
Nathan dengan cepat menggelengkan kepalanya sebab diantara ia dan dokter Emilia tidak ada hubungan khusus. Ia bahkan tidak begitu mengenal wanita itu.
"Tidak Pak... Saya bahkan tidak mengenal dan hanya baru bertemu satu kali dengan putri anda..." Nathan mencoba untuk menghapus kesalah pahaman yang terjadi.
Untuk sesaat Admiral Frank menatap lurus kearah mata Nathan yang terlihat bergetar seolah ada hal yang ia sembunyikan darinya.
Tanpa mengendurkan rasa curiganya Admiral Frank kemudian mengeluarkan secarik surat dan meletakkan diatas meja agar Nathan dapat membacanya.
Begitu melihat isi surat tersebut Nathan seketika berkeringat dingin sebab didalamnya tertera sebuah pesan yang melaporkan dirinya kalau ia akan meniduri putri sang Admiral.
'Bagaimana bisa jelas-jelas aku tidak melakukannya. Apa ini ulah perawat itu?' Nathan kini hanya bisa terpaku dan tidak menyangka bahwa perawat itu melaporkan nya.
Nathan dengan ragu-ragu kemudian mengangkat wajahnya dan melihat Admiral Frank yang menatap dirinya seolah menahan perasaan amarahnya.
Ia menebak bahwa Admiral Frank sepertinya tipe orang tua yang sangat protektif kepada anaknya. Namun jelas ia tidak ingin ingin menjadi target tembakan dari kesalah pahaman ini.
"Jadi... Bagaimana kamu akan menjelaskan semua ini. Aku memang sengaja mengirim orang kepercayaan ku untuk mengawasi putriku itu dan tidak menyangka jika akan seperti sekarang..." Ucap Admiral Frank sambil memantik rokoknya.
"Ada yang salah Pak... Saya benar-benar tidak melakukannya... " Balas Nathan dengan gugup.
Admiral Frank menghembuskan asap rokoknya dan menatap Nathan kembali. "Tidak benar-benar melakukannya... Jadi kamu akan melakukan nya jika waktu itu tidak ada orangku?"
Mulut Nathan seketika terkunci, ia benar-benar salah telah mengucapkan kata-kata itu dan kini tidak ada jalan keluar lagi selain mengakuinya.
Tetapi Nathan tidak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa memang ia akan melakukannya jika saja tidak ada orang yang mengganggu saat itu.
Timah panas pasti akan langsung bersarang di kepalanya sebab berani ingin menodai putri seorang Admiral asal Amerika Serikat tersebut.
"Setelah merawatnya selama tiga puluh tahun seorang diri sebab ibunya meninggal saat melahirkan, sekarang justru ada seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun yang ingin menodainya... Kira-kira apa balasan untuk pemuda seperti itu, Nathan?" Ucap Admiral Frank yang membuat tubuh Nathan seketika bergetar.
Dengan pangkat pria paruh baya itu Nathan bisa saja dimasukkan ke penjara Alcatraz dan akan disiksa. Kemungkinan yang terburuk ia bisa saja langsung dieksekusi ditempat tersebut.
__ADS_1
Melihat Nathan yang tampak tegang membuat Admiral Frank tertawa dan tidak menyangka bahwa pemuda tersebut akan pasrah begitu saja menunggu nasibnya.
"Jangan tegang seperti itu aku hanya bercanda. Sejujurnya aku tidak masalah dengan hal itu, putriku sendiri yang mengatakan bahwa dia tertarik kepadamu..." Ucap Admiral Frank sambil tertawa.
Nathan hanya bisa tertawa canggung dan merasa bahwa ia akan selalu mendapat masalah apalagi saat berurusan dengan makhluk yang bernama wanita.
"Aku akan memberi ijin untuk mu untuk berhubungan dengan putriku, Nantinya kamu bisa mengelola tambang minyak miliku. Tapi kamu harus memilih antara putriku atau seragam mu itu..." Sambung Admiral Frank.
Tawaran yang diberikan oleh Admiral Frank cukup menggiurkan, ia akan mendapat wanita cantik dengan tubuh sempurna ditambah diberi kepercayaan untuk mengelola tambang milik keluarga Admiral Frank.
Namun setelah berpikir kembali Nathan sudah membuat keputusan. "Maaf, tetapi saya tidak bisa meninggalkan rekan saya dan memilih untuk tetap berada disini..."
Usai mengatakan hal tersebut Nathan kemudian pamit undur diri dan meninggalkan Admiral Frank sendirian menuju kamarnya.
Melihat Nathan yang lebih memilih untuk tetap mengabdi kepada negara, Admiral Frank tidak bisa berbuat banyak dan terlihat seseorang muncul dari balik kegelapan.
Dia tidak lain adalah dokter Emilia yang sedari awal sudah menyimak semua pembicaraan di ruangan tersebut dengan sembunyi-sembunyi.
"Kamu sudah mendengarnya sendiri bukan. Sekarang semua pilihan ada padamu. Apa mau tetap bersikeras untuk bersama pria itu dengan resiko tinggi, atau melupakan nya dan mencari pria lain..." Ucap Admiral Frank kepada dokter Emilia yang berdiri dibelakangnya.
*******
Ditempat lain Nathan tengah duduk di deck kapal sambil melihat beberapa orang yang tengah memperbaik dan menyiapkan pesawat yang akan digunakan besok.
Dari kejauhan samar-samar melihat Armada Kapal Kekaisaran Jepang yang jaraknya seratus kilometer dari Armada kapal pihak Sekutu.
Meski cukup jauh Nathan masih dapat melihatnya tidak seperti orang lain yang harus menggunakan alat bantu teropong. Ini semua tidak lepas dari serum yang ia suntikan sebelumnya.
"Sekarang bagaimana caranya aku pulang. Aku merindukan keindahan yang ada dirumahku. Kenapa waktu itu aku menghamburkan mereka. Huh..." Gumam Nathan dengan lesu.
Seseorang tiba-tiba saja datang menghampiri Nathan dan tidak sengaja mendengar apa yang baru saja pria tersebut gumamkan.
__ADS_1
"Keindahan yang dihamburkan. Apa yang kamu maksud?" Tanya orang tersebut yang tidak lain adalah dokter Emilia.
Melihat kedatangan dokter Emilia yang mendengar ucapannya tadi, Nathan langsung mencoba untuk mengalihkan pertanyaan yang diajukan oleh wanita tersebut.
"Hanya kehangatan dirumah saja..." Balas Nathan sambil mengalihkan pandangan nya kearah kapal induk Lexington yang akan tenggelam besok menurut sejarah.
Dokter Emilia kemudian duduk disamping Nathan dan memperhatikan wajah pemuda tersebut yang tengah ditiup angin malam.
"Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Nathan yang menyadari jika dokter cantik tersebut tengah memandangi wajahnya.
"Kenapa kamu menolak tawaran dari ayahku? Apa kamu tidak menyukai ku?" Dokter Emilia balik bertanya dan masih sangat penasaran dengan keputusan Nathan yang menolak tawaran dari ayahnya.
Nathan tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Hanya pria aneh yang tidak menyukai wanita seperti kamu dan aku jelas bukan salah satunya..." Ucap Nathan tanpa melirik kearah Dokter Emilia.
"Lalu kenapa kamu menolak ku?" Dokter Emilia kembali bertanya. Dari raut wajahnya jelas ia merasa kecewa dengan keputusan yang Nathan ambil.
"Kita berbeda ibarat minyak dan air tidak bisa menyatu. Aku seorang tentara yang mengambil banyak nyawa, sementara kamu adalah seorang dokter yang menyembuhkan orang-orang. Kamu tahu maksudku bukan?" Balas Nathan sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak keluar saja dari militer, atau aku saja yang berhenti menjadi dokter. Dengan begitu semuanya akan menjadi lebih mudah..." Dokter Emilia mengungkapkan pendapat nya.
"Aku memiliki alasan untuk tetap menjadi seorang tentara dan berkontribusi layaknya seorang warga negara. Dan bukankah kamu sudah mengucapkan sumpah bagi seorang dokter. Jadi jangan memutuskan nya dengan terburu-buru..." Ucap Nathan.
"Satu hal lagi, aku sudah memiliki seorang kekasih jadi lebih baik kamu melupakan semuanya. Aku minta maaf..." Sambung Nathan.
Mendengar kalau Nathan sudah memiliki seorang kekasih jelas membuat Dokter Emilia terkejut dan tidak percaya apalagi pria tersebut sering memberinya surat cinta.
"Apa kamu mencoba untuk membohongi ku, lalu kenapa kamu sering memberikan surat-surat itu kepadaku. Jika memang benar apa hebatnya wanita itu?" Dokter Emilia bertanya dengan nada cemburu.
"Dia memiliki segalanya yang dimiliki oleh seorang wanita. Meski kadang-kadang sering marah tanpa alasan aku tetap menyukainya. Tapi kini aku sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi..." Balas Nathan sambil tersenyum tipis kearah Dokter Emilia.
Dokter Emilia termenung sejenak. "Jika sudah seperti itu kenapa tidak mencari wanita lain. Kamu jelas tidak akan pernah bertemu dengannya lagi..." Ucap Dokter Emilia yang berpikir bahwa kekasih Nathan telah meninggal.
__ADS_1
Nathan menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang. "Maaf tapi aku sekarang tidak bisa melakukannya..."
Merasa keputusan Nathan sudah bulat dan percuma jika ia tetap bersikeras, dengan berat hati dokter Emilia kemudian pergi meninggalkan pria tersebut.