
"Dia terlihat sangat perduli dengan Nathan. Menurutmu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?" Tanya Robby.
"Entahlah aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang, Robby. Pria cengeng itu kini telah pergi dan tidak bisa menepati janji yang kita buat berempat untuk kembali berkumpul saat pulang nanti..." Kevin tersenyum sambil menahan diri setelah kehilangan salah satu temannya.
Melihat Kevin yang mencoba tersenyum meski tampak jelas dipaksakan, Robby kemudian menepuk-nepuk punggung temannya itu dan ia sendiri merasakan hal yang sama.
*******
Emilia disisi lain telah sampai didepan pintu ruang kerja Admiral Frank yang dijaga oleh dua orang prajurit. Meski pintu dijaga Emilia tetap masuk begitu saja dan terlihat dibiarkan oleh dua prajurit tersebut.
Admiral Frank yang sedang menulis laporan kemudian menengok kearah pintu dan mendapati kedatangan putrinya.
"Kenapa ayah tidak mencoba untuk mencegahnya ikut berperang. Kenapa... Kenapa... Kenapa kamu tidak melakukannya!" Ucap Emilia yang terlarut dalam suasana putus asa.
Untuk pertama kalinya Admiral Frank kini dapat melihat putrinya yang marah kepadanya dan putus asa. Sebagai seorang ayah jelas ia tak mengharapkan hal ini kepada putrinya.
"Maafkan ayah... Tetapi kamu sudah melihatnya sendiri bukan saat ayah mencoba untuk menawarinya dua pilihan waktu itu?" Ucap Admiral Frank.
Emilia terduduk dilantai dan mulai menangis yang membuat Admiral Frank langsung menghampiri putrinya tersebut lalu mencoba untuk memenangkan nya.
*******
Keesokan harinya Nathan terbangun dari tidur nyenyak nya dan segera mencari ikan untuk ia makan pagi itu dengan menggunakan sebuah tombak.
Begitu mendapat tangkapan ikan lumayan besar Nathan langsung menyalakan perapian dan membakarnya. "Sayang sekali tidak ada untuk aku mandi..."
Nathan kini menyadari bahwa lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan pertempuran kemarin dan kemungkinan besar akan melihat konvoi kapal Sekutu yang kembali menuju Pearl Harbor.
"Lebih baik aku menunggu konvoi mereka saja, sekalian menghabiskan waktu disini..." Ucap Nathan sambil memakan ikan bakarnya.
Pria itu sebenarnya bisa tiba di Pearl Harbor hari ini juga dengan pakaian armor nya, tetapi karena ingin sejenak berlibur Nathan memutuskan untuk menetap di pulau itu.
*******
Tiga hari kemudian setelah menunggu disebuah pulau kecil tak berpenghuni, disiang hari Nathan melihat konvoi Armada laut Sekutu yang berlayar menuju Pearl Harbor.
Dirasa konvoi tersebut sudah cukup dekat, Nathan lantas membakar tulisan SOS berukuran besar yang ia buat menggunakan daun kelapa.
Nathan tidak memasang ekspresi khusus untuk meminta bantuan dan justru santai menunggu sambil meminum air kelapa sampai ada kru kapal yang melihat tanda buatannya.
Disisi lain Admiral Frank yang kini memiliki tekanan batin akibat renggangnya hubungan antara dirinya dengan putrinya dikarenakan seorang pemuda tengah berada diruang kemudi bersama para kru kapalnya.
__ADS_1
Saat tengah menelusuri hamparan air laut dengan menggunakan teropong, Admiral Frank tanpa sengaja melihat kepulan asap disuatu tempat.
Ketika dilihat lebih dekat Admiral Frank mendapati sebuah tulisan SOS yang terbakar dan ada seorang pria dengan santai tengah melihat kearah Armada kapalnya sambil meminum air kelapa.
Mata Admiral Frank membelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria yang ia lihat tampak memakai pakaian pilot Amerika dan tidak lain adalah Nathan.
"Kenapa dia bisa ada disana, bukannya waktu itu dia tenggelam. Apa aku hanya berhalusinasi saja?" Gumam Admiral Frank.
Begitu Admiral Frank mengeceknya kembali ia menyadari bahwa dirinya tidak berhalusinasi dan segera memerintahkan sebuah boat untuk menjemput Nathan.
Setelah Nathan dijemput dan naik ke kapal induk Yorktown, ia langsung disambut dengan oleh para marinir yang tidak menyaka bahwa dia akan selamat.
Penampilan Nathan yang terlihat seperti seorang turis memakai kacamata hitam membuat para marinir merasa bingung kepada pria itu, dimana ia seolah tidak memiliki beban sama sekali.
"Bagaimana dengan liburanmu, apakah terasa menyenangkan tuan Nathan?" Tanya Admiral Frank yang baru saja datang ke deck kapal bersama beberapa perwira.
Nathan mengangguk pelan sambil meminum air kelapanya. "Tentu saja aku sangat menikmatinya. Pikiran ku seolah kembali jernih. Anda harus mencobanya juga, Admiral Frank..."
Urat di dahi Admiral Frank seketika muncul dan ia mengutuk keras Nathan yang mengakibatkan keretakan hubungan antara ayah dengan putrinya.
"Cepat pergi ke pusat kesehatan untuk memeriksa keadaanmu dan setelah itu segera temui aku untuk menjelaskan semuanya!" Ucap Admiral Frank sebelum pergi.
Nathan kemudian segera melaksanakan perintah dari Admiral Frank dan disepanjang jalan ia mendapatkan tatapan aneh dari para marinir lain seolah dirinya adalah hantu.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Nathan yang menghampiri ketiga pria itu.
Harry yang sebelumnya diceritakan oleh Kevin dan Robby tentang kematian Nathan menjadi terpaku saat mendapati sahabatnya tersebut kini berdiri tepat di dekatnya.
"Hanya membicarakan tentang kematian teman kami saja, tidak lebih..." Balas Kevin yang belum sadar bahwa Nathan kini berada tepat dibelakangnya.
Disisi lain Robby yang melihat Harry tengah terdiam kemudian menengok kebelakang dan seketika ia juga ikut terdiam.
"Hei, kenapa kalian berdua diam saja?" Kevin menjadi bertanya-tanya saat mendapati kedua temannya terdiam sambil melihat kearah belakangnya.
Saat Kevin mengecek kearah belakang, tatapan nya seketika membelalak lebar hingga tanpa sadar mulutnya juga ikut terbuka. Ketiga pria itu tampa syok dan tidak bisa berkata-kata saat melihat penampakan Nathan yang mereka kira sudah mati.
Emilia yang baru saja keluar dari ruangannya berjalan menuju Harry untuk memeriksa keadaannya sambil membaca laporannya.
"Tuan Harry-" Sebelum Emilia menyelesaikan perkataannya tiba-tiba ia langsung terdiam ditempat dan laporan yang ada ditangannya terjatuh saat melihat kehadiran Nathan ditempat itu.
Kevin segera sadar dari lamunannya dan langsung menangkup wajah Nathan untuk memeriksa bahwa itu memang temannya atau bukan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika arwah mu bisa datang ke tempat ini setelah mati!" Ucap Kevin.
Nathan yang dianggap arwah oleh Kevin merasa kesal dan langsung menjitak kepala pria itu dengan cukup keras. "Apa kamu mau mati huh? Siapa yang kamu anggap arwah sialan!"
"Awww! Tunggu, bukannya kamu sudah tewas tiga hari yang lalu. Kenapa bisa hidup lagi!?" Ucap Kevin sambil menggosok kepalanya yang baru saja dijitak oleh Nathan.
"Apa ini benar-benar kamu, Nathan?" Tanya Robby sambil menangkup wajah Nathan dan melihat matanya.
"Iya... Nanti akan aku jelaskan, sekarang aku mau memeriksa tubuhku dulu." Ucap Nathan.
Nathan kemudian mengalihkan pandangannya kearah Emilia yang masih terdiam. "Apa yang sedang kamu lakukan disana dokter?" Tanya Nathan.
Mendengar pertanyaan dari Nathan seketika membuat Emilia tersadar dari lamunannya dan ia kemudian mengambil kembali kertas laporan nya yang terjatuh.
"Aku hanya ingin memeriksa keadaan temanmu itu. Lebih baik sekarang kamu ke ruangku, aku memeriksa mu disana..." Ucap Emilia tanpa ekspresi dan masih dingin seperti biasanya.
Nathan tanpa pikir panjang kemudian masuk kedalam ruang kerja Emilia yang membuat ketiga temannya keheranan dengan apa yang mereka saksikan.
"Hei, bukannya ini sangat aneh. Tak biasanya dokter itu mengijinkan seseorang terutama lelaki masuk kedalam ruangannya?" Kevin berbisik lirih disamping telinga Robby.
"Ya, aku juga merasa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka..." Balas Robby.
Sementara Harry terlihat senang dan malu-malu saat diperiksa langsung oleh Emilia apalagi saat melihat kancing baju dokter cantik tersebut yang akan lepas karena tidak kuat menahan beban dan ukuran dadanya.
Disisi lain Nathan duduk menunggu di ruangan kerja Emilia sambil memperhatikan barang-barang yang ada disekitarnya.
Tak berselang lama Emilia masuk dan terdengar suara pintu yang tertutup. Emilia kemudian duduk di meja kerjanya dan memiliki ekspresi biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sepertinya liburanmu cukup menyenangkan tuan Nathan..." Ucap Emilia tanpa melihat kearah Nathan dan fokus kepada lembaran kertas dimeja kerjaan nya.
"Kamu benar liburanku sangat menyenangkan di pulau itu..." Balas Nathan dengan santai sambil meminum air kelapa yang masih ia bawa dari pulau sebelum nya.
Mendengar perkataan Nathan barusan seketika membuat Emilia menjadi kesal sendiri. Selama tiga hari dia menangisi pria itu dan mengira sudah mati yang tidak disangka justru malah sedang liburan.
Selama tiga hari ia bahkan tak menghiraukan ayahnya dan hal ini membuat Emilia berpikir bahwa dirinya benar-benar wanita bodoh.
"Aku kurang yakin bahwa kamu menikmati liburanmu seorang diri di pulau tak berpenghuni, tuan Nathan... Apalagi tanpa adanya seorang wanita..." Ucap Emilia.
"Memang benar aku kurang menikmati liburanku tanpa seorang wanita. Jika saja waktu itu ada seorang wanita yang ikut terdampar, mungkin aku akan memilih menetap dan membuat koloni disana..." Balas Nathan.
Krakkkk!!!
__ADS_1
Pena ditangan Emilia seketika patah menjadi dua. Dengan tajam Emilia menatap Nathan yang terlihat santai seperti seorang turis habis liburan.