
Malam harinya Nathan, Emilia, Harry, Kevin, dan Robby telah mendarat dengan selamat di San Francisco meski dalam cuaca hujan lebat.
Mereka berlima malam itu memutuskan untuk menginap terlebih dahulu disalah satu Motel. Harry, Kevin, dan Robby berada didalam satu kamar, sementara Nathan dan Emilia memesan satu kamar lain untuk mereka berdua.
Ketika masuk kedalam kamar Nathan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur yang lumayan empuk dan melakukan gerakan seolah tengah membuat jejak di musim salju.
Setelah puas Nathan yang masih merasa mengantuk memutuskan untuk melanjutkan tidurnya, sementara Emilia terlihat masih berdiri sambil melihat Nathan dengan tatapan sedih.
Emilia lalu meletakkan kopernya dan berbaring diatas kasur sambil memeluk Nathan dari belakang dengan cukup erat seolah memberi isyarat kepada pria itu agar untuk tidak pernah meninggalkan nya.
Disisi lain Nathan yang tiba-tiba dipeluk oleh Emilia terkejut apalagi saat merasakan dada ukuran H empuk milik istrinya.
"Emilia, jangan sekarang. Malam ini lebih baik kita istirahat saja. Apa kamu tidak khawatir dengan kondisi tubuhmu sendiri jika harus bergadang lagi?" Tanya Nathan tanpa membalik tubuhnya kearah Emilia. Meski telah mengatakan hal tersebut, nyatanya Nathan sendiri berusaha menahan kapal selamnya agar tetap tetap tenang.
Emilia tidak menjawab perkataan Nathan. Tiba-tiba Emilia menitikkan air mata, meski sudah ditahan Emilia mulai terisak yang membuat Nathan terkejut.
Mendengar isakan tangis Emilia yang terdengar lirih dibawah sela-sela suara hujan, Nathan jelas merasa khawatir sekaligus bingung dan langsung membalik tubuhnya kearah Emilia.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis. Apa seseorang berbuat jahat kepadamu, katakan saja aku akan mengurusnya. Ya..." Ucap Nathan sambil menyeka air mata Emilia yang terus saja keluar.
Usaha Nathan untuk menenangkan Emilia nyatanya tidak berhasil, istri cantiknya itu justru tambah menjadi dan membuat Nathan menjadi kewalahan.
"Kamu kenapa, ceritakan saja. Aku tidak mengerti jika kamu hanya menangis..." Ucap Nathan dengan raut wajah khawatir dan tidak tega saat melihat Emilia yang menangis.
Karena Emilia tidak mengatakan apa-apa dan tetap menangis, Nathan langsung membawa Emilia kedalam pelukannya dan mengelus punggung wanita itu dengan lembut.
Nathan terlihat seolah seperti seorang ayah yang berusaha untuk menengkan putrinya yang menangis dengan pelukan hangat. Tanpa sepatah kata yang terucap Nathan sedikit paham jika Emilia tengah merasa sedih akan sesuatu.
__ADS_1
Namun Nathan memilih untuk tidak bertanya lagi dan membiarkan Emilia mengeluarkan semua air matanya sambil menunggunya berhenti dengan sendirinya.
Emilia akhirnya baru bisa berhenti saat jam 1 pagi dan langsung tertidur dipelukan Nathan, sementara Nathan masih tetap terjaga sambil terus mengelus lembut punggung wanita itu.
Dalam diamnya Echelon terus memperhatikan momen tersebut dan jika ia memiliki wujud fisik mungkin ekspresi yang akan dia perlihatkan adalah senyuman lembut.
'Ya, sudah semestinya tuan mendapatkan kebahagiaan. Masa lalu yang kelam dibawah asuhan kedua orang tuanya memang tidak pantas diingat kembali...' Batin Echelon.
*******
Keesokan harinya Emilia terbangun dan merasa ada seseorang yang menepuk-nepuk punggung nya dengan lembut.
Saat membuka mata, Emilia melihat dan menyadari kalau dia berada didalam pelukan Nathan. Ia merasa sedikit malu karena menangis semalaman dan hak ini membuat pipinya memerah.
Namun tak lama ia sadar kalau Nathan telah memeluk dan mencoba memberinya ketenangan semalaman tanpa tidur meski terlihat bahwa mata suaminya tersebut masih terpejam.
Ketika Emilia sedang memperhatikan wajah Nathan yang sedang tertidur, wanita itu kaget saat Nathan membuka mata dan tersenyum kearahnya.
Wajah Emilia seketika memerah dan ia langsung menjadi gugup. "Y-Ya, selamat pagi... Tidurku semalam cukup nyenyak..." Ucap Emilia sambil tertawa lirih dengan gugup.
"Jadi semalam kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Ucap Nathan seraya memejamkan matanya karena mengantuk dan meregangkan lengannya yang terasa keram usai dijadikan bantal Emilia semalaman.
Raut wajah Emilia yang semula gugup dan malu berubah menjadi sedih. "Bisakah kamu tidak pergi ke masa depan, aku tidak mau kamu meninggalkan ku sendirian... Sudah cukup untuk ku kehilangan kedua orang tua ku, aku tidak mau lagi..." Ucap Emilia sambil meremas baju milik Nathan.
Nathan yang mendengarnya seketika bingung. Wajahnya membeku dan ia mulai mencerna perkataan Emilia barusan.
"Tunggu... Apa maksud nya kehilangan orang tua, bukannya Admiral Frank orang tuamu?" Ucap Nathan yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Emilia.
__ADS_1
"Bukan, pria itu adalah teman ayahku dan setelah kematian kedua orang tuaku yang sakit. Di usia enam tahun aku diadopsi oleh paman Frank..." Balas Emilia dengan raut wajah enggan.
Mendengar penjelasan tersebut Nathan akhirnya mengerti kenapa sifat Emilia terlihat tidak ramah kepada semua orang begitupun dengan Admiral Frank.
"Baiklah, aku tidak akan pergi..." Ucap Nathan sambil memberi pelukan hangat kepada Emilia. Namun apa yang ia dengar berikut nya membuat Nathan seketika terkejut.
"Dasar pembohongan..." Ucap Emilia sambil meremas pakaian Nathan.
Nathan seketika sadar kalau Emilia menguping pembicaraan nya waktu bersama Echelon dan hal ini membuatnya menjadi gugup untuk menjelaskan semuanya kepada Emilia.
"A-Aku bisa jelaskan..." Perkataan Nathan langsung dipotong oleh Emilia.
"Tidak perlu, aku sudah paham dengan apa yang ingin kamu katakan kepadaku. Tetapi tetap saja, meski kita nanti akan bertemu tetapi pasti akan memerlukan waktu yang lama..." Emilia melihat Nathan dengan raut wajah yang sembab.
"Tidak akan lama, hanya sekejap mata saja..." Ucap Nathan sambil tertawa untuk mencairkan suasana, tetapi hal itu terlihat sangat garing dan tidak berguna.
"Sekejap untukmu tetapi puluhan tahun untukku, ini tidak adil..." Balas Emilia sambil menatap kesal kearah Nathan yang masih bisa bercanda disaat seperti ini.
"Jadi apa kamu mau aku tetap tinggal? Baiklah, aku akan tinggal lebih lama..." Ucap Nathan sambil mencubit pipi Emilia.
"Bukan seperti itu, aku tidak masalah jika harus menunggu mu selama itu. Apa kamu paham dengan apa yang ku katakan? Maksudku-" Sebelum Emilia menyelesaikan perkataan nya, Nathan langsung memberinya pelukan hangat kembali.
"Ya, aku mengerti maksudmu. Terimakasih... Aku akan tetap bersamamu selama dua puluh lima tahun ini..." Ucap Nathan.
Emilia yang mendengar nya langsung mendongakkan wajah dan menatap kesal Nathan. "Hanya dua puluh lima tahun saja, apa kamu akan melupakan ku setelah itu?"
Nathan seketika bingung dengan sikap Emilia yang awalnya pemalu lalu sedih dan sekarang marah. "Maksudku selama dua puluh lima tahun ini kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama agar kamu tidak merasa kesepian nantinya, setelah kita bertemu lagi semuanya akan tetap sama..."
__ADS_1
"Apa kau berjanji dengan perkataan mu itu barusan?" Tanya Emilia menyelidik.
"Ya tentu saja, aku berjanji..." Balas Nathan sambil mengangkat tangannya.