Echelon System

Echelon System
Keindahan Setelah Bencana


__ADS_3

Setelah diusir oleh Vivian, Nathan berjalan kaki melewati trotoar untuk pulang ditengah guyuran hujan lebat di bawah langit mendung.


Ia tidak bisa memesan taksi karena ponsel dan dompetnya tak sengaja tertinggal di dalam tas belanjaan yang sebelumnya sudah Nathan suruh antarkan oleh supir taksi.


Sebenarnya Nathan bisa pulang lebih cepat dengan menggunakan Cyber Armor nya dan terbang, namun karena belum begitu menguasainya ia tidak ingin membuat dirinya serta orang lain terluka akibat ulahnya.


Time Stone yang ia miliki juga tidak akan berguna karena hanya bisa mengembalikan waktu benda mati saja dan akan sangat berbahaya jika digunakan langsung kepada manusia.


Akibatnya luka jahitan dipinggang Nathan mengalami infeksi dan darah kembali keluar yang membuat pria tersebut sebisa mungkin harus menekan nya.


"Sejak kapan aku terlalu mencampuri urusan pribadi seseorang?" Ucap Nathan sambil tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


Nathan tiba-tiba merasa tubuhnya sangat lemas dan memutuskan untuk berhenti di sebuah halte bus yang kondisinya tidak ada orang sama sekali.


"Apa hanya sampai disini saja... Sial..."Ucap Nathan sambil tersenyum sebelum kehilangan kesadaran nya.


Tak lama kemudian setelah Nathan kehilangan kesadarannya, sebuah mobil Maserati berwarna putih tiba dan orang yang mengendarai nya langsung membawa Nathan.


Orang itu tidak lain adalah Alicia yang panik setelah mendapat sebuah panggilan misterius, dimana sebenarnya Echelon lah yang menelponnya.


Echelon sebelumnya mengabari Alicia tentang kondisi Nathan yang sekarang sudah tidak sadarkan diri di pinggir jalan.


Awalnya Alicia tidak percaya namun setelah menemukan ponsel dan dompet milik Nathan, yang tak sengaja ia temukan di dalam tas belanjaan yang di antarkan oleh seorang pengemudi taksi membuatnya merasa panik.


Hingga pada akhirnya berhasil menemukan Nathan mendapati bahwa kekasihnya tersebut terluka dibagian perut, dan ia segera membawanya pulang untuk di obati.


Jika Alicia membawa Nathan ke rumah sakit terdekat ia takut karena jaraknya yang cukup jauh dan memilih mengobatinya di rumah.


"Bertahanlah... Apa yang sebenarnya terjadi kepada mu..." Ucap Alicia yang panik dengan kondisi Nathan saat ini.


Alicia kemudian menyingkap baju milik Nathan dan mendapati bahwa pria tersebut mendapat sebuah luka sayat meski sudah dijahit namun terbuka kembali.


*******


Hari berikutnya Nathan terbangung dan di pagi itu ia mendapati bahwa dirinya kini sedang berada di dalam kamarnya.


Saat Nathan menoleh kesamping ia mendapati Alicia yang tengah duduk sambil tertidur disamping nya dengan pulas.


"Terimakasih..." Ucap Nathan sambil tersenyum dan mengelus lembut kepala Alicia.


Merasakan belaian seseorang di kepalanya membuat Alicia seketika terbangun dan mendapati Nathan yang tengah tersenyum kepadanya.


Alicia langsung memeluk Nathan dan memukul dengan pelan dada pria tersebut berulang-ulang. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, bagaimana jika saat itu aku terlambat..."


"Hahaha... Maafkan aku, tapi kamu lihat bukan sekang aku baik-baik saja?" Ucap Nathan sambil tertawa.

__ADS_1


Melihat Nathan yang tidak mengerti situasinya sekarang Alicia langsung memukul sedikit lebih keras dada pria tersebut dan menatapnya dengan tajam.


"Kamu masih bisa tertawa setelah hampir mati? Katakan, siapa yang melakukannya!?" Tanya Alia sambil menatap mata Nathan dalam-dalam.


Nathan tersenyum tipis dan menceritakan kejadiannya hingga ia bisa terkapar di halte bus dengan luka sayatan. Tetapi ia tidak menceritakan tentang Vivian yang mengusirnya karena takut jika Alicia nanti salah paham.


"Jadi apa kamu mau bertindak seperti seorang pahlawan gitu?" Tanya Alicia sambil tersenyum tipis dan ini merupakan sebuah pertanda buruk.


"Tidak-tidak, aku hanya tidak sengaja terlibat dan membantu. Itu saja tidak lebih..." Balas Nathan.


Alicia menyilangkan kedua dan menatap Nathan dengan tajam yang membuat pria tersebut tampak gugup di perhatikan seperti itu oleh seorang wanita cantik.


"Hahaha... Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu, aku hanya bercanda..." Ucap Alicia sambil tertawa melihat raut wajah Nathan yang gugup.


Nathan yang melihat Alicia tertawa juga melakukannya karena bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang.


Secara mendadak Alicia berhenti tertawa dan menatap Nathan kembali dengan mata elangnya. "Tapi sampai kamu berani selingkuh dari ku awas saja!" Sambung Alicia.


"Mana mungkin aku akan melakukannya..." Balas Nathan sambil tersenyum masam dan jelas ia menyembunyikan keinginan sebenarnya dari Alicia.


Sesaat kemudian Nathan menyadari bahwa luka yang ada dipinggang nya sudah tidak terasa sakit lagi, dan begitu dicek ternyata luka serta bekas jahitan dipinggang nya sudah menghilang.


"Eh... Hilang kemana luka itu?" Ucap Nathan yang kebingungan mendapati luka dipinggang nya sudah menghilang seolah tidak pernah ada sebelumnya.


"Aku yang menyembuhkannya dengan alat ini..." Sahut Alicia sambil mengeluarkan sebuah alat seukuran pena dari sakunya.


Melihat Nathan yang fokus kepada alat tersebut dan bukannya dirinya membuat Alicia sedikit kesal lalu mengambilnya kembali.


"Hei, aku belum selesai melihatnya!" Ucap Nathan seolah kehilangan benda yang sangat menarik untuk pertamakalinya.


"Sigh! Kenapa kamu memperhatikan setiap inchi benda itu, sementara kamu tidak pernah memperhatikan ku sejauh itu!?" Balas Alicia dengan kesal.


Menyadari Alicia yang sedang kesal Nathan langsung menarik wanita cantik tersebut keatas kasur dan segera mengapitnya seperti sebuah guling.


"Ada apa denganmu, kamu terlihat jelek jika cemberut!" Ucap Nathan sambil mencubit pipi Alicia dan memainkannya.


Alicia yang tubuhnya di apit oleh kedua kaki Nathan dan pipinya dicubit hanya bisa menatap pria tersebut dengan tatapan nanar sekaligus kesal.


"Lepaskan aku!" Ucap Alicia sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkraman Nathan.


Bukannya dilepaskan Nathan justru berpindah posisi dan ia kini berada di atas tubuh Alicia sambil menahan kedua tangan wanita tersebut.


Jantung Alicia seketika berdegup sangat cepat yang membuat aliran darahnya mengalir dengan kencang. Raut wajahnya kini juga tampak memerah saat mendapat perlakuan seperti ini oleh Nathan.


Saat Nathan mendekatkan wajahnya, Alicia langsung memejamkan matanya dan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Namun bukan seperti yang Alicia pikirankan, Nathan tidak mencium atau melakukan hal panas kepadanya melainkan hanya membenamkan wajah di antara kedua dada megahnya.


Dada lembut yang terasa sangat empuk membuat Nathan merasa nyaman dan langsung memejamkan matanya.


Disisi lain Alicia yang melihat Nathan menyandarkan kepala di dadanya tersenyum dan mulai mengelus rambut pria tersebut.


Saat Nathan tengah menikmati dada dan belaian dari Alicia tiba-tiba matanya terbuka begitu mendengar pertanyaan dari wanita cantik tersebut.


"Ah benar juga... Aku menemukan sebuah kalung berlian yang sangat indah saat membuka tas belanjaanku. Apa kamu ingin memberiku sebuah kejutan?" Ucap Alicia dengan penuh harap.


Nathan yang mendengarnya merasa jika Alicia salah paham karena kalung itu ia beli untuk hadiah ulang tahun Marsella hari ini dan akan ia berikan nanti malam.


Segera Nathan mengangkat wajahnya dari dada Alicia dan tersenyum gugup kearahnya. "Sebenarnya kalung itu bukan untukmu, tapi buat Marsella..."


Mendengar pernyataan dari Nathan seketika membuat hati Alicia menjadi hancur dan ekspresi tenang diwajahnya berubah menjadi menyeramkan.


"Apa kamu berniat untuk selingkuh dariku!?" Tanya Alicia sambil tersenyum menyeramkan dan menarik kerah baju milik Nathan.


"Bukan seperti itu, aku membelikan kalung itu sebagai hadiah ulang tahunnya saja!" Balas Nathan yang ingin melakukan pembelaan.


Alicia menatap tajam kearah mata Nathan dan ia jelas tidak akan percaya begitu saja dengan perkataan dari pria tersebut.


Melihat tatapan Alicia yang kesal, Nathan menghela nafas nya dan tiba-tiba mencium lembut bibir milik Alicia yang membuat wanita cantik itu terkejut.


Mendapat ciuman mendadak dari Nathan seketika cengkraman Alicia menjadi kendur dan rasa kesal sekaligus cemburu langsung menghilang seketika.


Beberapa saat kemudian Nathan melepaskan ciuman nya dari Alicia dan menatap dalam-dalam kedua mata kekasihnya tersebut.


"Aku tidak ada maksud lain dan hanya membelikannya hadiah ulang tahun saja. Kalau kamu tidak percaya nanti malam bisa ikut denganku ke tempat nya..." Ucap Nathan.


Alicia yang ditatap seperti itu oleh Nathan langsung tersipu malu dan mengangguk pelan. "Baiklah, aku percaya kepadamu..."


Nathan tersenyum tipis dan mengelus rambut milik Alicia dengan lembut. "Oh ya... Pakaian apa yang kamu beli sebrlumnya?"


"Hanya pakaian biasa untukku dan juga para pelayanmu. Apa kamu mau melihatnya?" Tanya Alicia.


Merasa penasaran dengan pakaian yang dimaksud oleh Alicia, Nathan mengangguk dan seketika Alicia keluar untuk bersiap-siap.


"Tuan benar-benar seorang pria yang sangat buruk..." Suara Echelon seketika terdengar dari Divine Watch.


"A-Apa yang kamu katakan! Jelas-jelas aku pria baik-baik!" Balas Nathan dengan gugup.


"Tidak mungkin. Anda bukanlah seorang yang seperti itu. Sudah jelas bahwa tuan berbohong kepada nona Alicia. Anda lebih cocok dipanggil Playboy dari pada pria baik-baik." Ucap Echelon.


"Kamu tidak benar dan diampah!" Balas Nathan yang sifatnya kini sudah bisa dibaca oleh Echelon.

__ADS_1


Tak lama kemudian Alicia datang ke kamar Nathan namun kali ini tidak sendiri melainkan bersama dua puluh wanita cantik lainnya.


Melihat penampilan para wanita cantik yang memakai lingerie membuat jantung Nathan berdegup kencang dan tanpa sadar mimisan.


__ADS_2