Echelon System

Echelon System
Vivian


__ADS_3

Setelah membeli kado untuk Marsella, Nathan memutuskan untuk pulang kerumah sambil membawakan barang belanjaan milik Alicia dengan menyewa sebuah taksi.


Lalu lintas di jalan yang sedang diguyur hujan deras, membuat taksi yang dinaiki oleh Nathan berjalan cukup lambat dan hal ini membuat nya menjadi sedikit ngantuk.


Namun sebelum sempat tertidur Nathan terkejut melihat ada seorang pengendara motor, yang melakukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi di susul oleh sebuah mobil polisi.


Tak sengaja Nathan melihat bahwa petugas polisi yang mengejar pengendara motor tersebut adalah Vivian.


*******


Disisi lain Vivian yang sedang mengejar pengendara tersebut tampak sangat kesal mengendarai mobilnya dan jika bisa ia ingin menabrak pengendara itu.


Bahkan Vivian tidak segan untuk menembaknya karena pengendara motor tersebut merupakan anggota ******* yang terlibat dalam bom bunuh diri di salah satu tempat hiburan.


Tanpa diduga motor yang dikendarai pengendara tersebut terpeleset saat menghindari gerobak pedagang dan membuatnya terjatuh.


Pria tersebut kemudian segera bangkit dan berlari memasuki sebuah gang yang diikuti juga oleh Vivian dari belakang.


Hingga pada akhirnya Vivian dapat memojokkan ******* tersebut setelah menemui jalan buntu.


"Angkat tanganmu dan letakan diatas kepala!" Ucap Vivian dengan tegas sambil mengarahkan senjata apinya kearah ******* tersebut.


Bukannya panik ******* itu justru terlihat tenang dan dengan cepat meraih pistol yang ada di belakang celananya, kemudian ia langsung menembak kearah Vivian.


Di detik-detik sebelum Vivian terkena timah panas milik ******* tersebut, seseorang tiba-tiba mendorongnya dan membuat Vivian selamat.


Melihat ada kesempatan ******* tersebut langsung kabur dan melewati tembok setinggi lima meter dengan kemampuan parkour.


Vivian merintih kesakitan dan saat membuka mata ia melihat pria yang selalu ada didalam pikiran nya setiap malam tengah memeluk dirinya.


Bughhh!!!


"Apa yang ingin kamu lakukan dasar cabul!!!" Ucap Vivian dengan panik sambil menjauhkan pria tersebut darinya.


Meski terlihat panik wajah Vivian tampak memerah karena malu dan berusaha menutupi tubuhnya yang basah kuyup.


Pria yang menyelamatkan Vivian tidak lain adalah Nathan. Setelah melihat polisi wanita cantik tersebut ia memutuskan untuk mengejarnya, dan menyuruh supir taksi sebelumnya untuk mengantarkan barang bawaannya kerumah.


Nathan memegangi dadanya yang sedikit terasa sakit usai didorong paksa oleh Vivian sambil menatap wajah memerah polisi wanita cantik tersebut.


"Apa maksudmu, aku sudah menyelamatkan mu tadi..." Balas Nathan dengan heran.


"Aku tidak butuh, gara-gara kamu ******* itu kabur. Bagaimana jika dia melakukan perbuatan diluar batas lagi!? " Ucap Vivian sambil menutupi pakaian dalamnya yang tembus.


Menyadari target yang sedang Vivian kejar adalah seorang ******* berbahaya, Nathan segera mengejarnya namun sebelum itu ia memberikan jaketnya kepada Vivian.


Melihat Nathan yang pergi mengejar targetnya Vivian panik karena mengetahui bahwa ******* tersebut memiliki senjata sementara Nathan tidak.


"Hei! Kamu mau kemana!?" Panggil Vivian.


Sangat disayangkan ucapan Vivian tidak didengar oleh Nathan dan membuat polisi wanita tersebut kini hanya sendirian disana.


Ketika melihat kembali jaket yang diberikan oleh Nathan wajah Vivian kembali memerah dan ia memutuskan untuk segera kembali kedalam mobil patroli.


Sambil berteduh dan berharap Nathan segera kembali, Vivian tanpa sadar terbawa suasana dan mulai mencium aroma parfum yang ada dijaget milik Nathan.


Mata Vivian seketika terperanjat saat ia menyadari tindakannya yang salah. "Apa yang aku lakukan?" Gumam Vivian.


*******

__ADS_1


Ditempat lain, Nathan yang juga memiliki kemampuan parkour berhasil mengejar ******* tersebut disalah satu bangunan kosong dan langsung menjatuhkan nya.


******* tersebut seketika tersungkur di tanah sambil merintih kesakitan setelah kakinya ditendang oleh Nathan.


Saat Nathan hendak menghampiri ******* tersebut, tiba-tiba ******* itu mengeluarkan sebuah pisau dan berhasil membuat sayatan dipinggang Nathan.


Nathan meringis kesakitan dan langsung menendang leher ******* tersebut hingga membuatnya pingsan karena tidak terima.


"Sial..." Umpat Nathan saat mendapatkan luka sayatan dipinggang nya.


Ia kemudian menghampiri ******* yang sudah tak sadarkan diri, seketika kepala Nathan merasa sedikit pusing saat melihat lambang tato yang ada di leher ******* tersebut.


Tato yang ada di leher ******* tersebut seperti Nathan kenali namun ia tidak bisa mengingat dimana ia pernah melihatnya.


Tidak mau lama di bekas bangunan sepi dan gelap, Nathan menggelengkan kepalanya dan segera membawa pergi ******* yang tengah tidak sadarkan diri itu pergi dari sana.


Sepasang mata merah muncul dari kegelapan saat melihat Nathan membawa pergi ******* tersebut dari tempat itu. Sosok itu juga tampak tersenyum kepadanya.


Beberapa menit berselang Nathan berhasil membawakan ******* tersebut kepada Vivian yang langsung saja dipakaikan borgol dan dibaringkan di kursi belakang.


"Kalau begitu aku pergi dulu..." Ucap Nathan yang akan beranjak dari tempat tersebut.


Sebelum Nathan sempat pergi Vivian memegang tangan nya dan mencegahnya untuk pergi dengan raut wajah memerah.


Vivian sengaja menahan Nathan karena ia menyadari bahwa pria tersebut mendapat luka dibagian perut karena melihat bercak darah dipakainya yang berwarna putih.


"Tu-Tunggu dulu, maaf atas perkataan ku yang sebelumnya dan terimakasih sudah menangkap pria itu..." Ucap Vivian.


Nathan mengangkat sebelah alisnya dan berkata, "Ya, tidak masalah. Ada hal yang ingin kamu katakan lagi, kalau tidak aku akan pergi..."


"Tunggu, ayo ikut denganku!" Ucap Vivian.


"Bukannya kamu sedang terluka, sebagai rasa permintaan maaf sekaligus terimakasih aku akan mengobati mu!" Balas Vivian.


Mendengar ucapan dari Vivian, Nathan terlebih dahulu berpikir dan setelah mempertimbangkannya ia setuju dengan Vivian.


Keduanya kemudian masuk kedalam mobil dimana Vivian duduk di kursi kemudi sementara Nathan berada di sampingnya.


Sebelum Vivian sempat melajukan mobilnya Nathan segera mencegahnya karena tidak tega melihat wanita tersebut menyetir dalam keadaan badan yang basah kuyup.


"Biar aku saja yang menyetir..." Ucap Nathan.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri dan lagipula selain polisi tidak ada yang boleh mengendarai mobil ini..." Tolak Vivian.


"Aku memaksa, biarkan aku menyetir... " Ucap Nathan sambil melihat kedua mata Vivian dengan sungguh-sungguh.


Melihat tatapan mata Nathan yang sedekat itu Vivian tersipu dan seketika mengangguk lalu bertukar tempat.


Keduanya kemudian segera pergi dari tempat tersebut menuju kantor polisi tempat Vivian untuk menyerahkan terlebih dahulu ******* yang mereka bawa.


Selama perjalanan Vivian diam-diam terus memandangi Nathan yang terlihat keren menurutnya, dan damage nya seolah bertambah saat melihat wajah serta rambut pria tersebut yang basah.


Vivian seolah merasakan kehangatan saat memakai jaket milik Nathan dan membayangkan keduanya saling berpelukan.


Sedangkan Nathan sendiri tidak menyadari hal ini dan fokus mengemudi sambil menekan luka sayatan dipinggang nya agar darah tidak keluar begitu banyak.


Ketika sudah sampai di kantor polisi, dua anggota polisi segera mengamankan ******* tersebut lalu Nathan dan Vivian melanjutkan perjalanan mereka.


"Kita ke tempatku saja karena untuk menuju rumah sakit pasti memakan waktu yang lebih lama lagi..." Ucap Vivian.

__ADS_1


Tanpa banyak pikir Nathan setuju begitu saja karena mulai merasakan rasa sakit dan segera melajukan mobilnya lebih cepat.


Selang beberapa saat Nathan dan Vivian sudah sampi ke apartemen milik wanita tersebut yang terlihat jika harga hunian itu cukup mahal.


Nathan kemudian disuruh menunggu sementara Vivian akan membawakan peralatan yang bakan digunakan untuk menjahit luka di pinggang milik Nathan.


Tak butuh waktu lama untuk Vivian menemukan peralatan tersebut dan ia segera mulai menjahit luka sayatan dipinggang Nathan.


Selama menunggu Vivian yang menjahit lukanya Nathan memandangi setiap sudut ruangan tersebut, dan merasa jika tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Apa kamu hanya tinggal sendirian disini. Dimana kedua orang tua mu?" Tanya Nathan.


Seketika Vivian yang sedang menjahit luka milik Nathan berhenti sebelum melanjutkannya kembali.


"Iya, aku hanya tinggal sendiri disini selama delapan tahun..." Balas Vivian dengan nada datar.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?" Tanya Nathan.


"Mereka sudah aku anggap mati..." Balas Vivian.


Nathan yang mendengar nya sontak terkejut dan tidak menyangka Vivian mengatakan hal buruk seperti itu tentang orang tuanya sendiri.


Menyadari Nathan yang terkejut Vivian tertawa lirih dan berkata, "Mungkin kamu berpikir aku kurang ajar atau apapun itu, tetapi aku memiliki alasan sampai tidak menganggap mereka ada.


Apa kamu bisa membayangkan seorang gadis kecil yang baru berumur delapan tahun diculik dan hampir menjadi korban pelecehan?


Pada saat itu gadis kecil tersebut berharap kedua orang tuanya yang merupakan seorang abdi negara untuk menyelamatkannya seperti yang dia inginkan, tapi kenyataan tidak.


Bukan orang tuanya yang menyelematkan dirinya tetapi justru orang lain dan mulai saat itu dia membenci kedua orang tuanya..."


Menyadari bahwa cerita yang dikatakan oleh Vivian merupakan pengalaman hidupnya sendiri membuat Nathan termenung.


"Apa hanya karena itu kamu membenci mereka. Jika mereka merupakan abdi negara seharusnya kamu bisa mengerti posisinya saat itu..." Nathan memberi saran.


Vivian terkekeh dan berkata, "Bukan itu saja, apa kamu tahu kenapa penculik itu mengincarku? Itu karena mereka ingin balas dendam kepada orang tuaku, dan yang lebih parah lagi saat usiaku masih delapan belas tahun mereka ingin menikahkan ku dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal!"


Seketika itu Nathan terhenyak dan berusaha mencari solusi agar Vivian tidak berpikir buruk tentang orang tuanya sendiri.


"Apa kamu pernah membicarakannya terlebih dahulu dengan kedua orang tuamu?" Tanya Nathan.


Vivian menggelengkan kepalanya. "Belum, tapi dengan sikap mereka yang keras kepala tentu saja tidak akan mendengarkan aku..."


"Aku tidak tahu dengan apa yang kamu rasakan selama ini tetapi bukankan kamu bisa berpikir bahwa mereka juga melakukannya demi kebaikanmu?" Balas Nathan.


Bertepatan dengan Vivian yang telah selesai menjahit luka sayatan milik Nathan, ia yang merasa kesal langsung menyuruhnya untuk pergi.


"Pergi dari rumahku sekarang..." Ucap Vivian dengan nada dingin.


"Kenapa?" Tanya Nathan.


"Aku bilang pergi sekarang dari rumahku!" Ucap Vivian dengan nada tinggi.


Melihat Vivian yang tiba-tiba marah dan mengusirnya, Nathan tidak dapat berkata apapun lagi dan segera mengenakan pakaiannya lalu pergi dari sana.


Ketika Nathan sudah pergi Vivian melemparkan kotak P3K yang ada di dekatnya hingga membuat semua isinya berserakan kemana-mana, dan juga membuang jauh-jauh jaket milik Nathan yang ia pakai.


"Arghhh! Apa tidak ada satupun orang yang tahu tentang perasaanku sekarang. Sialan!" Teriak Vivian sambil menangis.


Beberapa saat kemudian Vivian yang sudah jauh lebih tenang duduk di lantai dengan tatapan kosong dan melihat kearah jaket milik Nathan.

__ADS_1


Masih merasa kesal dengan pria tersebut Vivian mengambil jaket itu dan hendak membuangnya ketempat sampah namun ia seketika terhenti.


__ADS_2