Echelon System

Echelon System
Terbang Menuju Jepang


__ADS_3

Vivian yang sudah mendapatkan kembali kesadarannya merasa sedikit kesal saat Nathan mengira kalau dirinya masih mabuk dan berbicara ngelantur sekarang.


"Aku berkata serius dan tidak mabuk. Apa kamu masih saja tidak percaya dan masih marah kepadaku?" Ucap Vivian yang sebenarnya sangat malu harus mengatakan perasaannya kepada Nathan, tetapi karena sudah sampai sejauh ini maka tidak akan ada kata mundur untuk nya.


Nathan yang baru menyadari kalau Vivian sudah lepas dari pengaruh alkohol merasa tidak enak sebab ia sendiri sudah bukan pria lajang lagi.


"Maaf Vivian, tetapi aku sudah memiliki dua orang wanita. Tidak mungkin bukan kalau kamu menjadi yang ketiga. Diluar sana masih banyak pria yang lebih baik dariku, temukan saja..." Balas Nathan sambil tersenyum masam.


Mendengar perkataan dari Nathan tentu membuat dada Vivian terasa sesak, tetapi karena sudah dibutakan oleh cinta dan merasa kalau Nathan adalah satu-satunya pria yang cocok untuknya, membuat Vivian akhirnya membulatkan tekad.


"Aku tidak peduli dan tak masalah kalau harus menjadi yang ketiga!" Ucap Vivian dengan matang dan jelas tidak ingin melepaskan pria yang selalu ada di pikirannya begitu saja.


Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Vivian langsung mencium bibir Nathan dan jelas saja ia belum berpengalaman jika dilihat dari gerakannya.


Nathan yang sudah menahan diri sejak awal ketika sedang bermain game karena melihat pakaian Vivian terbuka, lalu membalas ciuman Vivian. Tangan Nathan tidak tinggal diam dan mulai masuk kedalam pakaian milik Vivian lalu memihat melon wanita cantik tersebut.


Vivian yang merasakan pijatan lembut Nathan dimelon miliknya menjadi semakin panas dan pikirannya perlahan menghilang hanyut kedalam suasana.


Nathan lalu membawa Vivian kedalam kamar dan melepaskan seluruh pakaiannya. Saat itu akhirnya mereka menyatu dan bergulat sampai tidak tahu waktu.


*******


Pagi harinya Vivian terbangun dan merasakan sakit diarea antara kedua kakinya. Ia juga merasa kepalanya sedikit pusing dan merasa kalau tubuhnya lelah.


Saat membuka selimut Vivian menemukan bercak darah dan cairan lain di seprai yang membuatnya langsung mengingat kejadian dimana ia akhirnya melepaskan mahkota yang sudah lama ia jaga.


Raut wajah Vivian menjadi merah padam dan merasa malu karena bermain agresif serta mengatakan hal-hal yang memalukan ketika bergumal bersama Nathan.


Melihat Nathan yang tampaknya sudah pergi membuat Vivian sedikit merasa sedih tetapi saat melihat secarik surat di dekatnya, seketika membuat Vivian kembali senang lagi.

__ADS_1


Disisi lain Nathan yang baru saja pulang langsung diinterogasi oleh Alicia dan Emilia karena tidak pulang semalam hingga membuat keduanya menjadi khawatir.


Nathan yang duduk di kursi introgasi hanya bisa berkeringat dingin dan merasa kalau riwayatnya sekarang akan berakhir ditangan istri serta kekasihnya.


Emilia yang curiga kemudian menyingkap kerah baju milik Nathan dan menemukan bekas ciuman di leher Nathan tidak hanya satu namun beberapa sekaligus.


"Wanita mana yang semalam kamu tiduri?" Tanya Emilia dengan tatapan tajam dan perlahan mengeluarkan cakarnya.


"Seorang polisi wanita bernama Vivian. Awalnya aku hanya ingin menunggu hujan reda di rumahnya, tapi malah kebablasan..." Balas Nathan sambil tertawa gugup.


Alicia yang mengetahui kalau wanita itu adalah Vivian menghela nafas dan sudah menebak kalau hal semacam ini akan terjadi.


"Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, kamu harus bertanggung jawab. Apa kamu sudah menyuruhnya untuk kemari?" Tanya Alicia.


Nathan mengangguk dan merasa lega saat melihat Alicia tidak marah kepadanya. "Ya dia akan datang nanti, sekarang apa aku boleh pergi?"


Mereka bertiga kemudian bergumal dan Nathan diperah habis-habisan oleh kedua wanita cantik tersebut yang menginginkan keturunan dari nya sebab hari ini merupakan hari subur untuk mereka berdua.


Setelah memerah nektar Nathan sampai kering Alicia dan Emilia lalu terlelap dengan ekspresi puas serta senang sambil menunggu proses penyatuan didalam tubuh mereka selesai.


Sedangkan Nathan dengan lutut bergetar memaksakan diri untuk mandi dan tidak punya tenaga lagi setelah diperas nektarnya sampai kering oleh kedua wanita cantik tersebut.


Begitu selesai mandi Nathan kemudian mengemasi pakaiannya kedalam koper dan ingin pergi ke suatu tempat. Emilia yang belum sepenuhnya terlelap lalu terbangun saat melihat suaminya akan pergi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Emilia dengan tatapan tajam saat melihat Nathan akan pergi lagi meninggalkan dirinya yang sudah lama tidak berjumpa.


Nathan tersenyum dan berjalan kearah Emilia. "Aku mau ke Jepang, aku dulu memiliki janji yang harus aku tepati sekarang..."


Merasa tidak ada kebohongan dari perkataan Nathan, Emilia hanya bisa menghela nafas dan merelakan Nathan untuk pergi ke Jepang.

__ADS_1


"Berapa lama kamu akan pergi?" Tanya Emilia dengan tatapan mata yang sayup.


"Seminggu tapi paling lama sebulan karena akan sulit menemukan kediaman keturunan pria itu..." Balas Nathan.


"Baiklah, hati-hati... Kamu pergi saja kebandara, aku akan menghubungi seseorang untuk menyiapkan penerbangan mu..." Ucap Emilia sambil tersenyum.


Nathan mengangguk dan mencium kening Emilia serta Alicia yang masih tertidur sebelum pamit pergi.


Ketika sudah berada diluar rumah, sebuah mobil rolls-royce phantom sudah ada disana bersama dengan supir yang membukakan pintu untuknya.


Merasa kalau itu adalah supir pribadi Emilia, Nathan kemudian masuk kedalam dan ia langsung dibawa menuju bandara internasional Soekarno-Hatta.


Sesampainya disana seorang pria langsung menghampiri Nathan dan membawakan kopernya dengan beberapa bodyguard yang telah siap siaga.


'Aku rasa ini sedikit berlebihan...' Batin Nathan saat dirinya menjadi pusat perhatian ketika dikawal oleh beberapa pria kekar.


Nathan kemudian dibawa menuju gate khusus dan sudah ditunggu oleh dua orang pilot serta beberapa pramugari yang akan menemani nya selama penerbangan.


Melihat kalau pesawat yang akan dinaikinya merupakan pesawat pribadi membuat Nathan sedikit tidak percaya kalau kini perusahaan yang menaungi armada pesawat tersebut adalah miliknya.


Setelah masuk kedalam pesawat Nathan kemudian duduk sebelum akhirnya pesawat yang ia tumpangi lepas landas dan mendapat kawalan khusus dari dua buah pesawat Jet.


Sambil menunggu penerbangan ke Jepang, Nathan menghabiskan waktunya untuk membaca-baca artikel agar tidak bosan sebelum seorang pramugari datang membawakan wine khusus untuknya.


Melihat botol wine yang tidak asing membuat Nathan tersenyum tipis sebab Emilia tampaknya sudah memberitahu kepada para pramugari untuk memberinya pelayanan yang benar.


Dengan senang hati Nathan meminum wine yang sudah dituangkan terlebih dahulu oleh pramugari sambil menghisap rokok ditangannya.


Meski sudah ada tanda dilarang merokok tampaknya baik itu pilot maupun pramugari tidak berani untuk menegur Nathan sebab tahu kalau pria tersebut merupakan suami dari Emilia dan sekaligus pemilik sebenarnya perusahaan Lexton Company.

__ADS_1


__ADS_2