pasti akan segera bertindak saat melihat suntikan berisi cairan bius yang berada di kantong bajunya.
Emilia pada akhirnya hanya bisa diam sambil berharap jika ayah dan suaminya akan kembali dengan selamat lalu berkumpul kembali nantinya.
*******
Di deck kapal Induk Yorktown, Nathan, Harry, Kevin, dan Robby terlihat berkumpul bersama sambil duduk melihat hamparan birunya laut.
"Hah... Baru sehari aku menginjakan kaki kedaratan dan haru kembali lagi kelaut. Ini tidak adil..." Ucap Kevin yang mengeluh tentang nasibnya menjadi seorang Marinir.
Sudut bibir Nathan berkedut saat mendengar sindiran Robby kepadanya, belum lagi ia mendapat tatapan tidak mengenakan dari Kevin dan juga Harry.
"Ayolah... Ini tidak seburuk itu. Dan jangan membahas tentang hubunganku. Kalian harusnya memikirkan pacar masing-masing yang menunggu didesa..." Ucap Nathan.
Bukannya merasa senang, ketiga pria itu justru kembali terlihat kesal dan mengira jika Nathan mengejek kekasih mereka masing-masing kampungan.
"Hei kamu juga berasal dari desa. Jadi jangan mengatai kekasih kami kampungan hanya karena kamu mendapat istri yang berasal dari perkotaan!" Ucap Kevin.
Melihat Kevin yang kesal Nathan langsung menjitak kepala pria itu dengan keras. "Siapa yang mengatai pacar kalian kampungan. Berhentilah bersikap seperti anak kecil dasar bayi!"
"Siapa yang kamu panggil bayi sialan!?" Ucap Kevin sambil menunjuk Nathan.
__ADS_1
Nathan tersenyum tipis. "Tentu saja kamu..." Ucap Nathan yang langsung membuat kepala Kevin menjadi panas.
Keduanya akhirnya berkelahi dan saling menyerang hingga bergulingan di deck kapal. Sementara Harry dan Robby membiarkan mereka berdua berkelahi karena sudah seminggu ini kedua pria itu bertengkar.
Harry dan Robby memilih untuk merokok sambil menikmati angin laut. Keduanya terlihat tidak khawatir dengan perkelahian kedua teman mereka meski sudah ada darah yang menetes.
"Aku akan menghancurkan wajah menyebalkanmu itu sialan!" Seru Kevin sambil meludahkan secercak darah yang keluar dari mulutnya.
"Hahaha... Pasti kamu iri dengan wajah tampan ku ini. Kalau bisa kemari saja, silahkan!" Ucap Nathan sambil menyeka darah disudut bibirnya. Nathan terlihat ingin memancing amarah Kevin dan menjadikan pria itu sebagai bahan olahraga.
Kevin yang terprovokasi langsung menerjang Nathan dan membuat keduanya bergulingan diatas deck kapal. Kevin terus melancarkan tinjunya kearah wajah Nathan namun ia jarang mengenainya dan justru tangannya terluka akibat memukul deck kapal.
"Ayolah... Apa hanya segini saja kemampuan mu, bayi..." Sindir Nathan saat berada dibawah hujan tinju yang dilancarkan oleh Kevin.
Sebenarnya Kevin merupakan ahli gulat didesanya dan ia juga terkenal di Marinir karena keahliannya tersebut. Namun dibawah Nathan ia terlihat seperti anak kecil yang baru belajar berkelahi.
"Hiks! Kenapa kamu terus menghindar, ini tidak adil!" Kevin menangis dan merasa putus asa saat gagal memukul wajah Nathan.
Tak berselang lama polisi militer datang dan melerai mereka. Keduanya kemudian dibawah dan mendapat hukuman dengan dipenjara. Polisi militer yang menangkap mereka juga terlihat terbiasa karena sudah sering melerai kedua pria itu.
Sedangkan Harry dan Robby yang melihat kedua temannya ditangkap bersikap biasa saja seolah hal ini sering terjadi.
Kini Nathan dan Kevin dimasukkan kedalam satu sel yang sama. Pada awalnya masih ada rasa canggung, tetapi tak berselang lama kedua pria itu berbaikan dan tertawa bersama.
"Jadi bagaimana, memangnya kita bisa mengundurkan diri?" Tanya Kevin dimana sebelumnya Nathan telah membuat rencana kalau mereka akan secepatnya kembali ke Amerika untuk membuat perusahaan mereka.
"Tenang saja, aku memiliki orang dalam. Kamu tahu itu bukan?" Balas Nathan dengan santai.
"Orang dalam? Siapa orang yang kamu maksud itu?" Tanya Kevin dengan wajah polosnya.
Nathan menjitak kepala Kevin. "Tentu saja orang tua istri ku dasar bodoh!" Ucap Nathan.
__ADS_1
Disisi lain Admiral Frank yang mendengar berita perkelahian Nathan hanya bisa memijat keningnya dan merasa bingung dengan putrinya yang memilih seorang pria brandal seperti itu.
Tetapi Admiral Frank tidak mampu berkomentar apapun dan takutnya malah akan diacuhkan lagi oleh Emilia seperti kejadian beberapa waktu lalu karena kematian palsu Nathan.